
"Surga tidak akan menerima pendosa sebelum dia benar-benar bertaubat."
-Adara Mikhayla Siregar-
•••
Memimpikan bersanding dengan laki-laki yang paham akan ilmu agama bukanlah sebuah cita-cita. Jangankan untuk memimpikannya, mengharapkannya saja otakku tak pernah sampai pada titik itu. Kenapa? Karena aku tahu diri. Seorang pendosa sepertiku mana bisa mendapatkan jodoh terbaiknya. Menginginkan pria yang memiliki akhlak serupa dengan Baginda Nabi, tapi dia lupa untuk berkaca diri. Sudahkah dia menjadi cerminan diri dari Ibunda Siti Khadijah? Bukankah Allah sudah menjelaskan bahwa perempuan baik hanya untuk laki-laki baik, begitu pula sebaliknya.
"Adara," panggilnya yang berhasil membuat anganku kembali terbang pada kenyataan. Aku mengerjapkan mata pelan lantas menatap sekilas ke arahnya.
"Makasih," katanya dengan sunggingan tipis di kedua sudut bibir. Aku hanya diam tak merespons apa pun. Aku bingung harus menjawab apa, bahkan hanya untuk sekadar mengangguk saja kepalaku sulit untuk digerakkan.
Entah harus bahagia atau malah sebaliknya, kini aku sudah benar-benar resmi menyandang status sebagai istrinya, bahkan aku sendiri yang menyerahkan diri. Semoga aku bisa benar-benar menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dia miliki. Mungkin dia memang tak pandai ilmu dunia, tapi aku tahu kalau dia pandai ilmu akhirat. Ya aku harap itu bisa jadi pondasi kuat rumah tangga kita kelak. Aku pun berharap pernikahan ini bisa membawaku ke arah yang lebih baik lagi. Ya, aku harus berubah. Bukan untuk dia ataupun kedua orang tua tapi untuk diriku sendiri. Tak mungkin aku terus seperti ini sampai ajal menjemputku. Surga tidak akan menerima pendosa sebelum dia benar-benar bertaubat.
"Kasih gue alasan kenapa lo milih gue jadi istri lo," kataku dengan kedua netra yang lekat melihat tepat pada iris matanya.
Arda mengukir sedikit senyum tipis. "Ana Uhibbuki Fillah.[1]" Tiga kata berbahasa Arab itu sungguh membuat kerja otakku melambat. Aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Jawab yang bener dong. Gak ngerti gue," sahutku kesal. Dia malah tertawa pelan.
"Sudah jangan dipikirin, kamu tinggal jawab aja, Ahabbakalladzi ahbabtani lahu,[2]" katanya yang membuatku mendengus tanpa sadar.
"Ogah bener. Lo pasti lagi ngadalin gue, kan?" sengitku yang justru dia sambut dengan kekehan.
Tanpa sepengetahuan tangan Arda sudah dengan lancang mengelus pelan puncak kepalaku. "Aku harap pernikahan kita kali ini bisa lebih baik dari sebelumnya," tuturnya dengan sedikit sunggingan. Ish, bukannya memberikan aku penjelasan tapi dia malah berkata yang lain-lain.
"Serah lo ah. Males gue." Aku sengaja menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap penuh permusuhan pada Arda yang justru menampilkan tampang biasa. Nyebelin banget sih ni orang.
__ADS_1
"Dicariin daritadi ternyata kalian malah asik mojok di mushola. Para tamu undangan nyariin pengantinnya tuh," ucap Mamah tiba-tiba. Aku memutar tubuh agar bisa menghadap ke arah beliau. Senyum menyebalkannya terbit di sana.
Aku bangkit dan berjalan mendekat padanya. "Bilangin aja kalau pengantinnya minggat," sahutku asal. Mamah malah tertawa terpingkal-pingkal.
Mamah menggandeng tanganku tanpa izin, dan dengan terpaksa aku mengikuti langkahnya. "Nak Arda Mamah pinjam dulu yah istrinya," cetusnya saat kami baru berjalan sekitar dua langkah. Aku hanya mampu menggeleng pelan melihat kelakuan absurd yang beliau perlihatkan.
Kami berjalan beriringan, sedangkan Arda mengekor di belakang. Mamah menggiringku agar duduk di pelaminan yang terpasang di taman samping rumah. Rumah kedua orang tuaku yang memang besar dan luas, memang sangat cocok jika dijadikan tempat menggelar acara semacam ini. Tak perlu menyewa gedung pun pesta mewah nan megah itu bisa terealisasikan.
Rumah Mamah dan Papah sudah penuh sesak karena banyaknya tamu undangan yang hadir. Terlihat dari panjangnya antrean yang sudah siap untuk saling mengucapkan selamat. Siap-siaplah kakiku pegal dan kedua sudut bibirku kebas karena harus memperlihatkan senyum lebar penuh kepalsuan.
"Selamat yah, Dar atas pernikahannya," katanya saat berdiri tepat di depanku. Apa kalian tahu siapa pelaku yang dengan enteng tanpa beban mengucapkan kalimat itu? Jika kalian menjawab Lukman, ya jawaban kalian 100 persen benar.
"Hm, sono ah buruan turun. Pegel nih kaki gue dari tadi berdiri mulu," usirku. Mendadak hatiku kesal saat melihat siapa perempuan yang mengekor di belakangnya.
Lukman hanya mengangguk singkat lalu beralih memberikan salam ala laki-laki pada Arda. "Selamat, Mas, dan maaf atas kesalahpahaman yang pernah terjadi di antara kita," tuturnya.
Lagi-lagi aku melihat anggukan kecil Lukman berikan sebagai jawaban. "Doakan kami segera menyusul yah, Mas," katanya dengan mata melirik ke arah perempuan yang kini sudah berdiri tepat di depanku. Perempuan itu hanya diam dan menunduk malu. Aku sangat muak melihat tingkahnya.
"Aamiin. Saya percayakan sepupu saya pada Anda," cetus Arda dengan diiringi tepukan singkat di salah satu pundak Lukman.
"Antrean di belakang masih panjang," sindirku yang mendapat delikan tajam dari Arda. Tapi aku sama sekali tak takut. Mereka yang salah. Aku hanya mengingatkan saja.
"Bârakallâhu laka wa jama’a bainakumâ fî khairin. Bârakallahu likulli wâhidin minkumâ fî shâhibihi wa jama’a bainakumâ fî khairin, Mbak Adara." Kalimat penuh bahasa Arab itu aku dapatkan dari Marwah. Gak Arda, gak Marwah, mereka sama saja. Sukanya bikin aku puyeng dengan kalimat yang mereka ucapkan. Gak bisa gitu kasih selamat yang normal dan wajar saja?
"Aamiin." Hanya itulah yang bisa aku katakan. Mana ngerti aku artinya, ya sudah aminkan saja. Urusan tuh doa baik apa buruk urusan belakangan. Salah sendiri sok-sokan pakai bahasa asing segala.
"Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi berkah untukmu. Semoga Allah menurunkan kebahagiaan atasmu. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyatukan kamu berdua dalam kebaikan," ungkap Arda yang membuat keningku mengkerut bingung. Tuh orang ngomong apaan sih? Gak ada angin, gak ada hujan ngomong kaya begituan. Lagian aku juga gak minta doa darinya kok.
__ADS_1
"Itu arti dari kalimat yang Marwah ucapkan, Adara," bisiknya yang langsung aku balas dengan injakkan sadis di kaki sebelah kiri dia. Suasana sedang ramai begini dia masih sempat-sempatnya modusin aku. Malu-maluin banget sih. Kalau sampai tuh para tamu undangan mikir yang macam-macam bagaimana?
"Mas kenapa?" tanya Marwah saat melihat wajah meringis kesakitan Arda, lelaki itu melirikku sekilas dan langsung aku hadiahi dengan tatapan tajam. Awas saja kalau sampai dia berbicara jujur dan blak-blakan.
Arda hanya tersenyum tipis lantas menjawab, "Sudah turun sana gih, gak enak sama tamu-tamu yang lain." Kepala dia bergerak menunjuk ke arah panjangnya antrean.
Dia itu setipe denganku, lebih baik mengalihkan pembicaraan daripada harus memilih berkata bohong. Sangat pantrang berlindung dari kalimat-kalimat dusta semacam itu. Cukup waktu itu saja aku menjadi pendusta ulung. Aku tak mau lagi mengulang kesalahan yang serupa.
Marwah mengangguk singkat lantas turun dari pelaminan bersama Lukman yang berjalan di depannya. Dasar pasangan aneh. Bukannya saling jalan beriringan dan bergandengan tangan, tapi mereka malah saling berjauhan seperti orang yang tidak saling mengenal. Aku tak yakin Lukman benar-benar menaruh hati pada perempuan sejenis Marwah. Dan sejak kapan pula Lukman menyetujui permintaan konyol ibunya. Apa dia tidak bisa berkaca dari peristiwa yang aku alami? Perjodohan tidak selamanya berjalan indah dan bahagia. Ya aku adalah contoh buruknya.
"Kamu kenapa Adara? Aku perhatiin dari tadi mata kamu seperti memata-matai seseorang," kata Arda saat keadaan sudah mulai sedikit tenang, dan tidak terlalu ramai seperti tadi.
"Ah itu cuman perasaan lo doang," sahutku ogah-ogahan. Kedua tanganku malah sibuk mencari tissue dan juga kipas angin mini yang bisa menghilangkan rasa gerah yang saat ini tengah aku rasakan.
"Kamu cemburu yah karena lihat Lukman sama Marwah?" Mendengar pertanyaan tak masuk akal Arda malah berhasil membuat gerak tanganku terhenti. Aku langsung memusatkan fokus agar melihat ke arahnya.
"Kalau iya kenapa? Lo keberatan?" kataku asal. Aku penasaran ingin mendengar responsnya, gerak tubuh yang dia tunjukan biasa saja tak menyiratkan kemarahan.
"Gak papa, aku hanya nanya saja." Hanya itu yang keluar dari sela bibirnya. Kenapa hatiku mendadak kecewa saat mendengar hal itu. Sangat jauh dari perkiraan.
"Oh." Aku mendudukkan tubuh di kursi panjang dan mengipas-ngipas wajahku dengan kipas mini yang aku temukan berada dalam tas kecil yang ada di kursi pelaminan. Mungkin Mamah yang menyimpannya.
~TBC~
Catatan Kaki :
[1]. Aku mencintaimu karena Allah.
__ADS_1
[2]. Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya.