Matrealistis

Matrealistis
9-Ini Gila


__ADS_3

"Aku mohon katakan, bahwa semua yang terjadi saat ini hanyalah tipuan belaka saja."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Menjadi seorang mahasiswa, pengalaman yang paling berkesan biasanya terasa pada awal semester dan akhir semester perkuliahan. Bagaimana tidak? Pada awal semester kita mengikuti kegiatan orientasi mahasiswa baru yang seru. Sementara pada akhir semester kuliah kita harus menyelesaikan skripsi sebagai pembuktian bahwa kita telah layak mendapatkan gelar sarjana. Kedua kegiatan ini merupakan kegiatan yang harus kita jalani dan selesaikan dengan penuh semangat serta motivasi positif.


Otakku rasanya mau pecah memikirkan tugas akhir itu. Bagaimana tidak? Aku harus kocar-kacir ke kampus hanya untuk menemui dosen pembimbing agar menyetujui judul skripsiku, yang selalu ditolak mentah-mentah dan berakhir di tempat sampah. Belum selesai masalah pendidikan, permintaan Mamah kemarin malam semakin membuat aku malas untuk terbangun lebih awal. Sepertinya hari ini akan aku habiskan dengan berdiam diri di kamar dan bersantai-santai ria di atas pembaringan.


"Adara ayo turun sarapan dulu!" teriak Mamah di depan kamar dengan gedorannya yang memekakkan telinga. Aku tak menyahut dan malah menutup kedua telingaku dengan bantal.


"Adara!" Nada suara Mamah lebih kencang dari sebelumnya, membuat aku semakin terganggu dan mau tak mau menjalankan tungkaiku ke arah pintu untuk memberikan beliau akses masuk.


"Ya Allah Adara jam segini kamu baru bangun tidur?! Gak salat Subuh pasti!" omel Mamah pada saat menjumpai keadaan aku yang masih dengan muka bantal dan rambut acak-acakkan.


"Adara lagi halangan, Mah," terangku dengan sesekali menguap. Memasuki masa tamu bulanan memang selalu aku habiskan dengan bermalas-malasan, dan tentunya bangun siang.


"Ya sudah bersih-bersih sana, terus sarapan. Kamu ngampus kan?" titahnya dengan tangan yang berusaha mendorong aku menuju kamar mandi. "Aku gak ke kampus, Mah." Gerakan Mamah langsung terhenti sejenak.


"Kamu yah makin ke sini makin males aja pergi ke kampus. Kerjaannya cuman keluyuran doang ngabisin uang. Kapan kamu lulusnya kalau kaya gitu terus?" Silakan keluarkan semuanya Mah. Silakan, aku akan menerimanya. Buatlah anak gadismu ini stres berkepanjangan.

__ADS_1


"Tenang aja, Mah nanti juga lulus kalau udah waktunya," sahutku malas-malasan. Mendapat buly-an di kampus karena skripsi yang tak kunjung menemukan titik terang, dan di rumah juga sama tidak ada bedanya. Kalau tahu kuliah kaya begini ribet dan susahnya, mending gak usah kuliah aja sekalian.


"Gimana mau lulus kalau tuh skripsi gak dikerjain-kerjain," sela Mamah dengan tampang garang. "Belum, Mah bukannya enggak," belaku menyela.


Kedua mata Mamah melotot seraya berkacak pinggang. "Mandi sana!" Aku tak bisa menyahut lagi, bisa bahaya kalau sampai perdebatan ini tak dihentikan. Aku khawatir akan ada perang lempar-lempar barang. "Iya... iya... udah ah sana Mamah ke luar," kataku dengan maksud mengusir beliau secara halus.


Aku menatap sendu ranjang yang terlihat seperti melambai-lambai minta diperhatikan, terlebih lagi selimut tebal yang sangat ingin aku gunakan dan bergelung di bawahnya. Mamah selalu saja mengacaukan rencana indah yang sudah aku susun dengan matang.


"Selamat tinggal wahai tempat pemberi kenyamanan dan ketenangan." Aku berkata dramatis sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


•••


Suasana ruang makan yang ramai dengan suara tawa membuat aku mengernyit dan segera mempercepat laju langkahku. Siapa tamu yang berkunjung di waktu sepagi ini? Jam saja masih menunjukkan angka tujuh. Kedua mataku melotot sempurna saat melihat siapa yang duduk membelakangiku, dan tengah mengobrol asik bersama dengan kedua orang tuaku. Tuh orang gak punya jam apa di rumahnya? Dasar gak punya etika!


"Adara!" tegur Papah dan Mamah dengan mata tajam mereka. Please deh Mah, Pah yang salah itu dia bukan aku. Kali-kali belain anak gak dosa kok.


"Pergi lo! Ganggu banget. Di sini juga gak ada gunanya. Cuman numpang makan doang," usirku dengan tidak sopan menggerak-gerakkan sandaran kursi yang Arda tempati.


Sudah beberapa kali dia ke rumah hanya untuk menumpang sarapan, makan siang, dan tak jarang juga malam-malam, hal biasa baginya. Tapi tidak bagiku yang begitu kurang nyaman bila ada dia di tengah-tengah keluargaku. Sifat Mamah yang terlalu welcome dengan orang lain terkadang ingin aku bumihanguskan. Papah juga kenapa bisa seakrab dan sedekat itu dengan Arda. Mereka seperti sangat memberikan akses penuh pada lelaki itu untuk keluar masuk rumah kapan pun waktunya.


"Adara jaga ucapan kamu!" Papah kembali menegurku. Mata elangnya menatapku begitu tajam.

__ADS_1


"Kenapa sih Mamah sama Papah selalu marahin Adara tapi malah belain dia mulu!" kataku dengan wajah yang ditekuk berkali-kali lipat.


"Nak Adara ternyata sudah bangun," suara yang berasal dari arah dapur membuat aku terpaksa memutar tubuh agar melihat ke sumber suara. Mataku melebar tak percaya melihat kehadiran Tante Annisa dan juga Om Arga di sana. Ada apa ini? Kenapa satu keluarga itu berkumpul di rumahku sepagi ini?


"Sudah jangan pasang muka kaya gitu. Duduk dan sarapan, nanti akan kita semua jelaskan," titah Mamah mengkomando. Terpaksa aku mengisi kursi kosong yang berada di sebelah Arda. Aku makan dengan perasaan bingung dan heran yang saling bergelayutan. Sajian yang terhidang di meja makan sama sekali tak menarik minatku.


"Kamu gak ada niat buat ganti baju apa, Dar?" Pertanyaan itu meluncur bebas dari Arda. Aku hanya memutar bola mata malas. "Gak!" Dia hanya manggut-manggut tanpa protes, dan kedua orang tuaku saja tidak berkomentar ataupun menegurku.


Bayangkan saja, saat ini aku hanya menggunakan kaus oblong kebesaran, celana pendek selutut, dan rambut yang aku cepol asal. Aku pikir tadi hanya ada Mamah dan Papah saja di ruang makan, makanya aku hanya pakai baju seadanya dan belum sempat tuh memakai kerudung dan pakaian tertutup. Tapi kok Mamah sama Papah biasa saja aku tampil gak tutup aurat? Padahal di sini ada Arda sama Om Arga yang bukan mahramku. Tidak seharusnya mereka melihat auratku seperti ini, apalagi aku sudah memutuskan untuk memakai penutup kepala.


Selepas acara sarapan selesai aku digiring ke ruang keluarga masih dengan penampilan seperti sebelumnya. Aku hanya ingin mendengar teguran pedas dari Mamah dan Papah, tapi yang aku inginkan tak sesuai harapan. Kedua orang tuaku hanya diam saja, tanpa rentetan kata-kata pedasnya. Ke mana hilangnya kecerewetan yang Mamah miliki? Papah dan Om Arga duduk berseberangan di kepala sofa, Aku diapit oleh Mamah dan juga Tante Anissa, sedangkan tepat di depanku Arda tengah duduk tidak tenang. Seperti orang yang sedang gelisah. Tapi aku tak ambil pusing hal itu.


"Adara," panggil Tante Annisa lembut dan diikuti dengan elusannya di punggungku. Aku sedikit memiringkan tubuhku untuk menghadap ke arahnya. "Iya... Tan...." Aku mendadak canggung dan gugup berada berdekatan dengan beliau.


"Kalau Adara jadi mantu Tante mau?" tanyanya begitu tenang dan lancar. Jantungku memompa dengan begitu cepat, persendianku melemas seketika, wajahku pun sudah berubah pucat pasi rasanya. Pertanyaan macam apa itu?


Aku tak menjawab dan justru berputar haluan menghadap ke arah Mamah dan membelakangi Tante Annisa. Menatap kedua orang tuaku penuh tanya. Apa-apaan ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba dapat pertanyaan seperti itu.


"Jelasin sama Adara sebenarnya ada apa ini?" tanyaku seraya melihat Mamah dan Papah bergantian. Aku harus segera mendapatkan jawabannya sekarang juga!


Papah meletakkan dua buah buku berwarna merah dan hijau di atas meja. Aku tak bodoh untuk menyadari buku yang kini berada di depan kedua mataku. Kepalaku langsung menggeleng frustasi, pikiranku kacau balau setelah melihat benda yang Papah tunjukkan. Rasanya sangat pusing dan seperti ada burung-burung yang beterbangan di atas kepalaku.  Lelucon macam apa ini?

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2