Matrealistis

Matrealistis
28-Ratu Drama


__ADS_3

"Aku yang selalu berkata jujur apa adanya kini menjelma sebagai ratu drama yang diliputi dengan perkataan dusta."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Baru saja aku menutup pintu, suara klakson yang berasal dari luar gerbang semakin mempercepat laju tungkaiku. Dan benar saja Lukman sudah berdiri di dekat kap mobilnya, menyambut kedatanganku lantas membukakan aku pintu mobil seperti biasanya. Dia memang paling peka dan perhatian jika memperlakukanku.


"Suami kamu kasih izin, kan?" tanyanya saat aku sedang memasangkan sabuk pengaman.


Aku menoleh sekilas ke arahnya. "Jangan buat mood gue ancur deh. Udah syukur gue mau nolongin lo," sahutku jengkel dan kesal. Bisa-bisanya Lukman menanyakan hal semacam itu. Sudah tahu hubunganku dan Arda tidak seperti rumah tangga kebanyakan pasangan lainnya.


"Aku hanya bertanya saja, Adara," cetusnya setelah dia melajukan kendaraan beroda empat itu. Aku tak menyahut. Malas menanggapi ocehan unfaedah-nya, lebih baik menatap jalanan yang cukup ramai lancar.


"Gue mau buat pengakuan sama lo," kataku yang berhasil mengambil sedikit fokusnya. "Apa?" Satu kata itu meluncur bebas dari sela bibir Lukman.


Aku menurunkan kursi yang aku duduki sampai turun setengahnya, hingga posisiku sedikit rebahan. Kedua tanganku sengaja aku jadikan bantalan. "Cowok yang lo temuin di gerbang kampus beberapa hari lalu itu sebenarnya suami pilihan kedua orang tua gue," terangku enteng tanpa beban. Aku tak mau lagi berbohong dan bersandiwara di khalayak ramai, terlebih lagi pada Lukman yang sudah cukup dekat denganku. Biarkan saja dia tahu.


Mobil yang semula berjalan dengan kecepatan sedang, langsung berhenti dan menimbulkan suara decitan ban yang beradu dengan aspal. "Becanda kamu gak lucu, Adara."

__ADS_1


Aku tertawa hambar mendapati respons keterkejutan yang terpatri apik di wajahnya. "Buat apa juga gue becanda soal kaya beginian. Gue ngomong jujur apa adanya."


"Jalan buruan sebelum pengendara di belakang pada demo," lanjutku saat mendengar suara klakson tak santai dari beberapa mobil di belakang sana. Lukman menurut walau masih dengan tampang shock-nya.


"Kenapa kamu baru cerita sekarang sih, Adara?" protesnya dengan lirikan maut membunuh. Biasa aja dong ekspresinya, jangan kaya mau nelen orang kaya gitu.


"Ya mana gue berani. Yang ada lo langsung kabur dan gak mau lagi menuhin semua kebutuhan gue yang bejibun banyaknya itu. Apa jadinya kalau sampe gue hidup terlunta-lunta tanpa fasilitas yang lo kasih." Aku menjawabnya dengan jujur tanpa beban ataupun rasa bersalah sedikit pun.


Lukman menghela napas panjang. "Kenapa itu sih yang kamu takutin. Kalau masalah itu kamu tenang saja, aku gak akan tarik semua fasilitas yang sudah aku kasih sama kamu, Adara."


Aku hanya nyengir saja mendengar penuturannya. "Ya udah sih udah lewat juga. Lagian gak penting juga sebenarnya gue kasih tau identitas Arda sama lo."


"Jelas itu penting, Adara. Mau seperti apa pun suami kamu, dia akan tetap menjadi suami kamu. Aku jadi merasa tak enak hati karena waktu itu malah mengakui kamu sebagai calon istriku. Padahal jelas-jelas dia suami sah kamu," jelas Lukman.


Lukman seperti sengaja menghentikan mobilnya di tepi jalanan. "Gak ada satu pun pria yang rela melihat wanitanya diakui dan dimiliki pria lain, Adara. Apalagi dia adalah suami kamu. Aku rasa dia pria baik-baik dan bisa jadi imam terbaik untuk kamu---"


Dengan cepat aku memotong ucapannya. "Lo gak tahu kaya apa dia sebenarnya. Gue sama dia itu gak akan pernah bisa akur sampai kapan pun. Kerjaan kita cuman ribut dan adu mulut. Jadi gue minta sama lo, stop bahas soal dia!"


Ternyata keputusanku untuk berkata jujur apa adanya pada Lukman adalah sebuah kesalahan, yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku menyesal telah membongkar sandiwaraku. Aku pikir dia akan mendukungku seratus persen untuk segera mengakhiri hubungan bersama Arda, tapi nyatanya dia sama saja seperti kedua orang tuaku yang selalu menganggap Arda baik dan sempurna tanpa celah.

__ADS_1


Mungkin kalian heran dan bertanya-tanya dengan hubunganku bersama Lukman yang sudah seperti sepasang kekasih. Tapi pada kenyataannya di antara aku dan Lukman sama sekali tak menaruh perasaan, semuanya murni hanya sebuah pertemanan yang saling menguntungkan. Dia memang tidak bisa jauh-jauh dariku, karena dia masih memerlukan bantuanku. Dan Aku pun sama halnya seperti dia. Tak ada istilah main hati dan perasaan di antara kami berdua.


"Ok. Aku rasa pertemuan kita ini yang terakhir, aku gak mau terlibat lebih jauh lagi dengan masalah rumah tangga kalian. Tapi kamu tenang saja, untuk masalah materi aku gak akan mencabutnya," tuturnya setelah menginjak pedal gas, dan mobil kembali meluncur membelah jalanan.


"Gak bisa gitu dong, gue masih perlu bantuan lo. Gue udah terlanjur boong sama dia kalau gue hamil anak lo---" Belum sempurna kalimat yang aku lontarkan, mobil kembali berhenti mendadak tanpa pemberitahuan.


Napas Lukman memburu dan menatapku penuh intimidasi. "Tindakan kamu sudah keterlaluan, Adara. Tidak ada satu pun pria yang bisa menerima kenyataan kalau ternyata istrinya mengandung anak dari pria lain. Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu."


Pandanganku lurus ke arahnya. "Semuanya terjadi begitu aja, tanpa rencana sama sekali. Gue juga bingung dan gak ngerti, kenapa mulut gue lancar banget ngomong kaya gitu," selaku membela. Papah yang memancing dan memulai semuanya, aku hanya mengikuti saja.


Air muka Lukman sangat sulit untuk aku artikan. Kenapa dia sampai memasang tampang seperti itu? Aku menjadi serba salah dan tak tentu arah. Melihat respons yang Lukman tampilkan justru semakin menambah keruwetan masalah yang aku rasakan.


"Aku antar kamu pulang sekarang. Kita harus menjelaskan semuanya pada suami kamu, Adara." Aku shock bukan kepalang dengan tindakan Lukman yang tanpa izin langsung berputar arah.


"Ah gak asik lo mah. Gue aja mau tuh bantuin lo terus kenapa lo malah kaya gini sama gue?" sahutku. Aku tak mau Lukman mengacaukan rencana yang sudah aku susun dengan sangat matang dan terperinci.


Helaan napas terdengar keluar dari sela bibir Lukman. "Ini beda kasus,  Adara. Kamu memanfaatkan aku untuk kepentingan kamu pribadi," elaknya. Heh! Apa dia tidak berpikir kalau selama ini aku memanfaatkan dirinya sebagai ATM berjalanku. Apa perlu juga aku mengingatkan dia kalau dia pun sama sepertiku, memanfaatkan aku untuk menghindar dari perjodohan yang ibunya layangkan. Tahu diri dikit napa tuh orang. Kita berdua itu sama-sama saling membutuhkan dan berbagi keuntungan.


"Judulnya beda tapi tujuannya sama. Lo butuh gue buat gagalin rencana perjodohan Nyokap lo, dan gue butuh lo buat lepas dari pernikahan konyol orang tua gue. Impas, anggap aja ini hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme," kataku dengan lancar dan cukup panjang. Jangan sampai Lukman nekad menghancurkan semuanya, padahal ini sudah hampir setengah jalan dan aku kira Arda pun percaya dengan kebohonganku.

__ADS_1


Kebohongan? Ish, rasanya aku tak percaya dengan kebenaran itu. Aku yang selalu berkata jujur apa adanya kini menjelma sebagai ratu drama yang diliputi dengan perkataan dusta. Kehadiran Arda memang berdampak buruk padaku, baru hitungan minggu saja dia sudah berhasil menyulapku menjadi seorang pembohong ulung.


~TBC~


__ADS_2