
"Keindahan rupa memang mampu menyejukan mata, tapi hal itu tak akan pernah bisa mendamaikan ketenangan jiwa."
-Adara Mikhayla Siregar-
•••
Hari baru, suasana baru, dan status baru tentunya. Jika hari-hari sebelumnya aku lebih suka bangun telat dan bermalas-malasan di pagi hari, tapi untuk kali ini lain daripada yang lain. Sangat berbeda. Arda membangunkanku tepat jarum jam berdenting di angka tiga dini hari. Entah apa yang ingin dilakukan lelaki itu di tengah malam seperti ini. Rasa kantukku saja belum terobati tapi dengan tidak sopannya dia malah melakukan hal itu padaku. Ingin rasanya memaki dan memarahi dia, tapi aku urungkan saat kedua rungu ini mendengar alasannya.
"Kita salat malam jama'ah." Itulah kalimat yang dia jadikan sebagai alasan. Dengan langkah malas dan lunglai tak bertenaga aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka sekaligus mengambil air wudhu. Sedangkan Arda menyiapkan perlengkapan salat yang akan kami gunakan. Aku sama sekali tak tahu tata cara salat dan bagaimana bacaannya, tapi kalau aku bertanya aku malu juga. Ya sudahlah bodo amat aku hanya mengikuti gerakannya saja, dan untuk bacaannya aku gunakan saja bacaan salat fardu. Untuk masalah niatnya tak apalah biar dia saja yang wakilkan. Beginilah risikonya menikah dengan lelaki taat beragama, aku pun dituntut untuk tahu segalanya. Padahal aku sangat awam dalam hal tersebut.
"Ganti bajunya, Dar. Masa mau menghadap Allah pake baju tidur," titahnya yang membuatku mendengus kasar. Sangat ribet sekali sih. Lagi pula aku salat menggunakan mukena, tidak hanya sekadar baju tidur saja.
"Ada mukena yang nutupin baju tidur gue, Arda!" sahutku dengan nada kesal dan jutek. Nyawaku saja belum terkumpul dengan sempurna, dan dia dengan seenak jidat memerintah ini dan itu. Makin hari dia makin ngelunjak.
"Kamu bisa berpakaian bagus dan rapi saat ingin bertemu dengan orang-orang yang kamu anggap penting, tapi pada saat kamu akan menghadap Allah kamu hanya menggunakan pakaian biasa saja, dan itu pun bekas kamu tidur. Apa itu gak kebalik, Dar? Pake pakaian terbaik yang kamu punya, setidaknya saat hari perhitungan kelak di akhirat baju itu bisa berkata, 'Aku sudah pernah dipakai beribadah kepada-Mu Ya Rab.' Kalau hidup mau bener perbaiki dulu hubungan kamu sama Allah, terlebih lagi ibadah salatnya," terangnya panjang kali lebar.
Aku mendengus dengan kedua kaki yang aku hentak-hentakkan ke lantai. Kenapa dia sangat menyebalkan sekali? Sifat aslinya mulai keluar ke permukaan. Ke mana Arda yang dulu tak pernah berkata banyak, dan selalu mengikuti titahku? Aku muak dengannya.
__ADS_1
"Sudah?" tanyanya memastikan. Aku berdehem cukup kencang sebagai jawaban. Memakai dengan kecepatan kilat mukena dan segera berdiri di belakangnya.
Entah sadar atau tidak mendadak perasaan dongkol dan kesal yang baru saja aku rasakan menguap begitu saja, hanya karena mendengar suara takbir yang Arda gaungkan. Hatiku sangat tenang dan damai mendengar lantunan demi lantunan ayat Al-qur'an darinya. Di tengah keheningan malam seperti ini memang sangat pas untuk dijadikan sebagai waktu perenungan dan pengakuan akan dosa-dosa yang telah dilakukan.
Aku tak tahu surah apa yang dia bacakan, tapi entah mengapa hatiku bergetar hebat mendengarnya. Dadaku terasa sangat sesak, napasku memburu dengan cepat tak beraturan, dan tepat di sujud terakhir, air mataku luruh begitu saja. Aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri, dan aku tak bisa berbuat banyak selain menikmati kemelut perasaanku yang sudah kacau balau. Entah apa yang saat ini tengah aku rasakan, yang jelas aku seperti ditampar oleh benda tak kasat mata yang langsung membuat seluruh tubuhku sakit serta menggigil penuh ketakutan.
Innahum kaanuu qobla zaalika mutrofiin, wa kaanuu yushirruuna 'alal-hinsil-'azhiim [1]. Lantunan dari surah terakhir yang Arda bacakan sangat terngiang-ngiang dalam ingatan. Aku bodoh dalam memahami makna dan kandungan yang terdapat dalam Al-qur'an, tapi entah mengapa potongan ayat tersebut berhasil membuatku merasakan sakit yang teramat dalam. Ada apa denganku?
"Allahu Akbar." Aku bangun dari posisi sujudku saat kalimat takbir itu terucap dari sela bibir Arda. Keadaanku kini sudah sangat kacau dan tak kuasa untuk melanjutkan kegiatan ini. Bacaan salat yang aku lafalkan pun sudah melantur ke mana-mana. Fokusku hilang dan hanya tertuju pada potongan ayat yang tadi Arda bacakan. Otakku menerka-nerka penasaran.
"Assalamualaikum warohmatulloh," salamnya dengan kepala bergantian menengok ke kanan dan kiri. Aku mengikuti apa yang dia lakukan, tapi setelahnya aku langsung menekuk lutut dan meletakkan kepala di atasnya, lalu memeluknya dengan erat. Perasaanku kian tak tentu arah dan tujuan, aku tak mengerti dengan diriku yang saat ini. Ini bukanlah diriku.
Aku mendongak dan menatap wajah khawatir yang ditampilkan olehnya. "Lo yang buat gue kaya gini, Arda. Lo buat gue nyaman dan tenang tapi lo juga buat gue takut dan kalut di waktu yang bersamaan. Gue bingung sama apa yang gue rasain sekarang."
Arda menarik pelan kepalaku, menghapus cairan bening yang sudah banjir di seluruh permukaan wajahku. "Otak kamu memang tak mengerti tapi hati kamu jauh lebih memahami." Aku hanya diam mencerna kalimat yang baru saja dia ucapkan.
"Jangan gunakan akal kamu untuk memahaminya, tapi gunakanlah hati kamu untuk mengilhaminya," tuturnya dengan sunggingan tipis.
__ADS_1
"Gue gak ngerti maksud lo, Arda. Bahasa yang lo pake terlalu tinggi," kataku yang justru membuat senyum tipis di bibirnya terbit.
"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah," Arda menjeda kalimatnya dan menggenggam lembut kedua tanganku, "dan aku harap kamu adalah salah satu dari sekian banyak perhiasan itu. Bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak." Gemuruh dalam dadaku berontak hebat mendengar kalimat yang baru saja Arda ungkapkan. Hatiku tiba-tiba saja menghangat dan merasa ketenangan yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan.
"Sudah jangan nangis terus, nanti cantiknya hilang," candanya yang malah membuatku mendengus tanpa sadar. Ada apa dengan lelaki itu? Apakah dia juga sejenis lelaki yang pandai mengobral banyak bualan manis pada setiap perempuan?
Aku menghapus bersih jejak-jejak air mata di sekitar wajahku dengan mukena. "Kecantikan aku gak akan luntur hanya karena menangis, Mas Arda," kataku dengan alis yang sengaja aku naik turunkan. Aku pun sengaja menekan dua kata terakhirnya. Malu sebenarnya, tapi aku harus membiasakan hal itu agar lebih bisa mendalami peranku sebagai istri yang sesungguhnya.
Arda terkekeh pelan sebelum berucap, "Makasih, Dar." Aku mengangguk dengan senyum lebar mengembang. "Sebagai imbalannya kamu harus ajarin aku agama. Mulai sekarang aku akan mengikuti apa pun yang kamu perintahkan," pintaku. Bismillah, semoga ini adalah awal yang baik untuk kehidupanku. Waktu takkan pernah bisa menunggu, kapan pun jika Allah mau Dia pasti akan mencabut nyawaku. Aku tak ingin meninggal dalam keadaan aku belum taat, setidaknya aku sudah mencoba dan berusaha. Dan untuk hasilnya biarkan kuasa Allah yang berbicara.
"Insya Allah, tegur aku kalau caraku membimbing kamu terlalu keras dan melebihi batas," sahutnya yang langsung aku balas dengan anggukan penuh keyakinan.
Keindahan rupa memang mampu menyejukan mata, tapi hal itu tak akan pernah bisa mendamaikan ketenangan jiwa. Jika bersama dengannya merupakan takdir yang tak dapat aku tolak, aku harap hatiku bisa tergerak untuk terus menetap. Harapku sederhana saja. Cukup jadikan aku sebagai makmum yang patuh dan taat saat berada satu shaf di belakangnya. Dan jadikan aku sebagai teman hidup saat berada di sampingnya.
~TBC~
Catatan Kaki :
__ADS_1
[1]. "Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah, dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar." (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 45-46)