
"Aku orangnya tak pandai dalam hal mengintropeksi diri tapi sangat pandai mengomentari."
-Adara Mikhayla Siregar-
•••
Perkataan Arda sungguh sangat menggangu kerja otakku, bagaimana tidak. Dia secara gamblang dan tegas menuntut hak-nya, tapi mau sampai kapan pun aku tak akan pernah mau memberikan itu. Enak di dia gak enak di aku, lagian sebentar lagi kita juga akan berpisah. Aku tak mau ambil risiko jika sesuatu yang tidak aku harapkan, datang tanpa undangan. Aku menikah dengan dia dalam keadaan utuh, dan aku juga harus berpisah dalam keadaan utuh. Bodo amat soal masalah perjanjian tertulis yang telah aku dan dia sepakati. Perjanjian itu hanya menguntungkan dia pribadi, tidak bagiku.
"Semuanya sudah salah dari awal, kalian menikah karena sebuah keterpaksaan dan menjalaninya pun hanya karena sebuah kesepakatan. Rumah tangga seperti apa yang sebenarnya ingin kalian bina?"
Perkataan itu Mamah lontarkan saat beliau tanpa diminta datang ke rumah yang telah dia belikan. Kedatangannya pun hanya untuk menceramahiku habis-habisan. Aku yakin itu. Belum apa-apa saja beliau sudah menskakmat aku dengan kata-kata pedasnya.
"Mamah sama Papah yang duluan buat kesalahan ini. Adara cuman ngikutin alurnya aja, jadi yang salah bukan Adara dong," sahutku tak mau kalah. Pernikahan konyol ini berlangsung karena kedua orang tuaku yang memutuskan tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu. Jadi jangan salahkan aku jika kini hidup dalam sandiwara rumah tangga yang tak berkesudahan.
"Kamu emang keras kepala. Mamah sama Papah ngelakuin ini supaya kamu bisa meninggalkan kelakuan buruk kamu yang gemar keluyuran sama laki-laki yang bukan mahram. Kita itu sayang sama kamu, kita gak mau terus-terusan liat kamu tersesat---"
"Ya tapi gak nikahin Adara diam-diam juga dong, Mah. Kan bisa diomongin dulu baik-baik, jangan asal kaya gini. Semuanya serba dadakan dan mengagetkan." Aku sengaja memotong perkataan Mamah dengan cepat.
Beliau menghela napas berat. "Mamah gak yakin kamu bakal nerimanya. Yang ada kamu kabur duluan sebelum pernikahan itu digelar," kata Mamah yang sangat paham dengan otak cerdikku.
Iyalah kalau aku tahu dari awal akan dijodohkan dengan cowok modelan Arda, pasti aku sudah ngibrit dan gak bakal balik-balik. Ogah bener kalau harus menyandang status sebagai istri dari laki-laki yang tak sesuai dengan harapan.
"Sudahlah semuanya juga sudah terjadi. Seharusnya kamu bersyukur karena dapet pasangan kaya Nak Arda. Paket komplit itu," ucap Mamah dengan entengnya.
Paket komplit apaan dah? Dikira tuh orang nasi kotak kali. Emang dasar Mamah yang sudah terlalu menganggap Arda lelaki super baik, jadi mau aku katakan keburukannya juga akan terasa percuma saja. Beliau belum tahu saja bahwa menantu tercintanya itu gemar mengoleksi santri-santri putri. Bahkan tuh orang mau bikin asrama buat nampung koleksi cewek simpanannya. Apakah seperti itu jodoh pilihan kedua orang tuaku?
"Asal Mamah tahu aja nih yah, Arda tuh punya banyak selingkuhan. Sama tuh cewek-cewek dia royal, bahkan ngajak makan di restoran mahal. Lah kalau sama Adara boro-boro, minta uang saku satu minggu sekali aja udah dia protes habis-habisan. Perhitungan banget dia jadi orang!"
Tanpa pemberitahuan Mamah menjewer kupingku yang masih tertutup jilbab segiempat. Sifat anarkis Mamah emang gak pernah berubah. "Sama suami tuh yang sopan. Arda... Arda... kamu kira dia siapa? Jangan malu-maluin Mamah dong, Adara. Kalau sampai ketahuan sama orang tuanya Nak Arda gimana? Apa kamu gak mikir sampai sana. Kamu minta uang saku satu minggu sekali? Kamu benar-benar keterlaluan yah, Adara. Sudah tahu pekerjaan Nak Arda itu hanya pekerja pabrikan biasa, dan kamu dengan seenak jidat minta uang segitu rutinnya. Matre banget kamu jadi perempuan."
__ADS_1
Lengkap sudah penderitaanku hari ini. Sudah diomeli habis-habisan, disiksa secara brutal sampai kupingku berdengung tak keruan. Mamah emang ratu tega sejagad raya.
"Ya kalau ketahuan Adara seneng lah, kan enak bisa langsung sidang di meja hijau. Syukur-syukur langsung talak tiga aja sekalian," cerocosku di tengah jeweran tangan Mamah yang makin kencang menyakitkan. Biasakah Mamah lepaskan dulu sebentar?
"Harusnya Arda tuh bersyukur karena Adara gak minta dia buat kasih uang satu hari sekali. Segitu itu udah wajar kali, Mah. Ah Mamah ribet dan terlalu berlebihan. Iya Adara tahu kok kalau Adara itu matre. Gak usah Mamah koar-koar juga semua orang udah tahu," imbuhku menambahi.
"Punya anak satu kok gini amat. Gak ada satu pun manusia yang mau rumah tangganya kandas di pengadilan, ini kamu malah lain daripada yang lain. Mamah gak ngerti sama jalan pikiran kamu, Adara. Jadi cewek matre kok bangga? Harusnya kamu tuh malu dan berubah!" kata Mamah seraya melepaskan kedua jari sadisnya di salah satu indra pendengarku. Kalau aku gak bisa mendengar dengan baik dan benar bagaimana? Emangnya Mamah mau tanggung jawab.
Aku mengusap telinga sebelah kananku yang jadi korban tangan nakal Mamah. "Iya kalau lakinya milyuner yang punya duit gak berseri, Adara gak bakal tuh sia-siain laki model begitu. Lah ini Mamah sama Papah malah jodohin Adara sama Arda. Emang gak ada yang bagusan lagi apa? Hidup tuh harus realistis, cewek matre itu biasa."
Mamah menyentil keningku lumayan kencang. "Yang paling pertama dan paling utama harus dilihat dari seorang pria adalah, agamanya. Kalau agamanya bagus ya sudah langsung halalkan saja. Tapi matre kamu sudah tingkat akut dan harus dimusnahkan. Itu namanya bukan minta nafkah tapi ngerampok!"
Tipe semacam ini hanya berlaku bagi perempuan-perempuan berakhlak baik, serta lulusan dari pesantren terbaik juga. Bukan perempuan modelan aku kaya gini. Mana ada minat sama cowok modelan kaya gitu. Kalau semisal Mamah buka jasa biro jodoh, sudah bisa dipastikan hubungan para kliennya akan berakhir di tengah jalan. Ya kaya kisahku ini. Bukannya langgeng ini malah bubaran.
Harusnya para perempuan di luar sana itu berpikiran jauh seperti aku, masalah materi dan ekonomi itu harus dipersiapkan sedini mungkin. Gak cukup hanya modal cinta doang tuh pernikahan bakal lancar jaya sejahtera. Kalau ada coba bawa sini ke hadapan aku sekarang juga. Dipikir dengan cinta kita bisa kenyang dan bisa membeli semua kebutuhan yang diperlukan? Kagak lah. Tuh orang hidup di zaman apa?
"Mamah ke sini buat kultum depan Adara? Gak akan mempan, Mah!" sahutku cepat. Ingin rasanya mengusir Mamah, tapi aku tak cukup memiliki keberanian. Rumah ini dibeli oleh uang kedua orang tuaku, walaupun hak atas kepemilikan rumah ini seratus persen diberikan kepada aku dan Arda. Harusnya sih menjadi milik aku pribadi, bukannya milik berdua. Kalau nanti pisah kan ribet, harus bagi hasil harta gono-gini.
Mamah menegakkan tubuhnya yang sedaritadi dia sandarkan pada badan sofa. "Kamu yah, orang tua datang jauh-jauh ke sini bukannya dikasih makan kek, minum kek, ini malah ngomong kaya gitu. Gak mau banget kayanya Mamah kunjungin," ucap Mamah dengan tangan yang sudah sengaja dia lipat di depan dada.
"Kalau Mamah datangnya bawa bingkisan dan gak ada niat buat ceramahin Adara sih, Adara dengan senang hati dan tangan terbuka lebar akan menerima kedatangan Mamah. Tapi ini lain ceritanya, Mah," sahutku yang dengan enteng sengaja menaikkan sebelah kakiku di atas kaki lainnya.
"Terus apa kabar sama dua kantung keresek besar yang tadi sudah kamu amankan ke dapur, Adara?"
Aku hanya memasang wajah tanpa dosa. "Cuman kebutuhan dapur doang juga, Mah. Jangan perhitungan gitu dong kalau sama anak," kataku.
Mamah mendengus sebelum berucap, "Kalau emang kamu anak Mamah, harusnya kamu mau-mau aja dong ngikutin permintaan Mamah? Ini mah boro-boro, kerjaan kamu cuman protes doang."
"Kalau yang ini beda kasus, Mah," elakku tak mau kalah.
__ADS_1
"Ngeles mulu kamu jadi orang. Turunin tuh kaki, depan orang tua kok gak ada sopan-sopannya sama sekali." Mamah menggeplak kakiku dengan lumayan kencang. Aku hanya cengengesan tak jelas dan segera mengikuti titahnya.
"Santai aja, Mah. Anggap rumah sendiri," candaku yang mendapat gelengan kepala dari wanita setengah abad yang memiliki gelar sebagai ibu kandungku itu.
"Ini emang rumah kamu. Sudah ah jangan ngajak ribut mulu, Mamah lagi gak mood," cetusnya yang membuat aku tertawa cukup kencang. Bahasa Mamah terlalu tinggi, pakai acara bawa-bawa mood segala. Berasa jadi anak muda lagi kali yah. Sedang dalam keadaan unmood saja mulutnya begitu lancar menceramahiku secara brutal. Bagaimana kalau mood-nya sedang baik? Bisa habislah aku.
"Kamu tuh kapan sih, Dar bisa dewasanya? Mamah bingung harus ngelakuin cara apalagi supaya kamu berubah. Kamu tuh sadarnya hanya pada saat itu saja, besoknya langsung lupa seakan-akan gak pernah terjadi apa-apa sebelumnya."
"Jangan mulai deh, Mah. Adara lagi gak minat buat nangis-nangis bombay lagi." Aku paling malas kalau Mamah sudah mulai mempermainkan suasana hatiku seperti ini.
"Alah air mata kamu itu air mata buaya. Mamah sudah kebal liat tangisan kamu, dan setelahnya kamu pasti buat ulah lagi. Gitu aja terus."
Aku hanya bisa diam karena memang itu adalah sebuah kebenaran. Air mataku gampang luruh kalau dihadapkan pada keadaan yang memang mengundang tangis, tapi aku juga gampang lupa. Sudah pernah jatuh tersungkur tapi masih saja tak belajar dari kesalahan. Aku orangnya tak pandai dalam hal mengintropeksi diri tapi sangat pandai mengomentari.
"Mamah gak akan ikhlas dan ridho kalau sampai kamu nekad buat gugat cerai Nak Arda. Gak ada satu pun orang tua yang mau melihat rumah tangga anaknya rusak. Mamah gak mau tahu pernikahan kalian harus langgeng sampai maut memisahkan. Kalau kamu masih keukeuh, Mamah gak bakal segan-segan buat bongkar semuanya sama Papah."
Perkataan Mamah membuat nyaliku menciut takut. Kalau sampai Papah marah besar bagaimana? Siapa lagi yang mau nanggung semua kebutuhanku selain beliau? Belum lagi limpahan kasih sayangnya yang begitu besar. Aku tak mau kehilangan semua itu. Tapi aku juga tak ingin memperpanjang masa pernikahanku dengan Arda.
"Mamah jangan buat Adara tertekan dong, Mah. Adara gak bisa menuhin permintaan Mamah," pintaku mencoba untuk membujuknya.
"Bukannya gak bisa tapi emang dasarnya kamu yang batu dan gak mau mencoba." Hujaman kata-kata Mamah membuatku kesulitan untuk membela diri.
"Setidaknya kasihlah Mamah cucu," tuturnya dengan tampang memelas minta dikasihani. Jangan mulai dong, Mah. Baru kemarin Arda membahas soal beginian, masa iya sekarang Mamah juga mau melakukan hal yang sama. Kompakannya kok dalam kaya gini sih.
"Mamah jangan sedih, Adara sudah hamil kok." Perkataan itu bukan berasal dari mulutku. Serius deh. Duarius malah. Aku menoleh ke sumber suara, di mana Arda sedang berdiri mematung di sana dengan memasang tampang palsunya. Kenapa dia harus ngomong kaya gitu sih?
Tanpa aba-aba Mamah langsung memelukku dengan diiringi tangis bahagianya. Tubuhku lunglai tak bertenaga. Apalagi ini Ya Allah?
~TBC~
__ADS_1