Matrealistis

Matrealistis
44-Sadar


__ADS_3

"Keindahan dunia telah memperdayaku hingga lupa akan kehidupan akhirat yang sudah menunggu di ambang mata sana."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Arda tengah duduk bersila di atas sajadah, sebuah Mushaf Al-qur'an berada dalam pangkuan. Lantunan ayat suci tak pernah lelah keluar dari sela bibir lelaki itu, sedangkan aku hanya menjadi pendengar setianya. Jujur saja melihat Arda yang seperti sekarang entah mengapa membuat batinku tenang, irama jantungku berdetak tak keruan. Dia memang lelaki yang tak memiliki tampang indah rupawan, tapi dia adalah lelaki beriman yang selalu berjalan dalam koridor ketaatan. Aku tak bisa memungkiri bahwa aku menaruh kekaguman pada dia, tapi aku tak pernah menaruh perasaan lebih untuknya. Aku cukup tahu diri, dan tak pantas saja rasanya jika aku memimpikan lelaki shalih, sedangkan diriku masih sangat jauh dari kata shalihah. Arda lebih berhak mendapatkan pendamping yang lebih dari segalanya dibanding aku.


Kegiatanku sedikit terganggu karena suara bising dari gawai milik Arda, tapi melihat dia yang tengah khusuk membaca Al-qur'an membuatku mengurungkan niat untuk memberitahunya. Tapi aku yakin dia pun mendengar, hanya saja dia enggan untuk mengakhiri kegiatan mengajinya. Dia memang tak pernah suka bila ritual ibadahnya harus terganggu, hanya karena urusan duniawi, yang sebenarnya masih bisa dia lakukan di lain waktu dan kesempatan. 


"Tolong angkatin dulu, Dar," suara Arda membuat lamunan singkatku terhenti. Dengan ragu aku mengambil benda pipih berlayar datar tesebut.


"Nyokap lo yang telepon, tapi udah keburu mati lagi," kataku memberitahu. Arda sedikit memutar tubuhnya ke arahku dan berucap, "Kamu gak keberatan kan kalau aku minta tolong buat telepon balik, Umi?" Anggukan kecil aku berikan sebagai jawaban.


"Di password gak?" tanyaku yang langsung dihadiahi gelengan singkat olehnya. Gerakan tanganku langsung terhenti secara otomatis saat melihat wallpaper gawai miliknya. Deru napasku memburu dengan cepat, detak jantungku berlaku abnormal tak keruan, tanganku pun sudah berkeringat dingin dibuatnya.



Aku termenung di tempat dengan pikiran yang sudah bercabang ke mana-mana. Dadaku rasanya begitu sesak dan kesulitan untuk bernapas. Ketakutan yang tak pernah muncul ke permukaan seakan menampakkan wujudnya. Aku linglung, otakku tak bisa berpikir dengan jernih. Sampai akhirnya suara Arda kembali menyadarkanku, dan tanpa sadar aku menjatuhkan benda pintar itu. Beruntung tangan Arda dengan sigap menangkapnya. "Kamu kenapa, Dar?" Hanya itulah kalimat yang mampu aku tangkap.


"Adara!" suara Arda kembali mengusik kedua runguku, dan secara spontan membuat kedua mataku mengerjap pelan.


"Kenapa?" ulangnya. Aku gelagapan dengan pandangan kosong menatap lurus ke arahnya.


"Aku buat salah lagi sama kamu? Atau kamu keberatan karena aku mintai tolong?" katanya yang sama sekali tak aku respons.


"Lho kok malah nangis sih, Dar? Kamu kenapa?" Air mataku tak terasa sudah mulai berjatuhan dan mengalir dengan lumayan deras. Aku bisa merasakan Arda yang membantuku untuk duduk di pembaringan.


"Gu... gu.... gue... takut... Arda...," lirihku dengan tangan yang sudah bertengger apik menutupi seluruh wajah.

__ADS_1


Pikiranku saling berkecamuk, dan aku semakin dibuat membatu saat ada sepasang tangan yang merengkuh tubuh menegangku. Arda memelukku? Cairan bening ini semakin lancang jatuh tanpa tahu aturan. "Istigfar, Dar istigfar," ucapnya dengan tangan yang sibuk mengelus punggungku lembut.


Aku hanya diam dan tak mampu untuk mengikuti titah yang Arda berikan. Rasanya kerongkonganku tercekat dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Pikiranku hanya tertuju pada sepenggal kalimat yang tertata apik di layar ponsel Arda. Mati. Satu kata itu sangat mengusikku. Amalan apa yang sudah aku persiapkan untuk menghadapi sakratul maut?


Arda melepaskan pelukannya, menatapku dengan begitu lekat dan menggenggam erat kedua tanganku yang sudah dingin serta bergetar. "Apa yang kamu takutkan, Adara? Ada aku di sini."


"Gue belum siap, Arda! Gue belum siap!" rancauku tak jelas. Kening Arda mengkerut, tapi detik berikutnya senyum tipis terukir indah di kedua sudut bibirnya. "Kalau kamu belum siap, gak papa. Aku akan bilang sama Mamah supaya acaranya diundur, atau mau di-cancel saja?"


Aku menggeleng tanpa sadar. Pandanganku yang buram karena air mata menatap tepat pada kedua iris netra miliknya. "Gue takut mati, Arda. Gue belum siap!"


Aku bisa melihat raut keterkejutan di wajahnya, tapi detik berikutnya dia kembali memberikan sebuah senyuman. "Jangan takut mati, Adara. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Tak ada satu pun manusia yang abadi dan bisa hidup selamanya di dunia. Mati adalah sesuatu yang pasti kita alami."


Perkataan Arda malah semakin membuat tubuhku menggigil hebat. Apa yang bisa aku bawa untuk menghadapi kematian? Sedangkan diri ini masih lalai dan jauh dari ketaatan. Apakah ibadah wajibku cukup untuk dijadikan penolong, agar aku dapat terhindar dari panasnya api neraka? Dosa-dosaku terlampau banyak dan tak bisa diampuni hanya karena sebuah penyesalan dan ungkapan maaf. Apakah Allah masih sudi memberikan kesempatan untukku yang berdosa ini?


"Yang seharusnya kamu takuti itu adalah pertanggungjawaban setelah mati. Apakah amalan yang kita lakukan cukup untuk dijadikan batu loncatan agar terhindar dari panasnya api neraka?" Aku menunduk dalam mendengar penuturan Arda. Kata demi kata yang dia ucapkan berdampak buruk untuk kesehatan batinku yang terus bergejolak tanpa bisa dikendalikan.


"Gue mau taubat, Arda. Apa Allah masih sudi menerima taubat gue? Gue ini pendosa!"


Arda mengeratkan genggaman tangannya, lalu dia berucap, "Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan.” (HR. At Tirmidzi, 3880). Sebesar apa pun kesalahan yang kamu perbuat Insya Allah, Allah akan melapangkan pintu maafnya. Jangan berkecil hati karena Allah itu Maha Pemberi Maaf, Adara."


Tangisku semakin pecah tak terbendung, bayangan akan dosa-dosa yang selama ini aku perbuat saling berseliweran. Bagaikan kaset rusak yang tanpa lelah berputar memenuhi ingatan. Selama ini aku terlalu angkuh dan sombong dengan apa yang aku miliki sekarang, padahal sudah sangat jelas bahwa semua yang aku miliki ini adalah milik-Nya. Keindahan dunia telah memperdayaku hingga lupa akan kehidupan akhirat yang sudah menunggu di ambang mata sana.


Suara decitan pintu yang dibuka secara otomatis membuat fokusku dan Arda teralihkan. Terlihat Mamah di sana tengah berdiri dengan peralatan salat yang beliau peluk dengan erat di depan dada. Beliau langsung berjalan cepat menghampiri kami, memelukku dengan begitu hangat. "Kamu kenapa, Sayang?"


Posisi Mamah yang berdiri, sedangkan aku terduduk di ranjang membuatku dengan leluasa membenamkan wajahku pada perutnya. Rasa sesak itu kian menyeruak dan kembali menimbulkan kesakitan yang tiada henti. "Maafin Adara, Mah." Isak tangis sengaja aku biarkan lolos begitu saja dari sela bibirku. Terlalu banyak dosa yang telah aku perbuat pada beliau. Menyakiti hatinya sudah sangat sering aku lakukan, setiap perintah dan petuahnya tak pernah aku hiraukan.


Mamah mengangkat lembut kepalaku agar mendongak dan menatap ke arahnya. "Kamu gak ada salah apa-apa sama Mamah, kalau pun ada Mamah sudah memaafkannya," kata Mamah penuh ketulusan, bahkan kedua ibu jarinya beliau gunakan untuk menghapus cairan bening yang keluar tanpa henti di kedua sudut mataku.


"Kamu kenapa, Sayang? Jangan buat Mamah cemas gini dong, Nak," tuturnya. Aku bisa melihat raut kecemasan di wajah senjanya.

__ADS_1


"Adara banyak salah sama Mamah, kerjaan Adara bisanya cuman buat ulah dan nyusahin Mamah," kataku yang langsung beliau tanggapi dengan gelengan pelan. "Senakal-nakalnya kamu, kamu tetap anak Mamah. Kamu gak boleh ngomong kaya gitu, Mamah gak suka."


"Sudah ah jangan nangis lagi. Besok kan mau jadi pengantin, nanti gak maksimal dong pas duduk di pelaminan," candanya yang membuat senyumku sedikit terbit.


"Arda nakal yah sekarang, berani-beraninya buat anak gadis Mamah nangis kejer kaya gini. Mamah laporin Umi sama Abi kamu baru tahu rasa," oceh Mamah yang berhasil mencairkan suasana menjadi lebih ringan, tak lagi tegang seperti tadi.


Aku dan Arda hanya menanggapi ucapan Mamah dengan sunggingan. Bibirku rasanya terkunci dengan begitu rapat dan tak lagi bisa digunakan untuk berbicara.


"Sudah mending sekarang kalian istirahat, Mamah tidur di ruang tamu saja sekalian nunggu Umi kamu ke sini. Beliau juga mau menginap di sini, kenapa telepon Umi kamu gak diangkat, Nak Arda?" oceh Mamah.


"Tadi Arda lagi ngaji, Mah. Tanggung, tapi sudah mau Adara angkat kok cuma teleponnya keburu mati lagi," jelas Arda.


Mamah mengembuskan napasnya pelan. "Kenapa gak ditelepon balik? Beliau sampai hubungi Mamah nanyain kabar anaknya yang gak bisa dihubungin," omelnya. Mamahku ini mulutnya memang tidak bisa dikondisikan. Dalam keadaan seperti ini saja masih sempat untuk mengomel.


"Belum sempat, Mah tadi keburu shock lihat Adara yang nangis tiba-tiba," cetus Arda yang membuatku menahan malu hingga menunduk dalam. Kenapa dia sangat jujur sekali sih?


Mamah menggeleng pelan lantas berucap, "Emangnya kamu kenapa, Adara? Nak Arda nyakitin kamu?"


Aku mendongak sebelum menjawab, "Wallpaper hape Arda bikin Adara takut, Mah." Aku melirik ke arah lelaki itu yang justru menampilkan cengiran tanpa dosanya. "Aku gak ada niat buat nakut-nakutin kamu kok. Aku sengaja pasang itu supaya jadi alarm pengingat kalau-kalau aku mau berbuat dosa," terangnya.


"Maafin aku yah," sambungnya dengan tangan yang sengaja mengusap pelan ubun-ubunku. Suara deheman cukup kencang secara spontan membuat tangan Arda menjauh dari kepalaku. Mamah sudah tertawa terpingkal-pingkal membuat kedua pipiku panas dan mungkin saja sudah merah padam.


"Kehadiran Mamah di sini cuman jadi obat nyamuk doang," kekehnya. Aku hanya diam tak merespons. Malu sekali rasanya tertangkap basah oleh Mamah untuk yang kedua kalinya.


"Mamah titip Adara yah, Nak Arda. Mamah percayakan Adara sama kamu," katanya. Sebuah sunggingan terbit di sana.


Arda mengangguk lantas melirik sekilas ke arahku yang juga tengah menatap ke arahnya. Pandangan kami sempat terkunci untuk beberapa detik, tapi dengan segera aku memutuskannya. "Insya Allah, Mah." Hatiku seperti berbunga-bunga saat mendengar kalimat itu. Ada apa dengan diriku?


~TBC~

__ADS_1


__ADS_2