Matrealistis

Matrealistis
49-Al-waqiah


__ADS_3

"Dia sudah berlari cepat untuk menggapai Jannah-Nya, tapi aku masih merangkak pelan jauh di belakangnya. Pantaskah aku menjadi pendampingnya? Dan apakah surga masih sudi menampung hamba sepertiku?"


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Selepas salat malam Arda tak membiarkan aku kembali terlelap dan bercengkrama dengan kasur serta selimut tebal, dia mengajak aku untuk membaca Al-qur'an. Katanya sih sambil menunggu waktu Subuh datang, agar waktu senggang yang kita miliki bisa sedikit bermanfaat serta menghasilkan pahala. Membaca satu huruf saja pahalanya 10, apa lagi kalau sampai bisa membaca satu juz Al-qur'an, atau lebih bagusnya lagi mengkhatamkan, menghafalkan, dan mengamalkannya. Entah berapa banyak pahala yang akan didapatkan.


"Surat yang tadi kamu baca surat apa?" tanyaku di sela acara tadarusan yang sedang kami lakukan. Arda membaca satu ayat dan aku mengikutinya, begitu pun seterusnya. Keterbatasan aku yang belum begitu bisa membaca ayat Al-qur'an tak membuat Arda kehabisan akal.


Keningnya sedikit mengkerut. "Maksud kamu surat yang tadi aku baca pas salat tahajud?" tanyanya memastikan, dan aku langsung mengangguk penuh kepastian.


"Surat Al-waqiah," jawabnya dengan tarikan di kedua sudut bibir.


"Surat Al-waqiah?"


Arda mengangguk mantap lantas berucap, "Surat Al-waqiah merupakan surat ke-56 yang ada di dalam juz ke-27. Dalam surat Al-waqiah ini terdapat 96 ayat, kamu tahu kenapa dinamakan surat Al-waqiah?" tanyanya yang langsung aku balas dengan gelengan.


"Dinamakan surat Al-waqiah karena sesuai dengan ayat pertamanya yakni, al-waqiah yang memiliki arti kiamat." Dia menghentikan penjelasannya. Kedua netranya menatap hangat ke arahku yang menampilkan wajah shock, penuh rasa takut. Kiamat?


"Isi dari surat tersebut menceritakan tentang bagaimana hari kiamat akan terjadi dan juga balasan bagi orang mukmin dan juga orang kafir," sambungnya. Aku semakin menggigil ketakutan. Orang kafir? Apakah aku termasuk di dalamnya juga?

__ADS_1


Tanpa diminta dia menerangkan apa yang kini sudah bersarang dalam kepalaku. "Secara bahasa, kafir berasal dari kata kufur yang artinya menutupi kebenaran, melanggar kebenaran yang telah diketahui dan tidak berterima kasih. Kata jamak dari kafir adalah kaafirun atau kuffar." Mendengar hal itu membuat mulutku diam tanpa suara. Aku termasuk di dalamnya. Aku selalu melanggar aturan-Nya padahal sudah jelas aku mengetahuinya. Gemuruh dalam dadaku kian berpacu cepat, rasa takut itu kian naik ke permukaan.


"Kamu kenapa, Adara?" selorohnya yang hanya aku balas dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Mau dilanjut apa gak?" imbuhnya. Aku bingung antara takut dan penasaran. Tapi setelah beberapa detik terdiam, akhirnya kepalaku mengangguk ragu.


"Selain itu terdapat juga keterangan tentang penciptaan manusia, api, dan segala jenis tumbuhan yang juga sekaligus menerangkan tentang kekuasaan Allah serta akan adanya hari kebangkitan yang memang benar adanya.  Berfikir dan ber-tadabbur terhadap ciptaan-Nya akan menambahkan keimanan kita kepada Allah ta'ala. Yang karenanya Allah ta'la menyeru manusia untuk senantiasa merenungi ciptaan-ciptaan-Nya." Arda menutup penjelasannya dengan sunggingan tipis.


"Ada yang mau kamu tanyakan?" lanjutnya setelah dia menutup Mushaf Al-qur'an lantas menciumnya, dan meletakkan kitab suci tersebut di nakas.


"Ayat yang terakhir kamu baca artinya apa?" tanyaku to the point. Hanya itulah pertanyaan yang memenuhi otakku, dan aku ingin segera mengetahui jawabannya.


"Innahum kaanuu qobla zaalika mutrofiin, wa kaanuu yushirruuna 'alal-hinsil-'azhiim. Maksud kamu yang ini?" Aku kembali hanyut dalam suara merdunya. Hatiku berdebar hebat mendengar lantunan ayat demi ayat yang dia bacakan. Bacaan dan suaranya mampu membiusku untuk beberapa saat ke depan.


"Kamu gak lagi bohongin aku, kan?" Arda menggeleng dan salah satu tangannya kembali menggapai Al-qur'an yang tadi sudah dia simpan. Dia membukanya dan tak lama dari itu dia menyerahkan Mushaf tersebut padaku.


Mataku membulat sempurna saat membaca huruf per huruf yang tertera apik di sana. Tanganku sudah bergetar, pandanganku kosong dengan pikiran yang sudah bercabang. Mataku terus mencari dan berlarian ke sana-kemari, sampai akhirnya terhenti tepat di 5 ayat terakhir surat tersebut.



Bibirku terkatup rapat, tapi gejolak dalam dadaku berontak hebat. Membayangkan hal itu terjadi padaku sungguh membuat rasa takutku bertambah berkali-kali lipat. Saat tanganku tak sengaja tersiram air panas saja rasanya sudah sangat sakit, apa lagi ini disiram oleh air mendidih. Bukan hanya tanganku saja yang kena, tapi seluruh anggota tubuhku yang lain. Dibakar di dalam neraka? Sungguh aku tak kuat  untuk membayangkan bagaimana panasnya, melihat api kompor yang berkobar-kobar saja terkadang membuatku takut.

__ADS_1


Astagfirullah, Astagfirullah, aku terus mengucap istigfar dalam hati. Mencoba untuk menenangkan hati dan pikiranku yang sudah terlalu kalut oleh rasa takut. Sudah terlalu banyak dosa yang selama ini aku perbuat hingga tanpa sadar dosa-dosa itulah yang akan mengantarkanku pada panasnya api neraka. 


"Adara kamu baik-baik saja, kan?" Samar-samar aku mendengar suara Arda, tapi aku sama sekali tak berminat untuk menjawabnya. Otakku lebih memilih untuk menyelami rasa takut dan penyesalan. Dosaku sudah terlampau banyak dan tidak bisa dimaafkan.


Suara kumandang azan Subuh membuyarkan lamunanku, dan tanpa kata aku langsung bergegas ke arah kamar mandi untuk kembali mengambil air wudhu. Setibanya di sana aku tak langsung melakukan kegiatan bersuci itu, dan malah asik menatap pantulan diriku di cermin berukuran sedang yang sengaja dipasang di sana.


Membasuh wajahku dengan air dan kembali mematut pantulan diriku. Wajah yang sempurna tanpa celah dengan kulit putih berseri, kedua mata hitam legam yang terang, bulu mata lentik nan panjang yang banyak diidamkan kaum perempuan, alis tebal, hidung bangir, dan bibir tipis berwarna merah muda semakin menambah kadar kecantikan yang aku miliki.


Setiap orang memuja rupaku, bahkan karena keindahan inilah aku bisa menggaet banyak pria untuk aku jadikan sebagai alat penghasil uang. Selama ini aku tak pernah bersyukur dan malah memanfaatkan nikmat-Nya untuk kesenangan dunia semata. Membanggakan rupa dan lekuk tubuh yang membuat semua mata memandang kagum ke arahku.  Berbagai macam pujian aku dapatkan, dan itu membuat hatiku senang bukan kepalang. Hingga rasa sombong itu mulai tumbuh dan mengakar daging dalam ingatan.


"Dar! Adara!" suara teriakan yang dibarengi dengan gedoran tak sabaran itu berhasil kembali menarikku pada alam nyata.


"Buka pintunya, Dar! Kamu jangan buat aku cemas, Adara. Buka pintunya," katanya dengan suara tinggi bercampur khawatir.


Aku tak menyahut dan lebih memilih untuk mempercepat kegiatan mengambil wudhu. Aku membuka pintu dengan perlahan dan terpekik kaget saat mendapati Arda yang tengah berdiri mematung tepat di depan pintu, hanya berjarak sekitar 10 cm saja denganku. Raut wajahnya sangat menjelaskan dia tengah mengkhawatirkan keadaanku yang terlalu lama di kamar mandi.


"Aku gak papa," cetusku yang membuatnya langsung mengembuskan napas lega.


"Kamu tunggu sebentar, aku mau ambil wudhu dulu," katanya yang aku balas dengan anggukan. Dia sedikit menjauh dan memberikanku akses untuk keluar.


Mata dan hatiku dibutakan oleh keindahan dunia yang fana, hingga tanpa sadar membuatku kehilangan akan rasa syukur, selalu merasa kurang dan menganggap takdir Tuhan tak sesuai dengan harapan adalah dua hal yang selalu aku keluhkan. Allah sudah begitu baik menjodohkanku dengan lelaki seperti Arda, tapi dengan angkuhnya aku mengingkari nikmat tersebut. Ke mana saja aku selama ini?

__ADS_1


Mencampakkan lelaki seperti dia hanya untuk mencari kesenangan dunia semata. Harta adalah patokan pertama yang aku jadikan kriteria paling utama, hingga aku lupa bahwa keimanan seorang hamba tidak dihitung dengan banyaknya harta dan kekayaan yang dipunya. Dengan uang aku memang bisa membeli segalanya, tapi aku harus mengakui bahwa iman seseorang takkan pernah bisa menandinginya. Dia sudah berlari cepat untuk menggapai Jannah-Nya, tapi aku masih merangkak pelan jauh di belakangnya. Pantaskah aku menjadi pendampingnya? Dan apakah surga masih sudi menampung hamba sepertiku?


~TBC~


__ADS_2