Matrealistis

Matrealistis
29-Lukman Hamzah Gaffar


__ADS_3

"Aku gak ada kuasa untuk menghakimi kesalahan Ibuku, biarkan itu menjadi urusan dia sama Allah. Yang terpenting saat ini aku bisa berbakti dan memperlakukannya dengan sebaik mungkin."


-Lukman Hamzah Ghaffar-


•••


Rencana Lukman yang ingin mengantarkanku pulang urung dilakukan, karena ada sebuah panggilan yang berasal dari ibu tercintanya itu. Aku bernapas lega saat dia kembali berputar arah dan melanjutkan perjalanan kami yang tadi tersendat-sendat. Tak ada lagi obrolan di antara kami berdua, kami saling bungkam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku masih kesal dan jengkel dengan tindakannya yang di luar dugaan. Biasanya dia tidak akan ambil pusing perihal masalah pribadi orang lain, tapi entah mengapa sekarang dia malah bersikap lain.


Lukman membukakanku pintu dan kami berjalan beriringan menuju ke dalam restoran, tempat pertemuan akan dilangsungkan. Tak ada drama saling bergandengan tangan, karena memang aku sangat anti dan menghindari hal-hal yang demikian. Suasana restoran cukup sepi dan tak begitu dipadati orang. Aku melihat ada seorang wanita yang usianya hampir sama dengan Mamah, beliau menggunakan baju kurung dengan khimar lebar nan panjang.


Mungkin itu adalah ibunya Lukman, aku heran mengapa orang yang jika dilihat dari segi penampilan sangat begitu alim bisa berlaku tega dan kejam menelantarkan anaknya begitu saja di panti asuhan. Lantas sekarang pada saat anaknya sudah tumbuh dewasa dengan tanpa dosa dia kembali dan ingin memonopoli kehidupannya. Dan bodohnya Lukman mau saja memaafkan serta menerima kembali ibunya.


"Assalamualaikum, Bu," salamnya sebelum dia mengambil alih tangan kanan wanita berusia setengah abad itu.


Senyum manis terpatri apik di wajah beliau, terlihat sangat tulus. "Wa'alaikumussalam, Nak," katanya begitu lembut. Ini mah bentukannya kaya ibu si Arda, alamat kena damprat habis-habisan aku. Salah pilih kostum. Harusnya tadi aku memilih baju gombrong saja.


"Kenalin, Bu ini Adara calon istri Lukman," ucap Lukman dengan lirikan mata ke arahku.


Aku memberikan senyuman terbaik yang aku miliki dan berniat untuk menyalami beliau. Tapi aku dibuat kesal karena tak mendapatkan respons baik darinya, beliau malah menyuruh kami untuk duduk dengan nada suara judes dan memuakkan. Ke mana perginya sifat yang tadi beliau tampilkan?


"Jangan seperti itu, Bu," ujar Lukman yang sepertinya sangat paham dengan suasana hatiku yang sedang tak baik ini.


Beliau menatapku sinis dan tanpa sungkan menelisikku dari atas sampai bawah. Aku sangat risih dengan yang sedang beliau lakukan. Aku bukanlah perampok yang patut untuk dicurigai.

__ADS_1


"Ibu mengajak kamu bertemu di sini untuk mengenalkan kamu dengan gadis pilihan Ibu. Bukan malah membawa gadis modis tak tahu aturan ini." Aku sangat tersinggung dengan perkataan pedas dan sinisnya.


"Namanya Adara, Bu," sela Lukman membelaku. Tapi respons yang wanita senja itu tunjukan sangatlah membuat aku naik pitam. Beliau melihatku dengan sorot merendahkan, seakan-akan aku ini wanita kelas bawah yang tak layak untuk bersanding dengan putranya.


"Saya memang wanita modis yang tak berpakaian layaknya seorang wanita muslimah kebanyakan. Tapi setidaknya saya masih bisa menjaga lisan dan perkataan agar tidak menyinggung dan menyakiti orang lain." Aku berkata dengan sangat penuh penekanan. Aku ingin memperlihatkan pada beliau bahwa aku tak pantas diperlakukan seperti itu.


Sekarang aku paham mengapa beliau tega menelantarkan Lukman begitu saja. Beliau seperti bersembunyi di balik pakaian syar'i yang merupakan identitas dari seorang wanita muslim. Kata demi kata yang keluar dari mulutnya begitu menyakitkan dan sangat tidak mencerminkan dengan apa yang tengah dia gunakan.


"Sudah jangan ribut." Lukman mencoba untuk melerai dan menghentikan perang adu mulut di antara kami berdua.


"Maaf menunggu lama, tadi saya ke kamar mandi sebentar," suara lembut seorang perempuan mengalihkan fokusku.


Aku melihat ke sumber suara dan mendapati seorang perempuan tinggi semampai dengan baju kurung dan khimar yang menutupi dadanya. Wajahnya begitu cantik dan putih berseri-seri, senyuman manis yang terbingkai sangat memabukkan dan berhasil membiusku. Aku yang merupakan perempuan saja merasa terpesona sekaligus iri dengan wanita yang tak aku ketahui namanya itu. Apalagi Lukman yang merupakan seorang pria, pasti dia akan langsung jatuh hati pada gadis itu.


"Gak papa, ayo duduk, Sayang." Aku memutar bola mata malas melihat reaksi yang ditunjukan oleh ibunya Lukman. Pada perempuan itu beliau bisa bersikap manis dan ramah tapi padaku?


"Lukman ini Marwah, calon istri kamu, Nak." Perkataan beliau begitu penuh dengan penekanan, beliau seperti ingin menjelaskan bahwa kehadiranku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perempuan itu.


Aku melirik ke arah Lukman yang kebetulan duduk berdampingan denganku. Wajahnya datar-datar saja tanpa ekspresi sedikit pun, bahkan dia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Ibu tidak ingin menunda pernikahan kalian, lebih cepat lebih baik," cetusnya tanpa beban sedikit pun. Aku tak mengerti dengan jalan pikirannya yang begitu ngebet ingin menjodohkan Lukman dengan wanita bernama Marwah. Tidak kedua orang tuaku, ibunya Lukman, mereka sama saja. Suka memaksakan kehendaknya sendiri tanpa pernah mau mendengar kemauan anaknya. Egois.


"Mohon maaf sebelumnya, Tante. Apa perlu saya menjelaskan lagi perihal status saya di sini? Wanita modis yang tak tahu cara berpakaian yang baik dan benar ini adalah calon istri dari putra yang Anda tinggalkan belasan tahun silam," kataku sarkasme. Aku tidak akan kalah dan mau mengalah dengan perempuan senja di hadapanku ini.

__ADS_1


Matanya menyala dengan begitu tajam, sangat terlihat jelas kalau beliau tidak suka dengan apa yang aku katakan. Mengapa dia harus bersikap demikian? Apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran, yang seharusnya beliau akui di khalayak ramai.


"Sudah, Adara. Cukup." Aku mendengar suara Lukman yang serupa dengan bisikan. Sangat pelan dan bergetar. Dia selalu seperti itu jika aku mengungkit perihal kesalahan besar yang ibunya perbuat. Sedangkan ayahnya dengan tega pergi bersama dengan perempuan kaya yang jelas lebih segalanya dari ibunya Lukman. Aku cukup tahu banyak perihal kehidupan kelam Lukman yang menurutku sangat menyakitkan.


Aku tak menghiraukannya dan justru menatap sengit penuh perlawanan pada wanita diktaktor yang tak lain dan bukan menyandang gelar sebagai ibunya Lukman. "Apa Anda tidak memiliki sedikit saja rasa malu dan penyesalan atas perbuatan Anda dulu?"


"Kita pulang sekarang." Dengan lancang tanpa izin Lukman langsung menggeretku agar menjauh pergi. Ini adalah kali pertama dia berani melakukan kontak fisik padaku, walau hanya sebatas memegang tanganku saja.


Aku menepis tangannya jauh-jauh. "Lepasin tangan gue." Dia menurut dan memintaku untuk kembali masuk ke dalam mobil.


"Kenapa lo malah bawa gue pulang sih? Mulut gue gatel pengen maki-maki Nyokap lo yang gak tau diri dan egois itu." Aku berkata dengan jujur apa adanya.


Lukman terkekeh kecil mendengar perkataanku. Ada yang lucu?


"Apa kamu gak salah ngomong, Dar? Mau maki-maki Ibu aku kok malah bilang-bilang anaknya sih," katanya masih dengan sedikit tawa ringan.


"Ya lagian kenapa sih lo gak pernah berontak atau kalau perlu marahin dan maki-maki aja sepuas lo. Kesalahan Nyokap lo udah gak bisa dikasih ampun, sekali-kali kasih pelajaran. Biar dia tahu diri."


Lukman melirik sekilas ke arahku. "Mau sebesar apa pun kesalahan Ibuku, dia akan tetap menjadi Ibuku. Dia memang telah membuang dan menelantarkan aku, tapi kalau bukan karena dia aku gak akan mungkin ada di dunia."


"Gue gak ngerti sama jalan pikiran lo. Apa lo gak curiga gitu sama kemunculan Nyokap lo? Di saat lo udah sukses begini dia datang, tapi di saat lo susah dan butuh kehadirannya dia malah ngilang. Mikir dong, Man!"


Lukman malah memberikan sunggingan indah di bibirnya. "Aku gak ada kuasa untuk menghakimi kesalahan Ibuku, biarkan itu menjadi urusan dia sama Allah. Yang terpenting saat ini aku bisa berbakti dan memperlakukannya dengan sebaik mungkin."

__ADS_1


Lukman terlalu dewasa dan bijaksana dalam segala hal. Dia juga terlalu baik dan mudah percaya dengan orang lain, wajar saja kalau dia sering ditipu orang-orang. Pandangannya terlalu lurus dan positif, itulah buruknya dia.


~TBC~


__ADS_2