Matrealistis

Matrealistis
18-Kasih Judul Sendiri


__ADS_3

"Aku tak bermaksud untuk memanfaatkanmu agar memenuhi segala jenis kebutuhanku. Karena ini memang sudah menjadi konsekuensi yang harus kamu terima saat kamu memutuskan untuk memperistriku."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Setelah berusaha mati-matian mengerahkan semua tenaga jiwa dan raga akhirnya judul skripsi yang aku ajukan disetujui oleh dosen pembimbing. Rasanya itu sangat luar biasa dan tentunya bersyukur tiada terkira, sekarang fokusku tertuju pada tugas akhir itu. Bagaimana pun caranya aku harus segera merampungkannya. Begadang hanya untuk mengetik dan duduk di depan laptop dengan secangkir kopi agar aku tetap terjaga sudah sangat sering aku jalani akhir-akhir ini. Kantung mataku saja menghitam karena kurang tidur, tapi tak apa setidaknya waktuku sekarang lebih ada manfaatnya. Tidak ada lagi istilah santai-santai dan keluyuran tak jelas bersama Lukman. Kegiatanku sekarang dihabiskan dengan berdiam diri di kamar dan berkawan dengan benda kotak berlayar ukuran 18 inc.


Saat ini saja aku masih sibuk memainkan jari-jari lentikku di atas papan ketik. Besok aku akan menyetorkan bab dua karena bab satunya sudah di setujui dua hari lalu, walau harus melewati drama dan mendapatkan coretan tinta merah terlebih dahulu, tapi tak apa yang jelas sekarang bab satunya sudah disetujui dan tinggal lanjut bab berikutnya saja. Semoga saja untuk bab dua ini langsung di-acc tanpa perlu ada drama tempat sampah. Setelah selesai dengan kegiatan mengetik, aku membaca ulang apa yang sudah aku tuliskan. Bukan hanya satu atau dua kali tapi berkali-kali, tujuannya untuk meminimalisir typo yang terkadang muncul tanpa pemberitahuan. Kemarin aku dikritik habis-habisan karena salah dalam penulisan kata. Seharusnya bapak dosen pembimbing yang terhormat itu memaklumi kesalahan manusiawiku. Aku itu nulis ribuan kata dan wajar saja jika masih terdapat typo yang bertebaran di mana-mana.


Decitan pintu kamar yang dibuka dari luar mengalihkan fokusku, aku mendapati Arda yang tengah berdiri di ambang pintu dengan sebuah nampan di tangannya. "Kamu pasti belum makan dari pagi, kan? Makan dulu, kalau kamu sakit gimana," katanya dengan langkah yang semakin dekat menghampiriku.


Aku hanya meliriknya sekilas lalu beralih pada makanan yang Arda bawa. Semangkuk mie ayam dan juga segelas tinggi air putih nampak berada di atas nampan. "Lo gak taburin racun, kan?" tanyaku penuh selidik dengan tangan yang sudah beralih mengaduk-aduk mie ayam tersebut.


Arda tertawa ringan sebelum menjawab, "Ya gak mungkinlah, mana ada suami yang racunin istrinya sendiri." Aku tersedak mie yang masih berada di dalam mulut. Mendengar dia menyebut dirinya sebagai suami, dan mengakui aku sebagai istrinya secara spontan membuatku shock bukan kepalang.


Dengan penuh perhatian dia menyodorkan segelas air putih ke arahku, menepuk-nepuk pelan bagian belakang kepalaku yang langsung aku tepis jauh-jauh. "Lo mah masih aja modusin gue. Pergi sana jangan pegang-pegang," ucapku.

__ADS_1


Arda terlihat menghela napas singkat. "Maaf tadi refleks," tuturnya yang justru aku balas dengan delikan. "Refleks lo bikin gue gak nyaman. Gue gak suka!" Mood-ku langsung hancur berantakan, selera makanku pun hilang.


"Mending lo keluar deh, mumet pala gue kalau lo ada di sini." Aku mengusirnya tanpa perasaan. Hatiku sebal dan dongkol karena kelakuan dia yang sudah berani pegang-pegang, walau hanya sebatas itu tapi jujur aku tak menyukainya.


Aku tahu bahwa dia itu sudah halal dan menjadi mahram-ku yang memiliki hak sepenuhnya atas diriku. Tapi aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya, mau sebaik atau seperhatiannya pun juga sampai sekarang dia belum berhasil menyentuh hatiku. Dan aku pun tak akan sudi untuk memberikan ruang di hatiku untuknya yang tak seberapa itu.


Arda bangkit dan setelahnya berucap, "Jangan istirahat malam-malam. Gak baik buat kesehatan." Aku tak menanggapinya, dari sudut mata, aku melihat dia membuka dan menutup kembali pintu kamar.


Pernikahan ini hanya bertahan sekitar satu bulan ke depan lagi, dan selama dua minggu lebih satu hari aku resmi menjadi istrinya, kita belum pernah tidur dalam ranjang yang sama. Aku yang memang tidak mau dan dia juga yang mengerti akan keenggananku. Setiap hari dia tidur beralaskan sofa, dan tak jarang juga dia jatuh tersungkur ke lantai yang terbalut karpet. Ada rasa kasihan dan tak enak saat melihatnya, tapi aku segera menepis perasaan itu. Biarkan saja dia menanggung penderitaan yang dia ciptakan sendiri.


Mamah dan Papah menghilang tanpa kabar, semenjak kepindahanku ke rumah baru, mereka tidak pernah sedikit pun menghubungiku. Aku yang memang terbiasa akan kehadiran mereka merasa sudah dibuang dan tak diinginkan lagi. Berkali-kali mencoba menghubungi Mamah tapi nomornya selalu di luar jangkauan, bahkan seringkali tidak aktif. Mungkin mereka sengaja menghindariku, kenyataan itu membuat dadaku berdenyut ngilu.


•••


Dia duduk di sofa single dan melihatku yang selalu menghindar dari tatapan matanya. "Tadi Mamah hubungin aku, katanya kita harus ke rumah. Ada yang ingin dibicarakan."


Aku mendongak dan melihatnya penuh tanya. "Maksud lo Nyokap gue?" Dia mengangguk cepat. Ish, sebenarnya yang menjadi anak Mamah itu aku atau Arda sih? Aku yang rajin mencoba menghubunginya tapi sekarang malah Arda-lah yang paling pertama menerima kabar darinya.

__ADS_1


"Gak bisa. Gue harus berangkat ngampus sekarang, tanggung udah ada janji sama Dosen." Arda menghela napas sejenak sebelum berucap, "Pulangnya jam berapa biar aku jemput dan kita langsung pergi ke rumah Mamah sama Papah barengan."


"Enak banget tuh ngomong. Bukannya kerja cari uang yang banyak, malah mau bolos. Uang yang lo kasih udah abis, kapan lo transfer lagi?" Emang dasar otakku yang tak bisa jauh-jauh  dari uang, dalam keadaan seperti ini saja uang yang menjadi prioritas utama.


"Kebetulan aku shift malam, dan untuk masalah nafkah Insya Allah akan segera aku transfer," balasnya yang membuat senyumku terbit.


"Kalau bisa lebih banyak dari sebelumnya, yang kemarin juga gak cukup." Beginilah definisi istri tak tahu diri. Menjalani peran sebagai istri saja masih banyak cacat dan  bolongnya,  tapi giliran bahas transferan langsung cespleng dan berbinar-binar.


"Diusahakan." Satu kata itu sudah cukup membuat hatiku tambah senang dan berbunga-bunga.


"Awas kalau sampe lo kasih gue duit haram hasil judi atau ngerampok orang," ucapku penuh ancaman. Aku tidak mau perut rataku ini berubah menjadi buncit karena kebanyakan memakan uang haram. Akan aku tenggelamkan Arda ke lautan jika hal itu sampai kejadian.


"Jangan khawatir, aku tidak mungkin memberikan nafkah yang tidak halal untuk istriku." Jawabannya itu selalu lembut dan menenangkan, tapi tak pernah berhasil menyentuh relung hatiku yang terdalam.


Yang aku tahu dia bekerja hanya sebagai pekerja pabrikan saja, tapi dari uang yang selalu rutin dia berikan jumlahnya cukup banyak untuk pekerja kasar seperti Arda. Apa mungkin dia memiliki pekerjaan lain? Atau justru membudidayakan makhluk astral untuk mencari penghasilan. Bisa jadi setiap malam dia menunggui lilin agar mesin pencari uangnya tidak tertangkap orang. Tapi gak mungkinlah cowok modelan Arda berbuat hal musyrik seperti itu. Orang di zaman sekarang ini sudah tidak ada lagi istilah 'jaga lilin tiap malam' karena tanpa berkeliling pun makhluk astral itu dicari oleh orang-orang, salah satunya pekerja seni, dan mungkin pada saat gajinya keluar makhluk astral itu mendapatkan persenan? Siapa tahu saja seperti itu sistem bagi hasilnya.


Beginilah otakku yang terlalu banyak menerima asupan tak bergizi dari konten-konten para content creator yang doyan memperlihatkan dunia lain dalam akun sosial medianya. Tolong jangan dicontoh wahai teman-teman yang budiman. Kelakuan dan kinerja otakku ini memang terkadang kurang. Terlalu pusing dengan banyak persoalan, hingga pembahasan receh seperti ini saja masih sempat aku pikirkan.

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2