Matrealistis

Matrealistis
15-Terlibat Perdebatan


__ADS_3

"Cukup dengan memberikan apa yang aku butuhkan, maka dengan mudah kesalahanmu aku maafkan."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Seperti layaknya perempuan kebanyakan yang gemar bergosip dan menonton acara gosip, aku pun sama. Setiap sore menjelang Magrib datang memang waktunya untuk aku bersantai bersama dengan televisi yang menampilkan rentetan kehidupan selebritis. Cukup menghiburku dari penatnya masalah hidup yang tak kunjung usai. Tapi kegiatanku sekarang sedikit terganggu karena kehadiran Arda yang selalu mengutarakan ceramah panjang kali lebar. Ingin menyumpal kedua telinga dengan headset, rasanya tidak mungkin karena sudah pasti aku tidak akan bisa mendengar apa yang mereka katakan. Untuk kalian orang-orang berotak jenius yang ahli menciptakan teknologi baru, tolonglah buat headset yang bisa disambungkan ke televisi. Untuk harga tenang saja, aku pasti akan membayarnya, kalau perlu aku lebihin deh.


"Bisa gak sih gak usah recokin hidup gue mulu? Pengang nih kuping daritadi denger omongan lo," semburku yang sudah sangat kesal dan terganggu.


Dia menghela napas berat. "Di waktu menjelang Magrib seperti ini harusnya kamu habiskan dengan tadarus Al-qur'an , bukan malah nonton acara seperti itu." Ini adalah kalimat yang sudah berkali-kali keluar dari mulutnya. Yang nonton siapa? Yang ribet siapa? Kalau gak suka pergi aja sana. Gak usah ganggu dan buat mood orang lain hancur berantakan.


"Lo mau nanggung dosa gue gara-gara tadarus dalam keadaan datang bulan?" omelku pada akhirnya. Aku sudah muak mendengar ocehannya yang membuat darahku mendidih. Baru hari pertama hidup satu atap saja sudah seperti ini, apalagi nanti?


Arda terlihat mengelus dada pelan dan beristigfar. "Kalau kamu lagi halangan bisa baca wirid, zikir, sama salawat supaya waktu kamu gak kebuang percuma. Walaupun dalam keadaan haid kamu masih bisa mendapatkan pahala dan ketenangan jiwa," katanya dengan suara lembut penuh kesabaran.

__ADS_1


"Hidup lo repot dah, ini salah, itu salah, ini jangan, itu jangan. Ini nih yang paling gue gak suka dari lo, kerjaan lo ceramahin gue mulu. Bisa gak hidup lo nyantai dikit tanpa perlu mikirin udah berapa banyak dosa yang lo buat hari ini? Gue gak bisa kaya lo yang apa-apa mikirin dosa dan pahala. Lo sama gue itu emang gak akan pernah bisa cocok dan akur dalam segala hal!" Aku langsung mematikan tayangan televisi, dan berlari menuju ke kamar. Menguncinya agar dia tidak bisa masuk ke dalam. Dasar ustaz kaleng-kaleng, kalau mau ceramah tuh di masjid. Efek cita-citanya gak kesampaian jadi begitu tuh. Kerjaannya dakwahin aku mulu.


Rumah tangga macam apa yang saat ini tengah aku jalankan. Dia yang begitu gemar berbuat segala hal dalam ketaatan, sedangkan aku yang justru gemar bermaksiat tanpa tahu aturan. Segala bentuk ibadah dari mulai yang wajib sampai yang sunnah dia kerjakan, sedangkan aku hanya melakukan hal-hal yang wajib saja. Dilihat dari sisi mana pun aku dan dia tidak akan pernah bisa jalan beriringan. Pasti selalu ada saja hal yang kita ributkan, terlebih lagi dalam hal agama yang tidak begitu aku paham. Jika aku terus mempertahankan hubungan tak sehat ini, aku yakin akan membuat langkah Arda tertatih dalam menggapai tujuan hidupnya. Dia adalah tipe manusia yang selalu berjalan dalam koridor aman, aku takut memberatkan langkahnya yang ingin menggapai ridho Sang Illahi. Aku tak mau menjadi penghambat utama dari kegagalan impiannya. Cukuplah aku yang tersesat dan jangan sampai menyesatkan orang lain.


Makanya kalau mau nikahin perempuan pikir dulu yang matang, tuh perempuan bisa satu jalan dan satu pemikiran gak? Kalau enggak bisa ya jangan maksain keadaan. Jadi kaya begini kan ending ceritanya. Mau diakhiri sekarang sudah tanggung basah dan lebih baik menceburkan diri saja sekalian. Nasi sudah menjadi bubur dan tidak akan pernah mungkin bisa menjadi bulir-bulir beras lagi. Arda. Satu nama itu berhasil menjungkir balikkan hidupku. Dia itu ada hanya untuk membuatku sengsara. Kalau Tuhan menciptakan kota Bandung dalam keadaan tersenyum, lain cerita pada saat Dia menciptakan Arda.


Arda memang tidak memiliki paras tampan rupawan, tapi aku tahu hatinya diliputi dengan keimanan serta ketakwaan. Tapi bagiku iman tanpa tampang yang menjual itu percuma. Malu-maluin kalau diajak kondangan. Arda memang terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan, tapi didikan agama yang kedua orang tuanya ajarkan sudah berhasil membuat dia menjadi pemuda yang taat beragama. Sedangkan aku hanya wanita pendosa yang jauh dari kata shalihah. Wanita yang gemar memamerkan harta dan menghambur-hamburkan uang dengan percuma. Aku ini wanita tersesat yang tak bisa taat dan gemar maksiat. Bersanding dengannya adalah mimpi buruk yang tak ingin aku jumpai.


•••


Aku terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, tanganku menggapai nakas untuk mencari ikat rambut lantas mengikatnya dengan asal tak beraturan, lantas membungkusnya dengan kerudung terusan yang berada di atas bantal. Aku tidak akan pernah lagi pamer aurat di depan Arda. Berabe kalau nanti ada setan yang lewat, bisa tamat riwayatku. Terus lagi aku tak akan pernah ridho dan ikhlas kalau Arda melihat rambut hitamku yang panjang dan indah ini. Enak banget tuh orang kalau sampai hal itu terjadi.


Karena kemalasan dan rasa dongkol masih mendarah daging dalam hati, aku memutuskan untuk menggoreng telur mata sapi dan juga nasi. Bodo amat tuh makanan mau dimakan atau dibuang, yang jelas aku sudah berusaha menjalankan peranku sesuai surat perjanjian. Tak ada niat sedikit pun untuk membuatkan kopi atau teh manis hangat seperti yang dilakukan perempuan lainnya. Dimasakin saja sudah harus syukur alhamdulillah, jadi jangan harap minta yang aneh-aneh.


"Sarapan buat lo udah gue siapin di meja makan. Terserah mau lo makan atau buang. Suka-suka lo aja," kataku saat berpapasan dengan Arda. Dia sudah berpakaian rapi tapi rambutnya masih basah oleh air. Namun aku heran, dapat pakaian dari mana dia? Bukannya semua pakaiannya ada di kamar dan kamar dari semalam aku kunci. Aku mencium bau-bau mencurigakan.

__ADS_1


"Maaf tadi sebelum Subuh aku masuk kamar tanpa izin, buat ambil perlengkapan salat sama seragam kerja," jelasnya tanpa diminta. Mungkin dia menangkap sinyal penuh selidik di wajahku.


"Dari mana lo dapat kuncinya?" tanyaku menyelidik. Bahaya kalau kaya gini ceritanya, Arda pasti punya kunci cadangan makanya bisa keluar masuk tanpa sepengetahuanku.


"Bukannya Mamah memberikan kita masing-masing satu kunci? Kamu lupa yah," jawabnya sekaligus mencoba untuk mengingatkanku. Lagi-lagi Mamah yang berbuat ulah. Aku ingin menangis dan meraung-raung agar Allah mau menghilangkan sifat menyebalkan Mamah yang selalu membuat aku sengsara.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Malas untuk kembali berbincang dengannya. Buang-buang waktukku saja. Masalah kunci kamar biarkan sajalah, nanti bisa aku ambil dan sembunyikan tanpa sepengetahuan dia. Enak saja kalau sampai dia memiliki kunci cadangannya, bisa-bisa aku tidur dengan tidak tenang karena takut kalau malam-malam dia menyusup dan bangun lebih awal agar tidak ketahuan. Cilaka duabelas kalau sampai kaya gitu mah.


"Kamu gak makan?" tanyanya yang hanya aku balas dengan lirikan mata malas. Jangan kebanyakan basa-basi kalau jadi orang. Makanan basi saja berakhir di tempat sampah, apalagi omongan manusia?


Lebih baik aku segera membersihkan diri daripada menjawab pertanyaan tak bermutunya, aku langsung memasuki kamar mandi yang terdapat di dalam kamar. Hari ini aku ada bimbingan dan harus pergi lebih awal ke kampus. Rasanya sangat malas untuk pergi ngampus dalam keadaan unmood seperti sekarang. Tapi apa boleh buat jika ini adalah sebuah keharusan, dan mau tak mau aku harus menjalaninya. Aku memutuskan untuk memakai rok polos bergaris warna biru tua, yang aku padu-padakan dengan blouse abu, dan juga kerudung pashmina yang senada dengan warna rokku. Memoles wajahku dengan berbagai macam alat make up, sepatu berhak tinggi dan juga tas semakin melengkapi penampilanku.


Aku melihat ke arah meja makan yang sudah kembali bersih, menoleh ke arah pencucian pun tidak ada bekas makannya. Syukurlah dia cukup tahu diri untuk tidak membuat tangan halusku berubah kasar seperti kuli. Sebuah note yang ditempel di kulkas membuat fokusku teralihkan.


Terima kasih untuk sarapannya, piring kotornya sudah aku cuci. Di atas kulkas ada kartu ATM buat kamu pakai.

__ADS_1


Kedua netra dan tanganku begitu cepat menemukan keberadaan sebuah kartu dan juga pin yang sengaja diletakkan di atasnya. Dia menepati janjinya dengan memberikan aku nafkah, aku cukup tak percaya tapi karena kartu itu sudah berada di tanganku, jadi otomatis sudah menjadi milikku, yang artinya bisa aku pergunakan dengan sesuka hati. Jangan salahkan aku jika uangnya habis dalam waktu singkat, toh dia yang memberikannya dan mau tak mau dia harus menerima konsekuensi atas perbuatannya sendiri. Hitung-hitung wujud permintaan maaf karena semalam dia sudah membuat aku naik pitam.


~TBC~


__ADS_2