
"Yang beliau khawatirkan hanyalah nasib seorang bayi, yang jelas-jelas wujud dan bentuknya saja tidak terlihat sama sekali. Lalu apa kabar dengan kelangsungan nasibku yang sampai sekarang tak menemukan titik terang."
-Adara Mikhayla Siregar-
•••
Kalian tahu apa yang saat ini tengah aku rasakan dan yang sedang aku pikirkan? Baru saja aku merasa diterbangkan hingga melayang-layang di langit bersama bintang-bintang, tapi detik berikutnya aku dijatuhkan tanpa pemberitahuan dan pemberitaan langsung ke dasar jurang terdalam. Rasa kesal, marah, sakit, dan tidak bisa menerima kenyataan menjadi satu kesatuan yang saat ini tengah bersemanyam dalam diriku.
Rasanya aku ingin menarik semua perkataanku yang tadi sempet memuji-muji dan mengatakan kalimat terima kasih untuk Mamah. Apa-apaan ini? Beliau dengan seenak jidat memutuskan hal yang sangat besar untuk kehidupanku di masa yang akan datang. Mengakhiri pernikahan kontrak, dan terlibat pernikahan sungguhan dengan Arda? Yang benar saja. Sekarang saja aku sudah sangat ingin terbebas darinya, dan dengan entengnya Mamah memintaku untuk memperbaharui pernikahan ini. Sebenarnya apa sih yang ada dalam otak Mamah? Memangnya enak gitu mempermainkan hidup anak semata wayangnya sendiri.
"Adara bisa leluasa keluyuran sama banyak pria, karena dia merasa aman. Orang-orang menganggap dia masih lajang, padahal dia sudah bersuami bahkan tengah mengandung seorang bayi," tutur Mamah.
Dengan semangat 45 aku langsung menyela. "Mamah gak bisa ngatur-ngatur hidup Adara kaya gitu dong. Adara ini manusia bebas, bukan budak yang harus tunduk patuh sama majikannya. Mamah jangan bersikap egois seakan-akan Adara mau mengikuti perkataan Mamah. Adara bukan orang seperti itu!"
"Mamah ngelakuin semua ini demi kebaikan kamu," sela Mamah dengan suara tegasnya. Aku benci Mamah yang selalu bersembunyi di balik kalimat itu. Kebaikan macam apa yang membuat gerakku terkekang dan merasa sangat tertekan. Tidak ada kebahagiaan yag sejenis itu.
"Bukan kebahagiaan Adara, tapi kebahagiaan Mamah lebih tepatnya. Mamah bahagia di atas penderitaan Adara, dan itu fakta yang sebenarnya." Aku tak ingin kembali kalah dari beliau. Bagaimanapun caranya aku harus segera mengakhiri semua ini.
"Kamu keras kepala, Adara!"
"Mamah egois!" sengitku yang tak segan membalas tatapan tajamnya.
"Gak ada orang tua yang berniat untuk menjerumuskan anaknya pada keburukan. Sebagai orang tua Mamah menginginkan yang terbaik untuk kamu."
"Iya Adara tau, tapi itu hanya keinginan Mamah aja, gak dengan Adara." Apakah setiap orang tua sama? Memiliki sifat otoriter dan selalu memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
"Pernikahan kalian sudah jauh dari tuntunan agama, Mamah ingin mengakhirinya dan memperbaiki pernikahan kalian. Agar rumah tangga kalian bisa berjalan dengan sebagaimana mestinya. Kamu harus inget, Adara kalau sekarang kamu sedang mengandung, pikirkan tentang masa depannya. Apa kamu sanggup untuk merawat dia seorang diri? Apa kamu juga gak kasihan sama anak kamu, karena kekurangan kasih sayang? Pikirkan baik-baik. Jalani apa yang saat ini ada di depan mata kamu, jangan pernah sok tahu dan mau mencoba hal baru yang kejelasannya masih abu-abu," tutur Mamah panjang kali lebar.
Yang beliau khawatirkan hanyalah nasib seorang bayi, yang jelas-jelas wujud dan bentuknya saja tidak terlihat sama sekali. Lalu apa kabar dengan kelangsungan nasibku yang sampai sekarang tak menemukan titik terang. Pembahasan Mamah terlalu jauh bahkan aku tak mau terlibat di dalamnya.
"Iya, Adara pikirkan secara matang. Ada satu nyawa yang memerlukan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya---"
Dengan cepat aku memotong ucapan Arda, "Tutup mulut lo! Lebih baik lo diem dan jangan banyak komentar."
Mamah mendelik penuh peringatan padaku, tapi aku sama sekali tak takut dengan gertakannya. "Yang sopan kalau ngomong sama suami. Kamu itu Mamah sekolahin buat belajar etika dan tatakrama."
"Iya.... iya... serah Mamah. Suka-suka Mamah ajalah. Mamah selalu bener dan Adara selalu salah," sahutku acuh tak acuh. Selalu saja itu yang diingatkan. Apa Mamah tidak bosan? Aku saja yang mendengar sudah sangat amat bosan.
"Mamah akan menginap sekarang di sini. Jangan coba kabur atau berbuat hal gila lagi, Adara!" Aku hanya mampu diam dan menuruti keinginan kanjeng ratu. Aku sudah kehabisan kosakata.
"Kamarnya kan cuman ada satu, Mah? Terus Mamah mau tidur di mana?" tanya Arda yang kembali membuat semangatku berkobar-kobar. Selama ini juga Arda aku suruh tidur di sofa, jika pun dia ke kamar aku hanya mengizinkannya untuk salat dan mengambil pakaian. Tidak lebih. Lalu sekarang Mamah mau tinggal di mana?
Arda mengangguk tanpa ragu. "Gak papa, Mah," katanya dengan senyum tipis.
Suasana menjadi hening seketika, Mamah yang sedaritadi berkoar-koar tanpa henti akhirnya bungkam tanpa suara. Mungkin beliau kelelahan karena terlalu banyak mengeluarkan kata-kata. Syukurlah setidaknya indra pendengarku diberi waktu sejenak untuk beristirahat.
"Seharusnya resepsi kalian itu digelar akhir bulan, tapi karena Mamah mergokin Adara lagi jalan sama Lukman, ya udah Mamah majuin aja sekalian. Kamu gak keberatan kan, Nak Arda?" cerocos Mamah kembali membuka suara.
Belum sempat Arda berbicara, dengan gerakan cepat aku langsung menyela, "Adara yang keberatan, Mah. Keberatan banget malah."
"Mamah gak nanya sama kamu!" katanya dengan nada suara angkuh. Sangat menyebalkan sekali Mamah ini. Aku yang merupakan anak kandungnya terasa dianaktirikan, tapi Arda yang bukan siapa-siapa diperlakukan raja penguasa bumi. Aku sangat iri pada lelaki itu, dia sudah merebut kasih sayang Mamah.
__ADS_1
Arda melirikku singkat. "Arda ikut Mamah saja," balasnya dengan enteng tanpa beban. Kalau kaya gini ceritanya dia ingin mengulang kisah lama tapi dengan cara yang berbeda. Sampai kapan pun aku takkan pernah mau menerima dia sebagai suami. Gak akan pernah! Tahu diri dikit dong jadi orang.
"Arda dengerin gue baik-baik ok? Lo sama gue itu gak sejalan dan beda tujuan, gue saranin mending sekarang lo ceraiin gue terus lo nikahin selingkuhan lo. Paham?" kataku yang langsung membuat Mamah diam membisu, tapi langkah kakinya berjalan ke arahku. Tatapan matanya begitu tajam dan membuat bulu kudukku meremang.
"Kamu kalau mau ngomong tuh disaring dulu, Adara! Jangan asal jeplak kaya gitu," omel Mamah dengan tangan sudah bertengger apik di telinga. Sepertinya hobi Mamah itu menjewer kupingku hingga terasa nyeri dan kebas. Kalau tuh kuping lepas dari tepatnya emang mau tanggung jawab?
"Aaaa.. sa... kit... tau... Mah.. lepasin dulu kek...," pintaku dengan kepala mendongak ke arahnya yang tengah berdiri tegak.
Mamah menurut, aku mengelus pelan kupingku sebentar. "Jadi begini yah Mamahku tercinta, tersayang, tersegalanya dengerin Adara. Yang bermain api di belakang itu bukan Adara tapi Arda. Adara mergokin dia lagi makan berduaan bareng cewek berghamis. Kalau gak percaya tanya aja langsung sama orangnya," paparku menjelaskan. Mungkin dengan cara seperti ini aku bisa terbebas dari rencana gila Mamah. Ya semoga saja begitu.
Arda malah terlihat menampilkan senyum misteriusnya. "Jadi ini yang buat kamu marah-marah gak jelas terus nyuruh aku untuk membuat asrama putri?" Dia menjeda sejenak kalimatnya, menggeleng pelan lantas kembali berujar, "Marwah itu anak dari adik Mamah aku, Adara. Dia mengajak aku bertemu untuk membicarakan tentang laki-laki yang akan menjadi calon suaminya."
Aku menatapnya dengan penuh rasa tidak percaya. Aku yakin dia sedang berbohong saat ini. Marwah pasti selingkuhannya, ya aku yakin itu. Di tengah pergulatan batinku, tiba-tiba saja ada tangan yang mampir di kening, memberikan sebuah jitakan yang lumayan kencang. "Makanya kalau jadi istri tuh jangan suudzon mulu, tanya baik-baik sama suami kamu. Jangan asal menyimpulkan seperti itu, jadi malu sendiri kan?"
Aku hanya memutar bola mata malas, tak tahu harus beralibi seperti apa lagi. Di mata mereka tetap saja aku yang salah.
Mamah kembali duduk di posisi awalnya. "Katanya gak cinta? Gak mau nikah sama Nak Arda? Tapi baru ngeliat Nak Arda jalan sama sepupunya aja sudah kebakaran jenggot, sampai mencak-mencak gak jelas. Yakin tuh?"
Mendengar perkataan Mamah malah membuat wajahku panas, dan bahkan menjalar ke seluruh tubuhku. Kenapa AC tiba-tiba tidak berfungsi seperti ini?
"Kalau cinta tuh ngomong, mentingin gengsi sama ego gak akan ada habisnya. Kalau emang kamu beneran gak ada rasa sama Nak Arda, pasti kamu gak akan mau ngandung anaknya. Tapi buktinya apa, Sayang? Sekarang kamu lagi hamil bukan?" imbuh Mamah yang seketika membuat urat-urat leherku bermunculan.
Aku bangkit dari dudukku. Menatap Mamah dan Arda secara bergantian dengan begitu sengit. "Adara gak hamil! Jangankan hamil untuk sekadar tidur di ranjang yang sama aja Adara gak minat."
Aku sudah muak terus-menerus memendam kebohongan. Biarkan saja mereka tahu yang sebenarnya. Aku tak peduli sama sekali. Raut wajah Arda dan Mamah begitu sangat terkejut penuh ketidakpercayaan. Netra mereka meminta penjelasan lebih, tapi aku lebih memilih untuk pergi dan meninggalkan mereka dengan ribuan pertanyan dan pemikiran.
__ADS_1
~TBC~