Matrealistis

Matrealistis
45-Keputusan


__ADS_3

"Semoga apa yang saat ini aku putuskan adalah sebuah keputusan yang benar dan tidak mengecewakan."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Ada kalanya takdir hidup tak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, dan aku harus menelan pil pahit kenyataan itu. Menjalani peliknya kehidupan rumah tangga dengan dia yang sama sekali tak kucinta menjadi beban dan tekanan yang teramat luar biasa. Sebuah pernikahan yang didasari dengan keterpaksaan memang tak akan berjalan dengan baik-baik saja. Masalah seakan beramai-ramai datang menghampiri tanpa henti. Lelah dan ingin menyerah adalah godaan terbesarnya.


Tapi sebelum aku benar-benar menyerah untuk mengakhiri semuanya, Allah telah lebih dulu membuka mata dan hatiku. Meluruhkan kebatuan hatiku yang begitu keras tak mau menerima takdir yang telah digariskan-Nya. Bukan hal yang mudah untuk melewati semua trouble yang aku alami, selalu ada perang batin di dalamnya. Terlebih lagi aku termasuk tipe wanita pemikir dan pemilih tingkat akut, karena hal itu pulalah kedua orang tuaku begitu lancang mengambil sebuah keputusan besar untuk kehidupanku di masa yang akan datang. Menikahkanku secara diam-diam dengan dia yang sama sekali jauh dari kata lelaki idaman. Sebuah kenyataan pahit yang harus aku telan dan terima dengan penuh kelapangan.


Aku mematut diriku di depan cermin yang menampilkan hampir seluruh tubuhku. Sebuah kebaya modern dengan aksen brocade bermotif berbunga-bunga kecil menempel apik di tubuh rampingku. Khimar yang menjuntai hingga menutupi dada ikut serta menjadi pelengkapnya, tak ketinggalan sebuah tiara berukuran kecil menghiasi kepala. Sapuan make up natural semakin menambah kadar kecantikanku. Aku memang sepercaya diri ini kalau membahas soal penampilan. Harap dimaklum saja, tapi ingat jangan sampai iri dan dengki yah. Gak baik.


"Ngaca mulu daritadi. Kalau kacanya pecah Mamah gak tangung jawab yah," ocehnya yang membuatku memutar bola mata malas. Ah, beliau ini memang paling bisa membuat mood-ku anjlok.


"Serah Mamah ajalah," sahutku dengan tangan yang sudah bersiap untuk mengambil gawai yang berada di atas kasur. Sebelum aku benar-benar melepas status lajang, alangkah lebih baiknya mengambil beberapa jepretan foto dengan menggunakan lensa kamera, dan tentunya no effect serta filter. Kecantikanku sudah tidak bisa diragukan lagi. Sekali-kali narsis halal kok, asal jangan diposting di sosial media saja. Bahaya nanti kalau sampai ada yang download tanpa izin foto-foto cetar membahanaku. Kalau dijadikan koleksi sih gak papa, tapi kalau sampai dibuat yang tidak-tidak bagaimana? Serem banget. Sekarang lagi marak pelet online, kalau aku jadi salah satu korbannya kan ngeri-ngeri sedap.


Mamah menggeleng pelan sebelum akhirnya berucap, "Mamah kira kamu bakal kabur dan gak mau lanjutin pernikahan ini. Mamah takut kamu buat ulah lagi."


"Emang niatnya mau kaya gitu, Mah. Cuman Adara mikir lagi, kalau sampai Adara kabur pasti Mamah sama Papah bakal nistain Adara. Lebih parahnya bakal coret Adara dari akta keluarga. Kalau sampai itu terjadi, kan ngeri bisa-bisa Adara jadi gelandangan mendadak," ocehku yang mendapat sentilan dari Mamah.


"Alah bohong banget kamu. Pasti kamu gak mau kan pisah sama Nak Arda? Bilang saja jangan pake acara ngeles-ngelesan," cetusnya yang dengan enteng mendudukkan tubuh di kursi meja rias yang tadi aku tempati. Memoles bibir tipisnya dengan gincu berwarna merah. Mamahku ini memang kebanyakan gaya banget jadi orang.


"Jangan duduk! Repot nanti kalau kebaya kamu sampai kusut. Mahal itu harganya," kata Mamah saat bokongku akan mendarat di pembaringan. Setelah selesai dirias aku harus berdiri seperti patung pancoran. Dilarang keras untuk duduk. Sungguh sangat menyebalkan.


"Perhitungan banget sih Mamah jadi orang tua, udah kaya rentenir aja," sahutku kesal. Uang Papah gak akan habis hanya karena membeli kebaya yang aku gunakan. Masih banyak di bank. Mamah terlalu norak dan berlebihan.


"Bukan masalah harganya, tapi Mamah gak mau tampilan kamu rusak hanya karena gaun pengantinnya yang lusuh dan lecek. Malu nanti Mamah. Mana temen-temen pengajian dan relasi Papah diundang semua lagi. Dikira Mamah sama Papah gak punya cukup modal nanti."


Aku mendengus kesal mendengar jawaban Mamah yang begitu menjengkelkan. "Mamah malu kalau Adara tampil kurang maksimal? Terus apa kabar sama tampang Arda yang pas-pasan? Mamah gak malu punya mantu kaya dia?"

__ADS_1


Mamah langsung bangkit dari duduknya menjewer kasar telingaku. Serius deh untuk kalimat barusan aku keceplosan. Gak maksud buat menghina Arda. Beneran deh, gak bohong.


"Punya mulut kok gak ada remnya banget sih, Adara. Semalem aja kamu sampai mewek-mewek bilang mau taubat, dan minta maaf sama Mamah. Eh sekarang kambuh lagi penyakitnya." Aku meringis saat Mamah melepaskannya dengan begitu tak manusiawi. Rasanya sangat sakit bercampur panas.


"Hati Adara emang udah mau taubat, Mah tapi gak tau kalau mulutnya. Beneran deh Adara lagi nyoba ikhlas buat nerima Arda. Gak bakal buat ulah lagi," kataku penuh kesungguhan, tapi sebenarnya masih sedikit ragu sih. Ah puyeng kalau bahas soal kaya beginian. Urusan cinta dan hati memang memusingkan.


Mamah menatap horor ke arahku. "Awas kalau sampai kamu macam-macam lagi. Mamah akan benar-benar coret nama kamu di akta keluarga," ancamnya yang langsung membuatku bergidik ngeri. Jangan sampai hal itu terjadi. Mau tinggal di mana aku?


Aku mengembuskan napas pelan. "Insya Allah Adara bakal coba buat buka hati dan jalanin pernikahan ini. Tapi kalau di pertengahan jalan Adara nyerah, Mamah jangan nistain Adara yah," ucapku dengan dibarengi cengiran tanpa dosa.


Mamah menyentil pelan keningku. "Kalau mau ngomong saring dulu sana. Jangan asal jeplak kaya gitu, kalau ada Malaikat lewat terus aminin ucapan kamu gimana? Doanya yang baik-baik saja kan bisa?" cerocosnya. Dalam keadaan akan menghadapi ijab kobul saja masih sempat menerima kultum dadakannya. Memang yah jiwa ustazah Mamah sudah mendarah daging dan tak bisa ditinggalkan begitu saja.


"Mau nunggu di sini apa ikut ke bawah nyaksiin Arda ngucap akad?" Pertanyaan itu aku dapatkan dari Tante Annisa yang baru saja muncul dari balik pintu. Acara pernikahanku digelar di kediaman Mamah dan Papah, baik acara akad maupun resepsinya akan diadakan secara serempak pada hari itu juga. Entah berapa lama Mamah mempersiapkan ini semua. Beliau memang manusia terniat sepanjang masa.


Aku melirik Mamah meminta pertolongan. Bingung. Aku tak tahu harus menjawab seperti apa. "Ya sudahlah mending kamu turun aja ke bawah, duduk berdampingan sama Nak Arda. Orang kalian sudah halal kok, ini cuma buat dokumentasi saja." Sahutan itu berasal dari mulut bergincu milik Mamah.


"Adara ngikut gimana baiknya ajalah," putusku yang disambut senyum semringah Mamah dan Tante Annisa. Kedua wanita yang usianya hampir berdempetan itu langsung menggandeng tanganku. Mamah di sebelah kanan dan Tante Annisa di sebelah kiri.


Aku yang biasanya berjalan dengan tegak dan dagu terangkat, mendadak ciut saat melihat ramainya para tamu undangan yang menatap ke arahku. Aku hanya mampu menunduk dalam dan menatap lantai yang sudah dilapisi karpet berwarna merah terang. Mendadak aku gugup dan tak bisa berjalan dengan normal. Gerak tungkaiku kian melambat, seperti tak ingin segera sampai ke tempat tujuan.


Mamah mendudukkanku tepat di samping Arda yang sudah rapi dengan balutan tuxedo bermerk-nya, aku yakin itu pasti dibeli dengan uang kedua orang tuaku. Dari sudut mata aku bisa melihat kalau dia sempat mencuri pandang padaku. Aku tahu kalau aku cantik, tapi tak usah dilihat sampai sebegitunya juga kali. Bisa malu kalau sampai para tamu undangan tahu.


Bapak penghulu mulai mengeluarkan suaranya, aku tak bisa menangkap dengan jelas apa yang tengah beliau sampaikan. Tapi yang jelas beliau tengah membuka acara akad nikah ini. Beliau meminta Papah untuk dan Arda untuk saling berjabatan. Deru napasku semakin memburu dengan cepat, takut kalau Arda salah sebut nama dan melakukan kesalahan-kesalahan lainnya yang membuatku malu. 


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq." Aku membatu tak percaya saat dengan lantang Arda mengucapkan kobul-nya. Darahku serasa mengalir dengan begitu deras dan gejolak dalam dadaku memberontak hebat. Dia menggunakan bahasa Arab?


"SAH?"


"SAH!"

__ADS_1


Satu kata sakral itu menggema ke setiap sudut ruangan. Aku tak percaya bahwa aku akan menikah dengan lelaki seperti Arda. Semoga apa yang saat ini aku putuskan adalah sebuah keputusan yang benar dan tidak mengecewakan.


"Silakan salim sama suaminya, Nak Adara," kata pak penghulu dengan senyum menyebalkannya. Aku hanya diam menatap Papah dan Arda secara pergantian. Mana berani aku melakukan hal semacam itu di depan khalayak ramai.


"Tak usah Pak Penghulu, dalam ajaran Islam tidak boleh memamerkan kemesraan di depan umum," sahut Arda yang membuatku sedikit lega.


Bapak penghulu itu mengangguk singkat dengan masih diiringi senyum misteriusnya. Sedangkan para tamu undangan sudah bersorak-sorak tak jelas di sana. Malu sekali rasanya. Kalau tahu akan seperti ini lebih baik aku memilih diam di kamar dan menyaksikan Arda di depan layar monitor yang tersambung pada CCTV.


Aku dan Arda diminta untuk menandatangi beberapa berkas pernikahan, yang sebenarnya sudah dari dulu aku miliki. Hanya saja buku yang terdiri dari dua eksemplar itu belum pernah aku sentuh. Tapi sekarang jari-jariku sudah mulai berkhianat, dengan lancang mereka menandatanginya tanpa beban.


"Kamu ada wudhu Adara?" tanya Arda dengan suara pelan. Aku hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Tadi sebelum aku dirias habis-habisan Tante Annisa memintaku untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu, dan aku mengikuti titah beliau tanpa banyak tanya serta protes. Takut diomeli Mamah soalnya.


"Kita salat Sunnah dua rakaat setelah akad," katanya dengan sedikit senyum tipis. Salat apa yang Arda maksud? Memangnya ada salat semacam itu? Kenapa aku baru mendengarnya?


Arda pamit kepada Papah, Om Arga, Pak Penghulu, dan juga para saksi untuk membawaku sedikit melipir ke arah mushola yang berada di samping kolam renang. Dari sini aku bisa melihat para tamu undangan yang saling berseliweran, mungkin mereka pun bisa melihat kegiatan aku dan Arda yang akan melaksanakan salat dua rakaat ini.


"Caranya gimana? Niatnya kaya apa?" tanyaku saat Arda sudah berdiri tegak di hadapanku. Sudah tahu istrinya tak pandai agama, ya diajarin dulu kek tata caranya. Jangan main asal kaya begini.


"Gerakan dan bacaannya sama kaya salat biasa, cuma niatnya aja yang beda. Ushalli sunnatan nikaahi rak'ataini ba'diatan lillahi ta'ala. Allahu Akbar," beritahunya.


"Pelan-pelan dong," protesku. Mana bisa aku menghapal niat itu dalam keadaan jantung yang sudah ketar-ketir tak tahu diri. Belum lagi rasa gugup yang tiba-tiba saja muncul semakin menambah kacau dan membuat kerja otakku sedikit lambat.


Arda kembali membacanya dengan perlahan agar aku bisa mengikuti gerak bibirnya. Perlu sekitar lima kali pengulangan sampai akhirnya aku bisa melafadzkannya dengan baik dan benar. Selama salat berlangsung aku sama sekali tak mendapatkan kekhusuk-an, pikiranku sudah bercabang ke mana-mana. Memikirkan urusan dunia yang takkan ada habisnya, sampai tanpa sadar Arda sudah mengucapkan kalimat salamnya. Aku diam menunggu dia menyelesaikan sesi doa singkatnya, dan setelah itu dia langsung menghadap ke arahku, meletakkan tangan kanannya tepat di atas ubun-ubunku. Sama seperti semalam.


"Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih. Wahai Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya." Aku termangu mendengar doa yang baru saja Arda ucapkan. Bibirku kelu walau hanya untuk sebatas mengucapkan kata "Aamiin" saja. Ish, ada apa dengan diriku? Kenapa bisa mati kutu seperti ini?


~TBC~


Assalamualaikum teman-teman untuk pertama kalinya aku buat catatan kecil di akhir bab, hehe. Awalnya aku ragu dan takut untuk publish cerita ini di sini, tapi makin ke sini aku gak nyangka sekaligus seneng karena ternyata respons teman-teman cukup baik. Terima kasih untuk dukungan dan support-nya selama ini.

__ADS_1


Mau aku cukupkan sampai di sini saja atau mau dilanjut nih?


__ADS_2