Matrealistis

Matrealistis
12-Perjanjian Tertulis


__ADS_3

"Hanya sebuah hubungan kerja sama, bukan hubungan dua insan manusia."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


SURAT PERJANJIAN KESEPAKATAN NIKAH


Pada tanggal dibacanya surat ini, telah disepakati perjanjian kerja sama oleh dan antara para penandatangan di bawah ini :



Adara Mikhayla Siregar dalam hal ini bertindak sebagai Pihak Pertama.


Arda Nazma Dewanda dalam hal ini bertindak sebagai Pihak Kedua.



Berhubungan dengan hal-hal tersebut di atas, Para Pihak atas dasar profesionalitas serta itikad baik dengan surat ini telah bersepakat untuk mengadakan perjanjian dengan memakai ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut :



Baik Pihak Pertama ataupun Pihak Kedua sepakat untuk tidak saling mengurusi urusan pribadi masing-masing.


Pihak Kedua harus dan wajib memenuhi semua kebutuhkan Pihak Pertama, hanya dalam hal finansial saja.


Pihak Pertama maupun Pihak Kedua tidak perlu menjalankan kewajiban sebagaimana pernikahan pada umumnya.


Tidak ada kata cinta dalam hubungan pernikahan sementara ini.


Tidak ada kontak fisik di antara dua belah pihak. Jika sampai hal itu terjadi maka dengan secara otomatis perjanjian dibatalkan.



Demikianlah akta ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dalam surat pernyataan bermaterai dan mempunyai kekuatan hukum.


Pihak Pertama,


Adara Mikhayla Siregar

__ADS_1


Pihak Kedua,


Arda Nazma Dewanda


Aku menyerahkan kertas putih yang sudah aku corat-coret dengan tinta hasil tanganku sendiri. Arda membacanya dengan seksama dan sesekali mengernyitkan kening, seperti heran dan tak setuju dengan apa yang tertera di sana. Bodo amat. Yang jelas aku mau dia menyetujui apa yang sudah aku tuliskan.


"Kerja sama?" tanyanya membeo tak percaya. Aku mengangguk mantap. "Hanya sebuah hubungan kerja sama, bukan hubungan dua insan manusia," tuturku penuh penekanan pada tiga kata terakhirnya.


"Kalau ada yang mau lo tambahin silakan. Tapi jangan sampe lo otak-atik pasal yang udah gue buat," sambungku menambahkan.


Arda menyerahkan kertas itu padaku dan berujar, "Syarat yang kamu ajukan hanya menguntungkan diri kamu pribadi. Sedangkan aku menjadi pihak yang dirugikan. Aku enggak setuju."


Aku berdecak. "Lo mah ribet, orang cuman tanda tangan doang juga," selaku masih teguh pendirian. Aku tidak mau dirugikan karena pernikahan tak diinginkan ini. Bagaimana pun aku menjadi pihak tertindas dan tersiksa. Setidaknya selama satu bulan setengah itu aku bisa memanfaatkan Arda dengan menguras habis uangnya yang tak seberapa itu. Biar tahu rasa dia. Seenak jidat ngucap akad dan sebagai konsekuensinya dia harus memenuhi segala jenis kebutuhanku, gaya hidupku yang kelewat hedon yang luar biasa menguras kantong.


"Aku hanya menyetujui pasal no 2 aja, selain itu aku gak setuju. Sebagai seorang kepala keluarga memang sudah seharusnya aku memberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhan istriku. Tanpa perlu kamu minta pun aku akan memberikannya," jelasnya.


"Istri... istri... gak ada gitu-gituan yah. Gue sama lo itu cuman sebatas partner bisnis, hubungan kerja sama yang saling menguntungkan." Aku tak setuju karena dia hanya menyetujui satu pasal saja. Dan apa-apaan itu pake acara panggil istri segala. Aku tak sudi untuk menyandang status sebagai istrinya.


"Menguntungkan?" Dia bertanya dengan sorot mata sulit diartikan. Rasanya aku ingin ketawa setan sekarang juga, belum apa-apa dia sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapiku. Aku yakin setelah ini dia bisa berada di bawah kendaliku. Lihat saja pembalasanku Arda!


Aku mengangguk tanpa keraguan, bahkan tangan kananku sengaja aku kibas-kibas di depan wajah. "Gue yang untung dan lo yang rugi." Salah satu sudut bibirku terangkat sempurna.


Aku menggeleng keras. "Lo tandatangani sekarang atau akan gue urus berkas-berkas perceraiannya?" Aku tak akan goyah dan setuju akan permintaannya. Pernikahan ini hanya berlangsung sekitar satu bulan setengah, dan aku tak mau sesuatu yang tak aku harapkan kehadirannya justru mengganggu semua rencana yang sudah aku persiapkan dengan matang walau dalam keadaan yang serba mendadak.


Arda mengambil alih kertas yang masih aku pegang, dan dia membalik belakang kertasnya yang masih kosong. Tangannya lincah bermain di sana, aku hanya diam menunggu dia menyelesaikan kegiatannya.


"Suka gak suka, mau gak mau kamu harus setuju. Tidak ada tawar-menawar lagi!" katanya sebelum menyerahkan selembar kertas yang sudah agak lecek itu.


SURAT PERJANJIAN KESEPAKATAN NIKAH


Pada tanggal dibacanya surat ini, telah disepakati perjanjian kerja sama oleh dan antara para penandatangan di bawah ini :



Adara Mikhayla Siregar dalam hal ini bertindak sebagai Pihak Pertama.


Arda Nazma Dewanda dalam hal ini bertindak sebagai Pihak Kedua.


__ADS_1


Berhubungan dengan hal-hal tersebut di atas, Para Pihak atas dasar profesionalitas serta itikad baik dengan surat ini telah bersepakat untuk mengadakan perjanjian dengan memakai ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut :



Pihak Kedua harus dan wajib memenuhi semua kebutuhkan Pihak Pertama.


Pihak Pertama maupun Pihak Kedua harus menjalankan peran sebagai suami dan istri sama seperti pernikahan pada umumnya.


Pernikahan akan tetap berlangsung sesuai waktu yang telah disepakati, tanpa pengecualian sama sekali. Jika ada yang melanggar harus mau dan menerima sanksi dari pihak bersangkutan.


Pihak Pertama harus bersedia memberikan Pihak Kedua keturunan.



Demikianlah akta ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dalam surat pernyataan bermaterai dan mempunyai kekuatan hukum.


Pihak Pertama,


Adara Mikhayla Siregar


Pihak Kedua,


Arda Nazma Dewanda


Mataku membola tak percaya. Perjanjian macam apa yang dia tulis. Itu hanya menguntungkan dirinya sendiri, sedangkan aku dirugikan. Enak di dia gak enak di aku. "Ogah! Gue gak setuju. Itu mah sama aja lo ngerugiin gue," kataku menggebu-gebu.


"Kamu merasa dirugikan? Aku pun sama dengan apa yang kamu rasakan saat membaca surat kesepatakan yang kamu buat." Dia menarik sebelah sudut kanan bibirnya ke atas. Licik juga ternyata tuh orang. Aku harus berhati-hati dengan kecerdikan yang dia miliki.


Aku berdecak kesal. "Kalau lo minta anak, sama aja lo ngiket gue lebih lama. Gak ada gitu-gituan!" Aku tidak bodoh untuk tahu akal bulus di balik pasal keempat itu. Dalam agama Islam tidak boleh menceraikan istri dalam keadaan hamil. Dan itu sama saja aku memperpanjang masa pernikahan yang tak diinginkan ini. Tidak akan aku biarkan. 


"Selain mencari ridho Allah tujuan dari sebuah pernikahan itu untuk mendapatkan keturunan," ucapnya begitu lancar tanpa beban. Tuh mulut minta aku potong apa? Aku tidak mau berpisah dalam keadaan diriku yang sudah tidak utuh lagi. Berstatus sebagai janda saja aku tidak mau apalagi ditambah dengan julukan janda satu anak. Enggak! Aku enggak akan membiarkan hal itu terjadi. Dikira perempuan dinikahi cuma buat jadi mesin pembuat anak kali. Aku bukan wanita bodoh yang dengan mudah menyerahkan apa yang begitu berharga dalam hidupku pada sembarang orang, apalagi itu untuk seorang Arda Nazma Dewanda.


"Lo coret pasal keempat dan gue akan tanda tangan. Kalau lo tetep keukeuh ya udah mending kita ke pengadilan sekarang," tukasku final, tidak bisa diganggu-gugat lagi. Kalau dia bisa mengancamku aku pun akan mengancam dia balik.


"Kalau gitu aku juga akan mencoret pasal pertama," sahutnya yang membuat aku kesal bukan kepalang. Mana bisa aku hidup tanpa uang dan kemewahan, walaupun aku yakin gaji dia tak seberapa, tapi setidaknya kasihlah aku nafkah selama menjadi istrinya, hanya istri sementara bukan sementerus tentunya. Tolong diingat dan kalau perlu dicatat dengan capslock jebol serta cetak tebal.


Arda itu hanya pegawai pabrikan yang berpenghasilan pas-pasan. Papah dan Mamah pasti akan lepas tangan dan tidak mungkin lagi memenuhi semua yang aku perlukan pada saat aku sudah sah menjadi istri orang. Hidup tanpa harta dan kemewahan? Itu sama saja seperti membunuh aku secara perlahan-lahan. Memang sih aku masih memiliki satu ATM berjalan yanh bersumber dari Lukman, tapi aku rasa itu tidak akan cukup dan aku harus mencari suntikan dana dari orang lain, ya seperti Arda misalnya.


Aku memutar otak untuk menyanggah dan menolaknya lagi. Cukup lama dan akhirnya sebuah ide cemerlang muncul begitu saja. "Ok gue setuju. Mana kertasnya?" cetusku yang membuat mata dia berbinar senang. Silakan nikmati saja kebahagiaan sesaat kamu, Tuan Arda Nazma Dewanda menyebalkan. Sebelum keinginan kamu tercapai aku akan lebih dulu membuat kamu mundur dan dengab sukarela melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Aku sangat menunggu waktu itu. Semoga saja segera terkabul. Bukankah doa orang yang teraniaya itu diijabah Allah Subhanahu wa Ta'ala? So, aku berharap Dia bersedia mempercepat doaku. Bantu aminkan yang paling keras dan serius teman-teman.

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2