
"Berbicara tanpa berkaca sama saja seperti meletakkan kotoran tepat di depan muka."
•••
Keputusan besar telah aku putuskan. Perjuanganku masih panjang dan ini adalah sebuah permulaan. Setelah mengatakan kesiapan pada Papah, aku mengikuti sarannya agar aku tak kembali goyah. Tapi yang aku alami justru sebaliknya, batinku saling bertempur menyuarakan dua sisi yang berlainan, hingga membuat keteguhanku kembali melemah. Tak ingin melanjutkan apa yang sudah aku katakan. Dan justru ingin menarik ulang kata-kata yang sudah aku keluarkan. Kalimat yang Papah lontarkan membuat hatiku semakin bimbang.
"Masa iya kamu juga yang tega giring Papah ke neraka gara-gara gak tutup aurat."
Untaian kata sederhana itu begitu terngiang-ngiang dalam ingatan. Menyadarkanku untuk kembali melanjutkan apa yang sudah aku putuskan. Menyerah sebelum berjuang bukanlah sifatku yang begitu suka dengan tantangan. Aku akan mencobanya, dengan harapan Allah memberikan aku ke-istiqomahan. Aku tak berani mengatakan bahwa aku 'berhijrah', kata itu terlalu berat dan aku rasa tak akan sanggup menggapainya. Aku hanya mencoba memperbaiki diri ke arah yang lebih baik lagi.
Jangan kira aku langsung memakai baju gombrong kaya waktu itu. Tidak sama sekali. Aku hanya mengenakan celana panjang berbahan jeans, dan kemeja lengan panjang juga, sehelai kain segiempat yang sengaja aku lipat seperti segitiga menutupi bagian kepala. Aku belum bisa menggunakan pakaian syar'i yang seharusnya aku kenakan. Jujur itu masih sulit dan berat bagiku. Dengan menggunakan pakaian tertutup walau masih menampakkan bagian kaki jenjangku saja sudah berperang mati-matian. Aku ingin menikmati prosesnya, step by step. Semua butuh proses dan tidak mungkin bisa secepat itu meninggalkan kebiasaan lama dan menggantikannya dengan kebiasaan baru. Itu bukanlah hal yang mudah. Sangat sulit.
"Apa kamu yakin akan pergi ke kampus dengan pakaian seperti ini? Mamah gak mau kamu bermain-main dengan aturan agama. Bongkar-pasang hijab bukan perkara sepele, itu dosa besar. Mamah gak mau besok atau lusa kamu kembali berubah pikiran," tutur Mamah saat aku baru saja duduk di kursi meja makan. Raut cemas dan khawatir sangat jelas di wajahnya.
"Doain aja yang terbaik kali, Mah. Bukan malah buat aku drop," sahutku seraya menerima piring yang sudah Mamah isi dengan nasi dan lauk pauk.
Mamah membuang napasnya kasar dan berujar, "Keputusan kamu terlalu mendadak, dan jujur itu buat Mamah takut. Takut kalau itu hanya keinginan spontan karena kamu gak bisa nolak permintaan Papah." Aku diam tak bisa menjawab. Memilih untuk memasukkan nasi ke dalam mulut adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.
"Papah harap itu adalah murni keinginan hati kamu. Bukan karena Papah yang mendasari alasan kamu untuk menutup aurat." Perkataan Papah yang baru saja datang dari kamar membuat aku menoleh ke belakang.
"Adara gak mau terlalu memikirkan hal semacam itu, biarkan semua berjalan dengan semestinya," kataku sembari menatap Mamah dan Papah bergantian. Aku bisa melihat ada keraguan serta ketakutan dari manik mata kedua orang tuaku. Jangankan mereka, aku saja masih meragukan kesungguhanku. Baru hitungan menit saja keringat sudah bercucuran dan memintaku untuk segera melepas penutup kepala ini. Tak terbayang aku memakai pakaian sejenis ini setiap hari. Aku jadi bingung pada Mamah yang begitu nyaman dengan baju kebesaran dan khimar lebar. Apakah beliau tidak merasa panas dan kegerahan?
__ADS_1
"Mamah gak bisa berbuat banyak selain mendoakan kamu agar bisa tetap istiqomah," ucap Mamah dengan suara meneduhkan hati. Aku terharu mendengarnya. Sangat jelas sekali Mamah menunggu saat-saat seperti sekarang. Walau aku menyadari dengan betul bahwa Mamah masih tak yakin dengan keputusan yang aku ambil.
Papah mengelus ubun-ubunku sebelum beliau duduk di kepala kursi meja makan. "Kuatkan mental dan hati kamu. Jangan pedulikan omongan orang," nasihatnya yang aku balas dengan anggukan singkat.
Selama ini aku dicap sebagai cewek matre. Tidak tersinggung dan justru bangga. Kenapa sekarang pada saat aku mengikuti syariat agama harus takut dan lemah akan omongan orang? Hidupku bukan dihabiskan untuk menanggapi ocehan para netizen tak bertanggung jawab. Bersikap bodo amat dan tak peduli adalah prinsip hidup yang aku junjung tinggi.
Setelah selesai acara santap pagi, seperti biasa aku langsung bergegas pergi. Menunggu seseorang yang akan mengantarkan aku ke tempat tujuan. Untuk yang satu ini aku masih belum bisa menghindar. Aku menutup aurat karena itu adalah sebuah kewajiban, keharusan. Tapi entah kenapa aku masih belum bisa meninggalkan teman-teman priaku. Hanya penampilan saja yang berubah, tidak dengan karakter dan kepribadianku.
"Kamu gak salah pake baju kan?" Pertanyaan semacam ini sudah aku tebak akan keluar dari bibir Lukman. Aku tak menjawab dan hanya membalasnya dengan senyum tipis, dia yang memang dasarnya sangat peka langsung membukakan aku pintu mobil. Lukman adalah tipe pria yang irit dalam bertutur kata tapi tidak dalam urusan finansial. Orangnya sangat royal, bukan hanya kepadaku tapi juga orang-orang di sekitarnya yang memang membutuhkan.
"Kalau lo mau berenti jadi temen jalan dan main gue, gak papa. Gue cukup tau diri dengan keadaan gue sekarang yang gak bisa sebebas dulu." Aku mulai sedikit membuka obrolan. Tak mungkin aku akan terus seperti ini, setidaknya aku harus meninggalkan beberapa di antara mereka. Cukup memerlukan banyak waktu memang untuk mengungkapkan semuanya. Tapi akan aku coba.
"Ok." Satu kata persetujuan keluar dari bibir tipis berlapis gincu merah muda. Bukan dia orang yang tepat aku tinggalkan. Aku rasa mempertahankan Lukman adalah opsi terbaik. Aku mengawali semuanya dengan baik dan aku pun harus mengakhirinya dengan baik-baik pula. Tidak ada dalam kamus hidupku menghilang tanpa pemberitahuan, kecuali mereka sendiri yang memutuskan untuk mengakhirinya dengan cara yang demikian.
"Thanks, Man. Lo bisa jemput gue seperti biasa," kataku saat baru saja turun dari mobil. Dia mengangguk setelah menutup kembali pintu mobilnya.
Sesuai dugaan dan perkiraan yang sudah aku kaji berulang-ulang. Para penghuni kampus, terkhusus kaum perempuan yang doyannya ghibahin orang sudah siap menyemburkan lava panas dan nyinyirin karena penampilanku yang sekarang. Matanya seperti mau keluar melihat dari atas sampai bawah hingga berkali-kali.
"Berhijab kok masih dianter jemput cowok." Satu sindiran yang berasal dari cewek berbaju marun yang rambutnya sengaja dikucir kuda.
"Pake kerudung kok modelannya kek gitu. Gak sesuai syariat yang diajarkan." Untuk yang kedua ini lebih fokus mengomentari penampilanku. Rasanya aku ingin tertawa di depan wajah perempuan bergaun hijau muda itu. Hey, apa dia tidak berkaca dengan dirinya sendiri yang betah mempertontonkan aurat di khalayak ramai. Ngaca!
__ADS_1
"Lebih cantik tanpa kerudung, auranya keluar gak kaya sekarang bosenin," celetuk seorang pria lemah gemulai, kemayu guys. Aku tak yakin dia adalah lelaki tulen. Dia kira aku ini Aura Kasih kali ah, pake bahas soal begituan segala.
Sepanjang jalan dari parkiran ke perpustakaan banyak banget yang nyindir dan nyinyir. Aku bersikap bodo amat dan tak menanggapi mereka sama sekali. Sakit hati? Tak terima? Tidak, karena apa yang mereka katakan memang benar adanya. Suka-suka mereka saja, toh itu mulut mereka. Aku tak bisa membungkam mulut-mulut pedas manisnya, yang bisa aku lakukan cukup menutup telinga dan bersikap seperti biasa.
Saat ini aku sedang berada di taman kampus dekat perpustakaan, rencananya aku akan mencari bahan untuk materi skripsi. Tapi karena perpustakaannya masih tutup, jadi aku memutuskan untuk duduk santai di taman. Namun kehadiran salah satu teman seangkatan membuat aku berpikir macam-macam. Dia pasti sama seperti teman-teman lainnya yang mencela dan menghinaku dengan kata-kata tajam.
Tapi dugaanku salah besar, dia justru tersenyum manis dan berujar, "Jangan memikirkan omongan orang. Yang mereka bicarakan itu hanya sebatas apa yang mereka lihat. Aku berdoa semoga kamu bisa tetap tahan ujian." Ini adalah kalimat positif yang baru pertama kali aku dengar. Tidak menghakimi dan mencaciku karena tak mampu berpenampilan layaknya wanita muslimah kebanyakan.
Aku mengangguk dan tersenyum manis ke arahnya. "Boleh dong lain kali lo ajak gue pergi kajian," candaku yang justru disambut suka cita oleh perempuan bergamis serta khimar berwarna hitam itu. Pakaian yang dia miliki seperti tidak ada warna lain saja. Hitam, ya setiap hari dia seperti tak pernah berganti pakaian. Dari mulai model dan warnanya sama persis, hingga dia banyak menerima celaan. Tapi aku salut dengan jawaban yang dia berikan.
"Saya hanya melakukan apa yang sudah Nabi saya ajarkan. Memakai pakaian gelap dengan tujuan agar tak menjadi pusat perhatian, dan membantu melindungi para mata lelaki agar tak memiliki syahwat saat tak sengaja bertemu pandang." Dia begitu dewasa dan penuh wibawa. Setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak mengandung emosi ataupun rasa kesal karena sudah dihina habis-habisan.
"Boleh dong. Nanti pasti aku kabari kamu lagi," sahutnya sangat antusias.
Di tengah obrolanku dan Maryam, terdengar ada mulut kurang ajar yang rasanya ingin aku lakban. "Yang satu bergaya kearab-araban dan satunya lagi modelan cewek modis bak artis-artis papan penggilesan. Memang perpaduan yang pas. Mungkin besok atau lusa dua-duanya kompak pake kain hitam yang sengaja dipasang buat nutupin muka kaya ninja hatori---" ucapnya begitu lancar tanpa beban, bahkan dia tertawa menggelegar hingga menjadi pusat perhatian. Jika saja Maryam tak memotong dan membungkam mulut lemesnya, mungkin kalimat pedas penuh penindasan akan semakin melebar ke mana-mana.
"Maaf kami harus segera ke perpustakaan. Permisi," potong Maryam cepat dan menarik tanganku begitu saja. "Kenapa kita malah pergi sih? Mulut aku gatel pengen bales ucapannya." Aku berkata dengan bersungut-sungut kesal. Seharusnya orang seperti itu diberi sedikit pelajaran agar tak mereka ulangi lagi. Bagaimana mungkin kita sebagai sesama wanita yang menganut agama serupa, tapi masih saja menghina dan mencela satu dan lainnya.
"Tak ada gunanya menanggapi mereka yang tidak menyukai kita. Percuma saja, di mata mereka kita akan tetap salah," tuturnya dengan sunggingan tipis. Aku harus banyak belajar pada Maryam agar bisa lebih mengontrol emosi, dan banyak-banyak bersabar.
~TBC~
__ADS_1