Matrealistis

Matrealistis
22-Dari Hati ke Hati


__ADS_3

"Cara berpikirku yang selalu mengutamakan materi secara tidak langsung membuatku lupa dan terlalu cinta akan dunia. Seakan-akan aku akan hidup selamanya."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Beruntung hari ini Arda kerja shift malam dan aku bisa terbebas darinya, aku belum siap untuk tidur di ruangan yang sama dengan dia. Tapi kalau pun menyuruhnya tidur di kamar tamu pasti akan mengundang rasa curiga dari Mamah dan Papah. Aku sangat bersyukur karena masih bisa selamat malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi kantuk masih belum kunjung datang, kebiasaanku yang memang sulit tidur di jam normal semakin menjadi karena kegiatanku akhir-akhir ini yang gemar berkutat di depan laptop untuk menyelesaikan skripsi. Pola tidurku semakin tidak teratur.


Suara decitan pintu dan juga kehadiran Mamah mengalihkan fokusku yang sedang sibuk bermain gawai. Malam-malam seperti ini jaringan internet lancar tanpa hambatan, main sosmed jadi lebih leluasa tanpa gangguan. "Kenapa, Mah? Kok tumben jam segini belum tidur?" tanyaku pada saat beliau sudah duduk di depanku, di atas kasur lebih tepatnya.


"Kamu juga kebiasaan, masih saja suka begadang. Jaga kesehatan dong, Sayang." Aku meletakkan gawai di nakas dan melirik sekilas ke arahnya. "Iya, Mah."


Mamah mengelus lembut punggung tanganku dan berucap, "Mamah gak tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu dan Arda, tapi Mamah gak mau kamu menyia-nyiakan laki-laki sebaik Arda. Tidak ada salahnya untuk menerima pernikahan ini, Nak." Tumben sekali Mamah berbicara langsung pada intinya, dan tak membuatku pusing dengan bahasa yang beliau gunakan.


Aku diam, bingung harus berkata apa. Mamah itu sangat peka dan sangat memahami aku sampai ke akar-akarnya, apalagi perkara hal seperti ini yang bisa dengan mudah beliau tebak. Kejadian di meja makan tadi mungkin berhasil mengusik Mamah hingga dia rela tidak tidur tepat waktu.


Mamah menangkup wajahku penuh kehangatan. "Mamah gak mau kamu menyesal di kemudian hari, Adara. Jadi Mamah mohon, buka hati kamu untuk, Nak Arda yah." Aku menatap Mamah dengan sorot mata sulit diartikan. "Adara gak yakin bisa jalanin hubungan ini sama Arda, Mah. Dia bukan tipe Adara, apalagi kehidupan Adara sama dia jauh berbeda."

__ADS_1


"Bukannya gak yakin, tapi kamu saja yang tidak ingin mencoba. Apa yang kurang dari Arda, Sayang? Dia bertanggung jawab dan juga beriman. Ilmu agamanya bagus, itu cukup untuk modal bimbing kamu ke surga-Nya." Banyak, Mah. Arda itu lebih banyak minus dibanding plusnya. Kenapa Mamah selalu melihat dari satu sisi saja? Coba saja kalau Mamah tahu kelakuan menyebalkannya yang selalu membuat aku naik darah. Apa Mamah masih akan tetap menganggapnya baik tanpa celah?


Aku mengeleng tak setuju. "Itu gak cukup, Mah. Arda emang sangat berkemungkinan besar bisa bawa Adara ke surga. Tapi Adara gak yakin dia bisa bahagiain Adara di dunia, bukannya Adara gak bersyukur atau kufur nikmat dan malah terkesan cinta dunia. Adara harus berpikir panjang untuk masa depan Adara, gak mungkin Adara bisa dampingin Arda dalam kondisinya saat ini. Adara bukan perempuan yang mau diajak susah, Adara terbiasa hidup cukup tanpa kekurangan. Sedangkan kalau Adara terus bertahan sama Arda? Adara gak yakin bisa, Mah."


Dengan lembut dan senyum tipisnya Mamah mengelus rambutku pelan. "Jangan kamu risaukan perihal rezeki, Nak. Semuanya sudah diatur dan tidak akan pernah ketuker. Bahagia gak selalu harus diukur dengan harta dan kekayaan, masih banyak hal lainnya."


Aku hanya menunduk dan bertahan dengan gemingku. Mamah selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk mengutarakan maksud dan tujuannya, dan beliau selalu berhasil merubah pola pikirku hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Tapi tidak berlaku untuk masalah ini, terlalu banyak yang harus aku pertimbangankan jika memutuskan untuk bertahan. Mamah itu cerewetnya minta ampun, kalau ngomong gak pernah pake saringan, doyan nyindir, pokoknya gak jauh bedalah sama aku. Tapi di lain waktu beliau juga bisa bersikap selayaknya seorang ibu yang penuh kasih sayang dan sangat memahami keadaan anaknya. Kalau diibaratkan Mamah itu seperti bunglon, berubah sesuai tempat dan kebutuhan.


Mamah duduk miring dengan kaki menjuntai ke lantai, beliau melihat ke arah balkon yang sudah tertutup gorden. "Semua itu tidak mungkin berjalan sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Mamah menikah dengan Papah dalam keadaan sama-sama susah, tapi karena memang Papah kamu sudah menjanjikan Mamah kebahagiaan serta tak akan membuat Mamah sengsara, Mamah menerima pinangan Papah kamu." Beliau menghentikan ucapannya dan melihat ke arahku sekilas.


"Mau sesusah apa pun jika kita bersyukur dan mau berusaha pasti akan selalu ada jalannya. Coba kamu lihat Papah sekarang? Papah kamu jadi penguasa sukses dengan penghasilan besar dan bisa menghidupi kita tanpa kekurangan. Laki-laki itu yang dipegang omongannya, dan Papah kamu berhasil menepati ucapannya. Semua itu butuh proses dan gak mungkin bisa instan."


Mamah menghela napas dalam-dalam sebelum berujar, "Harta bukanlah segalanya, Nak. Lebih baik hidup sederhana tapi bahagia. Apa kamu pernah berpikir apa yang Mamah rasakan saat Papah kamu selalu pulang larut malam atau justru menghabiskan waktu istirahatnya untuk menyelesaikan pekerjaan? Mamah kesepian, apalagi kamu yang selalu keluyuran."


Aku tahu apa yang Mamah rasakan, karena aku pun sering mengeluhkan kegiatan Papah yang terlalu sibuk mencari uang. Tapi aku baru tahu bahwa ternyata Mamah lebih parah dariku, terlebih lagi sekarang aku sudah tidak tinggal satu rumah dengannya. Rasa kehilangan dan kesepian pasti berkali-kali lipat Mamah rasakan.


"Maafin Adara karena selama ini gak pernah ada buat Mamah. Kerjaan Adara cuman bikin susah Mamah sama Papah doang." Aku memeluk Mamah dari samping dan Mamah membalasnya.

__ADS_1


"Qorun terbunuh karena kecintaannya pada harta. Mamah gak mau hal itu menimpa kamu, Nak. Kejarlah akhirat maka dunia akan mengikut, tapi kalau kamu mengejar dunia maka akhirat akan meninggalkanmu. Capek kalau kamu terus menerus mencari kesenangan dunia, gak akan pernah ada habisnya."


Air mataku turun tanpa mampu kucegah. Aku takut jika apa yang Qorun alami menimpaku juga. Cara berpikirku yang selalu mengutamakan materi secara tidak langsung membuatku lupa dan terlalu cinta akan dunia. Seakan-akan aku akan hidup selamanya.


"Mamah dan Papah menikahkan kamu dengan Arda bukan tanpa alasan, kami menggantungkan harapan besar bahwa dengan bersamanya kamu bisa berubah dan tidak lagi menganggap rendah seseorang dari kadar kemampuan finansial. Derajat manusia bukan dilihat dari kaya miskinnya, atau pun dari tinggi jabatan yang dimiliki, tapi keimanan dan ketakwaannya." Tangan Mamah tak pernah lelah megelus puncak kepala dan juga punggungku. Aku hanya mampu terisak di dalam pelukannya.


"Tapi semuanya udah terlambat, Mah. Adara dan Arda sengaja membuat surat kesepakatan yang akan selesai akhir bulan depan." Aku berbicara dengan ragu dan napas tersengal-senggal. Mamah terkejut dan langsung melepaskan pelukannya, beliau memegang kedua bahuku dan menatapku dengan penuh rasa tak percaya. Hatiku sakit melihat itu.


"Pernikahan bukan untuk main-main, Adara! Apa yang sebenarnya kalian pikirkan sampai bertindak sejauh ini." Mamah menumpahkan isi hatinya dengan nada suara tinggi yang membuat aku bergidik ngeri.


"Adara yang minta Arda buat nulis perjanjian itu, Mah." Aku tidak kuat lagi untuk memendam kebohongan besar. Aku tak mau semakin lama membiarkan kebohongan ini ada dan akan semakin membuat orang-orang terdekatku kecewa.


Helaan napas terdengar begitu berat di telinga, sangat kentara sekali bahwa Mamah sedang meredam emosinya agar tak meledak sekarang juga. "Batalkan kesepakatan yang kalian buat dan perbaiki semuanya."


"Adara gak bisa, Mah. Adara gak suka sama Arda." Aku masih saja berusaha menyangkal. Bukan Arda yang aku inginkan sebagai pendamping.


Mamah bangkit dari duduknya. "Kamu telah menyia-nyiakan batu permata hanya untuk sesuatu yang tak nyata." Itu adalah kalimat terakhir yang Mamah katakan sebelum beliau benar-benar keluar dari kamar.

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2