
"Papah dan Mamah gak minta kamu jadi orang besar yang terkenal dan jenius dalam segala hal, cukup jadi wanita shalihah yang taat pada aturan."
•••
Setelah acara bernegosiasi perihal kesepakatan selesai Arda dengan begitu enteng tanpa persetujuan mau membawaku pergi keluar dari rumah Papah dan Mamah. Enak saja dia memutuskan tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu, dan yang lebih membuatku dongkol tak terkira adalah keputusan kedua orang tuaku yang melepasku begitu saja. Aku merasa dibuang dan asingkan oleh mereka. Apa ini alasan mereka menikahkanku secara paksa dengan Arda?
"Adara mau di sini, Mah, Pah," bujukku memasang wajah sememelas mungkin. Pokoknya aku harus bisa merubah keputusan kedua orang tuaku.
"Gak bisa gitu dong, Sayang. Kamu kan sudah menikah, suami kamu lebih berhak dibanding Papah dan Mamah," tutur Papah mencoba menjelaskan.
Aku menggeleng tak setuju dan semakin memasang tampang menyedihkan. "Adara masih anak Papah sama Mamah, gak ada yang lebih berhak atas diri Adara selain Papah sama Mamah. Arda cuman pria asing yang datang tanpa izin dan mau ngambil Adara gitu aja. Gak! Adara gak mau tinggal bareng sama Arda," keukeuhku dengan melirik Arda sekilas yang sedaritadi diam mendengarkan.
Papah yang duduk berada di sampingku dengan lembut penuh kasih sayang mengelus puncak kepalaku yang kini sudah tertutup kerudung berwarna hitam. Aku tak akan membiarkan Arda menikmati keindahan rambutku, bahkan saat ini aku memakai baju gombrong kebesaran, sama seperti waktu aku ikut kajian. Walaupun kegerahan aku harus melakukannya demi melindungiku dari ancaman yang sewaktu-waktu bisa saja menyerang. "Jika seorang anak perempuan sudah menikah, otomatis baktinya akan berpindah. Papah dan Mamah memang orang tua yang harus kamu hormati sampai kapan pun, tapi suami kamu yang lebih utama."
"Siapa dia? Datang tanpa permisi dan diminta tapi bisa memonopoli hidup Adara. Itu namanya gak adil, Pah!" sanggahku tak terima. Orang tuaku masih yang utama setelah Allah dan Rasul-Nya.
"Sayang," panggil Mamah lembut dan menyita perhatianku. Aku menghadap ke arah samping kanan tempat Mamah berada. Beliau mengelus sebelah pipiku sebelum berkata, "Mamah mau tanya satu hal sama kamu. Kalau kamu beli baju pasti baju itu akan beralih tangan jadi milik kamu, kan? Apa kamu pernah berpikir, bagaimana perasaan pemilik baju itu? Dia yang membuat pakaian itu, dia juga yang menyimpan dan merawatnya, hingga pada saat waktunya tiba pakaian itu harus diambil alih oleh orang asing. Kalau kamu berada di posisi pemilik baju itu, apa yang kamu rasakan?"
"Ya namanya juga pedagang, ya emang udah kaya gitu jalannya. Kalau emang gak mau diambil orang lain ya gak usah dipasarin," jawabku. Awas saja kalau Mamah sampai menyamakan aku dengan baju. Apa belum cukup waktu itu Mamah menyamakan aku dengan ketupat lebaran?
__ADS_1
Tangan Mamah beralih menggenggam kedua tanganku. "Papah sama Mamah gak akan mungkin sembarangan memilihkan kamu pendamping hidup, kalau pedagang baju bisa dengan mudah membiarkan miliknya diambil orang gitu saja pada saat adanya kegiatan transaksi. Lain halnya dengan Papah dan Mamah yang harus berpikir matang-matang, sebelum akhirnya menyerahkan putri kami ke tangan orang asing yang baru kami kenal hanya sebatas empat tahunan kurang. Jangan pernah kamu berpikir bahwa pernikahan ini adalah cara kami melepaskan tanggung jawab, apalagi membuang kamu gitu saja. Tidak seperti itu, Nak." Perkataan Mamah berhasil mengetuk kekerasan hatiku, yang tadi sempat berpikiran dangkal. Tapi aku tak terima dengan perumpamaan Mamah yang lagi-lagi menyamakan aku dengan benda mati.
"Papah dan Mamah percaya bahwa Nak Arda bisa membimbing dan menjaga kamu dengan baik. Kalau boleh kami egois, kami tidak akan pernah melepas kamu dengan pria mana pun. Karena kami tahu sebesar apa pun pria itu mencintai kamu, tetap saja cinta dan kasih sayangnya tidak akan bisa sebanding dengan yang kami miliki. Sampai kapan pun kamu tetap akan menjadi putri Papah sama Mamah. Semuanya gak akan berubah, walaupun kamu sudah menikah bahkan memiliki keturunan sekalipun. Tapi yang harus kamu prioritaskan adalah suami kamu, bukan Papah dan Mamah lagi. Ridho kamu berada di tangan suami kamu, begitu juga dengan surga kamu, Sayang. Menghormatinya adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh kamu langgar," jelas Papah dengan nada suara sedikit bergetar. Aku melihat satu tetes air mata turun dari sudut matanya.
Hatiku sedikit tersentil saat mendengar penuturan Papah dan Mamah. Aku terlalu berpikiran sempit dan menyalahkan kedua orang tuaku atas pernikahan ini. Aku terlalu mengedepankan rasa kecewaku, tanpa menghiraukan perasaan kedua orang tuaku yang juga merasakan kehilangan atas status yang kini sudah aku sandang. Tapi kalau emang mereka masih berat melepasku, untuk apa mereka menikahkanku? Aku belum siap dan mungkin tidak akan siap.
"Adara gak bisa terima sama status baru Adara, Pah, Mah. Apalagi harus hidup seatap sama cowok modelan Arda. Adara enggak mau!" kataku sembari menggeleng keras.
"Jangan ngomong gitu dong, Nak. Mau bagaimana pun juga sekarang Nak Arda sudah resmi menjadi suami kamu," tutur Papah masih berusaha membujukku. Heh, sampai kapan pun juga aku tak akan bisa menerima pernikahan ini.
"Jadi istri yang baik dan taat untuk, Nak Arda. Jangan buat malu Mamah sama Papah kalau sampai kamu lalai dalam menjalankan tugas kamu sebagai istri. Keberhasilan didikan kami bukan dilihat dari seberapa pintar atau banyaknya gelar yang kamu dapatkan. Tapi seberapa taat dan berbaktinya kamu pada suami dan aturan Allah. Papah sama Mamah gak minta kamu jadi orang besar yang terkenal dan jenius dalam segala hal, cukup jadi wanita shalihah yang taat pada aturan. Itu sudah cukup, Nak." Perkataan Mamah berhasil menghujam hatiku. Rasanya begitu sakit dan menyesakkan. Tapi aku juga tak bisa mengabaikan perasaanku begitu saja. Dengan menerima pernikahan ini sama saja seperti membuka akses lebar agar Arda bisa lebih masuk lagi ke dalam hidupku. Aku tidak mau hal itu terjadi.
Batinku saling berontak dan berlainan arah. Bagaimana kalau mereka tahu dengan kesepakatan yang telah aku dan Arda buat. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya mereka saat mengetahui hal itu. Kenapa aku selalu dihadapkan pada situasi yang tidak aku inginkan? Kenapa hidupku jadi semakin runyam dan suram seperti sekarang. Kehadiran Arda memang hanyalah sebuah malapetaka yang seharusnya tidak pernah ada.
"Enggak usah, Pah. Arda berencana akan mengontrak rumah untuk kami tempati," tolak Arda. Aku melotot ke arahnya yang duduk berseberangan. Enak saja dia kalau ngomong. Sudah nikahin aku tanpa persetujuan, terus sekarang mau ajak aku hidup susah? Hey, siapa dia?
Arghhh! Kenapa mereka bertiga semakin membuat kepalaku pening bukan main. Ini adalah hidupku. Dan sudah seharusnya aku yang bertindak lebih banyak, bukan malah mereka semua. Aku muak dan ingin menghilang secepat kilat dari muka bumi ini. Pintu kemana saja milik Doraemaon mana? Aku ingin meminjamnya untuk sementara waktu saja.
Papah berjalan menghampiri tempat Arda duduk, menepuk bahunya pelan sebelum berkata, "Bukan maksud Papah merendahkan ataupun menganggap kamu tidak bisa diandalkan sebagai seorang kepala keluarga. Papah hanya menginginkan yang terbaik untuk anak dan menantu Papah. Jangan ditolak yah." Apaan sih Pah pake acara ngomong kaya gitu segala. Orang bener kok Arda itu gak bisa diandelin. Nikahin anak gadis orang kok mau ngajak susah sih. Ngaca dong! Emang dia siapa? Anak menteri? Anak presiden? Jelas jawabannya bukan. Dia hanya anak tunggal dari keluarga sederhana yang taat agama. Gak punya kaca kali di rumahnya, harusnya yang dia nikahi itu ukhti-ukhti masjid bukan malah aku. Ini nih yang namanya menyalahi aturan Tuhan. Katanya jodoh cerminan diri, tapi kenapa itu gak berlaku untuk aku dan Arda?
__ADS_1
Papah itu cerminan suami, ayah, dan mertua idaman. Beliau adalah sosok lelaki sejati yang begitu menyayangi keluarganya dengan sepenuh hati. Tapi itu sebelum Papah memutuskan untuk menikahkan aku dengan pria modelan ustaz kaleng-kaleng kaya Arda. Papah yang sekarang aku kenal jauh dari kata idaman dan bahkan cenderung egois serta memaksakan kehendaknya. Dulu aku selalu memimpikan bahwa sosok seperti Papahlah yang akan mendampingiku untuk menapaki kehidupan di dunia yang fana ini. Tapi ternyata takdir hidup berkata lain, dan tanpa dapat bisa kucegah Arda lah yang saat ini berstatus sebagai suamiku, walau hanya sementara tapi jujur itu membuat aku kecewa.
"Maafkan Arda karena belum bisa membuat putri Papah bahagia, bahkan di hari pernikahan saja Arda sudah membuatnya menangis. Maafkan Arda, Pah." Aku cukup tersentak tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Arda. Dia meminta maaf tanpa sungkan dan gengsi di hadapan aku, Mamah, dan Papah. Tapi gak papalah, setidaknya dia masih punya sedikit urat malu untuk mengakui kesalahannya.
"Bukan kamu yang buat Adara nangis, tapi emang dasar Adara-nya saja yang lebay dan terlalu mendramatisir," sahut Papah santai, bahkan beliau memberikan senyum penuh ejekan ke arahku.
Enak saja Papah mencelaku seperti itu. Siapa juga yang tak shock dan banjir air mata pada saat bangun tidur sudah mendapat kabar kalau statusnya sudah berubah. Di mana biasanya pernikahan digelar dengan penuh perencanaan dan persiapan matang, lain halnya dengan aku yang serba dadakan dan alakadarnya. Mana ada mempelai perempuan yang menerima buku nikah dalam keadaan memakai kaus oblong kebesaran dan juga celana pendek selutut? Sungguh acara pernikahan antimainstream yang tidak akan pernah mau siapa pun alami, termasuk aku.
"Itu mah emang dasarnya aja Papah sama Mamah yang gak sabaran. Masa nikahin anak gadis satu-satunya diem-diem kaya gitu. Untung Adara gak punya riwayat penyakit jantung," balasku dengan nada jengkel dan kesal.
Mamah dan Papah tertawa renyah, sedangkan Arda hanya menyunggingkan sedikit senyumnya. "Tenang saja bulan depan kami akan menggelar resepsinya secara besar-besaran. Mamah dan Papah sengaja melakukan akad nikah tanpa sepengetahuan kamu, kalau kamu tahu bisa kabur gak pulang-pulang kamunya," terang Mamah yang membuat aku cemberut. Emang benar apa kata orang, kalau firasat seorang wanita, apalagi ibu pasti sangat kuat dan harus diwaspadai. Matanya emang cuma ada dua tapi CCTV-nya di mana-mana. Selalu mengintai dan selalu ada. Tahu saja isi kepala anaknya yang suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
"Mamah sama Papah emang kurang kerjaan!" kataku dengan tangan bertengger di depan dada dan bibir yang maju ke depan.
Entah apa yang akan terjadi setelah aku pindah ke rumah baru. Tapi tunggu sebentar... apa yang baru saja Mamah katakan? Beliau akan mengadakan pesta pernikahan bulan depan? Yang ada juga mengadakan pesta perceraian, Mah. Merayakan status janda anak gadis satu-satunya. Ucapan selamat para tamu undangan akan berganti menjadi. "Selamat atas status jandanya." Gila sih kalau sampai itu terjadi. Malunya tingkat akut itu mah.
"Tidak usah mengadakan acara resepsi, Mah, Pah," tolak Arda cepat. Aku bersyukur dia bisa mengatakan seperti itu. Jujur saja bibirku rasanya sangat kelu untuk mengutarakan penolakan. Bukannya tak berani, tapi aku yakin omonganku hanya akan dianggap angin lalu. Tidak akan berefek apa-apa.
"Dalam agama pernikahan itu harus diumumkan agar tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari. Kalau emang kalian gak mau pesta besar-besaran ya sudah cukup buat acara sederhana dan undang tamu penting-penting saja," ucap Papah. Aku tanpa sadar mengembuskan napas kasar hingga menarik perhatian kedua orang tuaku.
__ADS_1
"Terserah Mamah sama Papah ajalah," kataku akhirnya. Arda terlihat shock mendengar jawabanku. Kata 'terserah' itu bukan berarti mengiyakan, bukan? Aku hanya ingin menghentikan obrolan yang semakin ngalor ngidul ini saja. Aku sudah sangat muak! Dan ingin segera mengakhiri semuanya.
~TBC~