
Sinta menelpon Amanda sambil marah-marah. Suaranya meninggi dan sangat kesal.
"Kau tidak setia kawan. Pengecut!"
"Suamimu mengancam akan membawaku ke kantor polisi. Aku akan diinterogasi!"
"Dia cuma menggertakmu! Tidak ada bukti! Kau bisa bebas mengarang apa saja. Kau itu payah dan gak setia kawan! Menghancurkan rencana master pieceku. Dua hari aku bisa menahannya mendekatiku!"
"Duh! Jangan egois dong! Aku yang akan diinterogasi bukan kau! Kalau ketauan aku berbohong bagaimana?"
"Tau darimana kau bohong? Gak ada bukti! Words against words. Kau tidak tabah sama sekali. Aku sangat kecewa padamu!"
"Suamimu juga mengancamku!"
"Mengancammu bagaimana?"
"Dia bilang, daripada dituduh melecehkan lebih baik dia melakukannya sekalian!"
"Kau percaya?"
"Kau jangan gila! Kalau kau selalu kerepotan menghindarinya. Apalagi aku? Bagaimana kalau dia benar-benar melakukannya?"
"Aku kan isterinya sedangkan kau bukan. Jangan ge er dong!"
"Kau enak aja ngomong karena bukan kau yang diancam akan diinterogasi ke polisi dan dilecehkan."
"Semua baru ancaman!"
"Tapi bisa jadi beneran!"
Sinta kembali memutar otaknya. Transmigrasi ini sangat membebaninya.
Ingin dia mengakui semuanya pada Dean. Bahwa dia bukan Sinta. Bukan pelacur. Dia adalah Gwen. Di dalam dunia nyata tidak memiliki kekasih sama sekali.Tidak pernah bercinta dengan siapapun.
Dean! Aku bukan Sinta! Aku bertransmigrasi ke dalam novel. Aku adalah Gwen. Anak SMA kelas tiga, jomblo akut. Bukan pelacur. Tidak pernah bercinta dengan siapapun.
Terbayang di dalam benaknya jawaban Dean. Kau sehat kan? Sambil memeriksa dahinya. Mungkin dia juga akan menyelipkan temprature ke dalam ketiaknya. Tentu dengan mengoleskan rexona sebelumnya. Mensterilkan temprature dari bakteri bau badan yang menyengat hidung Bisa menghentikan indera penciuman berhenti bekerja sementara. Menahan nafas.
Itu sama saja melaporkan Dean dengan tuduhan marital rape atau kekerasan seksual.
Saya mau melaporkan suami saya telah melakukan marital rape.
Suami ibu memaksakan hubungan seksual ketika ibu sedang haid?
Tidak….
Memaksa ibu melayaninya ketika sedang sakit?
Tidak….
Ah! Pasti memaksa ibu ketika ibu sedang kelelahan?
Tidak….
Kebanyakan wanita mengeluh suami mereka tetap memaksakan hubungan intim ketika mereka sedang tidak mood. Memang mood adalah segalanya bagi wanita tapi saran saya, pahami kebutuhan suami ibu apalagi kalau isteri cuma satu….
Bukan itu pak….
Lalu?
Suami saya melakukan kekerasan….
Bu! Memang harus keras! Bagaimana sih ibu?
Tapi pak….
Bukan kdrt kan?
Bukan pak….
Kekerasan….
__ADS_1
Kalau kekerasan masih lebih baik bu, daripada kurang keras atau malah tidak keras sama sekali. Letoy….
????
Sepertinya bukan ide yang bagus melaporkan Dean untuk marital rape atau kekerasan seksual. Apalagi kalau polisi menemukan dirinya belum disentuh sama sekali. Bahasan tentang kekerasan juga multitafsir karena Dean tidak melakukan apapun di luar batas. Dia tidak melanggar norma susila, agama atau moral. So….
Saran saya bu, just enjoy and relax, ok?
What???
Malam itu dia kehabisan akal. Memutuskan menyerah pada Dean. Dean sendiri tidak menyia-nyiakan kesempatan. Begitu mendapatkan surat pernyataan dari Amanda langsung diserahkan pada Sinta.
Tidak mau lagi menunggu lebih lama.
Dengan gerakan tak sabar dia melucuti semua pakaiannya. Sinta memejamkan mata dan pada saat itu timbul ide cemerlangnya.
"Maafkan aku!"
"Apalagi sih Sin?" Mata Dean berkabut. Gairahnya sudah meluap-luap. Seperti coca cola yang diguncang-guncangkan kemudian dibuka tutup botolnya. Seperti itu lah kira-kira gairahnya saat ini.
"Aku lupa menyampaikan padamu."
"Menyampaikan apa?"
"Aku takut kau membatalkan pernikahan kita atau menceraikanku."
"Ada apa sih?"
"Aku kena kanker rahim. Tidak bisa melayanimu."
"Apa? Kata siapa? Sudah periksa ke dokter?"
"Sudah tapi aku belum sempat ambil hasil pap smear."
"Mengapa kau tidak pernah mengatakan apapun?"
"Aku sudah bilang aku takut kau akan menceraikanku. Membatalkan pernikahan kita."
Sinta teringat akan artikel yang dia baca tentang kanker rahim.
"Aku tidak akan bisa menikmati berhubungan intim denganmu. Akan sangat sakit. Sehabis berhubungan intim mengeluarkan darah."
Dean memandang Sinta dengan wajah putus asa.
"Ada aja cobaan pernikahan kita." Dean memandang Sinta dengan wajah sedih dan putus asa, "Kau amnesia, sembuh kemudian sering pingsan. Sohibmu memfitnahku sehingga kau membenciku. Sekarang kau kena kanker rahim!"
"Namanya hidup banyak cobaannya. Kalau banyak pakaian namanya jemuran."
"Kau masih bisa bercanda saat seperti ini?"
"Aku tidak punya pilihan lain selain berterus terang kepadamu." Sinta memulai dramanya. Memasang wajah sedih
What a go! You doing great….
Raut wajah Dean menjadi tidak tega melihat air muka Sinta.
"Kau menyimpan semuanya sendiri."
"Begitulah!" Sinta memasang ekspresi yang lebih mengiba dan menyayat hati.
"Harusnya kau mengatakannya sejak awal."
"Apakah kau akan menceraikan atau membatalkan pernikahan kita?"
"Aku tidak tahu tapi mungkin aku akan menggantimu dengan Sherly."
Aku juga baru dapat idenya barusan. Apes….
"Lalu bagaimana? Masih belum terlambat kalau kau mau menukarku dengan Sherly. Aku ikhlas mengalah untuk kebaikanmu."
"Kalau sekarang tidak bisa."
__ADS_1
"Apa maksudmu tidak bisa?" Sinta memasang wajah marah. Melupakan ekspresi wajah yang mengiba.
"Orang tuaku ingin menantunya menjadi pelindung usaha keluarga bisnis keluarganya. Sherly 'kan cuma tamat SMP?"
"Bagaimana dengan Dahlia?"
"Dia tidak suka sekolah. Mana mau dia menlanjutkan kuliah?"
"Kita harus bagaimana?"
"Nanti akan kupikirkan. Kau ambil saja dulu hasil pap smearmu."
Sinta bekerja sama dengan orang dalam di rumah sakit. Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkannya. Diberikan kepada Dean.
"Astaga! Stadium tiga?"
"Begitulah!"
"Hampir final."
"Lebih baik kau cari isteri lagi. Bagaimana?"
"Kau ingin menjadi kepala daerah. Kalau aku poligami, akan merusak popularitasmu nanti."
"Simpanan?"
"Akan digoreng media."
"Maksudmu kau akan jajan lagi seperti dulu?"
"Kau ingin aku terpampang di headline news sepanjang tahun?"
"Maksudmu kau akan bermasturbasi?"
"Untuk apa manusia diciptakan lengkap kalau untuk pemenuhan seksualnya seperti amuba atau hemaphrodite? Kau pikir enak bermain sendiri?"
"Aku tidak bisa melayanimu. Hasil pap smearnya, kankerku stadium tiga."
"Iya, aku tau. Biarkan aku berpikir."
"Kita berpelukan saja gimana? Tidak usah sampai berhubungan intim?"
"Memangnya teletubbies?"
"Aku punya ide."
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita cari second opinion?"
"Buat apa second opinion? Dokter yang kupilih sangat terkenal."
"Aku tahu tapi bisa saja 'kan salah melakukan diagnosa?"
"Aku tidak mengerti maksudmu?'
"Besok kau ikut aku ke dokter lain yang lebih ahli meminta second opinion."
Keesokan paginya. Sinta menerima telepon. Berbicara sekitar lima belas menit kemudian mematikan teleponnya.
"Telepon dari siapa?" Dean membuka laci ingin mengambil notes dan pulpen. Menuliskan sesuatu di notes dengan menggunakan pulpen.
"Rumah sakit. Mereka minta maaf ada kesalahan data."
"Maksudmu?"
"Hasil pap smearku tertukar."
"Kau stadium berapa?"
"Normal!"
__ADS_1
.