Mawar Besi Dan Luka

Mawar Besi Dan Luka
Epilog


__ADS_3

Dokter Hans mengenali pasien yang baru melintas di depannya. Sinta, kepala daerah yang dituduh melakukan pembunuhan pada Martha. Kekasih hatinya.


Martha yang dikenalnya dan akan selalu menjadi cinta pertamanya yang tidak pernah mati.


Mereka tidak bisa bersatu karena perbedaan status sosial di antara mereka. Martha berubah total setelah hubungan keduanya kandas. Menjalin hubungan dengan banyak pria akan tetapi, Hans tahu bahwa dirinya akan selalu menjadi cinta pertama dan terakhir Martha.


Mereka akhirnya bertemu kembali setelah Hans menikah. Mereka kembali menjalin hubungan. Hubungan mereka semakin tertutup rapi karena Martha menjalin hubungan dengan Dean, suami Sinta dan pelayan restaurant.


Matha mengandung anaknya dan Sinta membunuhnya begitu saja.


Karma adalah sesuatu yang terjadi menimpa seseorang karena perbuatan buruknya. Keberuntungan datang lebih cepat dari yang diduganya.


Sinta pingsan dan dibawa ke rumah sakit tempatnya bekerja.


Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk membalaskan semuanya.


Dia meresepkan obat yang bisa menimbulkan kondisi Sinta semakin menurun. Memberikan semacam diagnosa palsu.


Kondisi Sinta hanya penurunan hb biasa tetapi dia memanfaatkannya untuk membuat diagnosa bahwa penurunan hbnya berdampak pada penurunan kesadaran, mengancam kesehatan serta kematian pada ibu dan anak.


Memberikan obat yang menimbulkan kerusakan syaraf jika diberikan tidak sesuai indikasinya.


Mulai menyusun diagnosa dan menggiringnya bahwa keadaan Sinta berakibat serius. Penurunan kesehatan, cacat dan kematian.


Obat-obat yang diberikan bekerja sesuai harapannya. Seminggu setelah pemberian obat-obatan tersebut. Hans menambahkan suntikan yang bisa membuat keguguran pada kehamilan Sinta. Rencananya berhasil. Sinta mengalami keguguran.


Melati tidak dapat menahan haru tangisnya ketika Dean menyampaikan berita bahwa ibunya akan menerima transplatasi ginjal.


Dean tidak mengatakan dari siapa donor organ tersebut berasal.


"Ibuku akan bisa sembuh dari sakitnya."


"Kalau operasinya berhasil. Ibumu akan sembuh dan akan bisa hidup seperti sebelumnya. Tidak perlu cuci darah dan menjalani serangkaian pengobatan yang sangat melelahkan."


Melati mengecup bibir Dean. Jantung Dean berhenti berdetak. Dia merengkuh wajah Melati dan menciumnya dengan bernafsu.


Melati seperti obat dalam mengobati segala kesedihannya. Dia akan kehilangan Sinta selamanya tetapi Melati akan menggantikannya.


Dean melucuti pakaian Melati dan mereka bercinta di sofa penthousenya. Hanya suara lenguhan dan ******* terdengar silih berganti.


Sinta dinyatakan meninggal. Semua pengobatan dan perawatannya dihentikan. Organnya disumbangkan. Mulai otak, paru-paru, limpa, rahim, jantung, mata, sumsum tulang belakang dan untuk ginjal diberikan kepada ibunya Melati.


Dean memilih tidak mengatakannya pada Melati bahwa ibunya akan menerima donor organ dari Sinta untuk menjaga hal-hal yang bisa mengganggu pikiran Melati.


Kematian Sinta pun tidak diberitahukan karena dihentikan pengobatan dan perawatannya.


Dean dan Melati menghadiri pemakaman Sinta. Melati menggenggam tangan Dean.


Mereka kembali ke penthouse. Melati membuatkan minuman bagi Dean yang tampak sangat kehausan.


Membuat es sirup merah yang sangat segar dengan menambahkan jelly dan nata de coco di dalamnya.


"Segar sekali!"


Melati tersenyum sangat manis ke arah Dean.


"Aku ingin mengatakan sesuatu."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Kau jangan marah."


"Mengapa aku harus marah?"


"Karena ini bukan sesuatu yang kau harapkan."


"Katakan saja padaku. Apa itu?"


Melati menyodorkan sebuah amplop dengan gemetar.


Dean membuka amplopnya dan matanya terbelalak.


Melati menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mempersiapkan diri menghadapi kemarahan Dean.


"Benarkah ini?"


Melati menganggukkan kepalanya.


"Kita ulang lagi, gimana? Bisa saja kan salah."


Melati menyodorkan lima buah amplop dan semua menunjukkan hasil yang sama walaupun menggunakan merek alat indikator pregnancy yang berbeda-beda.


Dean memeluk Melati erat. Melati menatapnya tidak percaya.


"Kau tidak marah?"


"Mengapa aku harus marah? Kau mengandung anakku."


"Kupikir kau akan marah dan menganggapku akan memerasmu atau pikiran jelek lainnya."


"Kau memintaku menikahimu?"


"Aku tidak ingin menikah resmi. Kau jangan salah paham. Aku tidak ingin kau mengalami nasib seperti Sinta. Aku takut orang tuaku akan memaksamu menggantikan Sinta. Mengertilah!"


"Aku mengerti."


"Aku akan menikahimu secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuaku tetapi untuk kepentingan di dalam janinmu. Aku akan membuat surat wasiat notariil untuknya. Menyatakan bahwa dia anakku dari pernikahan yang dilangsungkan secara agama dan akan membawa konsekuensi secara agama yaitu memiliki hubungan perdata dan hak waris denganku."


Mereka melangsungkan pernikahan dengan sangat sederhana. 


Pernikahan tersebut dirahasiakan kepada kedua orang tua Dean dan kerabat serta handai tolannya tetapi diketahui dan disaksikan oleh pengacara serta notaris yang membuat surat wasiat untuk Melati dan janin yang tengah dikandungnya.


Melati akan mendapatkan haknya sebagai isteri secara agama sedangkan janin yang dikandungnya juga akan mendapatkan haknya sebagai anak kandung secara agama.


"Anak luar nikah tidak bisa mewaris."


"Mazhab Syafei mengijinkan anak luar nikah mewaris selama diakui oleh semua ahli warisnya. Aku yakin dengan surat wasiat yang kubuat, orang tuaku dan sanak saudara akan mengakui anakku. Aku akan menyatakan di dalam surat wasiat tersebut bahwa anak luar nikah bisa menerima warisan dari ayahnya jika diakui oleh semua ahli waris. Dan aku akan meminta semua ahli waris keluargaku menandatangani surat pernyataan notariil bahwa mereka akan memberikan persetujuan terhadap anak luar nikah yang kumiliki untuk menjadi ahli waris."


"Kau sudah memikirkan dan menyiapkan semuanya?"


"Tentu. Kau jangan khawatir ya?"


Pernikahan mereka berjalan dengan mulus. Semua surat sudah dipersiapkan sebaik mungkin untuk melindungi Melati dan janin yang dikandungnya.


Jika jalannya dengan Sinta terputus. Begitu terjal dan sulit. Berbeda dengan Melati yang terjadi begitu saja. 

__ADS_1


Mungkin itu yang dinamakan ditakdirkan. Kesedihannya berganti dengan kebahagiaan.


Kehilangan Sinta diganti dengan kehadiran Melati.


Bahkan anak yang dikandung Sinta gugur diganti dengan anak yang dikandung Melati.


Kehamilan Melati sangat baik. Dia merasakan mual tetapi tidak sampai pingsan dan koma seperti Sinta.


Dean masih merasakan trauma itu sehingga dia berusaha menjaga Melati dan janin yang ada di dalamnya sebaik mungkin.


Dean menyewa ahli gizi dan juga suster untuk merawat Melati dan bayinya dengan baik.


Suster tersebut menjaga kondisi Melati dan janin ya secara cermat dan teliti.


Ahli gizi akan mengatur nutrisi untuk Melati dan janinnya.


Semua berjalan sangat baik.


"Dean!"


"Ya sayang?"


"Aku ingin jalan-jalan ke mall."


"Tumben kau ingin jalan-jalan ke mall."


"Kau mau tidak menemaniku?"


"Baiklah."


Dean menemani Melati. 


"Kita makan dulu yuk disini."


Dean terdiam.


"Kau kenapa?"


"Ini tempat kesukaan Sinta."


"Kau mau menemaniku makan tidak?"


"Baiklah."


Melati memesan makanan. Dean tertegun.


"Kau memesan makanan kesukaan Sinta."


"Benarkah? Memang kenapa kalau aku memesan makanan Sinta?"


"Tidak apa-apa. Makanan ini memang sangat enak dan banyak yang menyukainya. Aku hanya menjadi terkenang pada Sinta. Semoga dia berbahagia di sana."


"Insyaa Allah." Melati menggenggam tangan Dean menghibur kesedihannya.


"Kau tidak cemburu kan?"


"Tentu tidak."

__ADS_1


"Kalian ada  di dimensi waktu yang berbeda."


"Aku tahu, kau tidak usah khawatir."


__ADS_2