Mawar Besi Dan Luka

Mawar Besi Dan Luka
BAP


__ADS_3

Nyawa Martha tidak tertolong. Ambulance datang tetapi Martha sudah meninggal dunia.


Polisi datang ke tempat kejadian karena manager restaurant melaporkan kejadian tersebut dan merasa curiga.


Seluruh tempat diperiksa dengan teliti. Ditemukan racun dan sidik jari Sinta pada pinggiran piring dan gelas.


Polisi membawa Sinta dan pelayan restaurant ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan dan interogasi. Menjalani penyidikan.


Pelayan restaurant memberikan kesaksian palsu bahwa dia disuruh Sinta untuk menyiapkan makanan dan minuman yang sudah diracuni.


Pelayan restaurant bernegosiasi dengan polisi  bersedia memberikan kesaksian  menukarnya dengan pembebasan hukuman.


Sinta resmi menjadi tersangka dengan bukti sidik jari yang ada di piring dan makanannya. Ditambah kesaksian palsu pelayan restaurant.


"Kau menukar makanannya?" Tanya Dean kepada Sinta.


"Kau merasa kehilangan kehilangan pelacurmu?"


"Kalau bukan karena kau menolak melayaniku. Tidak mungkin aku menjalin hubungan dengannya. Semua menjadi kacau."


"Kau yang tidak bisa menahan nafsumu. Dan kau masih menyalahkanku?"


"Aku mengaku bersalah. Sudah kukatakan semua terjadi begitu saja. Mengapa kau menukar makanan serta minumannya. Membuatmu dalam masalah?"


"Kau ingin aku yang keracunan bukan dia?" Wajah Sinta tertekuk.


"Aku ingin kau tidak mengundang masalah. Martha meninggal dan kau masuk penjara!"


"Memang kenapa kalau dia mati? Dia pantas mendapatkannya!"


"Kau kan bisa berpura-pura menumpahkan makanan dan minumanmu!"


"Bagaimana kalau pelayan menggantinya dengan makanan dan minuman beracun yang baru?"


"Sekarang bagaimana kau membebaskan dirimu dari kesaksian palsu pelayan itu dan sidik jarimu yang menempel di gelas juga piring?"


"Kau menyesalkan wanita simpananmu tewas.  Tidak usah berpura-pura memikirkanku."


"Aku tidak mempedulikan dia. Terutama setelah dia mengugatku dan berusaha menghancurkan karirmu. Kematiannya adalah keuntungan bagiku dan keluargaku. Bagaimana kau bisa melindungi perusahaan keluargaku kalau dipenjara?"


"Kau hanya berpikir bagaimana memanfaatkan orang untuk kepentinganmu dan keluargamu! Kau tidak benar-benar memikirkanku. Kau tidak peduli padaku. Kau hanya peduli apakah aku bermanfaat untukmu dan keluargamu!"


"Itu tidak benar!"


"Tidak benar? Apa kau peduli, aku merasa tersakiti dengan perselingkuhanmu? Apa kau peduli betapa melelahkannya dengan semua hal yang kujalani? Orang-orang membenciku?"


"Kau sukses, kaya dan berkuasa!"


"Martha ingin membunuhku! Aku tidak bisa merasa bebas dengan semua yang kumiliki. Untuk apa semuanya? Aku harus berpikir bagaimana semua bisa ditangani dengan baik. Dan apa yang kudapatkan? Fitnah dan kebencian! Untuk apa? Kau dan keluargamu!"

__ADS_1


"Kau menghendaki ucapan terima kasih?"


"Aku menghendaki perasaan yang tulus! Aku hanya manusia biasa yang membutuhkan kasih sayang yang tulus."


"Aku tidak mengerti maksudmu. Kau tidak mau kusentuh. Kasih sayang apalagi yang kau maksudkan?"


"Kau ingin memperlakukan aku seperti Martha? Aku ingin kau mencintaiku bukan merendahkanku."


"Kalau cinta kau artikan dengan pemujaan. Kupikir kau salah."


"Kau sendiri tidak tahu apa makna cinta? Kau hanya tahu memanfaatkan. Aku ingin kau hargai dan cintai dengan semestinya."


Dean memandang Sinta dengan wajah tidak mengerti.


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku tidak tahu!"


"Sudahlah! Jangan banyak berpikir. Kau mengatakan aku hanya mempedulikanmu karena kau bermanfaat bagiku dan keluargaku. Tapi aku dan keluargaku masih bersamamu saat karir politikmu hancur karena kasus yang menimpamu. Kami tidak membuangmu."


"Mungkin kalian masih berharap semua masih bisa baik-baik saja."


"Bagaimanapun, kau isteriku dan menantu dari keluarga kami."


"Aku tidak percaya padamu!"


"Kau harus berkonsentrasi dengan kasusmu. Kita berdua tahu bukan kau yang meracuni Martha tapi kau menukar makanan dan minumannya."


Dean menggenggam tangan Sinta erat.


"Tentu, aku mempercayaimu. Walaupun kau tidak mau bercinta denganku. Tidak mencintaiku tapi aku tahu kau seorang yang baik dan tulus. Aku dan keluargaku berhutang budi kepadamu. Jangan hanya memfokuskan pada orang-orang yang membenci dan tidak menyukaimu. Tapi lihatlah mereka yang menghargai kerja kerasmu dan menyukaimu."


"Aku ingin mencintaimu!"


"Cinta tidak bisa dipaksa. Mungkin salahku terlalu memaksamu dan tidak mau bersabar. Kematian Martha membuatku banyak berpikir. Seandainya, aku mau bersabar dan tidak memaksakan keadaan. Mungkin semua akan berbeda."


"Aku yang salah tidak mau melayanimu. Aku merasa kau menganggapku seperti pelacur. Merendahkanku."


"Aku tidak bermaksud menjadikanmu sebagai objek seksualku. Tapi salah satu fungsi menjadi isteri memang melayani hasrat biologis suaminya."


"Aku tahu tapi aku ingin ada cinta yang tumbuh di antara kita. Bukan hanya sekedar pemenuhan hak dan kewajiban. Apakah itu salah?"


"Tidak salah. Hanya saja hal itu menyusahkanku sebagai suami dan laki-laki."


"Martha membuat semuanya jadi mudah?Tapi lihat apa yang dia lakukan?"


"Dia meminta disamakan haknya denganmu. Aku tidak mau karena aku tidak mempercayainya. Dia membencimu. Iri padamu. Bagaimana aku bisa mempercayainya? Mempertanyakan semua yang kau miliki. Semua hasil kerja kerasmu."


"Mengapa kau mempercayaiku?"

__ADS_1


"Kau melakukan semuanya dengan baik. Mengapa aku harus tidak mempercayaimu? Ketika kau melakukan sesuatu dengan baik. Aku tidak mempercayaimu maka tentu ada yang salah denganku. Justru aku yang kerap menyakitimu."


"Aku menukar makanan dan minuman Martha merupakan keputusan yang sangat 


gegabah."


"Kau tidak berpikir panjang. Siapapun yang berada di tempatmu kemungkinan sama. Menukarnya tanpa berpikir panjang mengenai akibatnya."


Sinta menundukkan wajahnya.


"Sidik jari yang ditemukan di piring dan gelas. Kesaksian pelayan restaurant memberatkanmu."


"Aku tidak akan dapat lolos. Kasusku terlalu berat."


"Aku akan mencarikanmu pengacara yang terbaik. Bagaimana?"


"Untuk apa kau melakukannya? Aku sudah hancur. Tidak berguna bagimu atau keluargamu."


"Aku ingin membayar kesalahan yang aku lakukan padamu. Maukah kau memaafkanku?"


Sinta memandang wajah Dean mencari sinar ketulusan dari dua bola matanya.


"Mengapa kau ingin aku memaafkanmu? Aku yang salah tidak menjalani kewajibanku sebagai isteri. Aku pantas mendapatkan konsekuensinya."


"Kupikir, aku memang tidak menggunakan perasaanku ketika berhubungan dengan kita berdua. Aku hanya memikirkan kepentingan dan egoku sendiri."


"Kau kan laki-laki tentu tidak menggunakan perasaan ketika memandang dan menimbang sesuatu."


"Tapi aku kan berhadapan denganmu. Wanita, tentu aku harus menggunakan perasaanku. Kau pasti merasa tersakiti dengan pengkhianatan yang kulakukan. Bagaimana cintamu bisa tumbuh subur jika aku seperti benalu yang rajin menggerogoti?"


"Kau banyak berubah."


"Kematian Martha. Membuat aku berpikir ulang tentang segala hal. Kupikir, setiap orang memiliki titik balik mereka masing-masing."


"Aku hanya menginginkan kau bisa merasakan apa yang kurasakan. Berempati. Aku ingin mencintaimu tapi bagaimana cintaku bisa tumbuh jika kau mengkhianati?"


"Maafkan aku yang tidak sensitif. Hanya memikirkan kebutuhanku sendiri."


"Aku akan menjalankan kewajibanku ketika aku sudah mencintaimu. Bagaimana?"


"Apakah ucapanmu bisa dipercaya?"


Sinta menganggukkan kepalanya.


"Baiklah! Aku percaya padamu. Kita mulai semuanya dari awal. Bagaimana?"


Sinta menyunggingkan senyumnya yang paling manis.


"Kau sangat indah jika tersenyum begitu."

__ADS_1


Wajah Sinta merona merah.


.


__ADS_2