
Mereka yang mengetahui profesi Melati sebagai spg plus plus memandang sinis dan rendah padanya.
Sesama spg plus plus merasa tersaingi apalagi kalau pelanggan mereka berpindah dan mau membayar lebih mahal.
Cindy mendorong Melati hingga terjatuh.
"Hey! *****!"
Cindy adalah sesama spg plus plus. Rekan sekerja dan seprofesi.
"Kenapa lo tolak orderan threesome kemaren? Sok kaya lo ya sekarang. Mentang-mentang jadi simpanan pengusaha? Nanti juga lo dilempar lagi ke jalan. Jangan songong!"
Cindy marah kepada Melati karena menolak orderan threesome yang berujung pada pembatalan karena pelanggannya ingin memakai Melati bersama mereka.
"Lo udah tau kenapa alasan gue tolak."
Melati menatap tajam ke arah Cindy.
"Ngapain lo liat-liat mata gue kayak gitu? Bosen idup lo!"
Cindy kembali mendorong Melati dengan keras hingga terjatuh.
Para tetangga yang mengetahui pekerjaannya kerap memandangnya hina dan rendah. Bahkan ada yang memprovokasi agar mereka sekeluarga pindah.
Mereka kerap berpindah-pindah tempat menghadapi tekanan sosial di sekitarnya.
Sampai Melati bertemu Dean. Atas saran Dean mereka sekeluarga dipindahkan ke apartemen dimana lingkungannya lebih menjaga privasi.
"Aku tahu pekerjaanku bukan pekerjaan mulia dan sangat kotor serta rendah. Tetapi aku membutuhkannya untuk menghidupi keluargaku. Pengobatan dan perawatan ibuku."
"Sudahlah! Kau tidak usah tanggapi perkataan orang. Sebaiknya kau pindah ke apartemen. Bagaimana?"
"Baiklah."
Dean meminjamkan salah satu apartemen miliknya untuk ditempati keluarga Melati.
"Kau pakai saja apartemenku. Jadi kau juga tidak usah pusing lagi mengontrak."
"Tidak apa-apa aku memakai apartemenmu?"
"Tidak apa-apa."
Apartemen Dean sangat luas untuk ukuran apartemen. Dua ratus lima puluh meter persegi. Tiga kamar. Satu kamar mandi dalam dan dua kamar dengan kamar mandi luar satu.
Kamar utama ditempati oleh Melati kalau sedang tidak melayani Dean sedangkan dua kamar sisanya masing-masing milik Mawar dan Dimas.
Mereka lebih berkonsentrasi belajar dan menjalani keseharian mereka.
Berbeda dengan lingkungan mereka sebelumnya yang selalu mempermasalahkan profesi Melati.
Dimas pernah terlibat perkelahian karena tetangga mengejek kakaknya dan dia tidak bisa menerimanya.
Ditinjunya tetangganya tersebut hingga berdarah. Dia digiring ke ketua rt untuk diadili.
"Kenapa kau meninju anakku?"
"Anakmu mengejek kakakku!"
"Kakakmu memang *****!"
Dimas bergerak maju dan ingin meninju kembali tetapi ditahan oleh tetangganya yang lain.
"Masukkan bajingan cilik ini ke penjara!"
Melati tergopoh-gopoh mendatangi rumah ketua rt untuk meminta maaf pada warga.
__ADS_1
"Tolonglah! Jangan memperpanjang masalah ini! Saya meminta maaf dan bebaskan adik saya!"
"Mengapa kakak meminta maaf?" Protes Dimas.
"Diam!!! Kau membuat masalah saja. Minta maaf pada warga!!!" Bentak Melati pada adiknya.
Adiknya meminta maaf dan mereka diusir atau Dimas akan dilaporkan ke polisi.
Sesampai di rumah, Melati menampar adiknya kuat-kuat melepaskan kejengkelan hatinya.
"Kak! Aku hanya membela kehormatanmu!"
"Aku seorang *****! Kau tahu aku tidak memiliki kehormatan apapun. Di dunia aku dicaci dan dihina. Di akhirat aku masuk neraka! Kehormatan apa yang kau maksudkan?"
"Kau mengorbankan dirimu untuk keluarga kita. Ibu, aku dan Mawar. Aku tidak bisa membiarkan siapapun menghinamu!" Air mata Dimas meleleh. Hatinya sangat sakit mendengar semua perkataan yang ditujukan kepada kakaknya.
"Kau tidak mengijinkan aku untuk mengambil tanggung jawab keluarga!"
"Apa yang ingin kau lakukan? Menjadi kuli? Gigolo?" Melati kembali menampar adiknya kuat-kuat.
Adiknya menatap wajah kakaknya dengan sedih.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menghinamu!"
"Kau sangat keras kepala! Kau tak akan bisa membungkam mulut mereka atau melawan mereka semua. Tuhan akan memasukkan mereka ke surga karena mereka suci sedangkan aku kotor! Ini hukumanku di dunia. Apa kau juga akan membelaku di neraka?"
Dimas terdiam.
"Jawabbbb!!!!"
Dimas tidak berkata sepatah kata pun melihat kemarahan kakaknya.
Dia berkata sangat lirih, "Hatiku sangat sakit melihat kau diperlakukan seperti itu."
Dimas menundukkan wajahnya. Air matanya mengalir sangat deras. Dia tidak dapat membela kehormatan kakaknya. Membuatnya frustasi.
Walaupun semua memandang kakaknya hina tetapi kakaknya yang membuatnya dan keluarganya bisa mengatasi semua kesulitan mereka.
Baginya, kakaknya wanita paling suci di dunia ini. Tidak akan dia biarkan siapapun menghinanya. Walaupun dia harus mengorbankan nyawanya sekalipun.
"Kalau kau masih begitu. Aku akan bunuh diri di hadapanmu agar kau puas."
"Kak!"
"Berjanjilah padaku, kau tidak akan seperti itu lagi. Larilah sejauh mungkin kalau kau tidak tahan akan hinaan mereka atau tutup kupingmu rapat-rapat."
Dimas terpaksa berjanji karena kakaknya mengancam akan membunuh dirinya kalau dia berani mengulangi lagi.
Dimas memeluk kakaknya dengan erat. Airmata membasahi pipinya.
"Aku akan belajar dan bekerja keras agar bisa melindungimu, Mawar dan ibu."
"Aku tahu kau akan melindungi keluarga kita nanti. Tapi sekarang kau harus rajin belajar. Bekerja keras setelah kau menyelesaikan semuanya. Aku tidak selamanya bisa menjadi *****. Jika aku sudah tua, kau atau Mawar akan merawatku."
"Aku berjanji kak!"
"Jangan ulangi lagi. Emosi tidak akan membuat kita semua keluar dari masalah justru sebaliknya. Tidak usah kau tanggapi mereka yang hanya ingin menghina. Mereka sudah merasa surga dalam genggaman tangan mereka makanya mereka berani seperti itu. Sedangkan aku memang hina. Aku tidak ingin kau dan Mawar mengikuti jejakku."
Weekend ini, Dean menginap di rumah orang tuanya. Melati memutuskan tinggal di apartemen milik Dean bersama adik-adiknya.
Mereka mengunjungi ibu mereka di rumah sakit. Dean memindahkan ibu mereka di rumah sakit yang lebih bagus.
Melati awalnya menolak tetapi Dean memaksa.
"Aku ingin ibumu dirawat lebih baik."
__ADS_1
"Biayanya lebih mahal. Disini saja, yang penting ibuku mendapatkan perawatan."
"Aku akan mengusahakan pengobatan ibumu. Jika ada transplatasi ginjal aku akan memgoperasi ibumu. Serahkan semua padaku. Jika ibumu bisa sembuh, kau dan adik-adikmu tentu akan merasa sangat bahagia."
Tidak hanya rumah sakitnya yang lebih bagus. Dean juga memindahkan ibu Melati ke kamar VVIP.
Melati hanya mampu mengusahakan kamar perawatan kelas tiga.
Mereka bisa menginap menemani ibu mereka sesekali.
Mawar dan Dimas sangat senang menyambut Melati yang berkunjung dan menginap di apartemen.
"Bagaimana kalau kita melihat ibu? Kita jalan ke mall? Makan dan menonton bioskop?"
"Ide yang sangat bagus!"
Mawar dan Dimas memasak makanan istimewa untuk mereka bertiga. Sementara Melati melepaskan lelah di kamarnya.
Dean yang sangat tertekan dengan desakan dokter untuk menghentikan pengobatan isterinya. Melampiaskan semua tekanan emosinya kepadanya.
Sudah beberapa malam mereka selalu marathon.
Dean meracau menyebut nama Sinta seperti orang gila dan menangis.
Melati tidak berani mengatakan sepatah kata pun. Hatinya ikut bersedih melihat kepedihan Dean tetapi tidak ada yang dapat dia lakukan.
Air conditioner di kamarnya membuat matanya semakin diserang kantuk. Dengkur halus terdengar di sela-sela tarikan nafasnya.
Kedua adiknya tidak berani mengganggu kakak mereka yang sedang kelelahan.
Mereka memasak menyiapkan makanan untuk makan siang yang akan mereka santap bersama.
Dimas membuat sambal ulek sedangkan Mawar membuat ayam bakar dan sayur asam.
Dimas yang menggoreng tahu dan tempe juga ikan asin untuk menambah selera.
"Kita tidak usah membuat terlalu banyak. Karena sehabis ke tempat ibu. Kita akan jalan dan menonton. Kemungkinan kita akan makan di sana."
"Yeah, kau benar."
Mereka memasak sambil mengobrol dan bercanda. Tercium bau masakan memenuhi ruangan dapur dan ruang makan yang menyatu.
Pintu kamar Melati tertutup rapat. Dia tidak bisa mendengar apapun karena tidurnya sangat lelap. Di dalam tidurnya, dia melihat Sinta. Sinta menggamit tangannya. Wajahnya tersenyum.
"Kau tidak membenciku?"
"Buat apa aku membencimu?"
"Aku tidur dengan suamimu."
"Aku koma dan aku akan segera pergi. Dokter mengatakan suamiku harus menghentikan semua pengobatannya. Aku menitipkan Dean padamu. Jaga dan sayangi dia."
"Dia mencintaimu."
"Kau tidak cemburu kan kepadaku?"
"Tentu tidak! Kau yang lebih berhak cemburu karena kau isterinya."
"Kuharap kau akan menjadi isterinya. Sepeninggalku."
"Dean tidak ingin menikah. Kau tahu itu. Dia sudah mendapatkan warisannya dengan menikahimu. Untuk apa lagi dia kembali menikah?"
"Aku tidak ingin melihatnya bersedih. Jagalah dia untukku. Kau mengerti?"
"Sinta!!!"
__ADS_1