
Sesampainya Sinta di rumah sakit. Tidak sadarkan diri. Hbnya sangat rendah.
Sinta dilarikan ke UGD ketika dokter Hans tanpa sengaja lewat dan melihat Sinta.
"Suster! Itu kepala daerah yang viral kasus pembunuhan simpanan suaminya bukan?"
"Iya betul dokter. Kenapa?"
"Biar saya yang menanganinya."
"Baik, dokter."
Dokter Hans bergegas ke ruang UGD dan mengambil alih urusan kesehatan Sinta.
Sinta yang tidak sadarkan diri. Tidak dapat mendengar apapun. Semuanya menjadi gelap. Dia melihat ibunya memanggilnya.
"Bu!"
"Sini sayang!"
"Ibu…."
Dean sangat panik melihat keadaan Sinta. Tidak mau beranjak sedetik pun dari sisi isterinya.
Memastikan semua ditangani dengan baik. Memasang infus. Pemberian obat. Pemeriksaan respon. Semua disaksikan Dean.
Suster menyuntikkan obat. Sinta merasa ruhnya nyaris terlepas karena obat yang disuntikkan. Dia merasa tubuhnya ringan.
Ruhnya keluar dari tubuhnya. Dia bisa melihat Dean yang sangat panik dan mencemaskan dirinya.
Melihat dokter lelaki yang memberikan instruksi kepada suster. Suster yang selesai menyuntikkan dan sedang membereskan peralatannya.
Ruhnya keluar dari tubuhnya? Terasa sangat ringan dan dia bisa melihat semuanya dengan jelas. Dia berusaha memegang Dean tetapi tidak berhasil.
Dean tidak bisa merasakannya dan begitu juga dengan dirinya. Dia tidak bisa menyentuh Dean.
Beberapa jam berlalu. Tubuhnya menariknya untuk kembali masuk ke dalamnya. Sekitar dua jam kemudian. Dia melihat suster memasuki kamarnya. Membawa suntikan kembali.
Menyuntikkan obat tersebut ke dalam dirinya. Sekitar setengah jam kemudian, tubuhnya kembali bereaksi. Ruhnya kembali keluar dari tubuhnya.
Setiap kali suster tersebut menyuntikkan obat tersebut. Ruhnya keluar dari tubuhnya.
Seminggu kemudian. Sinta merasa tubuhnya kesakitan hebat terutama perutnya.
Suster menyuntikkan obat tambahan. Obat tersebut membuat perutnya sangat mulas serta kesakitan.
Sekitar setengah jam dia merasa perutnya semakin kesakitan. Suster kembali menyuntikkan obat. Darah mengalir dari vaginanya. Kemudian menyusul gumpalan darah hitam dan sesuatu sesuatu menyerupai selaput.
__ADS_1
Sesaat kemudian Sinta baru menyadari apa yang terjadi dan menangis. Itu bayinya.
Keesokan harinya. Ketika suster dan dokter menyampaikan perihal keguguran tersebut kepada Dean. Kesedihan tergambar dari raut wajah suaminya.
Dean menggenggam tangannya sambil menangis. Menciumi telapak tangannya dan mengusapnya ke pipinya.
Dia tidak bisa mendengar apa yang Dean atau mereka katakan. Hanya bisa melihat gerak gerik tubuh mereka.
Sinta merasa dia ada di dalam ruang hampa. Kedap suara. Tidak bisa mendengar apapun.
Air mata Dean mengalir membasahi telapak tangannya.
Sepertinya, Dean sangat bersedih karena kehilangan bayi mereka.
Semakin lama Sinta merasa ruhnya semakin sulit memasuki tubuhnya. Ruhnya tidak meninggalkan tubuhnya tetapi juga tidak masuk ke dalamnya.
Dean dengan setia selalu mengunjunginya. Sebelum bekerja, siang hari dan sepulang bekerja.
Selama dua tahun. Dean melakukan rutinitas tersebut dan tiba-tiba berubah.
Dean tidak pernah lagi mengunjunginya pagi hari sebelum bekerja. Hanya siang dan sepulang bekerja.
Sesekali mertuanya menjenguknya. Terkadang bersama Dean dan kadang tidak.
Semakin lama dia merasa ruhnya menjauhi tubuhnya. Ruhnya tidak bisa lagi memasuki tubuhnya. Dia berjalan di sekitar rumah sakit. Kembali lagi ke kamarnya. Berusaha memasuki tubuhnya tetapi tidak berhasil sama sekali.
Sinta duduk di sebelah bangku mobil Dean. Memandangi wajah Dean yang sangat sedih.
Dean menangis.
Kenapa dia menangis? Apa yang menyebabkannya menangis? Mengapa dia terlihat sesedih itu? Apa yang terjadi padanya? Apa yang dokter katakan padanya?
Mereka sampai di condominium milik Dean. Sepertinya Dean ingin menginap di penthousenya.
Sesampai di penthousenya. Dean tidak sendiri. Seorang wanita bertubuh seksi. Wajahnya sangat innocent dan manis. Bisa dikatakan cantik. Sepertinya berbeda dengan Martha. Apakah Dean kembali memiliki wanita lain?
Kali ini dia tidak menyalahkan Dean karena keadaan dirinya yang tidak memungkinkan menemani apalagi memenuhi kebutuhan biologis Dean.
Apakah mereka bercinta? Tentu saja. Untuk apa mereka ada di penthouse berdua?
Semua tebakan Sinta terjawab ketika melihat betapa Dean menyetubuhi wanita tersebut dengan membabi buta. Dean menangis dan seperti mengatakan sesuatu.
Air mata Sinta mengalir. Dia tidak bermaksud mengatakan Dean mengkhianatinya. Karena keadaannya sungguh rumit.
Sinta membuang mukanya dan memilih keluar kamar.
Wanita tersebut seperti sangat bisa mengimbangi Dean. Bisa melayaninya dengan sangat baik.
__ADS_1
Keesokan paginya. Sinta kembali masuk ke dalam kamar Dean. Dia melihat Dean kembali menyetubuhi wanita tersebut. Sepertinya mereka saling memuaskan satu sama lain.
Mereka saling memagut. Saling menikmati tubuh satu sama lain. Saling memberikan kepuasan satu sama lain.
Gadis itu adalah semua yang Dean butuhkan. Mereka seperti memang ditakdirkan bersama. Apakah Sinta cemburu atau memang demikian adanya.
Mengapa Dean selalu menangis ketika menggauli gadis tersebut dan seperti mengatakan sesuatu?
Apakah itu ekspresi kepuasaan Dean? Seandainya, dia bisa mendengarkan tentu bisa mengetahui apa yang terjadi pada Dean.
Ketika mereka bercinta. Dean tidak pernah terlihat sesedih dan seganas itu.
Sinta menyadari bahwa dirinya jauh dari wanita yang sedang melayani Dean. Tetapi dia juga tidak pernah membuat Dean sesedih dan sebrutal itu.
Apa sesungguhnya yang terjadi? Sinta merasa takjub dengan kesederhanaan gadis tersebut. Bagaimana dia melayani Dean tidak hanya di tempat tidur tetapi juga menyiapkan makanan untuk Dean.
Mereka seperti suami isteri. Apakah Dean sudah menikah lagi?
Kalau pun Dean menikah lagi. Dia tidak menyalahkannya. Karena kondisinya memang sangat sulit baginya untuk tetap bertahan seorang diri.
Sinta memutuskan kembali ke rumah sakit dan tidak mengikuti Dean lagi.
Kondisi Sinta semakin memburuk. Sinta merasa dia sudah tidak memiliki harapan lagi.
Sesekali dia melihat seperti ada cahaya putih seperti menyeruak. Tetapi tertutup kembali.
Sinta melihat tubuhnya terbaring. Kaku dan tidak bergerak sama sekali. Dokter dan suster bergantian berbicara dengan suaminya.
Entah apa yang dikatakan keduanya membuat Dean tampak bimbang.
Sampai pada satu saat Sinta melihat Dean menandatangani surat.
Sinta berusaha membaca isi surat tersebut. Lamat-lamat dibacanya bahwa isinya persetujuan bahwa suaminya menyetujui penghentian seluruh pengobatan dan perawatannya.
Ada satu surat lagi yang berisi bahwa suaminya mengikutsertakannya pada donor organ.
Satu surat lagi bahwa organ ginjalnya akan diberikan kepada Nyonya Dahlia? Siapa nyonya Dahlia?
Dokter dan suster mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai menyiapkan suntikan yang kembali diberikan kepadanya dan membuat ruhnya semakin terlepas.
Suster juga mulai mencabut alat satu per satu yang dipasang di tubuhnya.
Ruhnya tidak dapat kembali ke dalam tubuhnya. Dia merasakan semakin ringan. Sangat ringan.
Seringan kapas. Melayang seperti bulu yang tertiup angin.
Semakin cepat dan cepat. Kemudian tubuhnya melesat secepat kilat ….
__ADS_1