
Detektif swasta menemukan ada hubungan khusus antara pelayan restaurant dan Martha.
Gadget Martha menunjukkan hal itu. Disamping kesaksian di sekitar tempat kerja dan tinggal pelayan restaurant.
"Kita menemukan bukti bahwa mereka memiliki hubungan khusus tetapi bukti konspirasi di antara mereka belum ada."
"Bagaimana peluang kasus isteriku?"
"Temuan detektif swasta bahwa ada hubungan khusus antara Martha dengan pelayan restaurant bisa meringankan tetapi belum bisa membebaskan Sinta."
"Apa yang kita butuhkan untuk dapat membebaskan Sinta?"
"Bukti konspirasi antara mereka berdua. Kesaksian pelayan restaurant kalau dia yang meracuni makanan dan minuman Sinta berdasarkan perintah dari Martha."
"Jadi Sinta belum dapat bebas?"
"Belum. Tapi hal ini bisa meringankan kasusnya."
"Aku tidak ingin dia diringankan. Aku ingin dia dibebaskan."
"Aku mengerti tapi kau harus bersabar."
"Wanita simpananku yang nakal dan tidak setia. Mengajak isteriku bertemu. Isteriku hanya mengamankan dirinya. Dia tidak bermaksud membunuh Martha. Dia menukar makanan dan minuman itu bukan karena tahu bahwa Martha akan membunuh dirinya. Dorongan nalurinya saja."
"Aku paham. Kau tidak perlu menjelaskan padaku berulang kali."
"Aku ingin kau membebaskannya. Dia tidak bersalah. Martha yang ingin membunuhnya!"
"Pengadilan membutuhkan bukti dan fakta persidangan. Bersabarlah! Aku sedang mengumpulkan bukti. Aku akan membebaskan isterimu."
"Aku suami tidak becus. Mengkhianatinya. Sekarang membiarkannya mendekam di penjara tanpa bisa berbuat apapun."
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Ada sidik jari isterimu di gelas dan piring. Pelayan restaurant itu juga memberikan kesaksian palsu."
"Aku memang mengkhianatinya. Seandainya aku setia. Tidak akan terjadi hal-hal semacam ini."
"Semua sudah terlanjur. Nasi sudah jadi bubur. Sekarang fokus saja bagaimana bisa membebaskan isterimu dari kasus hukumnya."
Dean rajin mengunjungi Sinta. Menanyakan keadaannya.
"Bagaimana keadaanmu di balik penjara?"
"Baik. Tidak seenak di rumah."
"Iyalah, sudah pasti. Badanmu pegal tidak?"
"Pegal. Tidak ada kasur empuk. Banyak nyamuk."
"Makanannya?"
"Aku makan kalau terasa lapar."
"Aku bawakan kau makanan. Kau suka mie nyemek 'kan?"
"Suka banget."
"Aku bawain mie nyemek dan es teh manis leci."
Mata Sinta berbinar. Air liurnya menetes. Terdengar bunyi kriuk.
"Ah! Kau sudah sangat lapar ya?"
"Tadi sih kenyang tapi melihat kau membawa mie nyemek aku jadi lapar."
Dean menertawai Sinta.
"Makanlah! Kau pasti sangat lapar."
__ADS_1
Sinta menganggukkan kepalanya.
Membuka box makanan yang berisi mie nyemek dan menyuap makanannya dengan sendok plastik. Menyeruput es teh lecinya.
"Mienya sangat enak dan es teh lecinya sangat segar dan manis."
"Aku senang kau menyukainya."
"Kau tidak makan?"
"Aku sudah makan. Sudah kenyang."
"Apakah aku bisa bebas?"
"Pengacara sedang mengumpulkan bukti-bukti untukmu. Kau tenang saja ya?"
"Bukti apa yang sudah ditemukan?"
"Martha memiliki hubungan dengan pelayan restaurant tersebut. Dia mengkhianatiku."
"Kau mendua dan dia juga. Kalian berdua sama. Cocok!"
"Jangan ngambek dong!"
Dean memberikan Sinta setangkai bunga mawar merah.
"Kau mau merayuku? Tidak mempan! Aku belum bisa melupakan pengkhianatanmu."
"Aku tahu. Cobalah melupakan dan memaafkan."
"Memaafkan mungkin. Tapi melupakan mustahil!"
"Wanita memang makhluk dengan ingatan yang sangat kuat."
"Itu kau tau!"
Sinta melanjutkan makannya.
"Bagaimana teman-temanmu di penjara?"
"Sebagian baik dan sebagian mengerikan."
"Baik dan mengerikan?"
"Aku disatukan dengan sel para pembunuh."
"Lalu?"
"Ada temanku baik tapi terpaksa membunuh karena dia ingin diperkosa majikannya."
"Ah! Kasian sekali dia."
"Aku setuju. Dia tidak bermaksud membunuhnya tapi karena majikannya menyerang dan ingin memperkosanya terpaksa dia mendorongnya sekuat tenaga kemudian menghantamnya dengan vas bunga kaca ke kepala sang majikan. Sang majikan tewas."
"Temanmu bukan pembunuh yang jahat."
"Bukan. Dia membela dirinya dari orang yang ingin melakukan kejahatan padanya."
"Memang ada lagi teman penjaramu yang baik?"
"Ada! Seorang isteri disiksa suaminya selama tujuh tahun dan tidak pernah membalas sama sekali. Mungkin itu hari naasnya. Dia tidak bisa menahan emosinya. Ketika suaminya sedang menyiksanya seperti biasa. Dia korban kdrt."
"Kalau temanmu yang kau bilang mengerikan?"
"Sadis. Suka membegal dan membunuh orang."
"Kau harus hati-hati!"
__ADS_1
Wajah Dean prihatin.
"Iya. Aku akan berhati-hati. Kau tidak usah khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir? Kau satu sel dengan pembunuh sadis."
"Ada lagi yang lebih sadis!"
"Benarkah?"
"Jadi dia merampok dan membantai seluruh anggota keluarga."
"Astaga!"
"Terancam hukuman mati dan sel khusus."
"Kau jangan dekat-dekat dengannya."
"Tidak ada satupun diijinkan untuk mendekatinya. Selnya pun khusus."
"Apakah kau aman disini?"
"Setidaknya aku aman dari gangguanmu!"Sinta tertawa.
"Tidak lucu!" Giliran wajah Dean bete.
Sinta menghabiskan waktunya di penjara dengan sebaik mungkin. Setiap hari mereka olah raga pagi bersama
Mereka juga shalat berjamaah. Mengikuti majelis taklim bagi yang muslim. Misa bagi mereka yang kristen dan katolik. Sembahyang bagi mereka yang hindu dan budha.
Mereka juga kerap menghabiskan waktu bersama. Berkelompok.
Sesekali terdapat pertengkaran sengit sesama narapidana. Sipir kerap melerai mereka yang berkelahi. Saling jambak. Pukul. Dorong.
Kehidupan di dalam penjara jelas berbeda dengan di luar penjara.
Di dalam penjara kejahatan adalah sebab mengapa mereka berada di dalam sana.
Sinta sendiri hanya ingin menghindari pembunuhan yang ditujukan padanya seperti yang dituliskan di dalam novel.
Kebencian Martha sangat membuncah dan melimpah. Sinta tidak habis pikir. Yang direbut adalah suaminya. Tetapi kenapa justru dia juga yang dibenci dan ingin disingkirkan?
Dia tidak tahu wanita seperti apa Martha. Yang jelas dia menggantikan kewajibannya melayani Dean.
Mengambil kesempatan di tengah prahara rumah tangganya. Mungkin bukan wanita baik-baik. Kalau melihat perbuatannya merebut suaminya. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memiliki banyak pacar dan mengkhianati suaminya.
Ditambah keinginannya untuk membunuh dan menyingkirkan Sinta. Mungkinkah dia mengincar harta kekayaan keluarga suaminya?
Jika dia tidak mengetahui isi novel yang dibacanya. Mungkin dia sudah terbunuh.
Dia tidak berpikir panjang ketika menukar makanan dan minumannya dengan milik Martha. Akan berujung pada tuduhan bahwa dia melakukan pembunuhan terhadap Marta.
Ditambah kesaksian pelayan restaurant yang sangat memberatkannya.
Fakta bahwa pelayan tersebut memiliki hubungan khusus dengan Martha. Tidak membuatnya serta merta bisa bebas dari semua tuntutan hukum yang ditujukan kepadanya.
Karena yang membuatnya menjalani hukuman bukan hubungan pribadi antara mereka berdua tetapi konspirasi yang dilakukan oleh keduanya untuk membunuhnya.
Seandainya pengacaranya bisa membuktikan konspirasi tersebut. Maka hal itu akan membuat dirinya bebas dari semua tuduhan karena terbukti justru dia lah yang menjadi target pembunuhan keduanya.
Keduanya berkonspirasi meracuni makanan dan minumannya. ingin menyingkirkannya selamanya.
Sinta.
Pelayan restaurant tersebut. Mengambil kesempatan dengan melakukan kesaksian palsu untuk membebaskan dirinya dari tuduhan konspirasi dan pembunuhan.
Karena kalau dia tidak memberikan kesaksian palsu. Sudah pasti pelayan tersebut yang ada di balik jeruji bukan dirinya seperti saat ini.
__ADS_1