
Karirnya sebagai artis semakin menanjak dan populer. Hal ini menyebabkan karir politiknya juga berjalan semakin mulus.
Popularitasnya sebagai artis mendongrak popularitas karir politiknya.
Sinta mulai merasakan kehidupannya disorot media. Kesibukannya terutama semakin bertambah padat.
Kesibukannya membuatnya semakin menjauh dari Dean.
Apa yang dikenakannya. Semua tingkah lakunya. Perkataannya. Semua gerak geriknya tidak luput dari intaian media.
Kehidupan pribadinya mulai terusik. Menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Tidak bisa di sembarang tempat kalau tidak ingin memicu sejumlah kehebohan.
Sinta dan Amanda bermaksud memesan makan siang mereka ketika seorang ibu menghampiri.
"Ini mbak Sinta ya? Yang artis ternama itu?"
Sinta menyunggingkan senyumnya bersikap sopan.
"Minta tanda tangan dong, mbak!" Sahut sang ibu menyerahkan sebuah buku notes.
Tidak lama datang beberapa orang ibu-ibu menginginkan hal yang sama.
Kemudian kembali berdatangan ibu-ibu dan wanita muda.
Ketika sedang melayani tanda tangan para penggemarnya.
Menyeruak masuk seorang ibu dan langsung menjambak rambutnya.
"Aawwww!"
Suasana berubah kacau.
"Biar tau rasa! Siapa suruh jadi pelakor!"
Sinta mengusap kepalanya yang perih akibat jambakan ibu tadi.
"Ibu salah orang, saya tidak merebut suami ibu atau suami siapapun."
Semua mata memandang ke arah dirinya dan ibu tersebut.
"Tidak mungkin salah! Kau kan Alisa, yang merebut Alex dari tangan Anna."
Dengan fasih ibu tersebut menyebutkan nama-nama tokoh dari salah satu film yang dibintanginya.
Ibu tersebut ditenangkan oleh sebagian ibu-ibu yang ada juga Amanda.
"Bu, itu kan hanya peran film. Sinta tidak benar-benar melakukan apa yang diperankannya. Tuntutan skenario." Bela Amanda
"Tapi saya sakit hati! Suami saya direbut pelakor dan saya tidak bisa melampiaskan rasa sakit hati juga dendam saya!"
Banyak juga ibu-ibu yang memuji aktingnya.
"Mbak Sinta, sangat menjiwai perannya. Saya sampai gemas sendiri!"
__ADS_1
Hujatan juga ditujukan kepadanya terutama rumor bahwa mertuanya menggunakan koneksinya untuk mendongrak popularitasnya.
Mereka yang tidak menyukai dan merasa tersaingi. Tidak segan menggunakan momen tersebut untuk menjatuhkannya.
Penggemar dan hatrersnya saling serang di media sosial bahkan baku hantam di dunia nyata.
Terutama setelah dirinya terjun ke politik dan mereka mulai membentuk semacam polarisasi.
Membagi diri mereka menjadi dua kubu.
Bahkan ada yang dengan sukarela ingin mengadakan demonstrasi untuknya. Membela program pembatasan pembangunan pemukiman yang mendapat tentangan keras dari pemerintah, developer dan mereka yang memang menginginkan pemukiman dibangun secara besar-besaran.
Tidak mempedulikan kerusakan lingkungan dan penelantaran bangunan.
"Kita turun ke jalan bu!"
"Jangan!"
"Kami gak terima ibu diserang terus! Program ibu dihalangi!"
"Beradu program itu wajar. Yang gak wajar saling memaksakan kehendak apalagi baku hantam!"
"Ibu gak bisa diam aja begitu,bu!"
"Saya memperjuangkan program saya tetapi bukan dengan cara frontal apalagi menyebabkan polarisasi."
"Demonstrasi damai bu!"
"Akan mengganggu pengguna jalan dan memenuhi jalan."
Sinta mengingat stimulasi di kampusnya.
"Kita akan menjalin komunikasi dengan mereka yang menentang program kita. Mengadakan dialog dan debat."
"Maksud ibu?"
"Kita akan mengadakan serangkaian dialog melalui seminar, debar dan dialog."
"Gak pake demo gak seru, bu!"
"Kita akan buat poster dan iklan tentang program kita. Tapi bukan demo. Tidak efektif. Akan mengganggu jalan dan menimbulkan kericuhan."
"Apa rencana ibu?"
"Saya akan mengundang lawan politik saya untuk melakukan debat terbuka di lapangan bagaimana?"
Sinta sudah terbiasa melakukan strategi dan komunikasi politiknya.
"Apakah debatnya gratis, bu?"
"Tidak tentu. Kita membutuhkan dana untuk kampanye dan program kita. Selain itu agar tidak membludak dan seperti tontonan pertandingan sepak bola."
"Jadi bagaimana rencana ibu?"
__ADS_1
"Untuk dialog, debat dan seminar tidak gratis. Kita juga akan menjual merchandise dan aneka makanan dan minuman yang akan menggunakan brand politik kita."
"Baik bu!"
"Saat memperkenalkan diri dan program kepada masyarakat yang gratis. Sedangkan ini, kita mengundang lawan politik kita untuk berkompetisi program secara sehat."
"Baik bu! Apakah lawan politik kita juga boleh berjualan merchandise mereka?"
"Silahkan tetapi mereka tidak dibayar untuk melakukan debat. Sebagai gantinya mereka boleh berjualan merchandise atau apapun."
"Baik bu. Kupikir cukup adil. Momen ini bisa digunakan untuk para kandidat melakukan debat politik mereka. Mereka yang melakukan debat tidak dibayar tetapi brand politik yang menyokong mereka boleh berjualan tiket dan merchandise atau makanan, minuman atau jualan lainnya.
Salah satu keuntungan menuntut ilmu di kampus internasional. Sinta sudah terbiasa untuk menangani masalah kampanye politik, politik praktis, debat, strategi politik dan komunikasi politik adalah pengkondisiannya sehari-hari. Sehingga tidak sulit ketika dia harus terjun menekuni bidangnya karena sudah terlatih ketika dia masih menuntut ilmu di kampus internasional.
Di kampusnya juga diajarkan untuk melakukan demonstrasi tetapi dia menolak melakukannya karena hal itu hanya akan mengganggu ketertiban umum.
Efektivitas untuk bisa mempengaruhi atau mempersuasif lawan juga sangat rendah. Sinta memilih berdialog, debat dan seminar sebagai media untuk menjalin komunikasi massa politik.
"Bagaimana dengan musik?"
"Tidak gratis."
"Bayar bu?"
"Tentu. Untuk membayar artis dan mereka yang akan membawakan slogan program politik kita."
"Baik. Berarti kita sekalian jualan merchandise dan semuanya yang kita anggap perlu?"
"Iya. Uang sponsor akan kita gunakan untuk program nyata sedangkan kampanye akan kita tarik dari mereka yang memang mendukung program kita atau tertarik dengan ajang-ajang politik."
"Baiklah. Apalagi yang akan ibu lakukan untuk memperkenalkan program politik ibu dan menarik simpati masyarakat?"
"Selain dialog, debat dan seminar. Saya juga akan menggunakan musik tentu penyelenggaraannnya juga berbeda-beda tergantung segmen pasarnya. Saya juga akan menggunakan pengajian-pengajian?"
"Pengajian juga bayar bu?"
"Tentu tidak. Ini kan kegiatan agama. Mencerdaskan masyarakat secara spiritual, sosial dan politik. Sehingga lewat pengajian untuk yang muslim sedangkan untuk agama lain tentu tergantung keyakinan mereka."
"Ada lagi bu?"
"Media sosial. Kita akan menggunakan media sosial untuk mengenalkan program-progam kita. Bekerja sama dengan Green Peace. Untuk menyelenggarakan event-event lingkungan."
"Mungkin maksud ibu seperti save the earth, economic green, love your planet, be wise with your consumption, don't waste, plant the three…."
"Yeah, slogan-slogan dan even-even lingkungan yang akan membuka wawasan masyarakat dan membuat mereka lebih berkomitmen untuk menjaga dan peduli dengan kelestarian lingkungan. Untuk mereka yang tidak tertarik melakukan secara offline. Kita akan siapkan evennya secara online, bagaimana?"
"Yeah! Jadi ada alternatif untuk tetap bisa menyalurkan dan mengekspresikan kepedulian mereka terhadap lingkungan?"
"Yeah."
Kesibukan Sinta membuatnya menjauh dari Dean. Sinta tenggelam dengan kegiatan juga aktifitas politiknya yang sangat padat.
Sedangkan Dean tenggelam dengan pekerjaannya menjalankan usaha keluarganya.
__ADS_1
Keduanya saling menjauh. Seringkali mereka tidak saling bertemu walaupun setiap hari tidur sekamar.
Sinta datang ketika Dean sudah terlelap tidur. Dean berangkat kerja sebelum Sinta bangun.