
You can not rush love nor push it. You just can wait and be patience. It will blooms or vanished?
Sinta memandang resah ke atas langit. Kedua mertuanya memintanya mengurangi aktifitasnya sehingga dia dan Dean bisa menghabiskan waktu bersama.
Mereka juga merencanakan program hamil bagi dirinya. Rasa lelah menerpa dirinya.
Dia merasa bagaikan robot. Menjalankan apa yang sudah diprogramkan kepadanya.
Karir keartisannya, kuliah politiknya dan program kehamilannya.
Transmigrasi ini sangat berat baginya. Mengharuskannya bercinta dengan orang yang belum atau tidak dicintainya?
Banyak yang mengatakan wanita adalah makhluk yang sangat rumit. Tetapi ketika wanita memutuskan untuk bercinta. Artinya, mereka jatuh cinta.
Dan ketika mereka menolak, artinya mereka belum atau tidak merasakan cinta. Membuat mereka seperti merasa dipaksa.
Dia bukanlah pelacur seperti di dalam novel sehingga mustahil bisa bercinta tanpa ada rasa cinta itu sendiri.
Wanita tidak seperti laki-laki dalam hal bercinta. Laki-laki bisa bercinta tanpa perasaan cinta. Mereka bisa mencintai tanpa bercinta. Bercinta tanpa mencintai. Tetapi tidak dengan wanita. Mencintai dan bercinta merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Bagi lelaki bercinta adalah sama seperti kebutuhan dasar lainnya. Seperti makanan.
Sedangkan bagi wanita, bercinta adalah momen yang sangat spesial. Melibatkan perasaan dan mood.
Sinta memutar otaknya dengan keras. Dean menyambut gembira usul kedua orang tuanya. Dia juga tidak keberatan mengurangi jam kerjanya dan menyesuaikan waktunya dengan Sinta.
Sinta merasa seperti akan menjalani marital rape. Karena perasaan cinta tersebut belum tumbuh.
Yang membuat keadaan rumit adalah transmigrasi yang dialaminya. Semua mengenalnya sebagai Sinta dengan karakter dan kesehariannya. Kenyataannya, dia adalah Gwen. Memiliki kehidupan yang jauh berbeda dengan Sinta.
Sinta menghubungi sohibnya, Amanda.
"Amanda, kau harus menolongku!"
"Kau kenapa sih? Tenang, Sin! Ada apa?"
"Aku belum siap bercinta dengan Dean."
"Dean, 'kan suamimu?"
"Tapi aku belum memiliki perasaan apapun terhadapnya. Kau harus menolongku."
"Bagaimana caraku menolongmu?"
"Bermain drama. Kau berpura-pura digoda dan dirayu Dean. Mengadu padaku. Aku cemburu padamu. Pikiran Dean dengan sendirinya teralih karena kami akan sibuk bertengkar."
"Apa gak dosa, kau menghindari kewajibanmu sebagai isteri?"
"Aku belum cinta! Apa kau mau bercinta dengan seseorang yang kau tidak cinta?"
"Kenapa jadi aku? Yang menikah 'kan kau? Kenapa kau mau menikah dengannya? Kalau kau tidak mencintainya? Kau silau dengan kekayaan keluarga Dean?"
"Kenapa jadi aku yang kau interogasi? Make it simple. Do you want have a *** with man you don't love?"
"Offcourse, not. I will not have a *** nor marry him. No way!"
"Kita tidak bahas mengapa aku menikah dengan Dean. Fokus pada permasalahannya. Aku belum siap menjalankan kewajibanku sebagai isteri sedangkan Dean sebaliknya. Aku hanya meminta bantuanmu untuk membantuku menundanya. Bagaimana?"
"Do I have a choice?"
"No, dear!"
"So, why are you asking me? What is the plan?"
"Memfitnah Dean. Mengatakan bahwa dia merayu dan menggodamu. Sisanya serahkan padaku."
"Thats all?"
"Yeah, thats all. As simple as that, isn't?"
"Yeah, ok!"
Mereka mulai bermain drama. Dean baru saja sampai dari kantornya. Dia langsung menuju kamar mandi membersihkan dirinya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan memadu kasih dengan Sinta.
Semenjak aktifitas Sinta dikurangi dan begitu juga dirinya. Mereka memiliki lebih banyak waktu.
Begitu Dean masuk kamar mandi. Sinta langsung menelpon Amanda.
"Are you ready?"
"Dia udah di rumah?"
"Baru aja sampai dan langsung mandi. Kau telepon sekitar lima belas sampai setengah jam lagi, ok?"
"Ok!"
Lima belas menit kemudian Dean muncul dari kamar mandi. Handuk terlilit menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Are you ready, dear?"
__ADS_1
Dean tersenyum sumringah. Membuat jantung Sinta terlompat dari tempatnya.
"Finally, we will make babies."
"Hmm, ya…" Jawabnya singkat. Menunggu telepon dari Amanda.
Dean berjalan mendekati Sinta. Tubuh Sinta terasa membeku.
"You are so hot and sexy! I can not wait…."
Suara gadget Sinta berbunyi.
"Matikan saja!"
"Kalau penting bagaimana?"
"Mengganggu saja!"
"Ini dari Amanda!"
"Teman kuliahmu?"
"Yeah!"
"Jangan lama-lama!"
"Ok!" Sinta memencet fitur tombol hijau sebagai tanda menerima panggilan telepon.
"Ada apa Amanda?"
Terdengar suara Amanda berbicara di seberang telepon.
"Apa kau yakin?"
Kembali terdengar suara Amanda menjawab.
"Bagaimana kejadiannya?"
Amanda kembali menjawan di seberang telepon.
"Baik, aku klarifikasi dulu, ya?"
Sinta menutup teleponnya.
Dean merangsek maju mendekati Sinta. Bersiap melucuti pakaian Sinta.
"Stop!"
"Kau harus menjelaskan sesuatu padaku."
"Apa itu?"
"Amanda bilang kau merayu dan menggodanya!"
"Kapan aku merayu dan menggodanya?"
"Kau tidak usah berbohong!"
"Aku memperlakukan semua temanmu sama. Mungkinkah Amanda, ke ge eran?"
"Akhirnya kau mengakuinya!"
"Aku mengakui apa?"
"Bersikap sama? Kau genit dengan semua wanita?"
"Apa? Don't be ridicilous!"
"Amanda tidak mungkin berbohong!"
"The truth is, your friend is lying, honey!"
"Nope!"
"Yes!"
"Nope!"
"Yes!"
"Never!"
"Yes!"
"Aku tidak mau melayanimu kalau kau tidak setia dan genit pada wanita apalagi sahabatku? Big no!"
"What? Aku gak genit dengan temanmu! Kau jangan cemburu buta begitu!"
"Aku bukan cemburu buta. It's a fact!"
__ADS_1
"No, it's not!"
"Jangan berani mendekati apalagi menyentuhku!"
"Kau isteriku! Mengapa aku tidak boleh menyentuhmu?"
"Karena kau menjijikkan. Merayu dan menggoda sahabatku sendiri!"
"Aku tidak merayu apalagi menggodanya!"
"Pokoknya jangan mendekatiku!"
"Kau tidak bisa begitu! Kau menuduhku sembarangan!"
"Oh ya? Prove it!"
"Aku minta alamat dan telepon temenmu."
"Buat apa? Kau ingin mendatanginya dan merayunya lagi?"
"Kau keterlaluan!"
"Kau yang genit kenapa jadi aku yang keterlaluan?"
"Bagaimana aku bisa menghubungi temanmu dan mengklarifikasi keteranganmu."
"Read my lips! It's not ain't my bussiness."
Aaaggghhhh.
Dean mengikuti aktifitas Sinta. Melimpahkan pekerjaannya pada asisten dan anak buahnya.
"Ada sesuatu yang sangat penting. Tolong ambil alih dulu. Masalah hidup dan mati!"
"Siapa yang sekarat pak? Semoga cepat sehat!"
"Hush! Gantiin aku dulu ya, ada urusan penting."
"Baik pak…."
Dua hari Dean menguntit Sinta dan akhirnya dia berhasil menemukan Amanda.
Mereka sedang makan berdua di sebuah rumah makan kesukaan Sinta. Restoran ayam bakar kesukaannya.
Selesai makan mereka berdua berpisah. Dean menguntit Amanda.
Ketika Amanda mau memasuki apartementnya Dean menegurnya.
"Berhenti!"
Amanda menoleh.
"Kamu sohibnya Sinta kan?"
"Hmm, ya…Kamu siapa?"
"Kamu lupa sama saya?"
"Jangan kurang ajar!"
"Kamu bilang sama isteri saya kalau kamu menggoda dan merayu saya tapi kenapa bisa lupa sama saya?"
"Kamu suami Sinta?"
"Akhirnya kamu ingat!"
"Tentu aku ingat. Aku tidak akan melupakan kejadian itu!"
"Kejadian apa? Kamu masih berani berbohong? Karena kebohonganmu. Isteriku marah dan menjauhiku. Semua gara-gara kamu!"
"Aku gak ada waktu meladeni, anda. Maaf!"
Dean menarik tangan Amanda.
"Tunggu dulu! Kamu harus jelaskan ke isteri saya kalau kamu berbohong. Aku tidak menggoda apalagi merayumu."
"Maaf aku tidak bisa!"
"Kalau begitu ikut aku!" Dean menarik tangan Amanda dengan kuat.
"Kau mau bawa aku kemana?"
"Kantor polisi karena kamu sudah berbohong. Biar kamu diinterogasi di sana!"
"Baik! Baik!"
"Bagaimana?"
"Apa yang kau inginkan?"
__ADS_1
"Surat pernyataan di atas materai. Menyatakan kalau kau berbohong. Aku tidak pernah menggoda apalagi merayumu. Bagaimana?"
Amanda tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Dean.