Mawar Besi Dan Luka

Mawar Besi Dan Luka
Penculikan


__ADS_3

Siang itu matahari bersinar sangat terik. Pepohonan di kampus Sinta yang asri dan hijau. Seakan kewalahan menahan derasnya sinar matahari yang gencar memancarkan sinarnya.


Sinta memesan sepiring steak rib eye dengan cream sauce yang creamy dan rich. Smash potatoes lembut putih juga sangat gurih, tidak kalah creamynya dengan saucenya. Dilengkapi buncis dan wortel.


Sedangkan Amanda memesan sepinggan kecil kentang panggang. Dengan isian smoke beef, sosis, dada ayam, kacang polong dan wortel parut. Mozarella cheese yang sangat melimpah. Ditambah taburan parmesan cheese yang harum.


Mereka memilih makan siang di kantin kampus. Mertuanya mendaftarkannya ke kampus internasional termahal, terlengkap, terbaik dan terasri. Semua direncanakan sebaik mungkin untuk karir politiknya.


"Wajahmu lesu banget, Sin?"


"Gimana gak lesu. Rencana gue gagal lagi."


"Emang bener, lo belum cinta laki lo? Kurang apa Dean? Laki lo tampan dan banyak yang mauin. Lo malah sia-siain!" Amanda menyendok kentang  panggangnya. 


"Gue belum cinta. Masak mau dipaksa?"


"Kenapa lo nikah sama dia. Kalau belum cinta?"


"Gak usah bahas itu bisa gak? Bikin gue makin gak nafsu makan." Sinta mengunyah potongan rib eye steaknya yang sangat lembut. 


"Coba lo lihat kelebihan Dean."


"Udah!"


"Apa?"


"Nafsu!"


Amanda tergelak.


"Iyuh!"


"Ilfeel kan lo?"


"Gak ada romantis-romantisnya gitu?"


"Ada!"


"Tuh!"


"Kalau pas dia bobo dan mimpi!"


"Di mimpi mana tau dong!"


"Ya itu dia!"


"Abaikan yang bikin lo ilfeel. Fokus dengan yang membuat lo tertarik sama dia seperti magnet."


"Duitnya!"


"Asem!" Amanda kembali tergelak.


"Matre lo ya?"


"Emang gue kalau bayar-bayar pake terima kasih dan senyum?"


Amanda kembali tertawa.


"Iya juga ya. Wc umum aja bayar."


"Nah itu lo tau!"


"Cheer up dong!"


"Gue kan maunya dia itu ambil hati gue dulu gitu kan?"


"Yeah! Right!"


"Sentuh dong hati dan perasaan gue."


"Hmm, bener…."


"Otak gue…."


"Otak lo?"


"Maksud gue, deep talk. Ya gak?"


"Iya sih! Mana lo pinter begitu. Kerjaan lo setiap hari debat politik, bikin program politik, komunikasi politik, analisa politik, stimulasi politik praktis, diskusi politik."

__ADS_1


"Nah itu lo tau kan? Sedangkan Dean?"


"Capek kali laki lo kerja?"


"Emang gue gak capek?"


"Lo bukan capek tapi sekarat." Amanda kembali tertawa.


"Gue merasa dia gak bisa ngimbangin gue. Ya gak?"


"Lo mau cari profesor gitu?"


"Ya gak lah!"


"Trus?"


"Gue maunya dia menyesuaikan dong ke tingkat level gue."


"Buset! Tingkat tinggi amat omongan lo!"


"Ya maksud gue. Cakep doang tapi gak ada isinya. Itu kan sama aja kayak snack isinya angin doang!"


"Kentut dong!"


Pecah tawa keduanya.


"Jorok ah!"


"Bau!"


"Busuk!"


"Ngunyah tempat pembuangan sampah!"


"Diemut say!"


"Iyuuuuhhhh…."


"Gue rasa lo sama dia cuma masalah waktu aja. Witing tresno jalaran sukokulino."


"Yeah!"


"Benjamin Franklin said it's okay to have mistake, it's okay to be failure but it's not okay to give up…."


"Busett…Quotes sebagus itu. Kuliah politik juga di tempat yang bukan kaleng-kaleng. The sentence is for something big!"


Tawa mereka pecah kembali.


"Namanya juga usaha. Ya gak?"


"Emang lo ada rencana apa lagi?"


"Gue mau pura-pura diculik."


Amanda tersedak,"Uugghh…."


Refleks Sinta mengangsurkan air mineral yang ada di hadapan Amanda.


"Minum, gih!"


Amanda terbatuk-batuk sebelum akhirnya meminum botol minumnya sampai tandas.


"Buset! Keselek atau haus?"


"Dua-duanya…."


"Lo mau 'kan nolongin gue?"


"Duh! Jangan libatin gue, ok? Bukan gue gak setia kawan atau care sama lo. Tapi gue nyaris diinterogasi dan dilecehkan? Big no!"


"Gue cuma minta tolong. Ada gak temen lo yang bisa jadi penculik gue?"


"Lo kira gue temenan sama kawanan penjahat? Bajak laut? Perampok? Penculik?" Jawab Amanda sewot.


"Bukan penjahat beneran! Dodol deh lo!"


"Temen gue pura-pura jahat gitu?"


"Iyalah! Penjahat beneran gue takut keleus!"

__ADS_1


"Ntar ya gue tanya-tanya temen-temen gue…."


"Yang mukanya garang ya?"


"Harus ya?"


"Masak penculik kayak priyayi dan terpelajar. Sopan."


Amanda tergelak, "Maaf bu, mengganggu, saya sedang menculik menantu ibu…."


Keduanya tergelak sampai nyaris meleleh air mata mereka.


Mereka mereka menyusun strategi penculikan dengan seksama.


"Aku tidak mau sampai gagal!" Sahut Sinta.


"Tenang aja mbak! Kita sudah merencanakan sebaik mungkin."


"Pokoknya kita harus berhasil!"


"Tenang aja, mbak!"


"Kalian akan mendapatkan bonus tambahan kalau penculikan ini bisa berjalan mulus "


"Baik mbak, tenang aja!"


Seperti yang sudah mereka rencanakan. Sinta diculik dan mereka menerima tebusan uang.


Malam itu keadaan sangat mencekam dan menegangkan di rumah Dean. Karena mereka menerima ancaman dan pemerasan dari penculik.


"Kalau ingin nyawa menantu anda selamat. Jangan lapor polisi dan bekerja sama memberikan uang tebusan pada kami."


"Kau minta uang 5 Milyar. Kira-kira aja dong! Emangnya tinggal metik di kebon?"


"Bukan urusan kami! Kalau anda tidak bisa menyiapkan uang 5 M tersebut. Ucapkan selamat tinggal pada menantu anda!"


"Kalau kau berani menyentuhnya. Akan kuhabisi kau!" Ayah Sinta berkata marah.


"Sediakan saja uangnya atau lupakan saja menantu anda!"


"Kau mau apakan dia?"


"Bukan urusan anda. Selama anda tidak menebusnya. Menantu anda ada dalam genggaman kami dan terserah mau kami apakan. Bukan urusan anda lagi."


"Dia menantu saya. Anda yang bukan urusan saya. Kalau menantu saya tanggung jawab suaminya dan urusan saya. Anda yang tidak nyambung!"


"Pilih harta atau nyawa?"


"Pilih dua-duanya. Kamu aja suruh pilih tubuh apa ruh? Error nih! Itu gak bisa kurang dari 5 M?"


"Menantu anda calon kepala daerah. Menghinanya kalau tebusannya murah! Itu sudah murah, harusnya 10 M! Udah diskon lima puluh persen. Best deal!"


"Sepuluh M, nenek moyangmu! M…ber kali maksudmu?"


"Negosiasi ini kan gak susah. Kalau kalian tidak mampu mengusahakannya. Maka serahkan pada kami!"


"Kau harus lepaskan dia! Dia punya tugas penting. Melindungi perusahaan keluarga kami."


"Egp!"


"Apa maksudmu egp?"


"Urusan kami cuma uang 5 M. Sisanya bukan."


Semua hampir berjalan mulus sampai mertua Sinta memutuskan menyewa detektif swasta untuk menyelesaikan masalah ini."


Para detektif swasta itu meringkus mereka. Semua rencana mereka berantakan. Semua panik melihat bagaimana para detektif swasta itu berhasil menyusup dan meringkus mereka.


Keadaan menjadi kacau balau. Menjadi tidak terkendali. Para detektif tersebut telah memata-matai, menemukan serta mempelajari semua aktifitas mereka.


"Jangan bergerak sebaiknya kalian menyerah! Serahkan baik-baik. Kalian semua akan selamat."


Mereka tidak melepaskan Sinta karena mereka akan langsung diringkus begitu menjauh dari sandera.


Suasana semakin mencekam. Keadaan semakin genting. Pada detik terakhir.


"Aku akan pura-pura kesurupan dan begitu aku berhasil mengalihkan perhatian, kalian semua lari. Ok?"


"Ok!"

__ADS_1


Sinta memulai aksinya. Menarik perhatian para detektif swasta tersebut dengan berpura-pura kerasukan. Taktiknya berhasil. Teman-teman Amanda yang berpura-pura menculiknya. Berhasil meloloskan diri dari kejaran para detektif swasta tersebut.


__ADS_2