
Failed Again
Dean menatap putus asa ke arah Sinta. Penyakit Sinta membuatnya tersiksa.
Setiap kali mereka akan berhubungan intim, Sinta semaput.
Malam pertama mereka gagal. Dean yang sudah telanjang bulat dan siap menggempur Sinta pada malam pertama mereka. Mendadak panik.
"Sinta! Kau kenapa?"
Sinta tiba-tiba jatuh tersungkur. Kehilangan kesadaran. Dean langsung membopongnya ke ranjang.
Menyambar celananya dan mengenakannya. Dadanya terbuka. Memperlihatkan perut six packnya yang seksi.
"Kau kenapa? Apakah kau terlalu tegang dengan pernikahan kita? Aku juga tidak menginginkannya. Kau kan tahu kalau bukan karena warisan kakekku. Aku tidak berpikir untuk menikah. Aku sangat menyukai kehidupan bebasku."
Dean memanggil dokter. Dokter memeriksa Sinta dengan seksama.
"Tekanan darahnya agak rendah." Sahut dokter.
"Karena itu dia pingsan?"
"Sepertinya begitu."
Sinta meminum obat dan vitaminnya dengan rutin. Tidak ada perubahan pada kondisi Sinta sama sekali. Dia tetap jatuh pingsan setiap mereka akan berhubungan intim.
Jika Dean tersiksa dengan keadaan tersebut. Sebaliknya, Sinta merasa sangat gembira bisa melepaskan diri dari kejaran Dean untuk bercinta.
Maafkan aku. Aku hanya bertransmigrasi sehingga hal ini membuatku ketakutan. Aku tidak akan seperti ini seandainya kau kekasih sejatiku.Tapi di dunia nyata, aku sendiri tidak memiliki atau menemukan kekasih sejati. Bertransmigrasi menjadi pelacur. Bisa dibayangkan teror psikologis yang kualami?
Kupikir aku tidak siap untuk semua ini. Kuharap kau bisa mengerti. Tuhan! Ampuni aku…
The power of kepepet. Dia menemukan ide ini begitu saja. Last minute, ketika dia merasa sangat panik karena Dean mendekatinya. Merasa sesak nafas, lemas dan nyaris pingsan.
Dean berpikir keras untuk menyembuhkan penyakit Sinta.
Apakah aku harus sangat berhati-hati? Mungkinkah dia kaget dan pingsan? Tegang?
Mungkin pendekatanku terlalu langsung dan spontan.
Pagi itu, Sinta terbangun dari tidurnya. Matahari masuk melalui celah jendela kamarnya.
Dean tersenyum sangat manis padanya.
"Kau sudah bangun?" Tanyanya penuh perhatian.
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Kuambilkan sarapan ya?"
"Tidak usah! Biar aku saja!"
"Jangan! Aku saja. Kau santai ya? Aku ke dapur dulu ya…."
Dean ke dapur meminta tolong, mbok Inah membuatkan sarapan untuk Sinta.
Mbok Inah dengan cekatan membuat nasi goreng dicampur irisan daun bawang dan wortel. Bakso dan sosis. Menggoreng telur ceplok sebagai pelengkap. Menyiapkan jus jeruk. Sebotol air mineral.
"Terima kasih, mbok."
"Sama-sama tuan."
__ADS_1
Dean meletakkan bunga setangkai dalam vas bunga. Membawa baki makanan dan vas bunga. Perlahan menuju kamarnya. Membuka pintunya menggunakan siku tangan kanannya yang sedang menggenggam baki makanan. Mendorongnya dengan kakinya.
"Sarapan dulu ya?" Sahut Dean manis.
Sinta sudah menggulung rambutnya. Menggosok gigi serta mencuci mukanya.
Dean menelan ludahnya melihat leher Sinta yang jenjang dan mulus. Tubuh seksi Sinta juga tercetak sangat jelas di pakaian tidurnya.
"Kau tidak makan?"
"Aku sudah makan tadi di bawah sama ayah dan ibu."
"Oh…."
"Makan dulu ya?"
Sinta memakan nasi gorengnya. Mengunyahnya perlahan.
"Bagaimana, enak?"
"Sangat enak."
"Kau tidak boleh banyak pikiran. Jangan stress. Rileks. Jangan tegang…."
"Yeah…."
"Obat dokter jangan lupa diminum. Makan makanan yang sehat. Pikiran terutama Harus rileks. Jangan tegang!"
Sinta mengunyah makanannya perlahan. Menikmati makanannya. Meminum jus jeruknya terasa sangat segar. Membuka tutup botol air mineral. Meneguknya hingga tandas.
Sinta bermaksud membawa baki makanannya ke dapur.
"Mengembalikan ke dapur."
"Biar aku saja! Kau duduk di sini ya? Kau tidak boleh capek. Tidak boleh banyak pikiran. Harus rileks dan nyaman."
"Baiklah!" Sinta mengangsurkan baki makanannya ke Dean, "Terima kasih!"
"Sama-sama. Rileks! Ingat rileks!"
"Iya."
Sinta kembali menuju tempat tidurnya.
Dean membuka pintu sangat perlahan. Berjalan dengan sangat hati-hati ke arah Sinta.
Menyentuhnya dengan sangat pelan. Membalik badan Sinta dengan hati-hati.
Mata Sinta terpejam dan tubuhnya tak bergerak. Dean meletakkan jari tanganya di hidung Sinta.
"Masih bernafas. Sin…Sin… Sepertinya dia pingsan lagi. Sakit apa dia sebenarnya? Apa dia sangat stress dengan semua yang terjadi? Aku juga sebenarnya sama. Makanya aku mau cari hiburan denganmu. Tapi kau malah bolak balik pingsan."
Seisi rumah prihatin melihat keadaan Sinta.
"Apa tidak sebaiknya menikah lagi?"
"Satu aja semaput terus. Gak ah! Lebih baik aku obati Sinta sampai sembuh. Seandainya, aku tidak harus menikah mungkin hubunganku dan Sinta baik-baik saja."
"Kalian berdua liar dan amoral!"
"Terserah! Yang penting bahagia dan semua lancar."
__ADS_1
Plakkk
"Yah!"Ibunya menenangkan ayahnya.
"Kau dengar jawabannya? Dasar anak setan!"
"Aku 'kan anak ayah dan ibu berarti…."
Ayahnya bermaksud menamparnya lagi tetapi ditahan oleh isterinya.
"Yah! Sabar. Jangan mengatai anak sendiri. Sama saja mengatai diri sendiri."
"Aku tidak tahan melihatnya."
"Kau tidak tahu rasanya melahirkan. Kau hanya enaknya saja. Aku enegnya. Tentu berbeda perlakuan terhadap anak."
"Bagaimana dengan menafkahi? Itu kan juga berat. Kau tinggal terima beres dan menghabiskan saja. Jangan jadikan kasih sayang sebagai alasan untuk mentolerir perbuatannya yang sudah kelewat batas."
"Dia kan sudah menikah. Apalagi? Kau malah menyuruhnya menikah lagi. Kau tidak memikirkan perasaan menantu kita. Dean benar isteri bukan hanya sebagai pelampiasan hasrat berahi saja. Tanggung jawabnya berat. Kau harus akui anakmu lebih dewasa darimu. Seandainya, aku seperti Sinta, kau akan menikah lagi?"
"Kenapa jadi membahas pernikahan kita? Aku tidak pernah menduakanmu. Tidak berpikir juga menduakanmu."
"Aku juga begitu!" Tukas Dean, "Ayah menyuruhku menikah lagi. Ibu berasumsi seandainya kondisi ibu seperti Sinta, ayah akan melakukan hal yang sama."
"Kau jangan lancang dan membuat ibumu gusar!"
"Aku hanya membantu menyimpulkan."
"Sebaiknya kita pikirkan bagaimana mengatasi keadaan Sinta. Kalau kalian tidak bisa berhubungan intim. Berarti kami tidak bisa memiliki cucu."
"Bagaimana kalau kuperiksakan ke dokter syaraf dan internis?"
"Ide yang bagus. Semoga Sinta cepat sembuh. Hubungan suami isteri kalian bisa berjalan lancar."
Dean menyampaikan sarannya kepada Sinta.
"Sebaiknya kau kuperiksakan secara intensif ke dokter syaraf dan internis. Siapa tau mereka bisa menemukan penyakitmu?"
Rencananya terancam gagal kembali. Dengan berat hati dia menghentikan kebohongannya. Tidak ingin terbongkar akal hulusnya. Jika dia diperiksa dengan lebih teliti. Mereka akan menemukan bahwa dia sehat wal afiat. Kebohongannya terbongkar. Dean dan orang tuanya tidak akan mempercayainya seumur hidup.
"Aku ingin mengatakan berita gembira tapi mungkin terlalu cepat. Aku takut salah menyampaikan."
"Ada apa? Katakan saja?"
"Aku rajin meminum herbal. Sepertinya membuahkan hasil. Memang aku belum sembuh total tapi berangsur membaik."
"Benarkah?"
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Berarti kita tidak usah ke dokter spesialis syaraf dan internis?"
"Untuk apa jika kondisiku membaik?"
"Hmm, benar juga…."
"Aku menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan…."
"Aku canceled saja ya, janji kita dengan kedua dokter tersebut?"
Sinta menganggukkan kepalanya.
__ADS_1