
Di dunia nyata. Otak Gwen memang encer. Dia tidak kesulitan meraih berbagai prestasi di sekolah dan kegiatan luar sekolah.
Tidak sulit baginya menyesaikan kuliah politiknya dan merintis karir keartisannya.
Apalagi dengan koneksi yang dimiliki mertuanya. Semua menjadi lebih mulus.
Kuliahnya berjalan dengan lancar. Alasan mertuanya memilih kampus internasional bergengsi adalah untuk mempermudah akses karir politik Sinta.
Bahkan karis keartisan yang dirintisnya juga bukan tanpa tujuan. Semua untuk memaksimalkan pencapaian karir politiknya.
Pencapaian tersebut untuk mendukung kelangsungan usaha milik keluarga Dean.
Sinta sendiri di kampusnya, sudah terbiasa terlatih untuk mengasah kemampuan politiknya.
Kelulusannya dirayakan dengan sangat meriah dan lagi-lagi semua itu untuk popularitas politiknya.
Dean menoleh pada tamu yang datang. Semua perhatian terpusat pada Sinta yang baru saja merayakan kelulusannya.
Sinta memberikan pidato singkatnya di atas panggung.
"Selamat datang para hadirin sekalian. Terima kasih atas kehadiran serta perhatiannya. Tanpa terasa sudah empat tahun menempuh pendidikan di fakultas politik Universitas Green Garden International."
Sinta mengedarkan pandangannya pada seluruh yang hadir. Setelah menjeda,kembali melanjutkan pidatonya.
"Pidato adalah sesuatu yang menjadi skill dasar pada jurusan politik. Goerge Meredith berkata bahwa pidato adalah perubahan kecil dalam keheningan."
Hadirin bertepuk tangan menyambut pidato Sinta.
"Saat seseorang pergi, sesungguhnya ada rindu yang tertinggal dan yang akan kita rasakan, Boy Candra." Sinta mengedarkan pandangannya sambil menebarkan senyumnya.
"Hal itu yang saya harapkan yang akan dirasakan para pengajar, rekan kuliah juga senior dan junior. Semoga kehadiran sesaat meninggalkan rindu yang bisa membuat silaturahim kita semakin baik dan erat." Sinta kembali memusatkan perhatiannya.
"Kita tidak berhenti bermain karena kita menua. Kita menua karena kita berhenti bermain, George Bernard Shaw."
Hadirin kembali bertepuk tangan sambil berteriak menyemangati.
"Tangga menuju langit adalah kepalamu, maka letakkan kakimu di atas kepalamu. Untuk mencapai Tuhan, injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu, Sujiwo Tejo."
Para hadirin mendengarkan pidato Sinta sambil menikmati hidangan yang disajikan dengan konsep pesta kebun bertema Graduation.
"Apabila ingin mengusai keahlian maka mulailah seawal mungkin, Friedrich von Schiller." Sinta kembali mengedarkan pandangannya. Menyapu seluruh yang hadir dengan senyum dan semangatnya.
"Last but not least, Ali bin Abi Thalib berkata, ilmu tanpa akal seperti memiliki sepatu tanpa kaki sedangkan akal tanpa ilmu. Ibarat memiliki kaki tanpa sepatu. Para hadirin sekalian, silahkan menikmati hidangan yang sudah disajikan. Atas perhatian dan kedatangannya kami mengucapkan terima kasih. Bon appetite and enjoy!"
Tepuk tangan yang hadir bergemuruh menyambut sambutan pidato dari Sinta.
Sinta menuruni panggung dan menyerahkan panggung kepada mc dan band musik yang sudah disewa mertuanya untuk menghibur para tamu.
"Terima kasih untuk sambutan pidato singkat bu Sinta. Selamat untuk kelulusannya. Semoga kesuksesan selalu menyertai. Para hadirin sekalian, kami persembahkan Yellow Pink, band, merupakan band favorite kekinian yang menyebabkan bius musik dimana-mana. Kami persembahkan Yellow Pink dengan hits terbarunya, I guess…."
__ADS_1
Sorak sorai gemuruh tepuk tangan para hadirin menyambut band musik yang sedang booming dan membius seantreo penjuru.
"Penampilanmu memukau." Puji Dean.
"Terima kasih."
"Kau mau kuambilkan makanan dan minuman?"
"Kau tidak keberatan?"
"Tentu tidak. Kau tunggu disini ya?"
Dean berlalu menuju tempat makanan dan minuman. Bermaksud mengambilkan Sinta, cream soup dengan potongan roti baguette. Minuman juice jeruk.
"What a speech!"
Sinta menoleh ke arah suara. Margareth. Pesaingnya yang selalu membenci dan terintimidasi dengan semua hal yang berkaitan dengan dirinya.
"Thanks, Margareth!" Sahutnya berbasa-basi.
"Kau tanpa dukungan mertua dan suamimu. Bukan apa-apa!" Margareth tertawa sambil mengejek.
"Aku tidak menampik. Memiliki mertua dan suami yang kaya dan berpengaruh memang membuat semuanya menjadi lebih mulus dan lancar."
Wajah Margareth merah padam. Menyorotkan kebencian dan rasa tak sukanya.
"Kau jangan sombong!"
Dean berjalan ke arah Sinta. Margareth menggeser kakinya sehingga menyandung Dean. Terjungkal dan tak ayal cream soup serta juice jeruk yang dibawanya menumpahi Sinta.
Margareth tertawa. Senyum kemenangan menghiasi bibirnya.
"Maafkan aku, Sinta!" Dean berusaha membersihkan bekas tumpahan yang mengenai dada dan perut Sinta."
"Kau mau apa!" Bentak Sinta marah.
"Aku tidak sengaja, maaf!"
"Maksudku, kau mau apa?"
"Membersihkan tumpahan yang mengenai pakaianmu. Tentu saja!"
"Tidak usah repot-repot! Aku bisa membersihkannya sendiri."
Sinta berbalik menuju ke dalam rumah. Bermaksud mengganti bajunya yang kotor mengenai pakaiannya tersebut.
Dean menyusul Sinta masuk ke dalam rumah dan kamarnya.
Sementara Margareth tertawa puas.
__ADS_1
"Maafkan aku! Biarkan kubantu kamu membersihkan pakaianmu."
"Tidak usah repot-repot, Dean! Please."
"Bagaimana kalau kita coba lagi? Bagaimana efek pengobatanmu?"
"Apa maksudmu?"
Dean melucuti pakaian Sinta dan sontak Sinta merasa terkejut. Beberapa saat kemudian tubuhnya kaku dan mengejang.
"Kau mau apa?" Matanya melotot ke atas.
"Kau masih saja kesurupan!"
Dean berbalik keluar kamar meninggalkan Sinta.
Setelah memastikan Dean pergi dan meninggalkannya. Senyum Sinta kembali merekah.
"Binggo!"
Sinta menuju jendela kamarnya. Memandangi Margareth dari kejauhan. Menertawainya serta membagi ceritanya ke teman-temannya yang juga tidak menyukai Sinta.
Merasa iri dengan kelancaran karir keartisan juga kuliah politiknya. Kekayaan juga pengaruh mertua dan suaminya.
Tidak hentinya, mereka mengganggu dan berusaha menyakitinya.
Keberuntungan tidak selalu membawa kebaikan dan kegembiraan terutama jika bertemu dengan orang yang tidak menyukai dan membenci hal itu.
Karir keartisannya berjalan tanpa hambatan sama sekali. Selain karena koneksi yang dimiliki mertuanya.
Kepiawaiannya bermain teater di dunia nyata membuatnya menjalani karir keartisannya lebih mudah.
Sejumlah peran antagonis dan protagonis diraihnya. Sebutannya sebagai pemain watak adalah pujian terhadap kepiawaiannya berakting.
Karir keartisannya semakin melesat karena kerap beradu akting dengan artis yang memiliki nama dan keahlian akting yang besar dan diakui.
Sejumlah film seperti gelas-gelas kaca, hati yang terluka, melodi dalam cinta, prahara meneteskan lara….
Serta sejumlah film yang tidak hanya meledak di pasaran tetapi juga memenangkan sejumlah perhargaan dan lomba. Membuat namanya semakin melejit.
Karir keartisan dan politiknya berjalan beriringan. Menaiki tangga popularitas juga karir bukanlah sesuatu yang sulit bagi Sinta.
Bahkan hal itu seperti memang sudah dititahkan untuknya. Beragam keberuntungan menyertai. Kemudahan menghampiri. Kompetensinya sendiri tentu sangat memegang peranan penting.
Apakah keberuntungan itu? Keberuntungan adalah the condition that meet the requirement.
Keberuntungan adalah jawaban soal yang benar. Keadaan yang saling berkesesuaian. Sesuatu yang berjalan lancar, mulus dan tanpa hambatan.
Kalaupun ada hambatan, bisa dilalui dengan baik. Keberuntungan adalah nasib baik.
__ADS_1
Seperti sepupu Donald Bebek, Untung. Yang selalu beruntung. Berbalik dengan Donald Bebek yang sering mendapatkan nasib buruk.
Beruntung mungkin anugerah dari yang Kuasa. Diberikan langsung sebagai bentuk perlindungan dan pertolongan.