
Semenjak Sinta pingsan dan dirawat. Tidak ada kemajuan sama sekali.
Ditambah dengan keguguran yang Sinta alami membuat harapannya menjadi pupus.
Berita bahwa isterinya tidak bisa sembuh, cacat dan memiliki sejumlah kerusakan syaraf. Tidak membuatnya surut.
Dia tetap meneruskan perawatan Sinta walaupun keadaannya semakin memburuk.
"Bagiku, terpenting kau tetap bernafas. Aku menerima semua keadaanmu." Dean menggenggam tangan isterinya. Mengeluskan telapak tangan isterinya ke pipinya. Matanya membasah.
"Aku akan menunggumu bangun dan membuka matamu. Setidaknya kau bisa melihat dan merasakanku."
Dean seringkali berkonsultasi dengan dokter tetapi dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Keadaan isteri saya semakin memburuk. Isteri saya semakin diam dan kaku."
"Kerusakan syaraf serta kelumpuhannya membuatnya seperti itu. Saran saya, disudahi saja. Karena isteri anda tidak akan pernah sembuh."
"Nafasnya masih ada. Aku tidak akan menghentikan pengobatan dan perawatannya."
"Isteri anda dibantu dengan alat. Begitu alatnya dihentikan maka hidupnya juga ikut berhenti."
"Saya ingin berjuang sampai akhir. Bolehkan saya meneruskan perawatannya di rumah?"
"Lebih baik di rumah sakit. Agar bisa terpantau."
"Saya ingin isteri saya dirawat di rumah. Agar bisa selalu bersama dan tidur dengan saya."
"Saya tidak merekomendasikan perawatan di rumah."
"Baiklah, dok. Apa saja yang menurut dokter terbaik buat isteri saya."
Dean membuat janji bertemu dengan Melati di penthousenya.
Tempatnya sangat privat membuatnya merasa sangat nyaman dan terjaga privacynya.
Dean memencet pin dan membuka pintu penthousenya.
Melati sudah berada di dalam sedang menonton televisi dan menyantap makanan.
"Maaf, aku mengambil makananmu di kulkas. Perutku sangat lapar. Aku memanaskan makanan menggunakan microwavemu."
"Iya, tidak apa-apa. Ambil apa saja yang kau butuhkan. Aku akan memberimu uang agar berbelanja untuk kebutuhan di penthouse. Bagaimana?"
"Baiklah!"
"Semenjak isteriku sakit. Aku kerepotan urusan berbelanja. Aku meminta tolong pada sekretaris atau supirku untuk berbelanja. Kupikir sebaiknya kuserahkan urusan belanja penthouseku padamu."
"Terserah kau saja."
__ADS_1
Dean merengkuh Melati. Mencium bibirnya dengan rakus. Menikmati tubuh gadis itu. Melampiaskan hasratnya.
Dean tertidur pulas kelelahan selesai bercinta. Tubuhnya terasa lelah tetapi juga rileks.
Dean dan Melati tidak saling berpelukan setelah bercinta. Dean hanya menganggap Melati sebagai alat untuk memuaskan hasrat seksualnya saja. Tidak ada cinta. Kasih sayang apalagi komitment.
Dia membayar Melati untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja.
Mereka juga jarang mengobrol atau berkomunikasi.
"Jangan melibatkan perasaan jika kau berhubungan denganku."
Dean kembali mengingatkan Melati. Melati menganggukkan kepalanya.
Dean kerap menyendiri di balkon penthousenya. Pada saat demikian, dia merindukan isterinya.
Masa-masa bahagia mereka sebelum isterinya koma. Pernikahan mereka memasuki babak baru. Kehamilan Sinta membawa kebahagiaan dan juga kesedihan.
Dean berpikir hubungan mereka semakin baik dan kuat dengan kehamilan Sinta. Siapa yang menyangka justru mereka berdua mendapatkan musibah baru.
Sinta tidak sadarkan diri dan koma sedangkan janin di dalam kandungannya keguguran.
Melati bersiap pergi dari penthouse Dean. Setelah selesai melayani Dean, membersihkan diri dan sarapan. Bermaksud berpamitan pada Dean yang sedang tenggelam dengan pikirannya sendiri di balkon Penthouse.
"Selamat pagi. Maaf mengganggu tapi aku ingin berpamitan. Aku harus bekerja."
"Baiklah."
"Apakah kau membutuhkan aku nanti malam?"
"Yeah, tentu."
"Baiklah, aku akan ke sini sepulang bekerja."
Dean pelanggan tetapnya dan membookingnya secara bulanan sehingga Melati semenjak melayani Dean tidak melayani yang lain.
Melati beranjak pergi. Dia enggan mengganggu Dean yang sedang tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Sebelum berangkat bekerja. Dia membuat roti bakar untuk sarapan paginya. Roti bakar yang dilapisi keju lembaran dan telur ceplok. Mengiris timun dan tomat sebagai pelengkap.
Dia juga memanaskan pizza yang tinggal dipanasakn di microwave untuk bekal makan siangnya. Membawa sebotol jus jeruk yang ada di kulkas.
Untuk Dean dia memanaskan pizza dan membuatkan kopi dalgona. Mengupas pear dan mangga memotongnya serta meletakkannya dalam piring.
Matahari semakin tinggi. Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Dean masuk ke dalam penthousenya bersiap pergi bekerja.
Setelah selesai mandi. Memakan sarapan yang sudah disiapkan Melati untuknya.
Memakan buah terlebih dahulu. Kemudian memakan pizza sambil menyesap kopi dalgonanya.
__ADS_1
Perkataan dokter Hans terngiang terus. Membuat hati dan pikirannya gundah.
"Saya menyarankan anda menghentikan pengobatan dan perawatan terhadap isteri anda karena tidak ada harapan sama sekali."
"Apa maksud anda tidak ada harapan sama sekali?"
"Isteri anda cacat permanen. Dia tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu."
"Bagi saya, selama dia masih bernafas. Sudah cukup."
Nada suara Dean bergetar menahan tangis.
"Apakah anda tidak kasihan melihat isteri anda tersiksa?"
"Tersiksa bagaimana?"
"Sepanjang hidupnya koma."
"Tapi dokter, ada yang bisa terbangun dari koma panjangnya. Ada setelah tujuh tahun bahkan lebih."
"Tapi kemungkinannya sangat kecil jika melihat kerusakan syaraf pada isteri anda.
"Saya tidak bisa menghentikan semuanya. Sangat tidak adil untuk isteri saya. Bagaimana jika tiba-tiba dia terbangun dan kembali seperti sedia kala."
"Pikirkan saja semuanya kembali. Anda tidak perlu memutuskannya sekarang. Saya hanya memberikan anda pertimbangan."
Setelah menyelesaikan sarapanmya. Dia berangkat bekerja. Dia akan mampir ke rumah sakit saat makan siang dan sepulang bekerja sebelum ke penthousenya.
Semenjak dia membooking Melati. Dia tidak tinggal lagi di tempag orang tuanya. Sesekali dia menginap di sana saat weekend.
Awalnya kedua orang tuanya terutama ibunya tidak bisa menerimanya.
"Untuk apa kau tinggal di penthouse sebesar itu sendirian? Lebih baik di rumah saja. Ada yang mengurusmu dan kau tidak kesepian."
Dia tidak mungkin mengatakan menyewa spg plus plus untuk melayaninya setiap hari dua kali sehari. Setiap dia pulang bekerja dan sebelum berangkat bekerja pada orang tuanya.
Ayahnya yang masih sangat konvensional dan religius akan mencincangnya hidup-hidup atau memaksa menikahi Melati. Sedangkan dia tidak ingin menambah luka pada Sinta. Menghadiahkannya madu di tengah sakit yang dialaminya.
Tidak ada yang mengetahui kehadiran Melati. Dia menutupnya rapat-rapar.
"Aku ingin sendiri, bu. Kau tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku bukan anak kecil lagi."
"Siapa yang akan menyiapkan kebutuhanmu? Makananmu? Mengurus pakaian dan penthousemu? Kau sudah lelah bekerja dan tidak mungkin lagi melakukan semuanya."
"Kau tidak usah khawatir bu. Aku akan minta tolong orang untuk membersihkan penthouseku. Mengenai makanan aku bisa pesan atau memanaskan frozen food dengan microwave. Aku tidak tinggal di jaman batu."
"Tetap saja aku mengkhawatirkanmu, sayang."
"Bu, tolonglah!"
__ADS_1
Dengan berat hati keduanya mengijinkannya tinggal di penthousenya dengan syarat sesekali dia harus menginap di rumah kedua orang tuanya.
Dean bergegas menuju kantornya. Semua orang menunggu kehadirannya. Rapat yang akan mengawali harinya.