Mawar Besi Dan Luka

Mawar Besi Dan Luka
Perhatian


__ADS_3

Dean dan keluarganya mengadakan perayaan menyambut Sinta kembali ke rumah sehubungan dengan keputusan bebas murni.


Mereka juga mengundang fakir miskin dan anak yatim sebagai bentuk rasa syukur.  Serta sejumlah yayasan milik Sinta. Juga perusahaan milik keluarga Dean.


Acara berlangsung dengan syahdu karena dipenuhi rasa haru karena semua mendoakan kebaikan bagi Sinta dan keluarganya.


Dean mengundang wartawan untuk meliput dan mereka juga mengadakan konferensi press.


"Bagaimana bu, perasaannya bisa bebas murni?"


"Tentu sangat senang sekali. Akhirnya saya bisa membersihkan diri dari tuduhan pembunuhan yang dituduhkan kepada saya."


"Bagaimana di penjara?"


"Tentu sangat berbeda dengan di rumah. Home sweet home lah…."


"Apa rencana ibu ke depannya?"


"Saya akan bekerja lebih baik lagi melayani masyarakat. Akan lebih berhati-hati lagi."


"Ibu sendiri sebenarnya mengenal bu Martha atau tidak?"


"Kalau mengenal secara pribadi tidak. Saya mengenalnya karena dia mengajak bertemu di restaurant."


"Apa ibu sudah tahu niat bu Marta meracuni makanan dan minuman ibu sebelumnya?"


"Saya tidak tahu sama sekali. Kalian kan sudah tahu siapa dia. Wanita simpanan suami saya. Hanya secara naluri saja saya menukar makanan dan minuman seperti yang sudah saya jelaskan di pengadilan."


"Korban sebenarnya yang bermaksud membunuh ibu. Bukan sebaliknya."


"Iya."


Konferensi press yang dilakukan Sinta diliput oleh berbagai media.


"Dengan ini saya ingin menyatakan bahwa saya tidak bersalah atas kasus pembunuhan korban ibu Martha. Pengadilan menyatakan bahwa saya bebas murni berdasarkan bukti dan kesaksian yang dinyatakan sebagai fakta persidangan. Saya tidak niat maupun motif membunuh korban. Justru sebaliknya, korban yang berniat membunuh saya dengan memberikan makanan dan minuman yang beracun bekerja sama dengan pelayan restaurant. Tindakan naluriah saya menukar makanan dan minuman tersebut ternyata menyelamatkan nyawa saya dari percobaan pembunuhan yang ditujukan kepada saya. Saya sangat berharap kasus ini tidak menganggu kinerja dan kapasitas saya dalam menjalankan jabatan saya."


Konferensi pers berlangsung dengan lancar. Pernyataan Sinta diliput dan dengan cepat menyebar ke semua media.


Berita bebas murni dan bahwa kenyataan justru Sinta yang menjadi korban percobaan pembunuhan menuai simpati.


"Aku sempat merasa bersalah mengira dia pembunuhnya tetapi ternyata terbalik."


"Wanita simpanan suaminya sangat membencinya."


"Tindakannya menukar makanan dan minuman tersebut sudah menyelamatkannya dari percobaan pembunuhan."


"Dia masih dilindungi Tuhan sedangkan korban yang sekaligus pelaku percobaan pembunuhan menuai karmanya."


Dean sendiri semenjak kasus tersebut mengambil pelajaran dari sikapnya yang tidak setia kepada isterinya.


Ketika mereka berdua di kamar. Dean meminta maaf dengan tulus kepada Sinta.


"Maafkan aku! Aku sudah mengkhianatimu dan mendapatkan konsekuensi buruk dari perbuatanku."


"Aku juga salah karena tidak mau melayanimu."


"Kau belum mencintaiku. Mungkin menjadi pelacur dan isteri sangat berbeda. Menjadi isteriku, kau sudah tidak membutuhkan uang tetapi kau membutuhkan cinta agar dapat melayanimu sebagai suami. Bagaimana kalau kita berkencan dulu?"


"Berkencan?"


"Kita pacaran dulu. Pendekatan. Tidak ada paksaan dalam menjalankan kewajiban sebagai isteri?"


Wajah Sinta termenung.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Baiklah."


Mereka memulai hubungan mereka dari awal lagi. 


Bagaimana rasanya berpacaran dengan suami atau isteri sendiri?


Di saat banyak suami isteri mengabaikan keromantisan karena merasa bahwa pernikahan hanyalah berisi dengan tanggung jawab.


Maka banyak orang menikah tapi melewati proses menyelami pribadi dan kesukaan masing-masing. Serta saling menyesuaikan diri. Memberikan ruang pada masing-masing.


Melalui proses pengenalan dan penjajakan ini, Dean dan Sinta bisa menyelami sifat, karakter, kesukaan dan ketidaksukaan masing-masing.


Cinta adalah kepercayaan. Banyak yang gagal bersama dan bertahan karena gagal saling memahami dan mempercayai.


Wajah cinta seringkali sulit dipahami. Seringkali berbentuk benci. Empati. Simpati. Hati. Jiwa. Sayang. Pengorbanan. Meninggalkan. Cemburu. Curiga. Pengkhianatan. Menyakiti. Putus asa. Mendua. Kasihan. Tanggung jawab. Setia. Komitmen. Melepaskan.


Semua berasal dari wajah dan atau topeng  cinta.


 Ada yang meninggalkan dan  bertahan.  Kandas dan abadi.


Cinta, kepercayaan dan saling memaafkan. Manakah yang harus didahulukan?


Dean sudah melakukan pengkhianatan sedangkan Sinta juga tidak mau melayani Dean.


Tanpa sikap saling memaafkan satu sama lain. Hubungan mereka akan kandas.


Sinta belum melayani Dean karena belum tumbuh cinta. Artinya setelah sikap saling memaafkan perlu untuk menumbuhkan cinta. Karena cinta ibarat bahan bakar yang dapat menggerakkan kendaraan. 


Ketika cinta tumbuh maka diperlukan kepercayaan karena cemburu itu seperti bensin yang disiramkan ke dalam api. 


Dean menelpon ketika jam makan siang. Sinta tidak suka diganggu ketika bekerja. Sehingga Dean menahan diri untuk tidak menghubunginya ketika jam kerja.


"Kita mau makan dimana siang ini?"


"Terserah!"


"Terserah aja."


"Ya udah, kita makan soto."


"Aku lagi gak mau soto."


"Nasi padang."


"Lagi gak pengen yang bikin kolesterol."


"Berarti maksudnya ketoprak?"


"Lagi gak pengen ketoprak."


"Karedok berarti."


"Gak pengen karedok."


"Trus apa dong?"


"Sop buntut."


"Oh ya udah."


Ketika sesampai mereka di rumah makan yang menyedikan menu andalan sop buntut. Sinta berubah pikiran.


"Gak jadi deh!"


"Duh kamu gimana sih? Udah dipesen dan aku juga udah laper banget."

__ADS_1


"Sop buntut kan kolesterol juga."


"Trus kamu maunya apa dong?"


"Batalin dulu aja ya…."


"Oke."


Dean membatalkan pesanannya. Mereka berkeliling mencari makanan yang cocok.


Mereka masuk ke rumah makan. Sinta memesan selat solo dan ternyata menunya habis.


"Jadi kita makan dimana?"


"Sop buntut aja!"


"Tapi kan kamu bilang kolesterol?"


"Iya sih. Tapi gak apa-apa deh!"


Dean mengurut dadanya berulang kali.


"Sabar…sabar…Orang sabar pantatnya lebar…."


Mereka kembali ke tempat sop buntut yang sudah mereka canceled.


"Ada yang ketinggalan, pak?"


Pelayan restaurant menyapa ramah.


"Gak, mau pesen sop buntut."


Sahut Dean menahan malu.


"Baik pak. Akan saya catat pesanan bapak dan ibu."


Sambil menunggu pesanan mereka mengobrol.


"Sehabis makan, temenin aku belanja ya…."


Dean paling malas menemani Sinta belanja. Cara Sinta belanja membuat semakin tidak menyukai kegiatan berbelanja. Artinya mereka akan berkeliling ke seluruh mall.


Atas bawah. Depan belakang. Semua akan diliat satu per satu. Sinta akan membeli barang yang dilihatnya pertama kali atau di awal mereka berbelanja tetapi membelinya di akhir sesi belanja mereka.


"Ini bagus."


"Ya udah beli aja!"


"Mahal!" Sinta ngeloyor meninggalkan pakaian yang tidak jadi dibelinya, "Ini murah!"


"Ya udah beli aja!"


"Bahannya kurang bagus." atau "modelnya kurang bagus!"


"Aduh keren banget! Murah dan bagus!" Sinta mengambil pakaian tersebut menuju kasir.


"Akhirnya!" Dean merasa lega bahwa sesi belanja mereka akan berakhir.


"Maaf bu, ada noda yang tidak bisa dihilangkan. Ada di sebelah sini. Makanya kami diskon habis-habisan."


"Gak jadi ambil, gak apa-apa kan?"


Dean memandang dongkol. 


"Kenapa gak jadi diambil?"

__ADS_1


"Ada noda yang gak bisa hilang."


Dean memandang gusar. Kakinya pegal. Perasaan bosan menderanya. Tidak habis mengerti kenapa wanita menyukai kegiatan yang hanya menghamburkan uang juga sangat membosankan.


__ADS_2