
Dean mulai putus asa. Sepertinya Sinta tidak melakukan usaha apapun agar hubungan mereka berubah hangat dan menggairahkan.
Rencananya yang terinspirasi dari novel Mira W dimana Faisal memperkosa Karmila.
Kepahitan berujung dengan bahagia. Kandas. Karena Sinta pingsan saat dia akan melakukan niatnya tersebut.
"Kenapa gak lo kasih aja isteri lo obat perangsang."
"Obat perangsang?"
"Nanti dia sendiri yang kegatelan sama lo."
"Gila lo!"
"Gue cuma bantu aja karena kasihan lihat lo! Kalau lo gak setuju. No problem."
Dean memikirkan ide memberikan obat perangsang kepada Sinta. Senyum tersungging di bibirnya.
Aku tidak ingin melakukan ini tetapi sepertinya memang tidak ada jalan lain….
Hari minggu, Sinta diberikan kejutan oleh Dean berupa sarapan pagi di atas tempat tidur.
Dean membawakannya sarapan pagi berupa nasi goreng telur ceplok, juice jeruk dan puding.
"Tumben bawain sarapan pagi-pagi." Sahut Sinta menatap sarapan lagi yang tampak menggugah selera. Ditambah perutnya yang lapar.
Sinta menyuap nasi gorengnya dan meminum juice jeruknya. Memakan pudingnya, ketika makanan dan minumannya habis.
"Enak sekali!"
"Kau menyukainya?"
"Sangat!"
"Aku senang kau suka makanan dan minuman yang kusajikan."
"Juara rasanya!"
"Terima kasih. Aku akan membawa turun mejanya ke bawah. Kukembalikan ke dapur. Kau ingin makan apa besok pagi?"
"Roti bakar keju mozarella. Juice semangka. Avocado milk cheese."
"Baiklah! Aku akan minta bi Inah menyiapkan sarapan pagi untukmu besok."
"Baiklah, terima kasih."
Sinta meraih novelnya. Bermaksud untuk membacanya.
Novelnya sedang berada di dalam bagian yang sangat menegangkan. Identitas pembunuhnya akan terkuak.
Dia membaca huruf demi huruf. Kalimat yang tertera di dalam buku.
Dean memasuki kamar sepuluh menit kemudian. Sinta hanya menoleh sebentar dan meneruskan bacaannya.
Mengapa dia terlihat biasa saja? Apa obat perangsangnya gagal?
Aku sudah putus asa memikirkan jalan apalagi agar Sinta bisa jatuh ke pelukanku?
Aku tidak mau lagi mengulang kejadian konyol seperti Martha.
Sinta masih asyik membaca ketika tiba-tiba kepalanya pusing. Huruf-huruf yang dibacanya menjadi membayang dan tidak jelas.
Tubuhnya juga terasa panas. Sesuatu menyentak dari dalam tubuhnya. Rasa apakah ini?
Dia merasakan dorongan birahi yang sangat kuat.
Dean sedang mempersiapkan pakaiannya. Bermaksud untuk mandi. Menuju kamar mandi.
"Kau mau kemana?"
"Mandi! Memang kau mau ikut?" Dean meledek Sinta.
__ADS_1
Sinta mendatangi Dean. Tubuhnya mengelora.
"Jangan mandi dulu!"
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan!" Wajah Sinta memerah menahan gejolak yang secara tiba-tiba muncul.
"Kau kenapa sih?"
Sinta menarik Dean dan memeluknya.
"Kau kenapa?"
Apakah obatnya sudah mulai bekerja?
"Aku kepanasan!"
"Memang berapa derajat acnya?"
"16."
"Itu kan sudah sangat dingin."
Tubuh Dean menegang karena dipeluk Sinta sangat erat.
Buah dada Sinta menempel erat di dadanya. Membuatnya merasa sangat bergairah.
"Kau jangan seperti ini!"
Dean berusaha melepaskan pelukan Sinta. Sinta semakin menarik Dean lebih erat kepadanya.
"Aku…."
"Kau kenapa?"
"Aku sangat kepanasan, pusing, aku…."
Sepertinya memang obatnya sudah mulai bekerja.
"Ahh…." Sinta meloloskan ******* dari mulutnya.
Dean menuntun Sinta ke atas tempat tidur. Merebahkannya. Wajah Sinta terlihat sangat kepanasan dan memerah.
"Dean, aku kenapa?"Sinta kesulitan mengendalikan dirinya.
"Gak apa-apa, kok. Kita kan udah lama gak berhubungan. Mungkin kamu lagi pengen."
"Tapi aku…."
Sinta kesulitan menjelaskan tentang transmigrasi dan semua hal tentang dirinya.
Bahwa dia bukan Sinta yang Dean kenal. Mereka melakukan kesalahan yang dia sendiri tidak tahu bagaimana memperbaikinya.
"Udah, kamu tenang aja, ya!"
Dean tidak menyia-nyiakan kesempatan di depan matanya.
Dia berusaha melucuti pakaian Sinta.
"Kamu mau apa? Aku malu kalau tidak pakai baju."
Sinta berusaha menahan tangan Dean yang berusaha membuka pakaiannya.
"Aku kan suamimu. Kamu tidak usah malu!"
Apakah aku dirasuki Sinta asli? Apakah seperti ini rasanya jadi pelacur?
Sinta asli pasti merasukiku. Oh Tuhan! Aku akan menjadi seorang pelacur!
"Jangan lupa baca doa!" Dean mengingatkan.
__ADS_1
"Allahumma bariqlanaa. Fii maa razaqtana…."
"Itu doa makan. Kau lupa doa akan berhubungan intim?"
Wajah Sinta menunjukkan kebingungannya. Dia belum pernah berhubungan intim atau menghafalkan doanya.
"Ikuti aku. Allahumma…."
"Allahumma …."
"Janibna…."
"Janibna…."
"Syaithana…."
"Syaithana…."
"Wa janibna…."
"Wa janibna…."
"Syaithana ma razaqtana."
"Syaithana ma razaqtana."
Dean melucuti pakaian mereka berdua. Menciumi dan memberikan rangsangan kepada Sinta. Walaupun Sinta sudah dalam keadaan terangsang dan berada di puncak berahinya.
Tetap saja, Sinta tidak melakukan apapun.
Dean merasa Sinta banyak berubah dan sangat pasif. Mungkinkah Sinta sudah lupa caranya bercinta?
Dean lebih memilih berkonsentrasi pada isterinya daripada memikirkan hal yang hanya memenuhi pikirannya.
Tanpa dia benar-benar bisa menjawabnya.
Tubuh Sinta sendiri bergetar. Dia merasakan sentuhan-sentuhan Dean terasa nikmat.
Wajahnya mendadak semakin memerah ketika Dean memasukinya. Rasanya berubah menjadi sangat sakit.
Kenapa berbeda rasa sentuhan dengan saat Dean memasukinya?
Dean sendiri tidak memperhatikan perubahan wajah Sinta. Memfokuskan seluruh perhatian untuk melampiaskan hasrat biologisnya kepada isterinya.
Pertama kali mereka berhubungan intim setelah mereka menikah.
Banyak perubahan yang terjadi pada Sinta. Sangat pasif dan juga kaku. Tapi Dean tidak mempermasalahkan. Selama Sinta tidak keberatan dirinya menyentuhnya. Semua tidak menjadi masalah baginya.
Dean menikmati hubungan intimnya bersama Sinta. Sedangkan Sinta sendiri menahan sakit.
Dean memeluk Sinta erat dan mencium keningnya.
"Terima kasih ya, sayang. Kau sudah menjadi isteri yang baik."
Ada rasa bangga melihat Dean memujinya sebagai isteri yang baik. Akhirnya dia bisa menjalankan kewajibannya sebagai isteri.
Walaupun rasanya sangat sakit tetapi melihat Dean menikmatinya. Membuatnya mengeyampingkan rasa sakit tersebut.
"Apakah kau dengan Martha juga seperti ini?"
"Apa maksudmu? Mengapa kau membicarakan dia? Membandingkanmu dengannya?"
"Aku hanya bertanya. Apakah sama rasanya?"
"Aku tidak ingin kau menanyakan hal tersebut. Aku ingin melupakannya. Aku minta maaf sudah mengkhianatimu. Aku tidak merasa bangga dengan perbuatanku. Aku menyesalinya tetapi tidak ada yang dapat aku lakukan untuk mengubahnya."
"Aku hanya ingin tahu. Apakah aku dan dia terasa sama bagimu atau tidak. Tapi kalau kau tidak ingin menjawabnya. Aku tidak masalah."
"Aku lebih suka kau yang melayaniku karena kau isteri sahku. Aku mempercayaimu. Sedangkan kalau aku mencari wanita lain. Belum tentu mereka sepertimu. Kemaren saja, Martha sudah berusaha memerasku dan ingin menyingkirkanmu. Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan wanita seperti itu. Sedangkan kau bekerja keras untuk melindungi perusahaan keluargaku. Walaupun dia telah berselingkuh denganku tapi kau tidak berpikir untuk membalaskan dendam dan sakit hatimu."
"Maafkan aku, kalau selama ini aku belum bisa melayanimu. Aku akan mengubah sikapku. Aku akan berusaha menjadi isteri yang baik untukmu."
__ADS_1
Dean memeluk Sinta erat. Tubuhnya sangat lelah membuatnya tertidur lelap dalam dekapan Sinta seperti bayi.
Akhirnya, mereka menjadi pasangan suami isteri sejati. My dear wife, I hope we can always together till death do us part. My one and only you….