Mawar Besi Dan Luka

Mawar Besi Dan Luka
Keracunan


__ADS_3

Di dalam novel akan ada rencana pembunuhan sehubungan dengan kemarahan wanita simpanan Dean yang keinginannya untuk dinikahi ditolak mentah-mentah oleh Dean.


Martha yang sangat sakit hati kepada Sinta karena Dean enggan menikahinya. Merencanakan pembunuhan kepada Sinta.


Sinta berusaha menggagalkan rencana pembunuhan terhadap dirinya tersebut.


Dia menelpon sahabatnya Amanda. Mengemukakan rencananya.


"Gue butuh banget bantuan lo!"


"Apa itu?"


"Gue janjian dengan Martha."


"Martha? Simpanan laki lo?"


"Yeah!"


"Bisa-bisanya lo ketemuan sama dia."


"Lo mau nolongin gue gak?"


"Ok! Apa yang bisa gue lakuin buat lo?"


"Bisa gak lo nelpon Martha  dan bilang ada  titipan barang buat dia."


"Jam berapa?"


"Gue misscall lo. Begitu lo terima misscall gue langsung actions ya? Lo standby ya di deket Restraurant Nirwana Bahagia."


"Ok!"


Martha mengundang Sinta makan siang.  Hatinya sangat sakit juga dendam.


Martha bekerja sama dengan pelayan restaurant untuk meracuni Sinta.


"Jangan lupa nanti taruh racun di makanan dan minuman bu Sinta."


"Kalau ketahuan bagaimana?"


"Siapa yang tahu? Hanya kita berdua yang tahu kecuali kalau kau membocorkannya pada yang lain?"


"Mana aku berani?"


"Ikuti instruksiku. Begitu dia mati dan aku akan menggantikannya menjadi isteri Dean. Aku akan memberikan apapun yang kau minta."


"Rumah seharga 10 M."


"Tenang saja. Begitu aku menyingkirkannya. Kau akan mendapatkan rumah yang kau minta. Bagaimana?"


"Baiklah!"


Semua berjalan seperti di novel. Martha sudah menyiapkan makanan dan minuman beracun untuknya. Disajikan oleh pelayan restaurant. Mereka bekerja sama.


Sinta duduk di sebelah Martha. Sorot kebencian mengintip dari balik jendela mata Martha.


Sinta sendiri tidak ambil pusing dengan tatapan Matha tersebut.


Dia dan Dean bertengkar hebat karena perselingkuhan mereka berdua.


"Kau ingin aku mencintaimu tapi kau mengkhianatiku!" Sinta berteriak marah.


"Kau tidak bisa melayaniku sama sekali. Kau jangan egois! Aku juga memiliki kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Aku sudah berusaha bersabar tapi sepertinya semua tidak akan berakhir."


"Martha memintamu menikahinya."


"Aku tidak ingin menikahinya. Karirmu akan hancur."


"Kita bercerai!"


"Tidak mungkin! Kau pelindung perusahaan keluargaku. Ayahku akan merebusku kalau aku menceraikanmu."


"Apa maumu?"


"Biarkan saja semua seperti adanya. Aku sudah menjamin semua kebutuhan Martha."

__ADS_1


"Tapi dia tidak ingin seperti itu!"


"Kau sudah menanganinya dengan baik. Dia sudah menghentikan tuntutan hukumnya kepadaku."


Hubungan mereka semakin menjauh. Sinta tidak bisa menerima apalagi memaafkan perselingkuhan Dean. Walaupun dia tidak bisa melayani suaminya. Cinta itu belum tumbuh. Ditambah dengan perselingkuhan Dean membuatnya semakin mati rasa.


Pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka berdua. 


Sinta memesan makanan dan minuman yang sama dengan Martha.


Dia memencet gadgetnya. Misscall kepada Amanda.


Beberapa saat kemudian, Martha menerima telepon keluar restorant. 


Dengan sigap Sinta menukar makanan dan minumannya dengan milik Martha.


Selang beberapa saat Martha masuk membawa sebuah buket mawar cantik.


"Dari siapa?" Tanya Sinta berbasa-basi.


"Entah! Tidak ada pengirimnya."


"Sepertinya pengagum rahasiamu."


"Yeah!" Sahut Martha meletakkan buket bunganya di meja.


"Ayolah makan! Jangan diliatin aja!" Sahut Martha kepada Sinta.


Sinta menyendok makanannya. Diikuti Martha. Kemudian mereka menyeruput minuman mereka berdua.


Beberapa saat kemudian tubuh Martha mengejang.


"Kau kenapa?"


Martha menggelengkan kepalanya.


"Kepalaku pusing."


Bibir Martha berubah menjadi biru kehitaman.


Martha ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. 


Pelayan restaurant memberikan susu kepadanya.


"Minumlah susu itu!" Sinta mendekatkan gelas susu kepada Martha.


Dengan susah payah Martha meminumnya.


"Sepertinya kita membutuhkan ambulance. Tolong panggil ambulance!"


Martha berusaha memuntahkan isi perutnya. Tetapi tubuhnya terlalu lemah. Wajahnya semakin pucat. Bibirnya biru kehitaman.


Para pengunjung seketika mengerumuni Martha yang sedang sekarat. Nafasnya tersengal. 


"Apa yang terjadi?" 


"Dia sedang makan dan minum lalu kolaps."


"Apakah kena serangan jantung?"


"Mungkin stroke?"


"Gerd mungkin?"


"Apakah sudah dipanggil ambulance? Sepertinya dia membutuhkan pertolongan pertama."


Martha ingin mengatakan sesuatu tetapi tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.


Martha terbaring lemah. Banyak kata yang ingin dikatakan tetapi semua seperti tertelan karena mulutnya tidak mampu membuka sedikitpun.


Ajal seperti ingin menjemputnya. Tubuhnya dingin. Lidahnya kelu. Dia melihat sesosok wajah yang menyeramkan dan membuatnya takut.


Perbuatannya tergambar satu per satu. Hubungannya dengan pacar-pacarnya. Mengapa muncul rasa takut menyeruak di dalam dirinya.


Ketika dia melakukannya. Tidak ada kamus dosa. Semua nikmat yang memang harus direguknya tetapi hatinya menjadi sangat takut melihat sesosok wajah yang menyeramkan dan menakutkan seperti menggambarkan wajah yang tidak bersahabat.

__ADS_1


Hubungannya dengan Dean juga tergambar begitu saja. Keinginannya membunuh Sinta. 


Mengapa dia yang ingin membunuh Sinta tetapi justru dia yang mengalami sakaratul maut.


Apakah ini karma? Matanya berusaha mencari wajah pelayan restaurant.


Ah! Di sana dia sedang memperhatikanku. Wajahnya tampak cemas. Dia yang membuat dan membawakanku susu. Apakah dia meracuni makananku? Atau tertukar dengan makanan Sinta? Apakah dia ceroboh? Oh Tuhan! Apa yang terjadi pada diriku?


Wajah yang menyeramkan tersebut semakin mendekat. Martha semakin panik.


Jangan mendekat! Mau apa kau? Kau siapa? 


Sosok tersebut semakin mendekat.


"Keluarkan jiwa kotormu!" Sahutnya garang.


"Apa maksudmu jiwa kotorku?"


"Keluarkan!!!" Bentaknya kasar.


"Aku belum mau mati!"


"Ini sudah saat ajalmu tiba! Keluarkan atau kupaksa untuk mengeluarkan jiwa jahatmu!"


"Kau siapa! Pergi!"


Semua kata tertelan. Wajahnya menyiratkan ketakutan. Matanya menggambarkan kepanikan.


Sosok tersebut memukulnya dengan sangat kencang dan membuatnya kesakitan.


"Sakit!"


"Jiwamu jahat dan kotor!"


Sosok tersebut terus memaksa ruhnya keluar.


"Awwwww …."


Martha menjerit tanpa keluar sepatah kata dan suara sedikit pun.


Sinta, pelayan restaurant dan para pengunjung mengerumuninya.


Tangan dan tubuh Martha mendingin. 


Kesunyian semakin menerpa dirinya. Dia seperti berada di ruang hampa dan kedap suara. Tidak bisa mendengar apapun yang ada di sekitarnya. 


Dia hanya bisa melihat dan mendengar sosok yang terlihat sangat kejam dan jahat lagi kasar.


Berulang kali memintanya mengeluarkan ruhnya. Mengatakan betapa kotor dan jahat jiwanya.


Tubuhnya semakin dingin. Telinganya semakin kedap suara. Pandangannya semakin menggelap dan menghilang.


Nafasnya semakin tersengal. Dia menghitung sisa nafasnya. Seakan menyerupai ketukan irama.


Hhhhh…ssshhh…hhhh…ssshh


Sosok tersebut semakin mendekat. Terus memaksa ruhnya keluar. Terasa sangat sakit dan pedih….


Tuhan, ampuni aku! Mungkin selama hidup, aku tak mempedulikan perintah dan laranganMu. Tak peduli akan dosa….


Sosok wajah tersebut tetap memaksa ruhnya keluar. Tak mempedulikan semua kesakitannya.


Sosoknya menyeramkan. Sangat pemaksa. Membuatnya menjadi takut dan gentar.


Dengan susah payah. Ruhnya tercerabut keluar. Ruhnya meninggalkan tubuhnya.


Bibirnya menghitam dan membiru. Matanya melotot. Wajahnya sungguh terlihat sangat menyeramkan. Lidahnya seperti mencuat keluar di sela bibirnya.


Semua orang mengerumuninya. Mereka semua membicarakannya. Dia tidak dapat mendengar suara mereka sama sekali.


Semua yang berada di restaurant sangat panik melihat Martha.


Seseorang berkata di antara kerumunan, "Sepertinya dia sudah meninggal dunia…."


Bergantian mereka mengucapkan,"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…."

__ADS_1


__ADS_2