
Kesurupan
Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan.
Sinta bisa bernafas lega. Ide spontannya untuk berpura-pura kesurupan. Menyelamatkan komplotan para penculik pura-puranya justru membuatnya berhasil dari kesulitannya.
Kesurupan tidak bisa dideteksi siapapun sehingga setiap dia menghindari kewajibannya sebagai isteri. Dia bisa bernafas lega.
"Bener juga apa yang dikatakan Benjamin Franklin." Sahutnya pada Amanda ketika mereka sedang menghabiskan waktu berbelanja sepulang kuliah.
Mereka makan siang bersama.
"It's not okay to be quit." Sinta menyeruput jus jeruknya.
"Sumringah banget lo!" Amanda tertawa melihat sahabatnya.
"Terus terang, gue udah mulai meragukan ketajaman otak gue. But thanks God! In the last minute, everything changed to be perfect."
"Jadi sekarang lo udah bisa dong menghindar dengan tenang dari ajakan laki lo."
"Ya gitu. Gue pura-pura kesurupan setiap dia mau ngajak berhubungan."
Pecah tawa keduanya.
"Congrats!"
"Thanks!"
"Ini bisa sebagai latian politik praktis lo…."
"Sort of…."
"Gue rasa lo bakal jadi politikus yang hebat!"
"Tukang tepu!"
Meledak tawa mereka.
"Gak tau gimana. Gue merasa karir politik lo bakal lancar. Sama seperti karir keartisan lo. Enak ya punya mertua dan suami yang mendukung penuh."
"Semua 'kan untuk mereka juga."
"Maksudnya lo cuma diperalat?"
"Kasar banget bahasa lo! Simbiosis mutualisme. Gimana?"
"Boleh juga istilahnya."
"Itu cuma dari perspektive mana kita memandang."
"Hmm…."
Banyak perubahan yang terjadi pada Sinta. Apapun yang ditangkap orang tentangnya. Di dalam jiwanya tetaplah anak kelas tiga SMA yang kehilangan ibunya karen transmigrasi novelnya.
Tanpa transmigrasi tidak mungkin dia bisa menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kehidupan nyatanya yang sederhana.
Pendidikannya saat ini memberikannya kepercayaan diri yang hampir tidak bisa dibedakan dengan sikap dan perasaaan sombong.
Satu hal. Tanpa kepercayaan diri serta dukungan tidak mungkin dia dapat mencapai apa yang ingin dia capai.
Pada kehidupan nyatanya banyak yang tidak bisa dia lakukan. Apakah karena masalah uang, akses atau dukungan?
__ADS_1
Ibunya tidak akan membiarkannya memiliki karakter yang mungkin dianggap kasar, dominan, kompetitif dan sombong.
Dia juga tidak mungkin bisa berteman dengan sosok seperti Amanda. Bagaimana mungkin?
Kalau pun mereka berteman tidak akan setara seperti saat ini.
Belum kehidupan percintaan. Tidak ada yang salah dengan Dean, seperti yang dikatakan Amanda merupakan sosok yang sangat menggoda buat lawan jenisnya.
Hanya saja mereka memulainya dengan cara yang salah. Sinta terjebak di dalam transmigrasinya.
Apalagi dia sendiri tidak memiliki pengalaman dalam hal ini. Kesehariannya hanyalah belajar, sekolah dan menghabiskan me time.
Sehingga bertransmigrasi ke tubuh pelacur dan kemudian menikah bukanlah sesuatu yang mudah seperti teori missing link milik teori Darwin.
Ada satu bagian terputus begitu saja. Tiba-tiba dia menjalani lompatan evolusi dalam hidupnya terutama hubungannya dengan Dean dan pendidikan, karir keartisan serta politik juga kehidupannya yang nyaris sempurna.
Rencananya berjalan dengan sangat baik. Dean membawanya berobat ke sana kemari
Untuk mengobati kesurupannya. Tidak ada hal yang bisa membuatnya menghentikan rencana tersebut.
Rencanya benar-benar sempurna. Sinta benar-benar bisa membohongi Dean tanpa harus takut ketahuan.
Dean memandangnya nyaris putus asa. Setiap kali mereka akan berhubungan intim, Sinta selalu kesurupan.
"Apa ada makhluk astral yang cemburu padaku? Pada pernikahan kita?" Dean memandang pilu ke arah Sinta yang tengah kerasukan.
Sinta tiba-tiba saja kejang dan matanya melotot ke atas. Tubuhnya bergerak ke sana ke mari dengan liar. Mulutnya komat kamit dan meracau.
"Jangan dekati aku! Pergi…."
Sinta mengusir Dean menjauh.
"Aku suamimu. Kita suami isteri."
Dean membawa Sinta berobat. Banyak tempat dan jenis pemgobatan dijalaninya.
Mulai dari mandi kembang tujuh rupa, dibacakan ayat-ayat suci sampai dengan meminum aneka ramuan.
Untuk mandi kembang. Tubuh Sinta mengigil karena dimandikan tengah malam hanya menggunakan jarit dengan air yang sangat dingin.
Keesokan paginya mereka ke dokter karena Sinta masuk angin dan demam.
"Istri saya gak apa-apa, dok?'
"Gak, cuma istrinya masuk angin dan demam. Apa yang dilakukan isteri anda atau makan apa atau apakah masalah pergantian cuaca panca roba. Penyakit musiman."
"Mandi tengah malam, dok!"
"Jangan mandi tengah malam pak. Bisa rematik. Ibu mandinya pake air hangat atau dingin, dok."
"Dingin, dok!"
"Jangan pake air dingin, kalau terpaksa mandi malam. Bapak juga tahan nafsu dong pak! Atau ibu tunda mandinya. Sholat dulu jadi gak perlu mandi tengah malam begitu."
Dokter nyerocos sambil membuatkan resep.
Dean hanya mesem senyam senyum. Tidak menjawab apapun. Memilih diam dan membiarkan dokter memiliki asumsinya sendiri.
Sinta diminta memejamkan mata dan berbaring. Dibacakan ayat-ayat suci selama hampir satu jam.
Tubuhnya diguncang-guncang.
__ADS_1
"Sin! Bangun dong! Malah ketiduran."
Sinta bangun dengan mengusap kedua matanya. Dibacakan ayat suci selama itu membuat matanya mengantuk dan tertidur pulas.
"Bagaimana bu, isteri saya?"
"Ada yang tidak menyukai pernikahan bapak dan ibu. Cemburu pada bapak."
"Sudah saya duga. Karena selalu menganggu setiap kami ingin berhubungan."
"Sudah saya duga."
Sinta juga menjalani serangkaian pengobatan dengan meminum ramu-ramuan.
Sebelum ramuan diminum. Paranormal berkomat-kamit membacakan mantra.
Ramuan tersebut sangat pahit dengan bau menyengat.
"Ramuan apa ini, mbah?"
"Sambiloto, ginseng, akar-akar pohon, daun pepaya…."
Sinta mengenyitkan hidungnya dan menahan rasa mual karena ramuan yang sangat pahit tersebut.
"Diminum tiga kali sehari. Rutin."
"Tiga kali sehari?" Ulang Sinta.
"Iya, tiga kali sehari. Pengobatan minimal seratus hari."
Kedua orang tua Dean juga ikut prihatin. Mereka ikut mendukung pengobatan Sinta dan membesarkan hati putranya.
"Sabar ya sayang!"Ibunya membesarkan hati putranya, "Kalau diobati rutin. Pasti bisa sembuh."
"Iya, bu." Sahut Dean.
"Kau juga rajin sholat minta kesembuhan untuk isterimu."Sahut ayahnya,"Kau juga Sinta rajin sholat dan berdoa. Jangan banyak bengong!"
"Iya, kalau kesurupan. Artinya pikirannya sering kosong. Suka bengong." Timpal ibunya Sinta.
"Tapi ini karena ada yang tidak suka dengan aku dan pernikahanku dengan Sinta."
"Mungkin saja. Tapi mungkin Sinta juga sering bengong dan kosong pikirannya."
"Istrimu sekarang sering muntah-muntah. Apakah sudah isi?" Tanya ibunya Dean.
"Dia meminum ramuan herbal sangat pahit bu. Membuatnya mual dan muntah."
"Hati-hati dehidrasi!"
"Ramuan tersebut untuk mengatasi kesurupannya."
"Tapi kalau isterimu, muntah-muntah seperti itu. Bisa dehidrasi. Kurang cairan."
"Tidak ada pilihan lain, bu. Selain mencoba semua pengobatan."
"Ibu tidak melarang. Hanya mengingatkan. Banyak minum dan makan. Jus buah dan sayuran supaya tidak dehidrasi dan panas dalam. Kurang cairan."
"Iya, bu!"
"Banyak makanan berkuah mungkin bisa membantu. Sop sayuran. Sop buah."
__ADS_1
"Asupan cairannya harus seimbang bukan?"
"Iya, itu maksud ibu."