
Mertuanya menginginkan Sinta terjun ke dunia artis dan politik.
"Kupikir suami isteri harus saling mendukung." Ayah mertuanya membuka pembicaraan ketika mereka makam siang bersama di hari Minggu yang cerah.
"Aku setuju!" Ibu mertuanya menyendokkan nasi ke piring.
"Dean menjalankan perusahaan keluarga. Kau yang melindunginya."
"Maksudmu?" Ibu mertuanya menatap wajah suaminya tidak mengerti. Sinta sendiri tidak berani membuka mulutnya.
Hanya mendengarkan tanpa berpikir untuk membuka mulut apalagi menjawab.
"Aku ingin dia kuliah politik dan menekuni dunia artis. Jika dia bisa menjadi kepala daerah. Perusahaan keluarga kita aman."
"Apakah bisa dia menjadi kepala daerah? Lelaki saja belum tentu bisa. Apalagi perempuan."
"Mengapa kau bisa mengatur urusan rumah tangga kita?"
"Karena tanggung jawab dan terbiasa."
"Begitu juga, Sinta. Dia akan terbiasa dengan tanggung jawabnya. Dean lelaki sehingga harus mengemban pekerjaan yang lebih sulit."
"Lebih sulit menjadi kepala daerah?"
"Pekerjaannya kan teratur. Dibantu juga dengan para staffnya. Sudah ada pakem-pakemnya. Lebih sulit pekerjaan Dean. Mengelola usaha. Bersaing dengan perusahaan sejenis."
"Tapi apa Sinta mampu?"
"Mengapa kau meragukannya? Kita punya uang dan koneksi."
"Tanggung jawab kepala daerah itu sangat berat. Banyak yang kena kasus."
"Memangnya Sinta ada indikasi memperkaya diri sendiri? Sudahlah, bu! Jangan menakut-nakuti begitu. Dia tidak bekerja sendirian. Kita juga akan mendukung dan membantunya. Aku yakin, dia bisa. Aku tidak mau membahas ini lagi."
"Terserah padamu!"
"Menjadi kepala daerah bisa mengangkat harkat dirimu. Tidak hanya keluarga suamimu saja. Orang akan segan dan hormat padamu."
"Kau mau telurnya setengah matang atau matang?" Ibu mertuanya bertanya pada ayah mertuanya.
"Setengah matang."
Sinta merasa takut tetapi tidak bisa berbuat apapun. Dia ingin meneruskan sekolah tetapi bukan bidang politik. Dia juga ingin berkarir tetapi bukan artis.
"Mengapa kau harus menjadi artis." Lanjut ayah mertuanya seakan bisa membaca pikirannya.
"Untuk menjadi kepala daerah. Kau membutuhkan popularitas. Artis adalah profesi yang paling tepat. Akan menekan biaya kampanyemu. Lebih mudah juga kau memenangkan kampanye politikmu. Sangat efisien kalau kau menjadi artis akan sangat menunjang karir politikmu."
"Yang jelas bisnis keluarga kita butuh pelindung. Kau adalah yang paling tepat."
__ADS_1
"Sayang, pedas atau tidak?" Ibu mertuanya kembali bertanya kepada ayah mertuanya.
"Tidak." Ayah mertuanya menyesap teh manis hangat yang dibuat ibu mertuanya, "Untuk menunjang karirmu sebagai kepala daerah. Kau akan mengambil jurusan politik, ilmu pemerintahan. Kau akan dibekali ketrampilan dalam menangani pemerintahan. Kau juga harus ikut kursus jurnalistik dan hukum. Karena pemerintahan, jurnalistik dan hukum itu saling terkait satu sama lain."
"Dia harus kuliah, kursus dan menjadi artis?"
"Menerjuni sesuatu butuh bekal ilmu dan wawasan. Akan menambah rasa percaya dirinya ketika menjalani pekerjaannya."
"Mengapa kau begitu yakin padanya?"
"Karena aku tidak memiliki pilihan lain. Mana Dean?"
"Dia sudah berangkat ke kantor."
"Sepagi ini?"
"Dia bekerja sangat keras. Kadang dia pulang larut malam."
"Mungkin pekerjaannya sedang banyak. Menyesuaikan dengan loading pekerjaannya."
"Sepertinya begitu. Kau jangan terlalu keras kepadanya."
"Aku ingin dia tumbuh menjadi lelaki yang kuat."
"Aku hanya minta kau lebih pengertian dan jangan selalu menekannya."
"Kau tidak tahu bagaimana kerasnya ayahku mendidikku. Aku sudah banyak mentoleransi Dean."
"Kau tidak senang anakmu menikah? Kau lebih suka anakmu memiliki kehidupan bebas. Bergonta ganti wanita?"
"Aku bukan menyetujui Dean hidup bebas. Aku tidak ingin memaksanya. Jika dia ingin menikah maka hal itu dari hatinya."
"Keras itu tidak selalu buruk. Apalagi jika untuk kebaikan. Asalkan tidak kasar."
"Aku hanya ingin anakku nyaman dan bahagia."
"Dia juga harus bertanggung jawab, memikiki moral dan susila juga mematuhi aturan agama."
"Kau ingin buah?"
Bapak mertuanya menganggukkan kepalanya.
"Untuk memenangkan pertarungan politikmu. Kau harus menguasai politik praktis. Menjadi selebritis juga termasuk politik praktis."
Sinta hanya terdiam dan mendengarkan.
"Politik itu kejam. Saling sikut. Saling menghancurkan. Saling menjatuhkan. Kau harus memiliki strategi politik untuk memenangkan pertarungan politikmu."
"Apa itu politik praktis?" Sinta memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Politik praktis adalah ketika motif, kepentingan, itikad dan tekad hadir saling berhimpitan untuk memperebutkan kekuasaan."
"Keinginan untuk berkuasa?" Tanya Sinta lagi.
"Sejatinya kekuasaan itu adalah jabatan, kedudukan dan posisi. Seperti kau disiapkan menjadi kepala daerah. Kita mengincar kekuasaan berupa jabatan kepala daerah itu. Dengan tujuan kau bisa menggunakannya untuk melindungi perusahaan keluarga suamimu."
"Sepenting itu?"
"Yang diperebutkan sebenarnya adalah otoritas atau wewenang untuk membuat keputusan-keputusan politik. Tentu sangat penting. Jangan hanya belajar ilmu politik secara dogmatis tapi kau juga harus mempelajari politik praktis. Kunci kesuksesanmu menjadi kepala daerah. Apa strategi politikmu?"
"Aku mulai menangkap maksud ayah. Menjadi artis, artinya menjadi selebritis. Merupakan publik figure. Memudahkan untuk merebut hati dan dukungan masyarakat."
"Kau sangat cerdas! Kau lihat bu, menantumu. Feelingku tidak salah 'kan? Teruskan!"
"Aku memikirkan cara yang lebih konstruktif. Mungkin berusaha menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat?"
"Seperti apa?"
"Mempelajari apa yang menyebabkan permasalahan menjadi rumit atau muncul?"
"Kau akan menjalin komunikasi dengan masyarakat?"
"Kupikir seperti itu. Agar memudahkan aku dalam menjalankan tugasku?"
"Kupikir, kau sudah memiliki bayangan tentang pekerjaanmu. Sebelum kau terjun menekuni pekerjaanmu. Kau fokus merintis karirmu sebagai artis. Selesaikan kuliah jurusan politik, ilmu pemerintahan. Mengikuti kursus jurnalistik dan hukum. Aktif mengikuti pengabdian-pengabdian masyarakat. Semua itu akan membantumu dalam berkomunikasi dengan masyarakat."
Pucuk dicinta, ulam tiba. Menekuni karir artis, kuliah jurusan politik, kursus dan penmas membuat Sinta tenggelam dengan kesibukannya.
Membuatnya menjauh dari Dean dengan sendirinya. Dia merasa mendapat keberuntungan kembali karena bisa menghindari Dean.
Dia berangkat lebih pagi dari Dean dan pulang lebih malam bahkan kadang menginap jika berada di luar kota atau sedang mengikuti penmas.
"Bagaimana kita bisa punya cucu jika Dean dan Sinta tidak saling bertemu?"
"Kau ingin dia berhenti dati karir politik dan keartisannya? Tidak bisa!" Sahut ayah mertuanya tegas.
"Aku hanya mengatakan bagaimana dia bisa hamil jika kesibukannya mengalahkan suaminya? Memang kau tidak mau punya cucu?"
"Maulah! Tapi aku juga tidak ingin dia menghentikan karir keartisan juga politiknya."
"Dia tidak perlu berhenti. Kurangi saja kegiatannya. Jangan semua dikerjakan sekaligus sehingga waktunya habis untuk beraktifitas. Tidak bisa menghabiskan waktu bersama anak kita."
"Apa maksudmu?"
"Fokus satu-satu. Saat ini fokus menyelesaikan kuliah dan karis artisnya. Setahun sebelum lulus. Fokus pada penmas. Kemungkinan mata kuliahnya sudah tinggal sedikit kan? Setelah lulus, baru dia ambil kursus-kursus tersebut. Bagaimana?"
"Kau sangat brilian, sayang!' Ayah mertuanya mengecup isterinya mesra.
Kalau kedua mertuanya sangat bahagia bisa menemukan solusi mengatasi permasalahan keluarga mereka. Tidak demikian dengan Sinta.
__ADS_1
Hatinya menjadi resah ketika mertuanya memintanya mengurangi kegiatannya. Meluangkan waktu bersama suaminya. Memprogram kehamilannya.
Omg….