Menanti Pelangi

Menanti Pelangi
Gelap


__ADS_3

Hampir satu jam sudah aku mengguyur tubuh ini


Namun tak jua kunjung bersih


Airmata pun terus saja mengalir


menganak sungai,


Sementara diluar terdengar gedoran pintu tiada henti-hentinya disertai dengan omelan dan teriakan si ibu


" Hai..... Kamu ngapain aja sih


didalam ? kok betah banget,


ayok cepetan keluar,


atau pintu ini aku dobrak !."


Dengan berat hati aku pun ahirnya menyeret langkah ini menuju pintu dan membukanya


Lagi dan lagi aku harus melihat berpuluh-puluh pasang mata memandang


Ada yang memandangku dengan iba


Ada yang memandang ku sinis


dan ada juga yang cuek bebek


Aku terpaksa melewati mereka semua dengan di iringi oleh omelan ibu-ibu itu,


Sesampainya di kamar akupun duduk di ubin


Malas rasanya aku kekasur


Jangankan untuk duduk atau rebahan


Memandangnya pun rasanya aku jijik


Dikasur itu tadi malam mahkota yang ku jaga dan rawat selama ini telah direnggut paksa oleh orang yang takukenal.


Sa'at aku termenung meratapi nasib tiba-tiba terdengar ketukan pintu


Kerna merasa tak dihiraukan orang itu pun masuk mendekatiku sambil membawa nampan berisi dua buah piring yang penuh berisi nasi dan lauk pauk dan dua gelas teh hangat,


Setelah meletakan nampan dia menegurku:


" Loh kok kamu masih pake


handukan sih dek?


ayok cepetan berpakaian


entar kalau sampai mami melihat


dia bisa-bisa ngamuk


dan kamu bakalan disiksanya


lagi dek"


Namun aku tetap diam tak merespon sedikit pun


Merasa tak di respon


ahirnya diapun bangkit dan melangkah menuju lemari dan membukanya lalu mengambil beberàpa helai baju dari sana dan menyerahkanya padaku.

__ADS_1


" Ayolah dek pake bajunya,


jangan menyiksa diri kaya gini,


abis pake baju kita makan bareng


kaka kepingin makan sama


kamu dek


gak keberatan kan


makan bareng kaka?


Anggap saja aku kaka kandung,


kamu bisa cerita atau curhat


apa aja, pasti kaka dengerin


siapa tau kaka bisa sedikit


mengurangi beban pikiran


mu dek,


dan janga takut rahasia


di jamin gak bocor ".


Katanya berusaha membujuku.


Mendengar itu aku tiba-tiba teringat dengan ka Idah dan ka Mila serta kaka-kaka yang lainya,


" Dimana dan bagai mana


apakah seperti aku sekarang


dan mungkinkah mereka


juga ada disini,


tapi dimana?"


Tanya hatiku.


" Dek dulu tepatnya


satu tahun lalu kaka juga seperti


kamu di jebak ahirnya dibuang


ketempat ini,


awalnya kaka juga mogok makan


dan minum


hingga dua hari dua malam


ahirnya kaka jatuh sakit


namun disa'at itu hanya satu


orang yang perduli dan mau

__ADS_1


merawat kaka,


awalnya kaka menolak,



" apa kamu kepingin mati


hah!"


Katanya.


" Kaka jawab ya aku lebih baik


mati aja ketimbang harus hidup


tinggal dan jadi....disini."



" Dasar bo....h


bukanya mencari jalan keluar


ini malah mau bunuh diri


secara perlahan-lahan,


kamu itu punya modal jangan


disia-siakan,


kamu punya keluarga gak sih?"


Tanya nya ke kak.


" Kaka jawab jujur, iya aku punya


bapak sama emak dikampung


sedanģkan emaku sekarang lagi


menderita sakit yang cukup parah


dan perlu biaya berobat banyak


makanya aku mau pergi mencari


kerja ke negri orang,


namun ternyata mereka bukanya


mengantarku TKW


malah mencampakanku disini ".


Ceritanya sambil menitikan air mata.


" Apa emak kaka sekarang


sudah sembuh?"


Tanya ku.


Dia cuma menganggukan kepala

__ADS_1


Seraya mendekatiku


dan membisikan sesuatu ketelingaku."


__ADS_2