
" Sama-sama sayang"
Jawab mas Natahan sambil mengacak-ngacak rambutnya
" Astaga Dian,
nenek cari-cari kemana-mana
dari tadi ternyata disini kamu cu"
Kata seorang ibu-ibu tiba-tiba.
" Dian cama mama papa Dian nyek"
Jawab anak itu sambil memegang erat tanganku dan mas Nathan seolah ia takut dipisahkan dari kami.
" Cucu nenek yang paling ganteng
dan pintar yok kita pulang sayang,
mama sama papanya
lagi ada urusan disini
kalau sudah kelar
mama sama papa pasti
juga pulang nyusul Dian"
Kata si ibu pada cucunya
" Gak au! Nyenye oong
Dian aunya cama aja"
Teriak anak itu sambil menangis kencang.
Melihat itu aku segera mengendongnya berusaha menenangkanya kembali.
" Nak ma'afin cucu saya ya
kerna sudah mengganggu
kalian berdua"
Kata ibu itu.
" Gak papa bu,
kami berdua tak merasa
terganggu sama sekali
justru sebaliknya
kami senang dengan kehadiran
cucu ibu, kami berasa punya anak"
Jawab mas Nathan sambil tersenyum.
" Dian memang begitu nak
semenjak papa mamanya pergi,
setiap kali bertemu
pasangan muda seperti kalian
dia menganggap
kedua orang tuanya sudah kembali"
Kata si ibu.
" Memangnya kedua orang tua
Dian pergi kema bu?"
Tanya mas Nathan.
" Mereka meninggal
kerna kecelaka'an
bus tahun lalu nak"
Jawab si ibu dengan mata berkaca.
" Astagfirullah!"
Kataku dan mas Nathan hampir berbarengan.
__ADS_1
" Jadi sekarang ibu dan suami
yang merawat Dian?"
Tanya mas Nathan.
" Saya cuma berdua sama Dian
kerna kakeknya sudah meninggal
sebelum Dian lahir nak"
Jawab ibu itu.
" Ma'af bu kalau saya sudah
mengingatkan ibu pada mereka"
Kata mas Nathan lagi.
" Gak papa nak"
Mendengar cerita si ibu mengingatkanku pada masa lalu
Aku juga kehilangan kedua orangtua dan dirawat nenek sejak kecil.
" Dian kita senasib nak"
Bisik hatiku.
Setelah beberapa kali dibujuk ahirnya Dianpun berhenti menangis.
" Bu biar Dian sama kami dulu
nanti kami antar pulang,
atau sekalian kalau ibu tak sibuk
kita ngobrol-ngobrol dulu
disini bentar nanti
kami antar pulang"
Kata mas Nathan lagi.
Ahirnya si ibupun mau bergabung dengan kami.
Tanya mas Nathan sambil mengambil alih anak itu dari gendonganku.
" Dian gak au es cem
Dian au cama mama"
Jawab anak itu sambil memeluk leherku dengan erat.
" Duh jangan nangis lagi sayang,
malu sama temen-temen
mereka pada mandangi Dian,
tu liat ada yang jualan balon
Dian mau gak papa beli in"
Kata mas Nathan.
Mata Dian melirik kearah balon lalu memandangku.
" Dian mau balon sayang?"
Tanyaku.
Dijawabnya dengan anggukan.
" Pa yok kita beli balon!"
Ajaku ke mas Nathan
" Ayok ma"
Jawab mas Nathan.
Kamipun melangkah mendekati penjual balon dan membeli beberapa untuk Dian
Anak itu nampak girang sekali menerimanya
Mungkin kerna kami terlalu asik bermain dengan Dian hingga tak sadar kalau sang langit senja mulai menampakan sinarnya yang kemerahan menandakan malam akan segera tiba
Mas Nathan ahirnya mengajak kami pulang kerumah nenek Dian ditengah perjalanan terdengar adzan magrib berkumandang
Tak berselang lama ahirnya kamipun sampai didepan sebuah rumah kayu bercat biru
__ADS_1
" Alhamdulillah kita sudah sampai"
Kata nenek Dian.
Setelah memarkirkan mobil ketepi jalan kami berempatpun segera keluar menuju rumah tersebut
Setelah nenek Dian membuka kunci
" Nak yok masuk dulu kerumah"
Ajak beliau.
Kamipun turun dan menumpang shalat magrib disana
Setelah usai shalat mas Nathan ijin keluar sebentar bersama Dian.
Sementara mereka pergi nenek menceritakan tentang kehidupan mereka hingga terjadi kecelaka'an tersebut,
Kamipun sempat bertukar nomor Hp masing-masing.
Tak berapa lama mas Nathan dan Dian kembali dengan membawa kantung kresek yang berisi beberapa buah nasi kotak
Ahirnya kamipun makan malam bersama dengan nenek dan Dian
Setelah shalat isya dan menidurkan Dian kamipun berpamitan pada nenek untuk kembali kerumah
" Jangan jera ya nak mampir
kesini"
Kata nenek Dian.
" Gak nek, in shaa Allah
kalau ada waktu kami bakalan
sering nengokin nenek
sama Dian"
Kata mas Nathan sambil menggandengku melangkah menuju mobil
" Assalamualaikum"
Pamit mas Nathan .
" Wa alaikumssalam!
Hati-hati dijalan nak
kalu dah sampai kabari ibu ya"
Katanya
" Iya bu"
Jawabku.
Mobilpun melaju dijalan raya hingga tak terasa kami sudah mulai memasuki kawasan perumahan dimana kami tinggal
Dari kejauhan nampak lampu dirumah kami sudah menyala terang.
" Siapakah gerangan
, yang menyalakanya?
Apakah tetangga atau
yang mereka gosipkan
tadi pagi itu bener?
Ah sudahlah
yang penting dia tak
mengganggu kami"
Bisik hatiku
Ahirnya mobil kamipun sampai kerna pintu pagar sudah terbuka lebar jadi kami langsung masuk kepekarangan
Dengan tenangnya mas Nathan mengajaku masuk kedalam rumah yang ternyata juga tak terkunci
Ketika pintu terbuka alangkah terkejutnya aku melihat tatanan rumah yang telah berubah sekejap mata
" Gimana sayang, dedek sukakan?"
Kata mas Nathan.
" Jadi mas yang bikin semuanya?"
Tanyaku.
__ADS_1