Menanti Pelangi

Menanti Pelangi
Jalan-jalan sore


__ADS_3

" Sama-sama sayang"


Jawab mas Natahan sambil mengacak-ngacak rambutnya


" Astaga Dian,


nenek cari-cari kemana-mana


dari tadi ternyata disini kamu cu"


Kata seorang ibu-ibu tiba-tiba.


" Dian cama mama papa Dian nyek"


Jawab anak itu sambil memegang erat tanganku dan mas Nathan seolah ia takut dipisahkan dari kami.


" Cucu nenek yang paling ganteng


dan pintar yok kita pulang sayang,


mama sama papanya


lagi ada urusan disini


kalau sudah kelar


mama sama papa pasti


juga pulang nyusul Dian"


Kata si ibu pada cucunya


" Gak au! Nyenye oong


Dian aunya cama aja"


Teriak anak itu sambil menangis kencang.


Melihat itu aku segera mengendongnya berusaha menenangkanya kembali.


" Nak ma'afin cucu saya ya


kerna sudah mengganggu


kalian berdua"


Kata ibu itu.


" Gak papa bu,


kami berdua tak merasa


terganggu sama sekali


justru sebaliknya


kami senang dengan kehadiran


cucu ibu, kami berasa punya anak"


Jawab mas Nathan sambil tersenyum.


" Dian memang begitu nak


semenjak papa mamanya pergi,


setiap kali bertemu


pasangan muda seperti kalian


dia menganggap


kedua orang tuanya sudah kembali"


Kata si ibu.


" Memangnya kedua orang tua


Dian pergi kema bu?"


Tanya mas Nathan.


" Mereka meninggal


kerna kecelaka'an


bus tahun lalu nak"


Jawab si ibu dengan mata berkaca.


" Astagfirullah!"


Kataku dan mas Nathan hampir berbarengan.

__ADS_1


" Jadi sekarang ibu dan suami


yang merawat Dian?"


Tanya mas Nathan.


" Saya cuma berdua sama Dian


kerna kakeknya sudah meninggal


sebelum Dian lahir nak"


Jawab ibu itu.


" Ma'af bu kalau saya sudah


mengingatkan ibu pada mereka"


Kata mas Nathan lagi.


" Gak papa nak"


Mendengar cerita si ibu mengingatkanku pada masa lalu


Aku juga kehilangan kedua orangtua dan dirawat nenek sejak kecil.


" Dian kita senasib nak"


Bisik hatiku.


Setelah beberapa kali dibujuk ahirnya Dianpun berhenti menangis.


" Bu biar Dian sama kami dulu


nanti kami antar pulang,


atau sekalian kalau ibu tak sibuk


kita ngobrol-ngobrol dulu


disini bentar nanti


kami antar pulang"


Kata mas Nathan lagi.


Ahirnya si ibupun mau bergabung dengan kami.


Tanya mas Nathan sambil mengambil alih anak itu dari gendonganku.


" Dian gak au es cem


Dian au cama mama"


Jawab anak itu sambil memeluk leherku dengan erat.


" Duh jangan nangis lagi sayang,


malu sama temen-temen


mereka pada mandangi Dian,


tu liat ada yang jualan balon


Dian mau gak papa beli in"


Kata mas Nathan.


Mata Dian melirik kearah balon lalu memandangku.


" Dian mau balon sayang?"


Tanyaku.


Dijawabnya dengan anggukan.


" Pa yok kita beli balon!"


Ajaku ke mas Nathan


" Ayok ma"


Jawab mas Nathan.


Kamipun melangkah mendekati penjual balon dan membeli beberapa untuk Dian


Anak itu nampak girang sekali menerimanya


Mungkin kerna kami terlalu asik bermain dengan Dian hingga tak sadar kalau sang langit senja mulai menampakan sinarnya yang kemerahan menandakan malam akan segera tiba


Mas Nathan ahirnya mengajak kami pulang kerumah nenek Dian ditengah perjalanan terdengar adzan magrib berkumandang


Tak berselang lama ahirnya kamipun sampai didepan sebuah rumah kayu bercat biru

__ADS_1


" Alhamdulillah kita sudah sampai"


Kata nenek Dian.


Setelah memarkirkan mobil ketepi jalan kami berempatpun segera keluar menuju rumah tersebut


Setelah nenek Dian membuka kunci


" Nak yok masuk dulu kerumah"


Ajak beliau.


Kamipun turun dan menumpang shalat magrib disana


Setelah usai shalat mas Nathan ijin keluar sebentar bersama Dian.


Sementara mereka pergi nenek menceritakan tentang kehidupan mereka hingga terjadi kecelaka'an tersebut,


Kamipun sempat bertukar nomor Hp masing-masing.


Tak berapa lama mas Nathan dan Dian kembali dengan membawa kantung kresek yang berisi beberapa buah nasi kotak


Ahirnya kamipun makan malam bersama dengan nenek dan Dian


Setelah shalat isya dan menidurkan Dian kamipun berpamitan pada nenek untuk kembali kerumah


" Jangan jera ya nak mampir


kesini"


Kata nenek Dian.


" Gak nek, in shaa Allah


kalau ada waktu kami bakalan


sering nengokin nenek


sama Dian"


Kata mas Nathan sambil menggandengku melangkah menuju mobil


" Assalamualaikum"


Pamit mas Nathan .


" Wa alaikumssalam!


Hati-hati dijalan nak


kalu dah sampai kabari ibu ya"


Katanya


" Iya bu"


Jawabku.


Mobilpun melaju dijalan raya hingga tak terasa kami sudah mulai memasuki kawasan perumahan dimana kami tinggal


Dari kejauhan nampak lampu dirumah kami sudah menyala terang.


" Siapakah gerangan


, yang menyalakanya?


Apakah tetangga atau


yang mereka gosipkan


tadi pagi itu bener?


Ah sudahlah


yang penting dia tak


mengganggu kami"


Bisik hatiku


Ahirnya mobil kamipun sampai kerna pintu pagar sudah terbuka lebar jadi kami langsung masuk kepekarangan


Dengan tenangnya mas Nathan mengajaku masuk kedalam rumah yang ternyata juga tak terkunci


Ketika pintu terbuka alangkah terkejutnya aku melihat tatanan rumah yang telah berubah sekejap mata


" Gimana sayang, dedek sukakan?"


Kata mas Nathan.


" Jadi mas yang bikin semuanya?"


Tanyaku.

__ADS_1


__ADS_2