Menanti Pelangi

Menanti Pelangi
Membikin martabak sayur


__ADS_3

Setelah menyapu dan pel seluruh ruangan akupun mencuci baju dan menjemurnya di tempat yang sudah tersedia buat jemuran


Setelah semuanya selesai kerna merasa tak ada lagi yang kukerjakan ahirnya aku duduk santai di teras melihat-lihat orang yang hilir mudik didepan sana


Saaayuuur-saaayuuur


" Saayuuur!"


Teriak tetangga diseberang rumah kami


Abang sayurpun berhenti tepat didepan pagarku dan para tetangga pun satu persatu datang memilih-milih sayuran


Melihat itu akupun masuk kedalam dan mengambil selembar uang pemberian mas Nathan tadi


Dan bergegas kembali keluar


Akupun melangkah menuju pagar


Dari kejauhan ku dengar mereka bergosip.


" Rumah ini ahirnya laku juga ya"



" Alhamdulillah dah laku dan


ada yang menempati


jadi kami tak lagi merasa


ketakutan"



" Bener bangat yang kamu kata


itu Tin, aku aja yang kadang


gak sengaja lewat sering kali


mendengarnya"



" Sudah-sudah, tu orangnya datang!


Jangan sampai gara-gara


omongan kita dia pindah dari sini


kan kita juga yang rugi"


Kata seorang ibu ketikaku sudah dekat dan ingin membuka pagar.


" Siang "


Sapaku


" Siang jua mba"


Jawab mereka ramah


" Mau beli sayur jua mba?"


Tanya si abang sayur padaku.


" Ya iyalah beli sayur, ebang ini


ada-ada aja "


Jawab seorang ibu.


" Iya bang aku mau beli


buncis sama sawi kol


seledri daun bawang


dan tahu serta tempe


adakan bang?"


Tanyaku sambil ikutan memilih-milih sayur


" Ada mba, silahkan pilih,


oh iya, mba


baru pindahan ya?"


Tanya abang sayur


" Iya bang , baru mulai tadi malam"


Jawabku


" Emang mba bakalan tinggal


disini berapa orang?"


Tanya ibu-ibu


" Cuma berdua sama suami mba"


Jawabku


" Penganten baru rupanya"


Tanya mereka.


Kujawab hanya dengan senyuman


" Kalau mba ada waktu senggang


mba bisa mampir kerumah,


kita bisa kumpul-kumpul


ngeteh bareng atau


masak-masak bareng"


Kata ibu yang rumahnya berseberangan dengan rumahkami.


" Iya mba, biar tambah rame"


Timpal yang lain.


" Iya mba, terima kasih"


Jawabku pada mereka.


" Ohya mba


kalau saya mau kewarung,


disini dimana ya?"


Tanyaku pada mereka.


" Oh warung, disitu mba!


kalau dari rumah mba kearah kiri


cuma terhalang lima buah rumah


termasuk rumah saya,


abistu mba belok ke kanan

__ADS_1


nah disitu ada mba,


disini orang-orang bilang


warung Udi mba,


kalau mba mau kewarung


sekalian mampir kerumah,


pintu rumah saya selalu terbuka


kok buat mba"


Jawab ibu yang berbaju kuning garis-garis.


" Terima kasih infonya mba,


in shaa Allah kalau ada waktu


saya bakalan mampir


ketempat mba"


Jawabku.


" Berapa bang semuanya"


Tanyaku pada abang sayur.


" Buncis tiga ribu


sawi seribu lima ratus


kol lima ribu


seledri dua ribu limaratus


daun bawang dua tiga ribu


tahu lima ribu serta


tempe tujug ribu mba"


Jawabnya sambil memasukan belanja'anku tadi kedalam kantung kresek.


" Bang uangnya"


Kataku sambil menyerahkan selembar uang merah.


" Waduh mba,


saya tak ada kembalianya,


ada yang kecil gak?"


Tanya si abang.


" Gak ada bang"


Jawabku.


" Saya ada kok,


mau tukaran sama saya mba?"


Tanyanya padaku sambil melangkah keseberang jalan memasuki rumahnya


Takberapa lama iapun kembali dengan uang yang ia janjikan tadi


kamipun ahirnya tukaran uang


Setelah itu acara tukar beli sayurpun usai dan kamipun bubar kembali kerumah masing-masing


Setelah meletakan sayuran dimeja akupun berangkat menuju warung yang ditunjukan ibu-ibu tadi


Setelah membeli minyak goreng mie instan telur tepung kecap saos dan bumbu dapur serta cemilan


Dan mulai memotong sayuran


Rencananya aku mau bikin martabak sayur buat makan siang kami nanti


Semoga saja mas Nathan suka


Ketika sedang asik memasak tiba-tiba


prang


Seperti ada yang melempar kaca dengan batu


Akupun buru-buru melihatnya namun tak terjadi apa-apa


Setelah itu akupun kembali sibuk memasak didapur


Ting tong


Tiba-tiba bel berbunyi


Akupun segera melangkah menuju pintu dan membukakanya


Ternyata mas Nathan sudah berdiri didepan pintu


Mungkin kerna keasikan memasak hingga tak mendengar suara mobilnya


" Assalamualaikum Sayang"


Sapa mas Nathan padaku.


" Wa alaikumssalam mas"


Jawabku sambil meraih dan mencium punggung tanganya dan dibalas dengan kecupan.


Selagi mas Nathan membersihkan diri setelah menyiapkan pakaianya


Aku kembali kedapur meneruskan masak


Setelah semua matang aku segera membawanya keruang maksn dan menata semuanya dimeja makan


Setelah selesai akupun segera memanggil mas Nathan kekamar


Untuk mengajaknya makan siang bersama


" Mas yok kita makan"


Kataku setelah dekat denganya


" Ayok sayang"


Jawab mas Nathan sambil menggandeng tanganku


Kamipun turun dan menuju keruang makan


" Wah rupanya ada martabak,


apa bidadari mas yang bikin?"


Tanya mas Nathan.


" Iya mas, tadi didepan ada


abang-abang sayur lewat


dan tetangga kita


yang diseberang sana


memanggilnya hingga


para ibu-ibu disini datang dan

__ADS_1


membelinya jadi dedek juga


kepingin ikutan beli mas"


Jawabku


" Alhamdulillah kalau mas suka"


Kataku lagi.


" Tentu saja mas suka sayang,


suka banget malah,


ini enak banget persis bikinan


alm nenek,


semenjak beliau meninggal


mas tak pernah lagi memakan


martabak se enak ini,


walau sering mas kangen


dan membelinya namun tak ada


yang bisa menandingi enaknya


bikinan beliau baru bikinan


dedek ini yang mas rasa persis


banget"


Jawab mas Nathan sambil mencocolkan martabak kesaos dan memakanya dengan lahap.


Setelah makan baru kami melaksanakan shalat zuhur berjama'ah


Seusai shalat dan berdo'a seperti biasa aku mencium punggung tanganya dan dibalas sebuah kecupan hangat.


" Sayang, dedek capek gak hari ini?"


Tanya mas Nathan padaku.


" Gak mas, emang kenapa?"


Tanyaku balik.


" Gak papa sayang,


mas cuma pingin ngajak


bidadarinya mas jalan-jalan


aja kok, mau gak dedek nemani


mas jalan-jalan?"


Jawabnya.


" Tentu aja mas, dedek mau"


Jawabku.


" Kalau gitu yok siap-siap


kita berangkat sekarang"


Kata mas Nathan.


Setelah bersiap-siap kamipun keluar dan masuk kedalam mobil setelah keluar pagar mas Nathanpun keluar dan menutupnya.


Tiba-tiba tetangga diseberang datang mendekat


" Mau kemana"


Sapanya berbasa basi.


" Mau jalan-jalan mba, mari"


Jawab mas Nathan ramah sambil kembali masuk kedalam mobil dan menjalankanya pelan


Setelah cukup jauh mobilpun berjalan normal melewati rumah-rumah penduduk hingga sampai kejalan raya mobil pun melaju


Setelah cukup lama ahirnya kami sampai disebuah taman hiburan disana kulihat banyak sekali pasangan muda mudi bahkan ada juga yang membawa bayi dan anak kecil


mereka terlihat sangat bahagia.


Rasa iri dihati ini tiba-tiba saja muncul.


" Andai saja pernikahanku


dan mas Nathan ini


bukan pernikahan sementara


pastilah aku juga akan


sebahagia mereka"


Kata hatiku.


" Dek yok kita duduk disana"


Ajak mas Nathan mengagetkanku.


Ahirnya kamipun duduk dibangku taman dekat penjual es krim dan balon


Mas Nathan membeli dua es krim coklat buat kami


Ketika sedang asik menikmatinya sambil sesekali bercanda tiba-tiba seorang anak laki-laki kira-kira berumur tiga tahunan mendekati kami


" Mama Papa ta es cem"


Katanya.


" Dedek cakep mau es krim ya?"


Tanyaku.


Yang dijawabnya dengan anggukan


" Dedek maunya es krim


yang mana"


Tanya mas Nathan pada anak itu.


" Dian mau colat meyun pa"


Jawabnya


"Bukan miongkan?"


Tanya mas Nathan sambil tertawa geli.


" Bucan pa"


Jawabnya lagi sambil cemberut.


Mas Nathanpun bangkit dan membelikan dua es krim sekaligus


Satu rasa coklat dan satunya lagi rasa melon dan menyerahkanya pada anak tersebut


Anak itu nampak bahagia sekali menerima es dari tangan mas Nathan


" Kacih pa"

__ADS_1


Katanya.


__ADS_2