
Menantu Dirumah Mertua
Hal yang menegangkan
"Apa sih, An, ganggu aja. Emang ngak lihat apa, aku lagi kerja?" ketus Mas saat aku menelponnya. Setelah tiga kali menelpon, baru ini diangkat oleh Mas Wawan.
"Mas, sepertinya aku mau lahiran, deh. Perutku sakit banget. Mas, bisa pulang sekarang kan?" Keluhku sambil menahan sakit.
"Ya, kan dirumah ada ibu. Minta tolong sama Ibu. Aku lagi kerja, jangan ganggu dulu lah," ujar Mas Wawan di sebrang sana.
"Mas, dirumah ngak ada siapa-siapa, tolong aku, Mas. Ibu pergi sama Mbak Meri tadi, sampai sekarang belum pulang," ucapku yang semakin menahan sakit di perut.
"Ya, salah siapa tadi kamu ngak ngomong sama ibu. Kalau ngomong kan pasti ibu bakal ngejaga kamu. Udahlah, tunggu saja ibu pulang! Aku masih sibuk!"
Tit.
Telpon dimatikan. Mas Wawan mematikan teleponku begitu saja. Mas Wawan benar-benar kelewatan. Disaat aku mau melahirkan seperti ini, dia talk peduli sama sekali denganku. Begitu juga ibu mertuaku yang sekarang entah kemana semenjak aku disini, ibu mertua sering pergi bersama Mbak Meri, kakaknya Wawan. Padahal dulu ibu mertua yang memohon padaku untuk tinggal disini ketika melahirankan, tapi sikapnya sungguh membuatku, miris. Nasib menantu dirumah mertua.
Aaaauuu....
Perutku semakin sakit dan semakin sering terasa sakit. Namun, aku tak boleh terdiam terus seperti ini. Sungguh, tragis sekali hidupku. Disaat mau melahirankan seperti ini, keluarga suami, dan bahkan suami sendiri tak peduli denganku. Dan sialnya, aku termakan bujuk rayu mereka.
Seeerrrr!
Rasanya ada yang merembes di bawah sini, hingga baju bawahku terlihat basah. Cairan apa ini? Aku mulai panik. Dengan menahan sakit di perut dan perih di hati, aku terus berpikir. Aku harus mendapat pertolongan. Aku tak mau terus terdiam diri seperti ini. Waktu terus berjalan bisa-bisa aku melahirankan disini sendirian.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, aku terus berjalan. Berharap ada yang melihat lalu menolongku. Namun sepertinya jalanan sepi, karena ini juga sudah menjelang malam. Aku benar-benar kalut, kemana lagi harus mencari pertolongan sedangkan perutku sendiri sudah semakin sakit.
Dengan rasa sakit yang mendera, aku mencoba turun dan berjalan tertatih menuju ke tempat Mbak Manda. Tetanggaku yang berada di depan rumah. Biarlah, kali ini aku mengganggunya. Yang penting aku mendapat pertolongan dengan segera. Rasa lega menyelimuti ketika sudah sampai di depan rumah Mbak Manda.
Tok tok tok!
__ADS_1
Aku mengetuk pintu dengan kencang, rasanya sudah kehabisan tenaga hingga tak bisa bersuara lagi.
Tok tok tok!
Aku kembali mengetuk pintu ketika tak ada suara yang menyahutnya dari dalam. Rasa bersalah ketika menghampiri, mungkin Mbak Manda sudah beristirahat. Tapi aku tak punya pilihan lain.
"Siapa, ya?" tanya seseorang dari dalam membuatku lega.
Krieet!
Suara pintu terbuka. Mbak Manda membulat. Mbak Manda panik melihatku yang sudah tak berdaya menahan sakit.
"Ya Allah, Mbak Anita mau melahirkan?" ujar Mbak Manda panik lantas menuntunku yang sudah tak berdaya ini untuk duduk di terasnya.
"Tolong saya, Mbak Man," ucpku dengan menahan sakit luar biasa.
"Ya Allah, Pak, cepat keluarkan mobil! Mbak Anita mau melahirkan. Cepat, Pak, kita ke rumah sakit sekarang!" titah Mbak Manda pada suaminya.
"Sudah, Mbak Man, tas perlengkapan bayi ada dikamarku," ucapku yang meringis menahan sakit.
"Mba Anita tunggu disini, biar aku saja yang ambil," ujar Mbak Manda lalu bergegas ke rumah untuk mengambil perlengkapan bayiku. Memang sudah jauh-jauh hari kusiapkan biar nanti tak gugup ketika mau melahirankan. Nyatanya terbukti sekarang.
Dengan langkah tergesa Mbak Manda menuntunku masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit. Mbak Manda menggenggam tanganku erat. Aku yang rasanya sudah tak kuat lagi bersandar sejenak. Lalu, lagi-lagi merasa ada yang merembes hangat dari bawah sini. Dan kali ini semakin banyak.
"Sabar, Mbak, kalau merasa sakit tarik napas lalu hembuskan. Agar sakitnya berkurang," ujar Mbak Manda sambil menggenggam tanganku.
Perutku sangat sakit luar biasa seakan ingin membelah jalanan yang kurasa pelan agar segera sampai ke rumah sakit.
"Cepat dikit, Pak, ksihan Mbak Anita,"
"Iya, Bu. Ini udah cepet," ujar suami Mbak Manda. Hingga akhirnya kita sampai di depan rumah sakit.
__ADS_1
"Maaf, Bu, Bu Anita sudah kehabisan air ketuban, dan detak jantung bayi juga sudah semakin melemah. Kami harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan ibu dan bayinya," ujar dokter pada Mbak Manda.
"Lakukan yang terbaik untuk Mbak Anita dan bayinya, Dok. Yang penting mereka semua selamat, setuju kan, Mbak Anita?" ujar Mbak Mnad meminta persetujuanku. Aku mengangguk lemah tanda menyetujuinya.
"Tolong temani aku, Mbak Man," ucapku dengan suara bergetar.
"Mbak Anira jangan takut, ya," ucap Mbak Manda menguatkanku. Lalu beberapa perawat memindahkanku ke dalam ruangan yang dingin dan tangan ini tak lepas dari genggaman tangan Mbak Manda.
Sungguh, rasa sesak menyeruak di dalam sini ketika menyadari bahwa suamiku tak peduli ketika aku dan bayinya berada di antara bidup dan mati seperti ini. Padahal ini adalah anak pertama kami.
****
~Pagi hari~
"Mbak, coba lihat,anaknya cantik banget. Mirip sekali dengan Mbak Anita," ucap Mbak Manda sambil menggendong bayiku.
Aku lantas menggendong dan menimang bayiku. Benar kata Mbak Anita, bayiku terlihat bersih dan cantik. Matanya yang lentik dan alisnya yang tebal, benar-benar menjadi pelipur laraku saat ini. Rasanya bahagia sekali melihatnya, seakan semua beban hilang melihat wajah mungilnya.
"Selamat ya, aku ikut senang. Semoga nanti Galih segera mempunyai adik, cantik seperti bayi Mbak Anita," ucap Mbak Manda membuatku tersenyum. Galih adalah anak Mbak Manda. Umurnya sudah menginjak 7 tahun, sehingga Mbak Manda pun ingin segera memberikan adik untuk Galih. Agar Galih tak kesepian katanya.
"Mbak Man, makasih banyak ya, Mbak Manda udah menemaniku semalaman," ucapku haru. Tak terasa air mata menetes begitu saja. Punya suami, serasa tak punya suami. Bersyukur masih punya tetangga sebaik Mbak Manda yang menolongku sampai aku melahirkan. Bahkan menemaniku menginap semalam disini. Suami Mbak Manda pulang semalam kerena harus menemani Galih, anaknya yang sendirian dirumah.
"Mbak, semalam bapaknya Galih menelpon. Katanya setelah pulang dari sini, suami langsung mengabari mertuanya Mbak Anita. Namun mertuanya Mbak bilang, kesininya besok saja. Karena sudah ada saya yang menjaga Mbak Anita."
Hatiku semakin perih mendengar ucapan Mbak Manda. Kenapa ibu mertua memohon padaku untuk melahirkan di rumahnya waktu itu jika kejadiannya seperti ini.
Krieeet!
Pintu nampak terbuka, hingga seseorang datang lalu mendekat ke arahku.
"Duh, Anita, kok bisa sih kamu melahirkan secara sesar? Kan ibu sudah bilang, usaha dulu biar bisa normal. Kamu males ngeden ya? Maaf ya Mbak Man, Anita sudah menyusahkan Mbak Man. Emang Anita ini orangnya rada malaes," ucap ibu mertua yang baru datang, lalu nyerocos seperti itu.
__ADS_1
Mbak Manda nampak tak enak denganku mendengar ucapan Ibu mertua. Tanpa sadar tanganku mengepal, bagaimana bisa ibu mertua berkata seperti itu sedangkan menemaniku saja tidak. Napasku pun ikut naik turun dibuatnya.