Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab: 8


__ADS_3

POV WAWAN


Aku masih memantungdi tempat ketika Anita berlalu dari hadapanku. Anita sekarang memang tak bisa dianggap remeh. Uang dari penjualan emas kemarin hampir habis dipakai untukb Anita sendiri. Padahal nilainya lumayan besar, 15 juta hampir habis dalam hitungan hari. Bahkan belum genapj tiga hari.


"Wawan, Ibu mau jalan-jalan dengan Meri menggunakan mobil baru. Ibu minta uang dong," Pinta Ibu menadahkan tangannya.


Ah, kenapa semua orang jadi menyebalkan seperti ini, sih. Tadi Anita, sekarang Ibu. Tak bisakah akutenang sedikit saja.


"Uangku habis, Bu, buat biaya Anita."


"Yaudah kalau gitu, balikin emas-emas Ibu!"


Mataku melotot mendengar ucapan Ibu. Begitu juga Mbak Meri yang nampak mendelikkan mata. Tak bisakah Ibu mengerem mulutnya? Kurogoh kantong lantas mengeluarkan selembar warna merah pada Ibu, namun mukanya masih masam.


"Kok selembar? Tadi Anita dua lembar lo."


"Aku capek, Bu, mau pulang!" ketusku sambil berlalu meninggalkan Ibu.


"Wawan!"


Ibu masih memanggilku namun aku tak opeduli. Kulaju motor dengan kencang untuk pulang ke rumah. Lebih baik aku nongkrong dulu untuk menenangkan pikiran. Daripada pulang, malah lebih pusing melihat Anita sialan itu.


Memang sialan, nyatanya uang sebanyak itu habis dalam waktu tiga hari saja, dan itu semua hanya untuk Anita.


Nongkrong di mall besar seperti ini adalah tempat favoritku ketika suntuk. Banyak wanita cantik yang berjalan di depan, membuat mata ini segar kembali. Tidak seperti Anita yang kucel dan kusam, membuatku enek melihat mukanya.

__ADS_1


"Hay, Mas, sendirian saja," ucap wanita cantik yang tiba-tiba menghampiriku. Tuh kan, baru nongkrong sebentar sudah ada yang mendekati. Memang pesonaku ini sangat luar biasa, hingga cewek secantik di depanku ini mendekatiku.


"Iya nih, lagi galau. Habis diputusin, sama pacar,"kilahku.


"Hem, lagi putus cinta toh ternyata, cewek kan banyak Mas. Mati satu tumbuh seribu, lah," kekehnya sembari meletakkan dagangannya di meja. Oh, ternyata dia seorang SPG rokok.


"Soryy, aku tipe setia."


"So sweet banget sih, Mas. Pasti beruntung nanti yang jadi pacarnya," puji wanita itu yang semakin membuatku jumawa. Nanti aku hanya tersenyum menaanggapinya. Jual mahal itu perlu, apalagi di depan wanita cantik seperti ini.


"Aku permisi dulu." Aku beranjak dari kursi. Namun sebelum pergi, ku kedipkan sebelah mataku hingga wanita itu melonggo. Pasti hatinya sedang kejang-kejang. Biarlah, siapa suruh mendekati Wawan Prayoga. Susah kan, melawan pesonanya.


**********


Saat ku buka pintu, rumah tampak sepi sekali. Ibu dan Mbak Meri masih jalan-jalan sehingga Anita dan bayinya sendirian dirumah. Bayinya? Bayinya Anita kan bayiku juga, tapi sikapnya yang sangat menyebalkan membuatku sangat malas menyentuhnya.


Ku buka pintu kamar, nampak bayi yang tengah tertidur pulas. Dimana Anita? Tak lama terdengar suara orang cekikikan di kamar mandi. Itu pasti dia. Tapi sama siapa?


Mataku tercengang melihat pemandangan yang ada di depan mata. Tanganku mengepal kuat. Benar kata Ibu, selain menyebalkan dia juga suka membuat orang susah.


"Anita! Jangan kurang ajar jadi orang. Masa kamu menyuruh orang lain mencuci bajumu sendiri. Dasar songong!" ucapku yang terdengar sangat lantang.


Anita dan Mbak Manda menoleh secara bersamaan. Aku marah karena kali ini, Mbak Manda yang lagi-lagi direpotkan oleh Anita. Kapan Anita berhenti merepotkan orang?


"Maf, Mas Wawan, aku membantu Mbak Anita atas kemauanku sendiri. Tolong jangan dimarahi Mbak Anitanya, Mas. Kasihan," ujar Mbak Manda yang berusaha membela Anita.

__ADS_1


"Bukan begitu, Mbak. Memang ANita ini dari kemarin suka merepotkan orang, Mbak. Biar Anita sendiri yang mencucinya, itu memang tugas dia kok, biar dia ngak manja juga," ucapku pelan pada Mbak Manda. Namun Mbak Manda malah menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin merasa tak enak jika harus meninggalkan Anita sendirian. Dasar Anita sialan, bisanya cuma memanfaatkan, kebaikan orang lain saja.


"Mbak, udah biar aku aja nanti yang nyuci." Anita berkata seolah membantu Mbak Manda. Cih! Muka modusmu ini bikin muak, Anita.


"Gapapa bir saja, Mbak Anita, ini udah mau selesai juga. Mas Wawan, nanti minta tolong ya jemurin baju ini. Kasihan Mbak Anita lo, kalau dia yang jemur."


Ya salam, apa-apaan Mbak Manda ini. Menyuruhku menjemur baju? Hal yang belum pernah aku lakukan selama menikah dengannya. Anita nampak cuek dengan permintaan Mbak Manda padaku. Pasti senang kan mendengar ucapannya, dasar, manja. Tak sudi aku menjemur bajumu.


"Mbak, sepertinya tadi Galih nyariin deh. Soalnya aku lihat dari tadi mondar-mandir di depan rumah!" kilahku yang sengaja berbicara seperti itu pada Mbak Manda. Jelas aku berbohong agar Mbak Manda cepat pulang dari sini, aku tak pernah melihat Galih- anaknya Mbak Manda, apalagi mondar-0mandir di depan rumah.


"Mbak, kasihan Galih. Mbak pulang dulu aja,"


"Perasaan Galih lagi ngaji, masa iya sudah pulang?" Mbak Manda curiga.


"Tapi aku cek dulu deh. Mbak Anita, aku tinggal dulu ngak papa ya. Mas Wawan, minta tolong nanti ini di jemur," Pintanya menunjuk cucian yang sudah selesai, lantas beranjak dari kamar mandi dan pulang dengan tergesa.


"Ya," ucapku yang hanya untuk menghargai Mbak Manda saja.


Setelah memastikan Mbak Manda sudah tak berada disinib. Lantas aku menghampiri Anita yang sedang mencuci baju. Aku masuk ke kamar mandi temapat Anita, lantas mengangkat ember berisi baju yang sudah dicuci oleh Mbak Manda. Anita sempat melirik sekilas, namun kembali berkutat dengan cuciannya. Jangan kepedeaan kamu, Anita.


Bruugh!


Kutumpahkan semua cucian yang sudah bersih ke lantai kamar mandi dengn kasar, hingga berserakan dimana-mana. Anita nampak mendelikkan mata melihat bajunya yang sudah berada di llantai. Hahaha ... makanya jangan sok pinter di depanku, Anita. Lihatlah, dirimu sedang tak berdaya seperti ini, bisa apa jika aku membalasmu sedikit saja.


"Bersihkan lagi, atau kamu kulaporkan ke pilisi sekarang juga!" ancamnya lantang dengan suara bergetar. Dia nampak memegang perutnya seperti menahan sakit. Aktingmu tidak akan mempan dihadapanku, Anita. Setelah semua orang kau bohongi dengan wajah polosmu, kamu pikir bisa mengelabuhiku. Maaf, aku tidak terpengaruh sedikitpun. Setelah puas membalaskan kekesalanku, lantas aku pergi meningggalkannya.

__ADS_1


"Terserah kamu kalau tak mau membereskan, Mas. Tinggal aku foto ini buat bukti dan surat perjanjian kita kemarin, sudah bisa membuat kamu membusuk di penjara!" ucapnya santai.


Aku mengepalkan tangan dengan kuat. Rupannya surat perjanjian kamarin dia gunakan senjata untuk melawanku. Kurang ajar sekali kamu, Anita. Bagaimana bisa aku membalas rasa sakit hatiku dia berpegangan kertas itu kuat-kuat. Aku harus melakukan sesuatu.


__ADS_2