Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab: 3


__ADS_3

Katanya menjenguk, tapi?


"Mbak Anita, sudah ada Ibu. Saya permisi pulang dulu ya," ujar Mbak Manda.


"Makasih banyak ya, Mbak. Entahlah, kalau ngak ada Mbak Man ngak tahu nasibku gimana. Cuma Mbak Man yang baik padaku saat ini," ucapku yang sengaja menyindir Ibu mertua. Entahlah, Ibu merasa atau tidak, mendengar ucapanku Ibu mertua mendelik matanya.


"Sekali lagi, maaf yan Mbak Man. Memang Anita ini sukanya ngerepoti oang terus. Pdahal sudah tak bilangin belajar mandiri, eh malah ngerepoti Mbak Man di rumah!"ujar Ibu enteng.


Sungguh, aku bingung dengan pemikiran Ibu mertua saat ini. Kalu aku dianggap beban kenapa memintaku untuk melahirkan di rumahnya? Kenapa tak membiarkanku dikontrakan saja, toh aku juga lebih senang tinggal di kontrakan ketimbang sama Ibu yang banyak huru hara.


"Ah, ngak repot, Bu, justru saya senang bisa membantu Mbak Anita. kalu gitu, saya permisi dulu ya, Bu," ujar Mbak Manda.


Namun sebelum Mbak Manda beranjak keluar, ia semlatkan untuk menengok bayiku sebentar lantas berlalu menuju keluar.


Lihatlah, Mbak Manda saja merasa sayang sekali dengan bayiku, padahal orang lain. Tapi melihat Ibu mertua yang seperti ini, sepertinya peduli dengan bayiku saja tidak. Padahal cucu kandungnya.


"Bu ini benar nama bayinya?" tanya Suster yang masuk keruanganku, lalu menyodorkan kertas bernama bayiku. Sania Bhaskara, adalah nama yang kusematkan untuk bayiku.


"Iya benar, Suster," ucapku. Lalu Suster itu belalu membawa catatan nama bayiku.


"Anita, kamu sudah memberi nama untuk bayimu. Kenapa ngak nunggu Wawan untuk memberinya nama?" ucap Ibu mertua meleotot ke arahku.


"Mas Wawan mana sekarang, Bu? Mas Wawan saja tak peduli sama anaknya, kok," ucapku mengimbangi suara Ibu hingga terasa nyeri disini. Mungkin bekas sayatan operasi semalam.


"Jangan manja kamu, Anita. Belajar mandiri, apalagi kamu punya anak. Jadi, belajarlah mengurus diri sendiri dan bayimu!" ucap Ibu mertua tajam.


"Baiklah, jangan salahkan aku kalau aku memberi nama anakku sendiri tanpa melibatkan Mas Wawan. Dan satu lagi, Bu, kalau Ibu menyuruhku mengurus diriku sendiri, untuk apa Ibu menyuruhku tinggal di tempat Ibu?" ketusku geram pada Ibu.

__ADS_1


Aku yang masih tak berdaya, baru selesai melahirkan semalam. Menengok anakku pun tidak, malah mengajak berdebat denganku. Menyesal sekali aku menuruti permintaannya.


"Aku hanya tak ingin, anakku Wawan kesusahan membayar kontrakan Anita. Aku tak ingin anakku susah gara-gara kamu!"


"Dan Ibu mengunakan alasan itu agar bisa mengambil hak-ku sebagai istri Mas Wawan. Dengan begitu semua gaji Mas Wawan bisa berada ditangan Ibu tanpa melibatkan aku, istrinya. Begitu kan maksud Ibu?"


Lancang sekali kamu, bicara seperti itu sama Ibu!" Terdengar suara seseorang yang baru datang, membuatku tercengang melihatnya.


Ibu nampak sumringah mendapati anak laki-lakinya mendekat ke arahnya. Tatapan tajam mengarah padaku, seakan ingin menelanku hidup-hidup.


Namun aku ta gentar sama sekali. Selama ini aku sudah banyak mengalah dngan keluarganya, namun seperti ini balasannya. Selama tiga bulan aku tinggal di rumah mertua, tak sepeserpun Mas Wawan memberiku nafkah untukku. Semua gajinya diberikan utuh untuk Ibu. Alasanya karena semua kebutuhan sudah dijamin sama Ibu, jadi aku tak perlu memegang uang lagi. Itu yang opernah diucapkan oleh Mas Wawan ketika aku protes sikapnya.


Aku berusaha sabar. Karena kupikir, semua itu akan berubah setelah adanya anakku nanti. Mereka pasti akan menyayangi anakku, karena bagi Mas Wawan ini anak pertama dan cucu pertama buat Ibu. Karena Mbak Meri belum dikaruniai keturunan sampai sekarang. Namun, pikiranku salah, ternya Ibu mertua hanya menginginkan uang Mas Wawan saja.


"Kenapa kamu larinya kesini, ngelahirin sesar lagi! Emang kamu ngak mikir, biayanya disini sangat besar. Ini rumah sakit besar, An, sesar lagi, duh kamu ini ya!" geram Mas Wawan dengan pelan.


Tok tok! Permisi.


Dokter dan beberapa perawat masuk ingin memeriksa keadaanku. Sehingga Ibu dan Mas Wawan langsung terdiam dan tak mendongeng lagi. Lantas memeriksa keadaanku dan mengontrol bekas jahitanku.


Salah satu suster menggendong bayiku dengan gemasnya. "Bu, Bayinya cantik banget sih, gemes ih," ucap suster tersebut.


"Ya iyahlah, Ibunya aja cantik, ya, Dek," ucap suster yang lain, hingga membuatku tersanjung. Sepertinya hanya keluarga suamiku yang tak menginginkan bayiku.


"Jahitan ibu Anita sudah bagus, kondisinya juga sudah mulai stabil. Tetap dijaga jahitannya ya Bu. Dan jangan pegang yang berat-berat dulu," ucap dokter ramah.


"Coba ulang Dok, kata-katanya agar suami dan mertua saya dengar," ucapku sengaja. Agar Ibu dan Mas Wawan tak menyepelekanku terus.

__ADS_1


Muka Dokter nampak binging, lantas tersenyum dan menjelaskan. "Iya, Mas, Bu, kalau melahirkan sesar itu ngak boleh megang berat-berat. Ntar takutnya ada pendaharan di bekas jahitanya, dijaga ya, Bu Anitanya," ucap Dokter ramah.


Aku tersenyum puas ke arah mereka. Namun muka keduanya nampak sekali menahan kesal. 'Kalian salah kalau menggangap Anita terlalu remeh, aku akan melawan kalian dengan caraku sendiri,'Batinku pada mereka.


Tak lama setelah itu, dokter berlalu meninggalkan kami. Aku yang melihat muka mereka yang menahan kesal, pura-pura tak peduli dengan mereka. Lebih tepatnya, pura-pura bego dan merapatkan selimut untuk istirahat.


"Anita, jangan tidur dulu. Aku belum selesai ngomong!" sungut Mas Wawan pelan namun nadanya mengancam.


"Mas, kamu datang kesini, itu sebenarnya untuk apa sih? Anakmu saja belum kamu tengok sama sekali, udah ngajak ribut saja. Kalau mau ngajak ribut, kamu salah tempat. Mau aku laporin satpam buat ngusir kamu?" ucapku kesal.


Sebenarnya rasa hati ingin bodo amat, tapi sikapnya benar-benar membuatku geram. Entahlah, kenapa dulu aku mencintai laki-laki seperti dia. Lihatlah, napasnya masih memburu. Bukannya berpikir tapi hanya marah yang menjadi andalan.


Tok tok! Permisi.


Suara seorang perawat mengagetkan kami yang sedang berdebat.


"Maaf, Pak, Bu, ini obat yang harus diminum oleh Bu Anita. Tadi ada pesan dari bagian adminitrasi untuk memanggil keluarga Bu Anita. Permisi." ucap perawat itu sambil berlalu meninggalkan kami.


Muka Mas Wawan menegang. Namun kali ini aku bodo amat. Biarlah dia pikirkan sendiri.


"Kamu harus membayar tagihan sendiri, Anita. Karena kam yang meminta masuk kesini," ucap Mas Wawan dengan geram luar biasa.


"Mas, kamu lupa, uang tabunganku yang pernah kamu pinjam, belum pernah kamu kembalikan. Pake uang itulah, karena waktu itu kamu janji jika aku melahirankan nanti akan kamu kembalikan." ucapku lalu melengos membuang muka. Kulirik Ibu, nampak sekali mukanya menahan kesal. Begitu juga dengan Mas Wawan. Biar saja, memang kenyatanya seperti itu.


Teringat waktu itu Mas Wawan meminjam tabunganku untuk merenovasi dapur Ibu. Uang lima juta bukanlah jumlah sedikit untukku yang susah payah ku sisihkan untuk biaya persalinan. Namun aku memberikannya ketika Mas Wawan berjanji akan mengganti uangku. Sekarang, nikmatilah, Mas!


******

__ADS_1


__ADS_2