
Dendam mengintai
Aku membuang muka ketika mata ini bersirobok dengan mata Rusdi. Nampak sekali tatapan mendendam e arahku. Namun aku harus tetap terlihat tenang di depan mereka semua. Walaupun tak kupungkiri, jangtungku berdetak sangat cepat memikirkan nasibku sendiri disini. Semoga Allah selalu melindungiku dari psikopat seperti Rusdi.
"An, aku pulang dulu bawa Sania. Sepertinya terlalu berbahaya jika Sania disini. Kamu hati-hati dengan suaminya Mbak Meri, An. Sepertinya dia menyimpan dendam setelah kamu berucap seperti tadi," Mbak Manda berbisik padaku.
"Ya, Mbak Manda pulang aja bawa Sania. Tenang, mereka tak akan berani macam-macam, Mbak, ada Bude Indri disini," bisikku pula pada Mbak Manda.
Mbak Manda berlalu meninggalkan tempat ini membawa Sania. Memang saat ini Sania tidak aman jika terus berada disini. Aku takut sewaktu-waktu mereka menyerang anakku.
"Tunggu, Mas! Aku mau ikut denganmu."
Ibu mertua nampak tercengang mendengar ucapan Mbak Meri. Ia begitu panik ketika melihat Mbak Meri beranjak dari duduknya. Dan Mbak Meri pun masuk ke kamar dengan tergesa.
"Meri, jangan pergi, Meri. Jangan tinggalin Ibu disini, hmmm..." Ibu berusaha menahan Mbak Meri sambil menangis, tapi Mbak Meri tetap kekeh ingin mengikuti Rusdi. Dan lagi-lagi, Rusdi tersenyum miring melihat Mbak Meri yang masih tunduk padanya.
"Mbak Indri, tolong bujuk Meri, Mbak," Ibu mertua kini kembali merayu Bude Indri. Namun Bude Indri langsung membuang muka.
"Aku tak mengerti jalan pikiranmu, Ririn. Anakmu telah dirusak oleh suaminya sendiri, namun kamu tak bisa mengambil tindakan. Ibu macam apa kamu?" ujar Bude Indri tajam.
Ibu mertua menangis mendengar ucapan Bude Indri. "Aku hanya ngak mau Meri pergi, Mbak, hiks hiks..."
"Ayo, Mas, aku sudah siap," ucap Mbak Meri dari arah sana. Kami semua menoleh ke arah Mbak Meri yang sudah siap pergi dengan kopernya. Namun tidak dengan Bude indri. Mungkin saking kecewanya sampai Bude tak mau menatap Mbak Meri.
"Meri, jangan tinggalin Ibu, Meri. Tolong berhentilah, Meri," Ibu meraung menangis sambil berusaha mengejar Mbak Meri.
Namun hati Mbak Meri sepertinya tak tersentuh sama sekali dengan tangisan Ibu. Ia tetap memilih jalan beriringan di sebelah Rusdi, suaminya yang menjijikan itu.
Bude membuang muka saat Mbak Meri dan Rusdi lewat di depannya. Namun jantungku terpacu cepat ketika mereka berpapasan denganku. Jalan Rusdi kian melambat saat berada di dekatku.
__ADS_1
"Tunggu pembalasanku, Anita!" Rusdi berbisik lirih, mukaku menegang mendengar ucapanya yang bernada ancaman itu. Rusdi mengancamku?
"Meri, hmm ... mengapa kamu lebih memilih Rusdi, Meri. Hmm ... mau tinggal dimana kamu sekarang? Mau tidur dimana kamu setelah ini, Meri, hmm..."Ibu menangis memikirkan kepergian anaknya.
Badanku seperti membeku mendengar ancaman Rusdi. Kalau dia bisa memperdaya istrinya sendiri seperti itu, apalah aku yang hanya orang lain? Apalagi sudah merusak rencana jahatnya.
Kini Mbak Meri dan Rusdi telah keluar dari rumah ini. Entah dimana nanti mereka tinggal, yang jelas, Rusdi pun tak punya pekerjaan untuk menghidupi mereka sendiri. Kenapa Mbak Meri tak memikirkan sejauh itu? Entahlah, mungkin akan kenyang dan nyaman selama berada di bawah ketiak Rusdi.
****
POV WAWAN
"Mas, anterin aku pulang dong, dah malem nih."
"Bukannya kamu terbiasa pulang malem. Jangan lebay, kamu yang mendekatiku kesini tapi pulang minta dianterin!" Sungutku pada Luna.
Saat ini aku tengah menghabiskan waktuku di cafe hanya sekedar nongkrong untuk menghibur hati. Malas sekali pulang karena harus melihat Anita yang menyebalkan. Aku juga menghindari Ibu yng pasti akan terus menanyakan uangnya. Semenjak Anita melahirkan, dia memang berubah menjadi sangat menyebalkan sekali. Semua masalah memeng berawal dari Anita sialan itu. Dan sekarang semakin rumit membuatku malas untuk pulang kerumah. Dan kini dengan ditemani Luna, ak menghabiskan waktuku di cafe ini. Luna sendiri yang menghampiriku karena dia tahu ini adalah tempat favoritku.
"Yaudah, ayo," ucapku malas.
Dengan tersenyum sumringah, Luna mengambil tasnya, lantas beranjak dari kursi duduknya. Dengan malas aku pun berjalan beriringan dengannya. Namun, kami berpapasan dengan Pak Alex yang entah dari mana. Sial, kenapa bisa bertemu Pak Alex disini sih. Mana Pak Alex pernah melihat Anita lagi, bisa turun deh pamorku yang bergelas suami sayang istri.
"Pak," sapaku pada Pak Alex dengan tersenyum. Namun sial, Luna malah ngelendot di lenganku. Dan aku tersenyum kikuk ke arahnya.
"Ya, Pak Wawan," Pak Alex nampak mengeryitkan mata melihat perempuan disampingku. Sial memang, kenapa jadi kepergok gini sih.
"Yaudah, saya duluan, Pak," pamit Pak Alex dengan tersenyum kikuk. Lantas belalu meninggalkan kami berdua.
Setelah mengambil motor di parkiran, lantas meluncur mengantarkan Luna pulang. Tempatnya memang tak terlalu jauh dari cafe tempat nongkrong, pantes saja Luna sering berada disitu.
__ADS_1
"Makasih, Mas, ngak pengen mampir dulu gitu. Ngopi dulu mungkin," tawar Luna. Sepertinya dia ngekos sendiri disini. Nampak kos-kosan berjejer rapi disebelahnya.
'Kamu ngak lihat ini udah malem, udah sana masuk. Aku mau pulang!"
"Kosan kamu ada kamar mandinya ngak?" tanyaku. Saat ingin menacap gas tiba-tiba ada yang mendesak dari sini dan harus segera dikeluarkan.
"Masuk aja," ucapnya. Lantas aku bergegas masuk setelah Luna membuka pintunya.
Saat keluar dari kamar mandi, Luna menabrakku dan langsung memelukku. "Mas ada tikus disitu, aku geli!"
"Jangan lebay deh, mana ada tikus disini!" Sinisku yang kaget dengan reaksi Luna. Namun Luna malah semakin menjadi, dan aku kehilangan keseimbangan hingga kami berdua jatuh berguling tepat di karpet bulu di depan TV Luna.
Posisi Luna kini berada dibawahku, hasrat dan nuraniku bangkit hingga aku pun tak ingin beranjak. Lalu terjadilah apa yang seharusnya tak terjadi. Ya, LUna sendiri yang menawarkannya padaku dengan berbagai modus. Dan aku lelaki normal, tak mungkin ku sia-siakan yang ada di depanku ini.
****
Aku mengerjab pelan membuka mataku sial, ternyata aku ketiduran stelah semalam bergemelut dengan Luna disini. LUna masih tidur pulas di sampingku dengan tanpa sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Kuraih baju yang masih berserakan di lantai, lantas mengenakannya dengan cepat.
Hatiku mencelos mengingat kejadian semalam. Luna ini belum menikah, tapi sudah blong saat melakukannya denganku. Aku memang tidak mencintainya, tapi tetap kecewa setelah mengetahuinya. Entahlah, aku laki-laki ke berapa yang sudah tidur dengannya.
Kulirik jam dinding, menunjukkan pukul 03:30 pagi au harus segera puleng. Ada beberapa panggilan dari Ibu yang sengaja ku abaikan. Palingan menanyakan dimana keberadaanku.
"Mau pulang, Mas?" tanya Luna yang baru bangun.
"Hu'um,"
"Kok buru-buru," ucapnya. Sembari memungut bajunya yang berserakan, lantas memakainya dengan tergesa.
Aku tak memperdulikan pertanyaan Luna. Kutinggalkan dia yang masih mematung di tempat, lantas keluar menuju motor. Dan segara menacap gas dengan menembus hawa dingin yang terasa menusuk kulit.
__ADS_1
Rumah masih sangat sepi, aku langsung masuk membuka pintu dengan kunci cadangan. Namun baru sampai di dalam aku terkejut oleh Bude Indri yang terlihat sangat panik. Ini masih pagi, kenapa Bude Indri terlihat spanik ini?