Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab: 6


__ADS_3

Bab: 6


POV WAWAN


Nafasku menderu saat Anita memberikan kertas berisi surat perjanjian untukku. Jelaslah itu sah dimata hukum, jika terbubuh tanda tanfgan diatas materai. Ternyata aku masih kalah licik dengan Anita. Aku tak menyangka kalau orang yang dulu lugu dan penurut, kini berubah menjadi licin seperti belut.


Ternyata Anita memang tak main-main dengan ucapnnya. Setelah ada pemberitahuan dari Suster tentang kepulangannya hari ini, dia berkemas sendiri, dan tak sedikitun melirik ke arahku.


Tok tok!


Permisi, maaf Pak, ditunggu di ruang adminitrasi sekarang. Masih ada yang belum diselesaikan,"ucap seorang suster yang baru datang tersebut.


"Apalagi?"


"Saya hanya menyampaikan pesan, Pak. Untuk lebih jelasnya, silahkan bertanya langsung pada yang berjaga. Permisi!" ucap Suster tersebut, lantas keluar dari ruangan ini.


Aku melirik tajam ke arah Anita. Namun sepertinya Anita nampak cuek saja. Ia masih merapikan barang-barangnya. Lebih baik aku ke ruang adminitrasi dulu.


"Ada apa ya, Sus?" tanyaku setelah sampai di ruang adminitrasi.


"Ada tambahan biaya lagi, pak, ternyata Bu Anita menyewa tenaga tambahan untuk mengurus bayinya, dan keperluan-keperluan lainnya untuk kebutuhan Bu Anita juga bayinya. Jadi biaya yang harus Bapak bayar senilai 950 ribu."


Mataku membulat seakan tak percaya. Bagaimana bisa Anita menyewa tenaga tambahan? Tidak ini tidak bisa dibiarkan. SElain manjanya kebngetan, Anita sepertinya juga sengaja ingin memerasku.


Setelah membayar semua taggihan untuk Anita, aku lengsung bergegas menemuinya. Aku harus mendapat penjelasan darinya. Sungguh, aku tak terima jika uangku dihamburkan begitu saja. Bahkan aku harus menjual semua emas punya Ibu untuk melunasi semua tagihan di rumah sakit ini.


"Kriiieeeet!"


Ku tekan hendle pintu, lalu kubuka hingga terlihat jelas Anita sudah selesai berkemas. Anita sudah siap pulang dengan menggendong bayinya. Dia ditemani oleh seorang Satpam untuk membawa barang-barangnya. Cih! Lagi-lagi sifat manja yang dia perlihatkan padaku. Benar kata Ibu, Anita tetlalu manja. Menyesal sekali aku sempat tak mempercayai ucapan Ibu. Setelah menyewa seorng suster, kini giliran Satpam yang dimintai tolong. Sialan memang.


"Mau pulang keman, kamu?" tanyaku tajam.


"Kemana saja, yang penting tak ikut denganmu."

__ADS_1


"Jangan keluar dulu! Aku ingoin bicara."


"Bicaralah! Waktuku tak banyak."


Berani sekali ANita berkata seperti itu, kalau tidak ada satpam disamping kami, sudah kuremas mulutnya yang kurang ajar itu. Sudahlah kurang ajar, tal tahu diri lagi.


"Bisa, tinggalkan kamu berdua, Pak!" Pak Satpam mengangguk.


"Ngak. Tetaplah disini temani saya, Pak. Dia tempramental. Pak Satpam ngak mau kan terjadi apa-apa sama saya?"


Mata Pak Satpam membulat mendengar ucapan Anita. Tanganku menggepal kuat. Bagaiman bisa dia berkata seperti itu pada orang lain, sedangkan aku adalah suaminya.


"Maaf, Bu, rasanya tak etis sekali saya bnerada disini. Saya tunggu di luar saja," ucap Pak Satpam pada Anita. Aku tersenyum sinis ke arahnya.


"Tetap tunggu saya, Pak. Berjagalah di belakang pintu. Jika ada apa-apa, tolong segeralah kesini!" Pak Satpam keluar ruangan setelah mendengar ucapan Anita.


"Aku ini suamimu, kenapa kamu memperlakukan aku seperti musuh untukmu?" tanyaku tajam setelah Satpam berlalu dari sini.


"Lihatlah dirimu sekarang, Mas! Aku yakin kamu kesini hanya untuk marah-marah, bahkan sepertinya lebih dari itu!" ucapnya tenang dengan menggendong bayinya. Aku bahkan belum melihat wajah anakku seperti apa. Sudah kesal duluan melihat Anita, hingga malas jika harus menengoknya.


"Setelah kamu menguras habis uangku, kamu ingin pergi begitu saja. Sialan kamu! Kenapa kamu menggunakan jasa suster untuk mengurus bayimu?"


"Apa kamu ngak lihat kalau aku disini sendirian?" Pandai sekali dia berkilah, memang dasarnya manja.


"Kalu tak ada lagi yang ingin dibicarakan, aku permisi!"ucapnya sambil melangkah ingin meninggalkanku.


"Tunggu!"


Anita menoleh. Jangan kepedean kamu, Anita. Aku mencegahmu karena rasa sakit hati ini belum terbalaskan karena ulahmu.


"Aku akan membiarkanmu pergi. Terserah kamu mau pergi kemana, aku tak peduli. Asalkan kamu mengganti semua uang yang telah kukeluarkan untuk membiayaimu selama disini."


Mulut Anita terlihat menganga. Rasakan kau Anita. Sekarang mati kutu kan? Jelaslah kamu tak punya uang untuk menggantinya. Aku juga tak benar-benar menagihnya. Hanya mengancamnya agar dia tak pergi meninggalkanku. Enak saja main pergi seenaknya. Aku tak ingin menanggung malu lantaran istri pergi setelah melahirkan. Apa kata dunia nanti? Bisa jatuh martabatku dan hilang pamor ku nanti. Yang ada gelar orang terganteng dan terkeren bisa tergeser nanti.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menggantinya."


Kini giliran aku yang menganga. Uang dari mana dia?


"Tapi, setelah itu aku akan datang ke kantormu, mengatakan pada bosmu dan seluruh karyawan di kantormu, bahwa suamiku ini adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Menelantarkan istri dan anaknya hingga meminta ganti rugi atas biaya persalinan istrinya . Giman?"


Sialan! Lagi-lagi aku kalah taktik.


"Sebenarnya apa maumu, Anita?"


"Seharusnya aku yang bertanya, Mas. Apa maumu? Kalau kamu ingin memintaku tinggal di tempat Ibu, kamu harus menandatangani surat perjanjian kita."


"Tak mungkin aku memberikan seluruh gajiku untukmu, An. Kamu tahu aku membayar semua biaya disini kerena jual semua emas Ibu."


Anita tersenyum sinis, "Aku tak peduli, Mas. Dulu kamu berjanji di depan Bapak, untuk selalu membuatku bahagia dan memberi nafkah yang layak untukku. Selama tiga bulan aku tak mendapatkan nafkah darimu. Sekarang sudah ada anakku, jika kamu ingin mempertahankan ku, ikuti keinginanku. Kalu tidak, biarkan aku pergi. Aku tidak ingin mati bersama anakku di rumah Ibumu."


Sialan memang Anita. Kata-katanya sangat tajam. Tapi saat ini aku tidak punya pilihan lain, selain mengikuti maunya. Ibu? Biarlah, nanti dipikirkan lagi keinginan Ibu.


"Baiklah, akan kutandatangani surat perjanjian itu. Tapi aku tak mau Ibu atau siapapun itu, sampai mengetahuinya. Biar itu jadi rahasia kita berdua,"


Bisa ribet urusannya jika Ibu mengetahui isi surat perjanjian itu. Ibu tak akan terima perhiasannya dijual begitu saja.


"Tak masalah, asal kamu bisa menjamin aku dan anakku tak ada yang menyakitiku disana."


"Oke. Mana kertasnya?"


Anita mengeluarkan kertas dengan senang. Jangan merasa menang dulu, kamu Anita. Ini hanya permulaan, tunggu renanaku selanjutnya.


"Krieeettt!"


Tewrdengar suara pintu berderit hingga kami menoleh bersamaan. Ibu datang dengan Mbak Meri bersama suaminya. Mungkin sengaja menjemput kami. Untung kertasnya sudah disimpan sama Anita. Bisa mati aku, di depan mereka.


"Udah mau pulang kan, Wan. Ayo pulang!" Ajak Ibu sumringah. Mobil Mbak Meri bari mungkin kesini menggunakan mobilnya. Makanya Ibu terlihat sumringah seperti sekarang. Semoga Ibu lupa dengan emasnya yang sudah kupakai kemarin.

__ADS_1


"Duh maaf ya, An, mobilku kan baru. Sedangkan kamu habis lahiran. Mendingan kamu ngojek aja ya, takutnya mobilku nanti bau!" ucap Mbak Meri setelah kami semua berada di teras rumah sakit.


"Lah, Mas Wawan kan pasti bawa motor. Kalau aku naik ojek lantas Mbak Meri kesini buat apa? Oh ya, mau pamer mobil doang?" Mbal Meri tercengang mendengar ucapan Anita. Memang songong sekali Anita ini, di depan banyak orang dia bicara sepeti itu.


__ADS_2