
Dibalik sakitnya Anita.
Aku menangis sesegukan di depan Bude Indri dan Mbak Manda. Entah apa yang aku alami tadi, yang jelas saat Ibu mau menjejali bayiku dengan ******* pisang, rasa takut luar biasa menyrgap di pikiranku. Kalau mereka menyakiti hati dan fisikku mungkin aku bisa kuat, tapi jika bayiku juga ikut jadi sasarannya, sungguh rasa ini tak kuat lagi untuk menahannya.
"An, kamu masih mengenali Bude kan?" tanya Bude sambil mengendong bayiku. Aku mengangguk pelan, bagaimana mungkli aku bisa tak mengenali Bude Indri yang baik hati ini.
"Alhamdulillah jika kamu masih mengenali Bude, An, Bude tadi khawatir banget sama kamu," AKu tersenyum mendengar ucapan Bude.
Setelah Mas Wawan dan Ibu mau merebut bayiku tadi, ketakutan luar biasa menjalar di seluruh tubuhku. Bahkan, sudah berada di kamar pun, bayang-bayang Ibu terasa nyata di depanku. Seakan menari-nari memeperlihatkan kesungguhannya merebut bayiku. Rasanya saat ini badanku lemas sekali. Beruntung sekali aku masih didampingi orang-orang yang luar biasa seperti di depanku ini.
"Mbak Anita sudah makan?" Pertanyaan Mbak Manda membuyarkan lamunanku. Aku menggelang lemah. Memang kenyataanya dari tadi belum isi sama sekali perut ini.
"Aku tadi membawa bubur kacang ijo, sngaja membawa untk Mbak Anita. Sebentar yan saya ambilkan," ucap Mbak Manda. Mendengar nama bubur acang ijo, seketika hawa lapar menghampiri.
"Mbak Manda disini saja dulu, biar Bude yang mengambilkan buburnya, ya," ujar Bude Indri. Namun sebelum beranjak, ude Indri menaruh bayiku di kasur, lantas benranjak keluar kamar.
"Lihatlah Sania, Mbak. Mbak Anita harus kuat demi Sania. masa depan Mbak Aita itu masih jauh terbentang bersama Snia. Hiduplah senang dan lapang, walaupun kadang hati tak tenang," ujar Mbak Manda bijak.
Aku meremas tangan orang yang berada di depanku ini. Entahlah kalau tak ada Mbak Manda, aku tak bisa membayangkan seperti apa jadinya aku ini. " Makasih banyak ya, Mbak lagi-lagi Mbak Man menolongku,"
"Sama-sama Mbak, Mbak Anita sudah kuanggap seperti adikku sendiri, jadi tak usah khawatir dan tak perlu sungkan,"
__ADS_1
"Ya, jangan panggil Mbak, dong. Masa sama adiknya dipanggil Mbak," Hahaha ... kami tergelak bersama menyadari obrolan ami yang terlihat lucu ini. Bersama Mbak Manda, beban seakan terangkat walaupun masalah sedang menghinggapi.
Aauuuuu! Aku meringis kesakitan saat perutku kembali nyeri. AKu teringat sedari tadi belum meminum obat semenjak pulang dari rumah sakit.
"Kamu kenapa, An," Mbak Manda terlihat panik melihatku kesakitan.
"Mbak asku harus segera minu obat, tapi aku belum makan," ucapku meringis menahan sakit.
"Duh, Bude mana ya? Sebentar, aku ambilkan nasi dulu," Mbak Manda bergegas meninggalkanku dan menuju ke dapur.
"Apa yang kamu rencanakan, Anita?" tanya seseorang yang sudah membuatku ketakutan setengah mati. Ya, siapa lagi kalau bukan Mas Wawan. Setelah Bude dan Mbak manda pergi bersamaan, mas Wawan datang mendekatiku dengan penuh kesombongan. Cih! Aku tak gentar sama sekali, Mas. Dengan adanya Bude Indri disini semakin membuatku berani untuk menghadapi keluargamu.
Tangan Mas Wawan terlihat mengepal kuat. "Jangan kurang ajar sama suami sendiri, Anita. Dimana letak hormatmu?"
"Hahaha ... suami seperti apa yang ingin dihormati, Mas? Suami yang ingin membunuh istri dan anaknya sendiri? Iya Mas? Jawab!" Aku berteriak lantang di depan Mas Wawan hingga membuat Mas Wawan membelalakan mata. Aku tertawa dan menangis bersamaan. Kuremas sprei kasur yang kududuki ini hingga berantakan tak beraturan.
"Ya Allah, Anita ..." Bude Indri datang tergopoh-gopoh mendekatiku. Lalu tak lama disusul oleh Mbak Manda yang datang dengan membawa makanan untukku.
"Ternyata seperti ini perlakuanmu pada Anita, Wawan. Bude tak menyangka, kalau keponakan Buda tega menyakiti istrinya sendiri. Dimana nuranimu, Wawan?" geram Bude Indri dengan suara menggelegar.
Mbak Manda mengambilkan air minum untukku dan langsung kutenggak tandas hingga rasa sakit di kerongkongan ini berkurang. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran Mas Wawan, dia tak malu menyebutnya suami di depanku. Sedangkan sikapnya menyeruapai iblis yang siap membunuhku.
__ADS_1
"Bude harus percaya sama Wawan. Anita itu hanya berpura-pura, Bude. Dia hanya bersandiwara biar terlihat menderita, seolah aku ini telah menganiayanya. Lihat saja wajahnya, terlihat polos tapi sebenarnya licik!" uajar Mas Wawan menggebu-gebu.
Mbak Manda nampak melongo mendengar ucapan Mas Wawan. Mungkin heran dengan jalan pikirnya. Mbak Manda mengelus pundakku seakan memberi kekuatan untukku.
Plakk!
Aku melongo melihat Bude Indri menampar Mas Wawan hingga Mas Wawan terhuyung ke belakang. Begitu juga dengan Mbak Manda yang semakin erat merangkul bahuku. Bude Indri menampar Mas Wawan di depanku dan Mbak Manda. Aku yakin, pasti saat ini dia tengah malu setngah mati. Rasakan itu, Mas.
"Bude berani menamparku, hanya demi membela seorang Anita?" Mas Wawan kaget dengan serangan Bude Indri.
"Janganan menamparmu, megusir kamu dari rumah ini saja akan kulakukan, jika kamu terus menerus meyakiti Anita. Dimana letak nuranimu, Wawan, jika kamu sebagai suami tidak bisa melindungi Anita, lalu siapa yang akan melindunginya."Bude Indri berucap lantang dengan menudingkan tangannya ke arah Mas Wawan.
"Saya saksinya Bude, kalau Anita memang hanya jadi benalu di keluarga ini. Dia tak sadar diri kalau disini tuh, hanya numpang. Tapi semakin lama semakin menggerogoti Wawan. Bude tahu, berapa uang yang sudah dikeluarkan Wawan untuknya," sinis Mbak Meri yang baru datang. Mbak meri dengan entengnya berucap seperti itu, seakan menolak lupa bahwa aku kesakitan karena ulahnya.
"Saya pikir, dengan membawa Anita ke rumah ini akan meringankan beban Anita, Mbak. Tapi sepertinya malah menambah bebannya. Hiks hiks ..." Ibu menangis di depan kami semua. Aku merasa ada yang janggal dengan tangisan Ibu. Entahlah, semoga ini hanya perasaanku saja.
"Aku tak tahu jika Anita merasa tertekan seperti ini. Aku hanya ingin membantu mengurus bayinya dengan memberinya makan seperti dulu mengurus Wawan, Mbak. Jika Anita tak mengizinkan, tak apa, aku tak memaksa. JIka seperti ini, sdih aku Mbak, kita ini saudara tapi saling menuding dan membela hanya karena masalah sepele. Jika ini salahku, salahkan saja aku, Mbak. Hiks hiks hiks ..." Ibu mertua menangis sesenggukkan di depan kami semua.
Bude Indri mendekati Ibu, lantas mengelus pundaknya pelan. "Maafkan saya yang marah-marah tadi Ririn. Aku tak mau jika Anita merasa tertekan dan tersakiti disini," ucap Bude Indri yang masih mengelus pundak Ibu mertua.
Aku mengamati Ibu mertua yang masih menangis di depan Bude Indri. Entahlah, perasaanku sperti tak enak dengan tangisannya. Terlebih saat di sela-sela tangisannya, Ibu mertua tersenyum menyerigai. Sepertinya hanya aku yang menyadarinya. Apa maksud Ibu mertua? Apa dia tengah merencanakan sesuatu? Lalu untuk apa dia menangis di depan Bude Indri.
__ADS_1