Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab : 9


__ADS_3

"Wawan, lagi ngapain kamu? Yang benar saja Anita, kamu menyuruh Wawan memcuci baju. Kalau manja jangan kebangetan," sinis Ibu meradang.


Jelas meradang, karena selama ini Mas Wawan tak pernah menyentuh pekerjaan di rumah, apalagi mencuci baju. Aku terkiki geli melihat Mas Wawan yang cuek mendengar Ibu merepet. Pdahal Ibu ngak tahu apa yang Mas Wawan lakukan padaku tadi. Yang Ibu lihat ketika Ibu baru pulang adalah Mas Wawan Nampak membantuku mencuci baju.


Perdebatan dengan Mas Wawan tadi memang menyisakan sedikit ngilu di daerah perut. Semoga tak terjadi apa-apa di sekitar sini. Berhadapan dengan Mas Wawan memang tak perlu menggunakan otot, karena pasti aku sendiri yang repot. Aku harus cari cara supaya tetap aman dan waras disini. Terlebih harus cepat sembuh, agar bisa pergi jauh selamanya, karena setelah ini aku akan mengugat cerai Mas Wawan.


"Daripada berisik, mending Ibu bantuin jemur!"


Aku melongo mendengar ucapan Mas Wawan pada Ibu. Begitu juga dengan Ibu yang nampak mendelikkan mata.


"Wawan, kamu sadar apa yang kamu ucapankan tadi. Jangan sok menjadi ratu di rumah ini, Anita. Kamu harus sadar apa posisimu di rumah ini!" Ibu memicingkan matanya ke arahku.


"Wawan, cepatlah keluar! Teman-teman Ibu ingin main kesini mengunjungi bayimu. Ibu ngak mau ya, teman-teman Ibu melihat anak lanang Ibu mencuci baju istrinya. Bisa dicap suami takut istri nanti kamu," protes Ibu yang masih merepet di depan kamar mandi. Namun lagi-lagi Mas Wawan tak menghiraukan ucapan Ibu.


Mas Wawan bergegas pergi untuk menjemur baju di belkang rumah. Lantas ku sususl dengan menjemur baju sania. Kami beriringan sama saling menjemur baju. Sekilas, memang terlihat sepesang suami istri yang harmonis. Namun, tak ada yang tahu kalau ada hitam diatas putih diantara kamu berdua.


Sungguh, miris.

__ADS_1


Mas Wawan terlihat memikirkan sesuatu. Sepertinya dia tengah merencanakan sesuatu. Aku tak boleh lengah, ku juga tak mungkin terus-terusan mengandalkan surat perjanjian itu. Bisa saja Mas Wawan mempunyai niat untuk melenyapkan kertas itu. Namun, aku sudah menyimpanya dengan rapi. Semoga saja Mas Wawan tak pernah menemukannya.


Ketika selesai menjemur baju, lantas aku ingin masuk ke dalam rumah, ingin menemui bayiku yang sedari tadi kutinggal. Tapi, terdengar suara orang sedang ramai berbincang. Setelah masuk ke dalam rumah, barulah terlihat jelas kalau teman-teman Ibu yang datang kesini. Sepertinya ingin mengunjungi bayiku, karena saat ini bayi Sania tengah berada di gendongan Ibu.


"Anita, minta tolong dong, Sayang. Bikinin minum buat tamu-tamu Ibu ya," ucap Ibu manis padaku. Ya, beginilah Ibu, pintar sekali berdrama jika di depan teman-temannya. Sepertinya yang bertamu saat ini adalah teman arisan Ibu, terlihat glamour dan mewah. Makanya Ibu memaksakan diri untuk bisa mengimbangi mereka semua.


"Sini, An, ngak usah repot-repot bikin minum. Habis melahirkan ngak boleh capek, tadi kan habis jemur katanya. Sini lah gabung dulu," Ajak salah satu teman Ibu.


Muka Ibu langsung terlihat masam mendengar ucaan temannya. Seperti yang sudah-sudah, Ibu akan mencari seribu alasan untuk menyuruhku ke belakang. Gengsi lah, jika sekursi denganku di depan teman-temannya. Tapi kali ini bayiku digendong Ibu, tak mungkin aku meninggalkannya. Lantas aku pun dudu dan tak memperdulikan muka Ibu. Bodo amat, aku hanya menjaga bayiku.


"An, kok mukamu kusem sih, beda sekali lo, dengan muka Ibu mertuamu. Coba lah dandan, biar Wawan nanti semakin betah dirumah." Ibu tersenyum sumringah mendengar pujian dari salah satu temannya.


"Ah, ngak kusem kok. Anita ini cantik alami menurutku, lesung pipinya itu lo, manis. Coba kalau Anita belum nikah, aku mau lo jodohin Anita dengan anakku," ucap salah satu teman Ibu, yang tak tahu siapa. Ibu kembali memasang wajah masam mendengar temannya memujiku.


"Anita ini kemarin melahirkan sesar, Bu, di rumah sakit terkenal dan biayanya juga lumayan. Tapi alhamdulillah ya, anakku Wawan itu sangat bertanggung jawab dan sangat sayang dengan istri dan anaknya. Semua itu tak masalah bagi kami, yang penting Anita dan bayinya sehat," ucap Ibu sambil memperlihatkan bayiku yang digendong pada teman-temanya.


Kupingku terasa panas mendengar ucapan Ibu. Sungguh, pintr sekali Ibu mertuaku memutar balikkan fakta. Jika ikut lomba jadi sinetron, sepertinya Ibu juaranya.

__ADS_1


"Beruntung sekali kamu, Anita, punya suami tampan dan bertanggung jawab. Ditambah mertua yang amat sayangsama kamu," timpal teman Ibu yang lain. Pasti saat ini merasa bangga dan jumawa. Aku hanya terdiam mendengarkan komentar teman-teman Ibu. Ibu memang tak jauh beda dengan Mas Wawan,ingin selalu disanjung dan selalu terlihat sempurna dimata semua orang.


"Ngomong-ngomong, nama cucunya siapa, Jeng? Lucu banget sih, cantik kayak Ibunya," tanya salah satu teman Ibu.


Ibu nampak gelagapan mendengar pertanyaan temannya itu. Hanya sekedar nama saja, Ibu ngak tahu. Silahkan nikmati kepanikanmu, Bu.


"Emm ... Duh, lupa lagi ya. An, kemarin namanya siapa sih? Ibu lupa deh, maklum ya Bu-ibu, neneknya terlalu sibuk kemarin sampai lupa nama cucunya." Ibu terlihat gugup.


"Lupa, atau memang ngak tahu, Bu?" ucapku yang sengaja memancing reaksi Ibu. Teman-teman Ibu nampak melongo mendengar ucapanku, begitu juga Ibu yang mukanya sudah bersemu merah. Entah marah atau malu, aku yak tahu. Makan tuh gelar mertua penyayang.


"Namanya,Sania Baskara, Ibu-ibu," ucapku yang membuat teman-teman Ibu manggut-manggut secara bersamaan.


"Eh, Jeng, kok emasnya ngak dipakai? Kan kemarin sudah menang arisan. Dipakai dong, biar samaan kayak kita-kita. Iya ngak, Jeng?" Ucap salah satu teman Ibu yang paling glamour.


Muka ibu terlihat memerah, mungkin malu dengan ucapan salah satu temannya. Inilah yang aku ngak suka jika berkumpul begini. Perkumpulan seperti ini selain bersosialisasi pasti juga digunakan sebagai ajang saling pamer. Dan sepertinya ini akan dimulai. Lebih baik aku pergi saja kekamar membawa bayiku.


"Ibu-ibu semua, saya permisi dulu ya. Abyi Sania mau menyusu dulu," pamitku sambil mengambil Sania lantas masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Entah apa yang dibicarakan meraka setelahnya, aku tak tahu dan tak mau ambil pusing. Jika sudah berbicara masalah penampilan dan emas, lebih baik aku menyingkir saja. Mas Wawan nampak sudah terlelap di kasur. Bodo amat lah. Kurebahkan Sania di kasur lantas aku ikut merebahkan diri di sebelah Sania. Mengistirahatkan badan sejenak, agar kondisi ini cepat pulih. Ayo Anita, semangatlah untuk sembuh secepatnya. Agar bisa cepat pergi dari sini.


__ADS_2