
Mempertahankan
Ibu datang dengan muka manyun dan ditekuk. Lantas duduk di sebelah Bude Indri. Ibu melirik ke arahku dengan tatapan tajam, semakin ingin menerkam. Namun aku pura-pura tak tahu dan cuek. Ibu tak akan berani menyakitiku karena ada Bude Indri disini. JIka dia nekat menyakitiku, aku juga tak akan segan-segan untuk berteriak agar para tetangga datang menghampiri. Semua ini demi kewarasanku. Ibu nekat, aku juga bisa nekat untuk menjaga bayiku dan tentunya, diri sendiri.
"Mana Meri dan suaminya?" tanya Bude pada Ibu. Mas Wawan juga sudah duduk kembali di tempatnya.
"Meri masih tidur kayaknya, Mbak, sudah biarkan saja. Kita sarapan dulu saja, biasanya memang Meri bangun sekitar jam sembilan nanti," ujar ibu enteng.
Bude Indri nampak melotot mendengar ucapan Ibu. Namun sepertinya Ibu tak menyadari bahwa Bude Indri terlihat tak suka dengan ucapan Ibu. Kalau aku sih, sudah terbiasa mendapati Mbak Meri seprti itu. Bangun, langsung makan, dan komplain segala macam denganku. Gimana ngak bangun siang, malamnya kerja menemani para lelaki hidung belang. Entah pulang malam atau pulang pagi, aku tak pernah melihatnya.
Aku menyendok nasi mulai makan, padahal yang lain belum pada makan. Biar saja, takut Sania keburu bangun, yang ada nanti jadi tak sarapan. Mas Wawan nampak melototiku yang makan duluan, namun aku tak peduli. Toh, aku makan atau tidak dia juga tak pernah peduli denganku.
"Jadi setiap hari memang seperti ini?Meri bangunnya selalu siang?" ucap Bude menaikkan suaranya satu oktaf.
Ibu hanya mengangguk lemah, lantas Bude Indri menggelengkan kepala. "Jangan heran, Bude, baru juga sehari disini. Tunggulah seminggu lagi, pasti aka ada banyak kejutan yang bikin Bude gemes setengah mati," Batinku sembari melirik Bude yang sudah kehilangan moodnya.
"Lalu, suami Meri, kenapa juga masih tidur? Emang ngak kerja?" tanya BUde Indri dengan nada semakin tinggi.
Wajah Mas Wawan ikut tegang, begitu juga Ibu yang nampak pias dengan pertanyaan Bude. Sementara aku, hanya menikmati mereka yang sedang diintrogasi Bude layaknya seorang maling yang tertangkap.
"Rusdi kemarin habis kena PHK katanya Mbak. Dang sekarang mereka sedang bingung karena sudah tak mempunyai penghasilan lagi," keluh ibu.
Mata Bude nampak melotot mendengar ucapan Ibu. Lantas wajahnya memerah, "Sedang bingung tapi jam segoini masih tidur. Mana bagian bingungnya? Yang ada tuh bangun pagi nyari kerja. Sudah menaruh lamaran dimana saja?" tanya Bude.
"Lamaranya saat ini mau morotin Mas Wawan saja, Bude, "batinku menjawab. Sedangkan yang ditanya juga nampak kebingungan.
__ADS_1
"Sepertinya belum menaruh lamaran, Mbak. Meri juga baru kemarin bilang sama aku. Mungkin masih capek kali, Mbak, ntar kalau waktunya juga pasti Rusdi mencari kerja lagi," ujar Ibu membela.
Cih! Mual sekali rasanya mendengar Ibu membela Mbak Meri dan Rusdi. Lihat saja, Bu, nanti suatu saat juga Ibu akan tahu kalau mereka hanya ingin menggerogoti Ibu pelan-pelan.
"Terserah kamu, Ririn. Aku ngak mau saja kalau Wawan yang jadi tulang punggung sedirian disini. Ingat, Wawan juga sudah punya anak, otomatis tanggung jawabnya semakin bertambah," uajar Bude, tangannya mulai menyendokkan makanan ke piringnya. Lalu disusul oleh Ibu dan Mas Wawan.
Ibu nampak tak suka mendengar ucapan Bude Indri. Jleas tidak suka, mana Ibu terima jika jatahnya dibagi denganku? Sedangkan Mas Wawan menyimak dengan seksama. Gimana kira-kira, Mas, bisa diterima ucapan Bude Indri?
"Jujur saja, firasatku itu mengatakan tidak enak tentang Rusdi. Kamu ngak pernah menyelidikinya, Ririn? Soalnya dari dulu kita tak pernah tahu asal-usul tentang keluarganya," Imbuh Bude Indri. Bude seprtinya menaruh curiga dengan Rusdi. Aku mengulum senyum, hanya orang tertentu yang merasakan gelagat aneh Rusdi.
"Kita sama-sama tahu, Mbak, kalau Rusdi itu yatim piatu. Kalau aku sih, tak masalah dengan itu semua. Toh kenyataanya Meri juga mencintainya," kilah Ibu.
"Bela terus mantu parasit itu, Bu, sampai nanti Ibu sadar bahwa anak Ibu hanya dimanfaatkan saja oleh menantu Ibu itu," Batinku geram.
"Wawan berangkat dulu, Bude!" ucap Mas Wawan setelah selesai sarapan. Lantas beranjak dari tempat duduknya.
"Aku masuk kedalam dulu, Bude," pamitku pada Bude lantas menyusul Mas Wawan ke kamar. Bukan apa-apa, aku hanya takut saja Mas Wawan menyakiti anakku yang masih tidur. Bahkan sampai sekarang saja Mas Wawan tak pernah menyentuh anaknya sama sekali.
"Puas kamu, sekarang! Sudahlah menyusahkan, sekarang jatah buat Ibu juga kamu peras!" ucap Mas Wawan mengebui-gebu.
"Terserah kamu saja, Mas, aku hanya mengambil hak-ku dan Sania. Bila Ibu keberatan, ngak usah bergaya dengan geng sosialitanya jika memang kenyataanya tak mampu," ucapku tajam.
"Sejak kapan kamu mengatur hidup Ibuku, Anita. Semenjak kamu melahirkan, hidupku jadi kacau seperti ini. Kamu tahu, kacau Anita!"Mas Wawan mencengkram lenganku hingga terasa sakit. Sungguh, aku tak menyangka Mas Wawan jadi sekasar ini sekarang.
"Lepas, atau aku teriak sekarang," ucapku bergetar.
__ADS_1
Mas Wawan lantas menyetal tanganku dengan kasar. Rasanya tenggorokanku seperti tercekat. Seharusnya aku sadar kalau perangai Mas Wawan memang sudah berubah kasar seperti ini. Namun aku masih saja kaget dengan sikapnya. "Ayo An, kamu harus kuat Anita," ucapku dalam hati, menyemangati diri sendiri.
Mas Wawan keluar dari kamar dengan membawa tas kerjanya, tanpa menoleh ke arah anakanya sedikitpun. "Lihatlah, Mas, tunggu saatnya tiba nanti. Akan kubuat kamu menyesal sampai ke ubun-ubunmu," gumamku pelan dengan meremas sprei yang aku duduki.
*****
Tok tok tok!
Saat sedang menyusui Sania, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Siapa? Tak mungkin Mas Wawan, karena dia sedang kerja saat ini. Apa mungkin Indri? Tadi sepertinya Bude pergi keluar rumah.
Dok dok dok!
Kali ini bukan suara ketukan, melainkan gedoran yang memekakkan telinga. Aku memang terbiasa mengunci kamarku jika berada di dalamm, takut hal-hall yang tidak didinginkan terjadi. Seperti sekarang ini, tak mungkin Bude Indri yang menggedornya. Karena Bude Indri talk pernah sekasar ini.
"Anita, buka pintunya!" Teriak suara dari luar, dengan masih menggedor pintu kamarku dengan kencang.
Aku tersenyum miring, ternyata Ibu yang menggedor pintu. Tapi, untuk apa Ibu ingin menemuiku?
"Anita, kamu budek apa gimana sih? Cepet buka pintunya!" Ibu semakin brutal.
Ibu pasti ingin meminta uang padaku. Jelas Ibu tak akan rela jika gaji Mas Wawan berada di tanganku saat ini. Pintar sekali, dia mengambil kesempatan saat Bude Indri tak ada di rumah. Tapi aku tak boleh gegabah, saat ini Bude Indri tidak ada dirumah. Aku tak mau mengambil resiko terlalu jauh. Biar saja Ibu terus menggedor pintu, lebih baik aku pura-pura tidur di samping Sania.
"Lihat saja Anita, jika kamu tak membuka pintu kamarmu, Ibu akan menyuruh Rusdi untuk mendobraknya!"
Seketika aku berjingkat mendengar anacaman Ibu. Nekat sekali nenek sihir ini. Apa yang harus aku lakukan.
__ADS_1