Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab : 26


__ADS_3

Kamu akan menyesal, Mas.


Tok tok!


"An, ini Bude, buka dulu An, Bude mau pamit,"


Aku tersentak ketika mendengar suara Bude mengetuk pintu kamarku. Ada apa Bude memanggilku sepagi ini?


"Ya, Bude, gimana?" tanyaku setelah membuka pintu untuk Bude Indri.


"Bude harus segera pulang sekarang juga, An. Hilman kecelakan, jadi Bude harus bertolak ke Surabaya sekrang juga,"


"Ya Allah, Bude, terus gimana sekarang?" Aku ikut panik mendengar kabar dari Bude.


"Katanya sih ngak parah, tapi tetap saja Bude juga ngak tenang jika berlama-lama disini, An. Bude lagi menunggu Wawan, dari semalem dia ngak pulang," ucap Bude. Nampak sekali raut wajahnya tegang karena khawatir.


Hilman adalah anak Bude satu-satunya. Umurnya pun tak jauh beda dengan Mas Wawan. Hilman melanjutkan bisnis peninggalan almarhum Ayahnya. Ya, Bude Indri memang single parent, tapi single parent yang luar biasa menurutku.


"Eh, kok bengong," ucap Bude menjentikkan jarinya di depanku.


Aku gelagapan sendiri mendapat teguran Bude Indri. Ah Bude, jika Bude pergi, aku juga akan pergi dari sini. Entah akan bisa bertemu lagi denganya atau tidak, yang jelas Bude Indri banyak membantuku selama disini. KUpeluk wanita yang banyak membantuku ini, dan menumpahkan tangisku disana.


"Makasih atas kebaikan Bude selama ini, Anita tak akan bisa membalasnya. Maaf jika Anita banyak salah, bude,"


"Kamu kenapa sih, An, kayak nanti ngak akan ketemu Bude lagi aja. Udah ah, jangan nangis!" uajar Bude Indri mengusap pipiku.


Entahlah, rasanya seperti pertemuan terakhirku dengan Bude Indri. Walaupun aku sendiri belum tahu kemana nanti kaki berpijak setelah pergi dari sini. Tak mungkin aku pulang ke orang tuaku saat ini. Bapak sedang sakit, aku tak mau menambah pikirannya dengan pulang membawa masalah. Yang ada hanya membuat mereka sedih dengan kepulanganku. Untuk saat ini, aku ingin mengatasi masalahku sendiri, tanpa melibatkan orang tuaku.


"Ngak usah cari muka, Anita. Biasa aja, bukankah kamu senang Budemu ini cepat pulang? Kamu aja sering ngomong kalau Bude Indri bawel. Iya kan? Jangan percaya omongannya Anita, Mbak. Semenjak melahirkan, dia jadi senag mengadu domba penghuni rumah ini!" ketus Ibu mertua. Tiba-tiba menyahut dan menudingku. Sepertinya Ibu mertua masih tak terima Mbak Meri pergi dari rumah ini. Dan pasti saat ini, Ibu semakin membenciku karena hal itu.


"Jangan pancing amarahku, Ririn. Jika ditanya aku lebih percaya siapa, jelas aku akan memilih Anita. Karena memang selama ini Anita tidak pernah berbohong padaku seperti kalian!" BUde Indri menuding tangannya ke arah Ibu. Lantas Ibu pun berlalu dan melirikku dengan tatapan sinis.


'Sudah, An, ngak usah memikirkan Ibu mertuamu, nanti malah kamu yang stres sendiri. Sekarang fokus sama bayimu saja, dan juga kesehatanmu biar cepet pilih!"

__ADS_1


Bude Indri menasehati. Andaikan Bude tahu mereka memperlakukanku lebih dari itu, entah apa yang terjadi dengan Ibu. Tapi biarlah dulu mengalir apa adanya, karma itu nyata bukan? Aku yakin suatu saat Bude Indri tahu dngan sendirinya.


"Wawan kemana ya, kok belum pulang? An, akhir-akhir ini Wawan jarang pulang emang tidir dimana?"


Glekk!


Ku teguk ludah ini kuat-kuat. Memang selama ada Sania, aku sudah tak peduli lagi dengan keberadaan Mas Wawan. Dan aku juga tak peduli dia mau tidur dimana. Tapi juga tidak tidur di rumah, alau tidur dimana? Apa mungkin.


"Nah, itu suara motornya. Aku kesana dulu deh, An. SEpertinya aku harus minta bantuan Wawan untuk mengantar ke bandara sekarang juga," ucap Bude Indri lantas berlalu dari hadapanku.


Aku ngintip dari dalam kamar, pura-pura ngak tahu dengan kepulangan Mas Wawan yang entah dari mana.


"Bude kenapa?" tanya Mas Wawan ketika melihat Bude yang mondar-mandir di ruangan depan.


"Wawan, bisa mengantarkan Bude hari ini juga ke bandara, ngak? Bude harus pulang sekarang juga," ujar Bude yang terlihat panik.


"Emang ada apa Bude?" Mas Wawan yang baru pulang pun ikut panik melihat BUde INdri.


"Astagfirullah ... terus sekarang, Hilman gimana, Bude?"


"Katana sih gapapa, tapi tetap Bude kepikiran Wawan,"


"Yaudah, Wawan mandi dulu, Bude!" ucap Mas Wawan, lantas meninggalkan Bude dan langsung menuju kamar mandi.


Aku pura-pura tak tahu dan kembali merebahkan badanku di samping Sania. Jika Mas Wawan tidak tidur di rumah, lalu tidur dimana? Ah, aku sudah tak mau peduli lagi tentang dia. Yang kuinginkan saat ini hanya ingin pergi sejauhnya dari sini. Setelah itu menggugat cerai Mas Wawan.


Aku menata baju Sania yang ingin kubawa poergi. Hanya menata saja. Karena jika sampai Mas Wawan mencurigai rencanaku, bisa-bisa aku dikunci di dalam kamar ini. Karena mereka itu nekat, dan aku tak mau mengambil resiko itu.


"Lagi ngapain kamu?'


Aku tersentak mendengar suara Mas Wawan. Mungkin karena aku sedikit penik, terkejut saat Mas Wawan tiba-tiba datang dan bertanya kepadaku.


"Aku bukan setan, jadi biasa aia ngeliatnya!" seru Mas Wawan.

__ADS_1


"Iya Mas, kamu manusia," ucapku lirih. "Setan berwujud manusia, maksudnya." Batinku membenarkan ucapannya.


"SEkilas, ku lirik Mas Wawan yang sedikit aneh. Ini masih pukul 05:30 pagi, sejak kapan Mas Wawan suka keramas pagi? Selama menikah denganku, Mas Wawan itu sangat anti eramas terlalu pagi. Dia hanya keramas setelah selesai berhubungan denganku. Lalu ini?


"Sejak kapan kamu suka keramas pagi, Mas?" tanyaku menyelidik.


"Sejak ... sejak, ya karena gerah aja makanya keramas. Kenapa jadi ngurusin aku sih!" ucapnya gelagapan, alau pergi meninggalkanku yang masih terdiam.


Aku tersenyum kecut menyadari kenyataan ini. Mas Wawan sudah menyakiti hati juga fisikku. Semakin membuatku yakin untuk cepat berpisah dengannya. Jika hanya bentakkan dan makian, mungkin aku masih bisa memaafkan. Tapi jika dia menghianatiku, sudah tak ada celah lagi ruang maaf baginya.


"Lihat saja, Mas, kamu akan menyesal telah mempermainkanku seperti ini!" gumamku geram.


"An, Bude pamit ya," ujar Bude yang membuyarkan lamunanku.


"Hati-hati dijalan, Bude," ucapku menyalami Bude Indri dengan takzim. Lalu Bude Indri mendekati Sania yang sudah terbangun dari tadi.


"Aduuh, cucu Enyang udah bangun ini. Eyang pulang sayang, jangan rewel ya, biar Bundanya ngak pusing!" ujar Bude sembari mencium pipi gembul Sania. Lantas pergi meninggalkan kamu berdua. Mas Wawan? Jangankan menyentuh atau menggendong, melirik anaknya pun tak pernah.


Miris buka?


Aku kembali melanjutkan kegiatanku yang sempat tertunda. Bude Indri dan Mas Wawan sudah pergi, aku tak boelh lengah dan harus cepat sebelum kedulauan oleh mereka.


Dok dok! Aku kembli tersentak mendengar suara gedoran di pintu kamarku. Siapa yang menggedor pintu sekencang itu?


"An, kamu gila ya. Terus mengunci pintu kamar siang malam!" Oh, ternyata Ibu meretua, yang mulai merepet minta dibukakan pintu.


"Kamu mau membusuk di dalam juga terserah, An, Ibu mau pergi. Kmau dirumah sendiri, jangan keluyuran!" ucapnya dari luar kamar, lalu stelah itu tak kudengar suara lagi. Mungkin Ibu sudah pergi?


Tak akan kusia-siakan kesempatan ini. Segera kuraih koper yang tersimpan di lemari, lantas memasukkan semua bajuku dengan tergesa. KUambil baju dan keperluan Sania yang lain, lalu memasukkan satu koper dengan bajuku.


Namun aktivitasku terhenti ketika mendengar suara handle pintu kamarku yang ditekan dari luar.


Ceklek! Ceklek!

__ADS_1


__ADS_2