Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab :23


__ADS_3

Terpojok


"Sekarang jelaskan, apa yang membuat Ibu marahmarah seperti tadi?" tanya Bude Indri dengan sorot mata tajam.


Ya, disaat wanita gempal itu berorasi di tengah keramaian, bude Indri datang dan membubarkan kerumunan tersebut. Dan kini, kami semua tengah berada di dalam rumah bersama Bude Indri.


"Wanita ini telah berselingkuh dengan suami saya, Bu!" ucap wanita itu tegas dengan menunjuk Mbak Meri yang masih berantakan.


Bude Indri terlihat syok mendengar ucapan wanita itu. Kini pandangannya tertuju pada Ibu mertua yang sedang memeluk Mbak Meri di sampingnya.


"Benarkah seperti itu, Meri?" tanya Bude Indri tegas.


Ruangan ini nampak begitu tegang, tak terkecuali Mbak Manda yang kini duduk berada disampingku. Mbak Manda masih berada disini karena aku yang menahannya untuk pulang. Entahlah, rasanya aku tak mau sendiri jika masalah yang menimpa ini semakin rumit.


"Cepat, jawab! Benar seperti itu?" Bude Indri murka melihat mereka hanya diam saja. Aku pun ikut geram melihat wajah mereka. Sudah terpojok, tapi masih bisa sombong.


"Lihatlah, Bu, ini adalah bukti perselingkuhan mereka!" ucap wanita itu dengan menunjukkan semua foto yang ditujukan pada kami tadi.


Mata Bude Indri membelalak melihat layar ponsel yang ditujukan wanita itu. Aku tersenyum miring melihat dua manusia itu saling memluk karena tegang. Rasakan itu, Mbak.


"Tadinya aku kesini mau bicara baik-baik, Bu. Tapi perempuan itu menantangku secara terang-terangan!" wanita itu mengadu pada Bude Indri.


"Diam kamu, wanita gajah sialan!" Mbak Meri tak terima.


"Kamu yang diam, Meri. Rasanya aku sendiri pun malu melihat tingkahmu yang menjijikan seperti ini!" Bude Indri menuding Meri hingga berdiri dari tempat duduknya.


Seketika Mbak Meri diam mendapat sentakkan Bude Indri. Mbak Manda kembali mencengkram tanganku. Mungkin dia baru melihat Bude Indri marah seperti ini. PUn aku, sama tegangnya dengan yang dialami Mbak Manda.

__ADS_1


"Saya hanya meminta pada perempuan itu untuk menjauhi suami saya, Bu, itu saja. Tapi melihat gelagatnya yang kasar, saya pun nekat melakukan seperti tadi. semoga Ibu paham dengan yang saya rasakan. Saya permisi," ucap wanita itu lantas berlalu meninggalkan rumah ini.


Setelah wanita itu pergi, tatapan mata Bude Indri kini menyorot ke arah Mbak Meri dan Ibu mertua, lantas menghampiri mereka yang terlihat tengang.


Plakk!


Aku terkejut melihat BUde Indri yang tiba-tiba mendaratkan pukulannya di pipi mulus Mbak Meri. Mbak Meri nampak meringis menahan sakit, dengan sebelah tangannya memgang pipinya. Mbak Manda pun melongo melihat kejadian itu. Baju Sania nampak di cengkramnya kuat.


"Sudah, Mbak, cukup, Meri sudah tak berdaya seperti ini. Jangan ditambah dengan menyakitinya lagi!" Ibu mertua berteriak sembari mengelus pundak Mbak Meri.


"Berani kamu berteriak seperti itu padaku, Ririn. Apa kamu tak malu dengan kelakuan anakmu yang seperti orang murahan?" Bude Indri menuding ke arah Ibu.


"Apa kamu tak malu, Meri, menjadi tontonan semua orang seperti itu. Menjadi wanita simpanan suami orang. Atau justru malah bangga? Almarhum Bapakmu pasti menangis melihat tingkahmu, meri," sejenak, Bude Indri memgang kepalanya. Setelah itu pandangan matanya kini tertuju pada Rusdi.


"SEkarang aku ingin bertanya sama kamu, Rusdi. Kamu suami Meri, apa kamu mengetahui perbuatan Meri?" Kali ini Bude indri bertanya pada Rusdi, hingga Rusdi mendelikkan mata. Pasti bingung mau menjawab apa.


"Terus, kamu membiarkan Meri terjerumus seperti itu, suami macam apa kamu, Rusdi?" Bude Indri meluap-luap dengan lantang.


"Aku sudah melarang Meri, Bude. Namun Meri tak mau nurut dengan saya. Bahkan akan mengancam untuk meminta cerai jika saya melarangnya berhubungan dengan laki-laki itu,"


"Rusdi! Lancang kamu bicara seperti itu?" geram Ibu.


Siapapun pasti geram mendengar ucapan Rusdi. Pun aku, ingin sekali meremas mulut beracunnya yang sekarang ditebar pada semua orang yang berada disini. Sungguh, Rusdi ini selain licik, dia juga pintar seklai memutar balikkan fakta. Jelas aku mendengar ucapannya waktu itu dengan Mbak Meri. Sedangkan Mbak Meri sendiri mendelikkan mata ke arah suaminya.


"Kamu bicara apa, Mas?" Mbak Meri berteriak ke arah Rusdi.


Inguin rasanya aku membuka fakta sebenarnya di depan Bude Indri, namun aku ingin melihat reaksi Mbak Meri setelah mendengar ucapan Rusdi. Apakah tetap akan mempertahankannya atau meninggalkan Rusdi yang licik itu.

__ADS_1


"Sudahla, Meri, aku pousing mendengar teriakanmu. Dan Kamu Rusdi, apapun alasanmu, tetaplah kau tak pantas menjadi seorang suami. Suami seperti apa yang membiarkan istrinya menjadi wanita simpanan?" Bude Indri nampak menatap tajam ke arah Rusdi.


"Atau jangan-jangan, kamu sengaja menjual istrimu sendiri?"


Sontak semua yang berada dirumah ini menegang mendengar ucapan Bude Indri.


"Tidak seperti itu, Mbak, mungkin--"


"Diam! Cepat jawab pertanyaanku, Rusdi!" ucapan Ibu mertua langsung dipotong oleh Bude Indri. Namun, Rusdi hanya diam menundukkan kepalanya. Tamatlah riwayatmu sekarang, Rusdi.


Bude Indri tersenyum sinis ke arah Rusdi. "Sekarang masalahnya sudah jelas. Rusdi aku minta sekarang juga kamu tinggalkan rumah ini. Aku tak butuh orang seperti kamu. Pergilah, dan jangan pernah menginjakkan kakimu ke rumah ini lagi!"


Wajah Rusdi nampak mendongak sekilas ke arah Bude indri, mungkin tak menyangka kalau BUde indri akan mengusirnya hari ini juga. Lantas melirik ke arah Mbak Meri. Mau minta pertolongan ternyata rupanya.


"Baiklah, aku akan pergi dari rumah ini. Meri, aku pergi dulu. Ingatlah, aku mencintai apa adanya. Walaupun keadaanmu seperti ini, aku tetap ingin mendampingimu. Tapi jika kamu menginginkanku pergi, aku akan pergi sekarang juga!" Rusdi berucap dengan muka dibuat sendu. Cih! Tak usahlah berdrama dulu, Rusdi, pergilah secepatya. AKu sudah muak mendengar ucapanmu.


"Tidak! Mas Rusdi ngak boleh pergi!" tiba-tiba Mbak Meri menghalangi Rusdi yang sudah beranjak.


Aku semakin bingung dengan pemikiranya Mbak Meri yang seperti ini. Saking cintanya atau saking begonya sih, sampai tak bisa menilai gerak gerik Rusdi.


"Lihatlah, dengan tingkah Meri yang seperti ini membuatku yakin Rusdi adalah dalang dibalik semua ini. Kamu boleh membodohi istrimu, Rusdi, tapi tidak dengaku. Dari awal aku sudah mencium gelagatmu, namun sekarang jelas membuktikan siapa kamu sebenarnya. Cepat pergi dari sini atau aku menyuruh orang untuk menyeret paksa kamu!" ucap Bude Indri dengan lantang.


"Tidak! Bude ngak boleh mengusir Mas Rusdi. Dia suamiku, Bude ngak berhak mengusir dia dari sini!" kini Mbak Meri melotot ke arah Bude Indri. Dan sekilas kulihat, Rusdi nampak menyunggingkan senyum menyeringai, dasar licik kamu, Rusdi!


"Kata siapa? Aku punya hak dirumah in. Kamu lupa, Meri, bahkan aku bisa mengusir kalian pergi dari sini jika aku mau!" Bude Indri pun tak kalah lantang dengan Mbak Meri.


"Tenang, Mbak, tenang. Meri, jangan songong kamu. Mnta maaf sama Bude kamu, cepet!" ucap Ibu yang terlihat panik.

__ADS_1


"Kalian berdua, cepat angkat kaki dari sini. Sebelum aku panggil polisi untuk memenjarakan kalian. JIka cara halus tak bisa menyadarkanmu, Meri, maka jalan ini yang harus aku ambil!" Bude Indri berkata tajam ke arah mereka berdua. Mbak Manda mencengkram bajuku karena terkejut dengan ucapan Bude Indri. Dan aku tersenyum puas ke arah mereka. Mampus kalian!


__ADS_2