
Matau mengerjap ketika mendengar suara adzan mengalun merdu. Sania juga masih tertidur dengan pulas karena semalem sempat bangun beberapa kali. Mas Wawan? Terserahlah mau tidur dimana. Semenjak ada Sania dia memang tak mau tidur sekamar denganku. Berisik dengan tangis Sania katanya. Miris bukan? Tapi aku tak mau ambil pusing, toh nanti juga Sania tak akan melihat ayahnya lagi ketika aku poergi dari sini.
Sejenak kurentangkan tangan dan leher yang terasa pegal. Setelah membersihkan diri aku lanta bersiap diri untulk bergegas ke tukang sayur sebelah. Dengan meninggalkan anakku yang masih tertidur pulas, aku berjalan pelan menuju tukang sayur. Semua penghuni rumah ini masih tertidur pulas, aku tak mungkin berdiam diri di dalam rumah. Sedangkan saat ini, ada Sania yang membutuhkanku.
"Eh, Mbak Anita, baru melahirkan kok sudah sampai sini?" ujar Kang Asep tukang sayur.
"Iya, Kang, pelan-pelan juga bisa kok. Mumpung Dedeknya masih tidur juga, jadi pengen masak, deh," ucapku sambil memilih sayuran yang ingin dimasak.
Tak muluk-muluk, memasak sayur bening, tahu dan tempe balado saja, itu sudah cukup buat air susu ini tetap bernutrisi. Tak lupa aku membeli sedikit buah aghar badan ini tetap segar. Biasanya memang Ibu yang berbelanja, dan aku tinggal memasaknya saja. Tapi karena uang kemarin dari Mas Wawan masih ada sisa, naluri ingin membeli sayuran sendiri dan memasak, seketika muncul dalam benak. Andai Mas Wawan tahu hal itu, tapi aku yakin mas Wawan ngak akan mau tahu. Karena yang ada dipikirnya sekarang aku hanya menghabiskan dan memeras uangnya saja.
"Eh, Mbak Anita, tumben belanja, biasanya Bu Ririn yang belanja," ujar tetangga sekitar rumah yang sama juga memilih sayuran. Bu Ririn adalah nama Ibu mertua, dan aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Nah gitu dong, Mbak, jadi menantu itu harus sigap. Istilahnya, menempatkan posisi kita lah ya, jangan hanya tahunya bangun lalu makan terus tidur lagi. Kan kasihan Ibunya, Mbak," ucapnya lagi hingga membuatku melongo. Sepertinya aku menangkap sesuatu yang janggal disini.
"Maksud Ibu, apa ya?" tanyaku lebih jelas.
__ADS_1
"Ya, selama ini kan Bu Ririn yang belanja dan masak sendiri. Sedangkan Mbak Anita hanya tinggal makan dan bangunya serng kesiangan. Ya, jangan gitu, Mbak, kalau bisa tunjukkan pada mertua kalau kita itu menantu yang baik. Walaupun mertua kita baik," ucapnya ringan dengan masih memilih sayuran.
"Iya, Mbak, makanya Mbak Anita kemarin sesar kan. Karena sewaktu hamil, Mbak ANita itu kebanyakan tidur. Cob kalau Mbak Anita rajin dari awalnya, mungkin bisa melahirankan normal. Dan katanya, sewaktu di rumah sakit Mbak Anita yang minta buru-buru di sesar ya, karena sudah ngak tahan sakit," ucap tetangga yang baru datang, tiba-tiba ikut nimbrung dan bebicara seperti itu. Hingga tanpa sadar tanganku mengepal kuat mendengar pembicaraan mereka.
"Sudah Ibu-ibu, kalian ini kesini mau belanja atau mau mengadili Mbak Anita?" ujar Kang Asep penjual sayur yangterlihat tidak enak denganku. Sedangkan mereka hanya saling pandang dengan yang lainnya.
"Ya, benar. Lebih baik dicek dulu langsung kebenarannya, Ibu-ibu, jangan langsung mengambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya langsung pada sumbernya," ujar Mbak Manda yang entah sejak kapan dia datang. Spertinya sama mau membeli sayur.
"Lah, saya juga langsung dari sumbernya kok, Mbak Man, Bu Ririn sendiri yang bilang."
"Ibu mendengar yang bagian mana? Mbak Anita sewwaktu melahirkan, dia hanya bersama saya. Dan keputusan harus segera diambil ketika Mbak Anita dan bayinya berada di antara hidup dan mati. Perlu saya tegaskan sekali lagi, waktu itu Mbak Anita hanya bersamma saya,' ucap Mbak Manda tegas. Rasanya terharu sekali mendengar ucapan Mbak Manda. Lagi-lagi, mbak Manda yang menolongku.
"Biarkan saja, Mbak, kalau udah selesai, kita pulang saja," ujar Mbak Manda.
Benar kata Mbak Manda, biar saja orang berkata apa. Terlalu dipikirkan hanya menambah beban di pikiranku. Setelah membayar semua belanja, lntas aku langsung pulang meninggalkan Ibu-ibu yang masih bergosip ria.
__ADS_1
Aku pulangg ditemani oleh Mbak Manda yang juga membeli sayur. Hanya Mbak Manda lah yang aku punya saat ini. Padahal beliau bukan siapa-siapa, tapi selalu menolongku disaat susah. Semoga suatu saat aku bisa membalas jasanya.
*******
"Tumben beli sayur," ucap Ibu mertua sinis.
Aku tak menyahuti ucapan Ibu. Rasanya masih kesal sekali dengan kejadian si tukang sayur tadi. Entah bagaimana Ibu memprovokasi para tetangga, yang jelas saat ini aku adalah menantu yang malas dan seenaknya di mata semua orang. Dan Ibu adalah malaikat penolong yang dengan sabar merawat dan menampungku disini. Padahal, mulai dari memasak dan membersihkan rumah semua aku kerjakan sendiri. Ibu hanya belanja saja di warung, setelahnya semua diserahkan padaku. Mbak Meri? Mbak Meri jarang sekali berada dirumah, sehingga tak tahu apa yang terjadi di dalam rumah. Pdahal sudah bersuami, tetapi sukanya keluyuran bahkan kadang sampai malam.
Setelah memastikan Sania aman, aku langsung menuju dapur. Dari dulu memang aku paling suka sayur bening dengan campuran kacang tanah. Dan sekarang aku tengah memasaknya. Dengan cekatan, aku mengolah sayur bening dan menggoreng sambal secara bersamaan. Harum baunya seakan memberi sinyal dalam perut ini. Seketika aku merasa, lapar. Tak butuh waktu lama, akhirnya semua lauk terhidang dengan sempurna. Tanpa menunggu waktu lagi, aku langsung menyendok nasi dan ingin sarapan tanpa menunggu yang lainnya. Mungkin karena menyusui, nafsu makanky jadi meningkat berkali-kali lipat.
Namun ketika aku ingin menyendokkan nasi ke mulut, tiba-tiba ada yang merebut sendok dari tanganku hingga membuatku tersentak. Ya, Mbak Meri dengan angkuhnya merebut makananku dengan kasar.
"Jangan makan doang yang kamu urusin! Kamu lihat yang punya rumah saja belum ada yang makan, kamu dengan seenaknya makan disini tanpa memperdulikan yang lain. Songong sekali kamu! Apa orang tuamu tak pernah mengajarimu sopan santun?"
Tanganku mengepal kuat mendengar ucapannya. "Yang tak pernah diajari sopan santun itu, kamu atau aku? Lihat saja, apa seperti ini didikan yang baik dari orang tuamu?" ucapku membalikkan ucapannya.
__ADS_1
Sudah hilang rasa hormatku pada Mbak Meri. Kalau Mbak Meri hanya menghinaku saja, mungkin aku bisa terima. Namun kali ini Mbak Meri membawa nama orang tuanku yang tak tahu apa-apa.
"Jangan kurang ajar kamu! " Mbak Meri menghampiriku dan ingin mendaratkan tangannya di pipiku. Namun aku tak kalah sigap. Ku tepis tangan Mbak Meri tepat di pergelangan tangannya hingga mengambang di udara. Lantas kulepas dengan kasar hingga Mbak Meri mundur ke belakang. Tapi ada yang sakit di dalam sini. Rasanya sungguh nyeri luar biasa hingga akupun tak sanggup lagi untuk berdiri.