Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab :20


__ADS_3

Ingin merampas


Seketika aku berjingkat mendengar ancaman Ibu. Nekat sekali nenek sihir ini. Apa yang harus aku lakukan? Ayo Anita, berpikirlah! Bagaimana jika mereka ingin mengeroyokku sekarang? Tak ada orang yang membelaku saat ini. Sania yang ingin tidur pun sekarang ikut terjaga karena mendengar berisiknya suara gedoran pintu dari luar.


Aku mondar-mandir di depan pintu, bertahan dengan suara yang semakin membuatku pusing. Pasti kesempatan langka ini ta akan disia-siakan oleh mereka. Uangku? Ya, aku harus mengamankan uangku sekarang. Aku bergegas menyimpan uang kedalam tas, lantas menyimpannya ke dalam lemari. Setelah itu kunci kuambil, kumasukan ke plastik dan menyimpannya ke dalamtempat sampah. Hanya untuk antisipasi saja, jika meraka mencari kuncinya, tak mungkin juga mencari ke tempat smpah.


"Anita sialan! Kamu budek apa gimana sih? Buka pintunya!" Ibu menggedor intu dan berteriak seperti orang kesurupan.


Huh, aku harus mengambil tindakan. Tak mungkin aku berdiam diri terus seperti ini. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, ya, Mbak Manda. aku harus menghubungi Mbak Manda agar Mbak Manda bisa kesini. Kuambil ponsel, lantas menghubungi orang yang selalu ada disaat aku susah. Hanya Mbak Manda saat ini harapanku.


"Hallo Mbak" ucapku setelah telpon ini tersambung. Saking gentingnya sampai aku tak mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Iya, kenapa, An?"


"Mbak lagi dimana?"


"Lagi di sekolahnya Galih, An, ini ada acara. Ada apa, tumben telpon?"


"Oh, ngak ada apa-apa Mbak, kirain ada di rumah. Tadinya mau minta tolong, ya udah aku tutup dulu, Mbak"


Tit.


Panggilan terputus. Aku yang memutuskan teleponnya.


Mbak Manda sedang ada acara di sekolah Galih. Tak mungkin aku menyuruhnya pulang. Jarak antara sekolah Galih dan rumah lumayan jauh, aku tak sampai hati meminta Mbak Manda untuk segera pulang ke rumah.

__ADS_1


Lebih baik aku membuka pintu sekrang. Kalau mereka nekat menyakitiku, aku akan berteriak agar tentangga datang kesini. Setelah melalui banyak pertimbangan, aku mendekati pintu lantas kuputar anak kunci yang menggantung. Mataku tercengang setelah pintu tebuka lebar. Benat dugaanku, ternyata saat ini mereka inginmengeroyokku.


"Ngapain aja kamu di dalam? Kenapa dari tadi pintunya ngak dibuka? Kamu budek?" Cerca Ibu stelah neyelonomh masuk ke kamarku. Di susul Mbak M eri dan Rusdi yang juga mengekori Ibu untuk menghadangku. Luar biasa memang, Ibu tak tanggung-tanggung membawa pasukan untuk menyerang ku kali ini.


"Ada perlu apa Ibu mencariku?" tanyaku pada Ibu. Aku mengambil Sania lalu menggendongnya dengan kain agar lebih aman dari jangkauan mereka. Entahlah, aku takut mereka menyakiti Sania.


"Kenapa kamu mengambil jatah Ibu?" tanya Ibu dengan tatapan nyalang.


"Jatah apa? Jatah yang mana, Bu?" tanyaku pura-pura bego. Ternyata kalau masalah uang. SEkeluarga ini bisa berubah menjadi psikopat, mana main keroyokan lagi. Lihat saja, Ibu dengan amarah yang menggebu-gebu mendatangiku seperti ini.


"Ngak usah pura-pura tak tahu kamu, Anita. Mana uang jatah Ibu yang sudah kamu ambil dari Wawan?" Ibu berteriak seperti orang kesetanan.


"Jatah Ibu? Aku ngak pernah ngambil jatah siapapun, Bu. Termasuk jatah Ibu," kilahku. Memang begitu kenyataannya, yang aku minta adalah hak-ku dengan Sania. Ibu pun sudah mendapat bagiannya juga, walaupun menurutnya sangatlah kurang. Jelas kurang, karena tak akan bisa bersenang-senang setelah ini.


"Masalah biaya persalinan, itu bukan urusanku, Bu. Kalau Mas Wawan sampai menjual emas untuk membayarnya, tanyakan saja sama Mas Wawan! Aku juga tak meminta dia untuk menjual emas Ibu!" ucapku tak kalah tajam.


"Dan satu lagi, Bu, aku tidak pernah mengambil jatah Ibu. Itu memang hak-ku dan Sania. Ibu tahu, aku dan Sania juga berhak mendapatkan nafkah dari Mas Wawan," Ibu meremas tangannya mendengar ucapanku. Begitupun Mbak Meri, tatapan ingin menerkam tak segan-segan ia tunjukkan padaku.


"Mas Wawan memberikan padaku dengan suka rela, Bu, dengan sadar tanpa paksaan siapapun. JIka Ibu tak terima, kenapa ngak tanya langsung sama Mas Wawan?" ucapku dengan penuh penekanan. Sengaja aku berucap sperti itu, pasti hatinya terbakar saat ini. Walaupun semua itu hanya bulshit.


"Kurang ajar kamu, Anita! Kamu sudah berani melawan Ibu sekarang. Belajar dari mana kamu? Dasar mantu parasit, sudah habis menggerogoti hartaku, sekarang jatahku pun kamu ambil juga," Ibu berkacak pinggang sambil mendekatiku dengan tatapan nyalang. Sontak membuatku mundur pelan-pelan.


"Sudah, Bu, Anita entar saja kita bereskan. Lebih baik kita cari saja uang yang didapat dari Wawan. Waktu kita tak banyak, Bu, takut Bude Indri keburu pulang duluan," Mbak Meri menarik lengan Ibu yang ingin mendekatiku.


Seketika aku bernapas lega karena lepas dari incaran Ibu mertua. Sungguh, aku benar-benar tak menyangka jika uang bisa merubah mereka hingga seperti ini.

__ADS_1


"Kamu benar, Meri. Indri sialan itu pasti akan membela Anita mati-matian jika sampai dia menegtahuinya. Jika Ibu tak mengingat hutang waktu itu,malas sekali meladeni perempuan tua itu," ucap Ibu yang masih menahan geram. Lantas Ibu dan Mbak Meri mulai sibuk mencari sesuatu bukan miliknya di kamarku.


Pikiranmu sudah dipenuhi oleh jeratan iblis, Bu, hingga saudara sendiri saja kau amat membencinya. Pdahal, Bude Indri sudah begitu baik dengan keluarga ini.


"Ayo, Mas, sini, bantuin nyari. Kemana lagi dia menyimpan uang itu kalau tidak di kamarnya!" ujar Mbak Meri pada Rusdi yang dari tadi bengong.


Rusdi memang dari tadi hanya menonton adu mulut anatara kami. Tapi di wajah yang pura-pura lugu itu, diam-diam dia menikmati pertikaian ini. Cih! Kamu tak akan bisa membohongiku, Rusdi. Cukup saja Mbak Meri yang kamu perdaya, karena otaknya sudah digadaikan pada lelaki hidung belang.


Ibu dan Mbak Meri tengah sibuk mencari keberadaan uangku hingga semua empat di geledah. Entah mereka benar-benar kekurangan uang atau tak terima aku mendapat jatah dari Mas Wawan, aku tak tahu pasti. yang jelas, saat ini ereka tengah kalap hingga mengabaikan rasa malu.


"Yang kenapa kau tak cari di dalam lemari itu. Siapa tahu dia menyimpan uangnya di dalam situ?" uap Rusdi menunjuk lemari kecil yang berada di pojokan kamar.padahal lemari yang gede sudah diacak-acak sama mereka.


Rusdi dengan bersemangat menghampiri lemari yang sudah kusimpan kuncinya, disusul oleh Ibu dan Mbak Meri.


"Dikunci, Yang!" ucap Rusdi dengan masih berusaha ingin membuka paksa lemari itu.


"Pasri Anita sudah menyimpan kuncinya, Mer!" geram Ibu.


"Kali ini bair aku saja maju mencari kuncinya, Bu. Anita ini memang sekali-kali ditegasin biar ngak tuman!" Mbak Meri maju ke arahku dengan tatapan ingin menerkam. Saat ini aku tengah menggendong Snia, tak mungkinaku bisa melawannya. Mbak Meri semakin merengsek maju ke arahku. Dngan hati berdebar kencang aku semakin mundur ke belakang. "Lindungi hambamu ini, ya Allah," doaku dalam hati.


"Keluar kamu pelakor!"


Dok dok dok!


Terdengar gedoran pintu yang menggema di ruang depan, membuat kami semua menoleh dan terkejut.

__ADS_1


__ADS_2