
Bab: 5
Kesepakatan Sebagai Senjata
Aku menangis sesengukan seorang diri disini. Menangis untuk menghilangkan sesak di dalam sini. Aku tak habis pikir dengan sikap mereka. Menjenguk bayiku saja tidak, tetapi sudah meributkan biaya yang memang menjadi tanggungannya. Dan Mas Wawan, apa dia tak ingin sedikit saja menengok anaknya? Cukuplah terlalu berharga untuk mereka. Aku tak mau terlihat lemah di depan mereka.
Empat hari sudah aku berada di rumah sakit. Mas Wawan dan Ibu hanya menjengukku sebentar saja. Itupin selalu merusuh dan bicara menyakitkan. Kata Dokter, hari ini aku sudah boleh pulang. Tentu saja Mas Wawan tahu, karena memang Dokter sendiri yang berbicara dengan Mas Wawan kemarin.
Aku sudah menelpon Ibu di kampung. Karena Bapak sedang sakit, jadi aku melarang Ibu untuk kesini dulu. Lagian, saat ini bukan waktu yang pas untuk Ibu berkunjung. Aku tak ingin Ibu melihat perlakuan mereka yang menjengkelkan.
"Maaf, Bu, ini dedeknya haus. Sepertinya pengen mimik deh," ucap Susuter menyerahkan bayiku.
"Duh, anaknya Mama, pengen mimik," ujarku sambil menggendong bayiku.
Rasanya begitu tenang dan bahagia melihat paras anakku. Dialah pelipur lara saat ini. Aku harus kuat demi bayi jelitaku ini. Bahagia tiada duanya, walaupun Ayah dan neneknya tak peduli sama sekali.
Kuhela bapas panjang. Senang sekali melihat Sania menyusu dengan kuatnya. Dan alhamdulillah, air susuku mengalir dengan begitu derasnya. 'Sehat selalu ya, anakku sayang,' pintaku dalam hati.
Setelah kenyang dan tertidur, lalu menyerahkan kembali bayi Sania pada suster yang menjaga anakku. Aku memang sengaja menyewa suster untuk menjaga bayiku agar tetap terurus. Karena aku sendiri sedang dalam masa pemulihan. Biarlah semua biaya Mas Wawan yang nanggung.
Mengingat nama Mas Wawan aku jadi ketar-ketir dibuatnya. Pasti saat ini Mas Wawan tengah mencari uang untuk biaya di rumah sakit ini. Aku sangat tahu wataknya, dia tidak akn diam begitu saja. Harga dirinya terlalu tinggi untuk disentuh. Pasti dia akan melakukan sesuatu untuk membalas rasa sakit hatinya padaku. Dan sebelum itu terjadi aku harus melawannya dengan caraku. Tapi gimana?
Ayo Anita, lakukan sesuatu. Pasti Mas Wawan kesini nanti untuk mengajakmu pulang. 'Berpikirlah Anita!' Semangatku dalam hati. Sebelum Mas Wawan kesini, aku harus menemukan cara untuk melindungi diri sendiri dan bayiku.
*******
Cekrek!
Saat sedang melamun, aku dikejutkan oleh suara seseorang membuka handle pintu. Dan ketika pintu terbuka, nampaklah seseorang sedang berdiri dan langsung berjalan mendekatiku. Baru juga dipikirkan, sudah datang saja kesini.
"Halo, Sayang, biaya rumah sakit sudah aku bayar, beserta rumah sakitnya sekalian. Kita tinggal nunggu pulang saja. Sudah tak sabar pengen pulang kan?" ucap Mas Wawan tersenyum menyeringai.
Aku tersenyum manis ke arahnya. "Iya kamu benar, Sayang. Tapi sayangnya, aku ngak mau pulang sama kamu. Aku ngak mau pulang ke rumah Ibumu!" ujarku yang masih tersenyum manis.
__ADS_1
"Memangnya, kamu pulang kemana, Anita?" tanya Mas Wawan mulai geram.
"Terserah, Mas, yang penting aku tak mau masuk ke dalam lubang harimau yang telah kau siapkan untukku!" ketusku tajam. Mas Wawan bnampak gelagapan mendengar ucapanku.
"Jangan macem-macem kamu, Anita. Kamu harus pulang denganku. Apa kata orang nanti jika kamu pergi? Apa kata tetangga dan teman-teman Ibu nanti? Pikir!"
"Itu urusanmu, Mas." Jawabku santai.
Namun sepertinya Mas Wawan marah besar. Nampak sekali dadanya naik turun. Aku bingung dengan perasaannya saat ini. Sebenarnya dia itu menganggapku musuh atau istri?
"Aku akan pulang bersama kamu, Mas. Tapi dengan syarat," pintaku yang tiba-tiba muncul rencana di kepala.
Aku tahu jika aku memilih menghidar, pasti Mas Rangga dan Ibu tak akan tinbggal diam begitu saja. Mereka akan selalu menggangguku hingga keinginan mereka tercapai. Terlebih masalah biaya ini, Mas Wawan tidak akan membiarkanku pergi begitui saja. Tidak ada cara lain, selain mengikutinya namun melawannya dengan caraku. Karena kutahu Mas Wawan hanya sering menggunakan mulutnya saja untuk menyerangku. Otot dan mulutnya selalu jadi andalan jika sedang marah. Dan bodohnya aku, kenapa sekarang baru menyadarinya?
"Tak usahlah, gaya-gayaan bersyarat segala!"
"Mau apa tidak?" tanyaku tak kalah tajam.
"Yaudah, apa syaratnya?"
"Iya, Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Suster yang baru datang.
"Maaf, Sus, saya minta pulpen, kertas, dan materai, bisa?"
"Tunggu sebentar ya, Bu," Lantas Suster tersebut berlalu dan datang kembali membawakan yang kuminta.
"Mau ngapain kamu?" Mas Wawan mendelik matanya melihatku yang ingin mulai menulis.
"Aku terlalu mencintaimu, Mas, hingga rasa itu tak sanggup jika ku ungkapkan lewat kata-kata. Aku ingin memberi surat tanda sayang, agar kamu menyimpannya yang rapi untukku!"
Mual sendiri rasanya berbicara seperti itu. Sungguh, rasa ini sudah menguap entah kemana. Karena saat ini hanya bayi Sania yang kupikirkan.
Akhirnya selesai juga, tulisan ini yang akan melindungiku nanti. Aku tahu masuk ke rumah Ibu Mas Wawan adalah taruhan hidup dan matiku disana. Maka dari itu aku dan bayiku butuh perlindungan, supaya tetap waras. Saat ini aku tak mungkin pulabng ke rumah Ibuku di kampung. Karena selain jauh, Mas Wawan juga pasti akan menahan. Sama halnya juga memilih mengontrak sendiri, Mas Wawan dan keluarganya pasti akan terus menggangguku.
__ADS_1
"Nih, bacalah! Setelah itu tanda tangan di bawah sini!" Titahku dengan menyerahkan kertas bermaterai di depannya. Ya, aku memang membuat surat perjanjian, untuk menghindari hal-hal tak diinginkan di rumah nanti. Mas Wawan dengan kasar merebut kertas itu dariku, lalu membacanya dengan napas memburu.
"Apa-apaan ini, Anita? Apa kamu sudah gila?" Mas Wwan brteriak marah melempar kertas itu, namun kembali menetralkan suaranya menyadari ini masih di rumah sakit.
"Kamu bisa baca kan, Mas? Baiklah aku bacain aja jika kamu bingung." Aku mengambil kertas yang tergeletak di depanku.
Kami, atas nama Wawan dan Anita membuat kesepakatan di bawah ini.
-Wawan harus menyerahkan gajinya secara utuh pada Anita. Adapun hal lain-lain, harus sesuai dengan izin Anita.
-Wawan harus memperhatikan jadwal kontrol rutin Anita.
-Anita dan bayinya, harus mendapat perlakuan yang layak.
-Jika terdapat perlakuan yang tidak menyenangkan hingga membekas luka, maka yang bersangkutan rela dipenjara.
Saya Wawan Prayoga. Jika melanggar salah satu diatas, saya rela dipenjara dengan seberat-beratnya.
"Gimana, Mas? ngk berat kan syaratna?' tanyaku setelah membacakan surat kesepakatan tersebut.
"Gila kamu, Anita! Benar-benar gila. Kamu minta gajiku full dikasihkan untukmu, setelah kau kuras uangku untuk membayar biaya disini!" Mas Wawan terlihat meluap-luap emosinya.
"Kalau kamu ngak terima, ya udah berarti relakan aku untuk opergi dari sini. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku membawa bayiku."
Mas Wawan terlihat sangat frustrasi. Lihatlah, dia menganggap seakan aku telah memerasnya. Padahal bukankah itu kewajibannya sebagai suami? Memang aneh sekali pemikirannya. Sayang, aku terlambat menyadarinya.
"Permisi, Bu Anita hari ini sudah boleh pulang ya, ini obatnya. Dan ini jadwal kontrolnya."
"Makasih, Sus."
"Sama-sama." Sang perawat itu lantas keluar meninggalkan kami.
Aku beranak pelan turun dari brankar, lantas membereskan perlengkapan bayiku. Akan kubuktikan kalu ucapanku tak main-main pada Mas Wawan. Lihatlah, Mas, tanpamu au masih bisa berdiri sendiri.
__ADS_1
*****