Menantu Dirumah Mertua

Menantu Dirumah Mertua
Bab : 28


__ADS_3

Fitnah


POV WAWAN


Pagi ini bude akan meluncur ke Surabaya setelah berapa hari tinggal bersama kami disini. Setelah mendapat kabar bahwa Hilman kecelakaan, Bude dengan panik langsung meluncur hari ini juga. Katanya ngak parah, terus ngapain nyuruh pulang? Dasar Hilman, anak Emak banget emang.


Dalam perjalanan, aku merenungi sosok yang sudah lama tak kujumpai. Ya Hilman-saudara sepupuku, anak satu-satunya Bude Indri, yang sampai saat ini masih betah melajang. Padahal banyak wanita yang meliriknya. Belum menemukan yang cocok, ketika kutanya waktu itu.


"Kalau ada yang seperti Anita, tak apalah kamu carikan, Wawan. Selain cocok menjadi seorang Ibu, tampilannya juga selalu tertutup. Benar-benar menjaga kehormatan suaminya!" ujar Hilman ketika berada di acara pernikahan kai dulu. Dasar Hilman, dia tak tahu aja kalau Anita itu sangat menyebalkan.


Pertama bertemu, Anita memang terlihat sangat cantik. Karena itu juga aku mempersuntingnya. Pakaiannya memang selalu tertutup, hingga Hilman yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren itu menginginkan pendamping seperti Anita. Cih! Seandainya Hilman tahu kalau Anita sekarang se-menebalkan ini, pasti akan menarik kata-kata yang pernah ia lontarkan dulu padaku.


"Bude titip Anita, Wawan, sepertinya Ibumu dan Meri ngak begitu suka dengannya. Bude takut mereka mnyakiti Anita ketika Bude ngak ada," ujar Bude ketika kami sudah sampai ke tempat tujuan.


Entah racun apa yang Anita sebarkan pada Bude Indri ini. Padahal dia adalah Budeku sendiri, Saudara kandung almarhum bapak. Tapi sepertinya hanya Anita yang begitu disayang. Seperti hari ini, mau masuk saja harus mendengar petuahnya menjaga Anita. Rasanya sungguh malas menanggapi, tapi mau gimana lagi. Aku menganggukkan kepala lemah di depan BUde Indri.


"Satu lagi, Wawan. Kamu harus hati-hati sama Rusdi. Bude yakin, pasti akan kembali ke rumah itu stelah kuusir kemarin. Rusdi itu orang ngak benar, kakakmu aja yang keblinger. Makanya Bude minta tolong, jauhkan Rusdi dari keluargamu!"


Kali ini aku bengong mendengar ucapan Bude Indri. Mas Rusdi diusir? Kenapa? Apa ada kejadian yang aku ngak tahu?


"Udah siang, Wawan, BUde masuk dulu. Kamu hati-haati, dan ingat pesan Bude tadi!"


"Hati-hati, Bude!" ujarku. Bude Indri mengangguk lantas berlalu meninggalkanku yang masih mematung memperhatikannya dari sini.


Aku kembali teringat pesan-pesan Bude. Ada apa dengan Mas Rusdi? Setahuku kemarin Ibu bilang. Mas Rusdi terkena PHK dari pekerjaannya. Dan Ibu memintaku untuk membantunya mencicil mobil yang baru diambil oleh Mbak Meri kemarin. Apa itu yang membut Bude Indri mrah, lalu mengusir Mas Rusdi dari rumah? Ah, jika hanya gara-gara itu, tak mungkin diusir begitu saja oleh BUde Indri. Apalagi tadi Bude Indri bilang, kalau Mas Rusdi orang ngak benar. Ngak bener dari mananya? Ah, gara-gara memikirkan ucapan Bude aku seperti orang bego disini. Lebih baik aku pulang sekarang, dan bertanya lansung pada Ibu. Agar tak dihantui rasa penesaran seperti ini.

__ADS_1


*****


Aku tersentak ketika mendengar suara orang menangis di dalam rumah. Ada apa lagi ini? Baru juga sampai rumah sudah pusing mendengar suara tangisan. Apa Anita kembali membuat ulah? Ah, ANita, kapan kamu bisa membuat hidupku tenang?


Aku lantas mencari sumber dimana tangisan itu berada. ya, sepertinya berasal dari kamar Mbak Meri. Bergegas aku mendekati kamarnya untuk mengetahui yang terjadi.


"Wawan! Kamu udah pulang, Wawan? Ibu menyusulku di depan pintu.


"Wawan, lihatlah, ini ulah Anita, istrimu. Aku tak erima Mas Rusdi babak belur begini, Wawan. HIk hik..." Mbak Meri menangis disamping Mas Rusdi yang memang mukanya bengep babak belur.


Aku yang tak menyadari keadaan ini hanya mematung. Ulah Anita? Bagaimana bisa? Sekarang Anita dimana? Aku menghela napas, berbagai pertanyaan berkumpul di benak. Lantas duduk disebelah Mas Rusdi, agar mendapat penjelasan yang sejelasnya.


"Ceritakan, Mas, gimana kejadiannya sehingga Mas Rusdi bisa seperti ini?" tanyaku pada Mas Rusdi.


"Udahlah, Mas, ceritakan saja yang sebenarnya. Biar Wawan tahu kelakuan istrinya itu seperti apa. Muka aja yang sok alim. Cih! Nyatanya tingkahnya melebihi wanita murahan!" Mbak Meri berucap dengan menggebu-gebu tentang ANita. Apa maksudnya? Apa yang dilakukan oleh Anita?


"Aku juga tak menyangka Anita seperti itu. Pakaiannya tertutup hanya untuk menutupi tingkah busuknya!" Ibu menambahkan. Nafasku sudah tak tenang mendnegar ucapan mereka.


"Cepat katakan Mas! Apa yang dilakukan ANita?" seruku dengan nada tinggi. Sungguh, ucapan Ibu dan Mbak Meri membuat darahku mendidih. HIngga tanpa sadar aku membentak Mas Rusdi yang sedari tadi diam saja.


"Mas Rusdi ini korban, Wawan, kamu kalau mau marah, jangan sama Mas Rusdi dong!" Mbak Meri menyolot, tak terima Mas Rusdi aku bentak tadi.


"Maaf," ucapku akhirnya.


"Gapapa Wawan, aku mengerti perasaanmu," ucap Mas Rusdi, mengubah posisi duduknya.

__ADS_1


"Tadi pas aku kesini mengambil sisa barangku yang masih tertinggal, aku melihat Anita sedang mengeluarkan koper dari kamarnya. Namun ketika kutanya, Anita malah marah-marah," ucap Rusdi menerawang. Lantas menghembuskan nafas panjangnya sejenak.


"Lalu tak lama, ada seorang laki-laki datang dan masuk ke dalam rumah tanpa permisi, mengajak Anita untuk pergi dari rumah ini. Aku berusaha untuk mencegah, tapi ANita marah dan memilih mengikuti laki-laki itu. Dan laki-laki itu menghajarku tanpa ampun ketika aku masih berusaha mencegah kepergian Anita. SEbelum pergi,--"Mas Rusdi memutuskan ucapannya.


"Lanjutkan, Mas, sebelum pergi Anita kenapa," ucapku, sangat terlihat jika Mas Rusdi tak enak hati denganku ketika menceritakan tentang Anita.


"Sebelum pergi Anita juga bilang, kalau dia sudah tak mencintaimu Wawan lagi. Dan sudah bahagia dengan kekasih barunya,"


Braakk!


Meja yang ada di depanku kini menjadi pelampiasan amarahku. Ibu, Mbak Meri, serta Mas Rusdi nampak kaget. Ucapan Mas Rusdi benar-benar sudah membuat darahku mendidih hingga naik ke ubun-ubun. Aku tak menyangka, hal yang tak pernah aku pikir tak akan pernah dia lakukan, kini terjadi dan benar pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini.


"Maaf jika kau harus jujur mengucapkan kenyataan ini, Wawan. Sepertinya rencana kepergian Anita sudah dipikirkan matang-matang. Baju dan perlengkapan bayinya pun, sudah aman dibawa olehnya," Mas Rusdi menambahkan.


Kurang ajar kamu, Anita. Setelah kau peras habis-habisan uengku, kini kamu pergi dengan sangat menjijikkan. Membawa selingkuhanmy kedalam rumah, lantas menghajar orang yang tak bersalah. Pantas saja kemarin minta gajiku full, ternyata memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Sialan.


"Mari kita ke kantor polisi, Mas. Kita harus melaporkan kasus ini ke polisi. Mas Rusdi mendapat keadilan dan Anita pun mendapat balasan juga dariku. Dasar istri tak tahu diri!"


"Jangan, jangan," Mas Rusdi menghalangiku dengan memegang lenganku.


"Kenapa, Rusdi. Memang lebih baik kasus ini diselesaikan di kantor polisi. Biar tahu rasa tuh, Anita," Ibu pun tak kalah geram dengan Anita.


"Maksudku, jangan langsung ke kantor polisi. Pasti nanti malah ribet urusannya. Kita juga belum tahu, siapa yang membawa ANita. Lbih baik dicari sendiri dulu, Wawan. Jangan langsung melibatkan polisi."


Benar apa yang diucapkan Mas Rusdi. Aku sendiri juga belum tahu, siapa selingkuhan Anita. Jadi untuk saat ini aku harus menyelidiki dulu tanpa melibatkan polisi.

__ADS_1


__ADS_2